Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Muthofarhadi

"Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu tulisan bisa menembus puluhan bahkan ratusan selengkapnya

Mempertanyakan Kepemimpinan Umar Bin Khattab RA (Tamat)

REP | 21 August 2012 | 19:19 Dibaca: 2849   Komentar: 0   0

Pada kisah ke 4 kita sama-sama menyimak bagaimana seorang mukmin dan keluarganya mempertanyakan kepemimpinan Amirul Mukminin Umar bin Khatab RA, di depan Amirul Mukminin. Hingga Amirul Muminin membawa bekal makanan dari baitul mall ke keluarga itu di atas punggungnya sendiri.

Pada kisah yang ke 5 ini, ada beberapa sahabat yang mempertanyakan kepemimpinan Umar RA, bahkan seorang yang pura-pura masuk Islam bernama Fairuz Abu Lu’luah menikam Amirul Mukminin dari belakang saat beliau RA mengimami sholat.

Pada kisah-kisah sebelumnya setiap perbedaan antara Amirul Mukminin dan sahabat serta jamaah mukmin mendapatkan solusinya, dan tidak sampai menimbulkan dendam atau bahkan pembunuhan (fitnah).

Seperti beberapa kisah di akhir kekuasaan Umar RA sebagai Amirul Mumini. Pada saat Abu Sofyan akan menghadap Amirul Mukminin dia berasa diabaikan, dan dikesampingkan karena dia hadir lebih dulu di rumah Amirul Mukminin namun orang-oarang yang datang belakangan dipersilahkan menghadap lebih dulu.

Setelah merasa kesabarannya habis Abu Sofyan keluar dan sempat mengajak sahabat yang lain untuk juga keluar. Setelah sampai di luar dia tumpahkan kekesalannya dan sahabat yang menemaninya keluar menenangkannya, agar bersabar dan beristighfar. Karena dulu saat jaman jahiliyah mereka berdua berulangkali di ajak Islam namun selalu menunda-nunda sedangkan mereka yang di dahulukan menghadap adalah orang-orang yang lebih dahulu menerima ajakan masuk Islam. Dari penjalasan itu Abu Sofyan akhirnya bisa mengambil hikmahnya dan beristighfar serta menerima sikap Umar Bin Khattab, meskipun hari itu dia tetap tidak menghadap Beliau RA.

Pada waktu berikutnya Umar RA kedatangan tamu dari Romawi, dan pada saat itu Umar bin Khattab sedang tiduran di bawah gubuk dan bertikarkan alas tikar dari pelepah kurma. Bangsawan Romawi yang di utus untuk mengajak berdamai dengan Amirul Mukminin itu terkejut dan mempertanyakan bagaimana Raja-Raja di Romawi bermewah-mewah namun selalu gelisah dan tidak bisa tidur, sedangkan Anda ya Umar bisa tidur dengan nyenyak, meskipun di atas tikar saja.

Begitulah kesederhanaan yang Umar RA kerjakan, bahkan saat seorang Raja Persia menghadap beliau dengan baju kebesarannya, Beliau Umar RA menegurnya dan akan menemuinya kembali setelah semua perhiasannya ditanggalkan. Kemudian setelah Raja itu berpakaian sepertihalnya orang kebanyakan di Arab saat itu dengan jubah dari kain katun, Umar menemuinya. Dan dalam pertemuan itu Umar RA tidak percaya dengan menyerahnya Raja itu bahkan akan membunuhnya kaarena sudah membunuh sahabat-sahabat beliau RA. Namun salah seorang sahabatnya mengingatkan Umar agar menerima keislamannya karena dirinya yang adalah saudara dari sahabat yang sudah dibunuh oleh Raja itu sudah ikhlas. Akhirnya Raja itu yang sebelumnya sangat ketakutan bahkan untuk minum saja dia tidak bisa, air tumpah karena takut, berkata bahwa umat muslim adalah umat yang baik, bahkan dengan orang yang sudah membunuh saudaranya sekalipun berkenan untuk memberi maaf. Akhirnya Raja Persia itu masuk Islam di saksikan Umar RA dan sahabat-sahabat beliau RA.

