Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Ryan Prasetia Budiman

Berbagi, sambil menata kata. Ngeblog juga di ryakair.blogspot.com

Berbagai Aspek Perkembangan Ekonomi Indonesia Era Pra-Modern

REP | 28 August 2012 | 02:47 Dibaca: 1987   Komentar: 0   0

Kepulauan Nusantara adalah rangkaian pulau yang berjumlah tak sedikit. Komoditas perdagangan dari satu pulau bisa menjadi barang dagangan yang sangat berharga. Cengkeh dari kepulauan Ternate, Teripang yang diperdagangkan di Makassar, Beras dari Jawa, Cendana dari Nusa Tenggara dan komoditas lainnya adalah pemicu berkembangnya perdagangan. Bahkan mendorong bangsa berbeda ras untuk datang ke negeri di bawah angin ini[1].

Dalam hal periodisasi, masa perdagangan, atau bisa disebut juga kurun niaga terjadi pada sekitar abad ke-15. Anthony Reid memperiodisasikan kurun niaga di Asia Tenggara di sekitar tahun 1450-1680.[2] Definisi tentang kurun niaga, khususnya era modern awal, berbeda-beda. Namun mereka yang menggunakan istilah modern awal memasukkan era ini dalam abad ke-16 dan ke-17 dengan sedikit mundur hingga abad ke-15 dan maju sampai abad ke-18. Meski demikian, menurut Anthony Reid seorang ahli sejarah Asia Tenggara, mengemukakan bahwa dalam hal periodisasi ini pakar-pakar Asia Tenggara baru belakangan ini mulai memakai istilah tersebut (modern awal) untuk menyebut wilayah kajian mereka. Dalam keterangannya Reid menuliskan bahwa Universitas Minnesota menarik periodisasi yang lebih luas, yaitu tahun 1350 sampai 1750. Sedangkan istilah modern awal pertama kali digunakan oleh James Pfister dalam disetasinya yang merujuk pada tahun 1500-1539.[3]

Lalu bagaimana dengan era Pra-Modern? Era Pra-Modern ini adalah masa ketika kerajaan-kerajaan Nusantara memiliki eksistensi dan hegemoni dalam ranah percaturan politik dan ekonomi. Perdagangan pada era ini berkembang tidak hanya dalam lokalitas wilayah kerajaan. Tidak juga dalam satu pulau atau kepulauan saja. Tapi juga berkembang ke tanah mancanegara. Dari negeri-negeri atas angin sampai negeri-negeri timur jauh (Asia Timur, mengacu pada definisi yang diberikan sejarawan dan arkeolog barat). Periodisasi dari era pra-modern ini tidak bisa secara jelas ditetapkan. Jika masa modern awal adalah sekitar abad ke-15, maka secara logika masa pra-modern adalah sebelum abad ke-15. Namun demikian pembabakan seperti itu tidaklah bisa digeneralisasikan. Lagipula, kita bisa melihat dengan perspektif yang lain. Bahwa era pra-modern itu adalah era ketika struktur ekonomi yang tersistematis, pembukuan yang tersistem dengan jelas dan teratur, dan pembagian kerja yang jelas dan meyakinkan belum digunakan. Hanya saja dengan adanya komoditas-komoditas perdagangan seperti yang disebutkan di awal tulisan ini, perdagangan tetap berkembang. Karena memang komoditas-komoditas tersebut adalah komoditas yang dibutuhkan pada zamannya.

Perdagangan di Nusantara, berkembang dengan berbagai aspek yang mempengaruhinya. Tidak hanya dari keuntungan alam yang ada di wilayah ini tapi juga karena adanya kecakapan-kecakapan tertentu dalam mengolah dan mengatur sumber daya yang ada. Secara umum ada dua aspek yang mempengaruhi perkembangan ekonomi ini, yaitu aspek geografi dan aspek demografi.

Dalam aspek Geografi, letak Nusantara merupakan jembatan dari pelayaran dunia. Nusantara terletak antara dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Juga antara dua benua, meskipun pada masa itu peranan dari salah satu benua itu belum terlalu signifikan. Dua benua itu adalah benua Asia dan Australia. Selain itu, daerah-daerah tertentu dalam kepulauan Nusantara merupakan daerah penghasil dari komoditas-komoditas yang laku di pasaran. Komoditas itu tak terdapat di daerah lain. Sampai abad ke-17 kepulauan Maluku merupakan satu-satunya daerah penghasil rempah-rempah di dunia. Selain itu, di kepulauan Nusantara terdapat selat yang menghubungkan dua perdagangan besar yang melewati Laut Cina Selatan dan Lautan Hindia. Selat ini adalah selat teramai, yaitu Selat Malaka. Laut penting yang menghubungkan perdagangan antar pulau di kepulauan Nusantara adalah Laut Jawa. Laut Jawa menghubungkan kota-kota pelabuhan di Jawa dengan kota-kota pelabuhan lain yang tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Dilihat dari perkembangann sejarah saat itu, pelayar yang mendominasi pelayaran di kawasan ini adalah para pedagang muslim dan Cina. Samudera Hindia selama kira-kira dua abad menjadi lautan yang bernuansa Islam. Tempat perdagangan Lautan Tengah dan Laut Cina menyatu secara alamiah. Jaringan-jaringan perdangan pun terentang dari Maghribi sampai Timur Jauh.[4] Laut Jawa dan bagian timur Pulau Jawa menjadi persimpangan jalur laut yang juga penting. Jalur laut ini berhubungan dengan Gujarat maupun dengan Indocina.[5] Ketika pelaut Portugis menguasai Selat Malaka, Selat Sunda, yaitu selat yang terletak antara pulau Sumatera dan Jawa memiliki arti penting bagi perkembangan pelayaran dan perdagangan saat itu. Saat itu Selat Sunda merupakan akses bagi pedagang muslim dalam berhubungan langsung dengan bandar-bandar pelabuhan di Nusantara.

Letak alam yang strategis dan menguntungkan kawasan Nusantara ini membuat ekonomi dan perdagangan berkembang. Datangnya pedagang asing untuk membeli komoditas perdagangan membuat nilai akan komoditas perdagangan itu meningkat. Hal ini membuat perekonomian Nusantara menjadi berkembang. Satu hal lain yang penting adalah wilayah topografi Nusantara yang memiliki banyak gunung berapi. Yang secara langsung, membuat tanah di kawasan ini menjadi subur. Terletak di iklim tropis membuat wilayah ini menerima curah hujan yang cukup. Hal ini membuat tanaman-tanaman komoditas perdagangan tumbuh dengan subur. Adapun komoditas yang bernilai ekonomi tinggi adalah lada, kayu cendana, cengkeh, pala dan kayu gaharu serta teripang.

Aspek lain yang mempengaruhi perkembangan ekonomi selain aspek geografi adalah aspek demografi. Pada masa ini sumber daya alam yang melimpah tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang ada. Persebarannya pun tidak merata. Kepadatan penduduk di pulau besar seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawei berbanding terbalik dengan kepadatan penduduk di Pulau Jawa. Jika dirasiokan perbandingannya adalah 3:4:3 untuk Indonesia bagian barat, Jawa, dan Indonesia bagian timur.

Pulau Jawa terdiri dari kantong-kantong penduduk yang terpisah satu dengan yang lainnya. Populasi pulau Jawa, menurut Anthony Reid, diperkirakan jumlahnya mencapai 4 juta pada tahun 1600, kemudian 5 juta pada tahun 1800. Untuk populasi penduduk di luar Jawa, tidak ada satu perkiraan pun mengenai data jumlah penduduk sebelum zaman penjajahan. Reid berpendapat bahwa populasi luar Jawa mungkin mencapai 5,