Pada akhir perjalanan kepemimpinan Umar RA sempat terjadi ketegangan antara beliau RA dan Khalid bin Walid dan suku dari Khalid Bin Walid. Umar ra untuk yang ke duakalinya memecat Khalid RA dari kedudukannya, untuk saat ini Khalid dicopot dari jabatan gubernur karena dianggap telah melalaikan tugas yang di amanahkan oleh Umar RA. Dan sempat terjadi protes dari suku Khalid bin Walid di hadapan Umar ra, namun Umar tetap dalam pendiriannya, bahkan Ustman RA yang ada disebelah beliau sampai membela beliau dengan menghentikan keberanian para pemuda dari kaum Khalid yang lantang dalam berbicara di depan Amirul Mukminin. Namun Amirul Mukminin menenangkannya, dan akhirnya semua bisa menerima keputusan itu. Termasuk Khalid bin Walid yang kemudian jatuh sakit, dan sebelum meninggalnya berwasiat memaafkan Umar bin Khattab dan meminta maaf juga pada Umar bin Khattab. Bahkan Khalid RA mengakui bahwa kebijakan Umar RA adalah benar, dan berwasiat apabila dirinya meninggal lebih dulu dari Umar RA, agar Umar A menjalankan wasiatnya untuk dirinya dan keluarganya.

Amr RA yang menjadi Gubernur dilaporkan oleh rakyatnya ke hadapan Umar RA. Bahwa anak Amr RA sudah kalah dalam pertandingan berpaju kuda, namun kemudian memukulnya. Dari laporan tersebut kemudian Umar RA meminta orang Ramawi itu untuk menunggu hingga Amr dan anaknya datang. Setelah itu Amr menghadapkan orang Romawi atas kesaksiannya. Kemudian Amr dan anaknya tidak membantahnya. Kemudian Umar RA memberikan tongkatnya kepada orang Romawi itu dan memerintahkannya untu memukul anak dari Amr yang bangsawan itu agar di pukul. Kemudian orang Romawi itu memukul, dan Umar berkata, lagi dan dipukul lagi, kemudian Umar RA berkata lagi, kemudian orang Romawi itu memukul hingga puas. Kemudian Umar RA memerintahkan agar tongkatnya dipukulkan ke kepada Amr sang Gubernur, namun orang Romawi itu mengatakan bahwa dirinya sudah puas, sudah memukul orang yang sudah memukulnya dan dia tidak ingin berlebihan. Dan Umar RA berkata seandainya kamu memukulkan tongkatku ke kepada Amr RA maka itu adalah penyelesaiannya karena dialah yang bertanggungjawab.

Umar RA juga mendapat pertanyaan dari Abu Ubaidah RA saat Amirul Mukminin Umar RA berkunjung ke wilayah yang dipimpin Abu Ubaidah RA. Abu Ubaidah menemui Amirul Mukminin di luar kota karena di dalam kota sedang terjangkit wabah penyakit TA’UN. Kemudian Amirul Mukminin bermusyawarah dan mengambil keputusan bahwa Amirul Mukminin Tidak akan masuk kota. Abu Ubaidah RA bertanya “Apakah Anda akan menolak takdir dari ALLAH SWT?” Amirul Mukminin menjawab “Ya, untuk menerima takdir ALLAH SWT yang lain, dan bahwasanya Tidak ada Mudhorot maupun manfaat kecuali atas ijin ALLAH SWT.” Kemudian disetujui oleh Abu Hurairah yang menyampaikan sebuah hadist dari Rasul SAW bahwa di saat kamu ada di kota yang sedang terjangkit wabah penyakit maka janganlah keluar kota, dan di saat kamu di luarnya janganlah masuk kota.” Dan pada akhirnya Abu Ubaidah RA meninggal di Kota itu juga dalam keadaan sakit karena wabah Ta’un, setelah sebelumnya menerima surat perintah agar memindahkan warganya ke tempat yang lebih tinggi dari Amirul Mukminin.

1345016690617190204

Selamat “idul Fitri 1433 H Taqobalallah mina waminkum Syiamana wasyiamakum.

Mohon maaf lahir dan bathin.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 18 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 19 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 20 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 23 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: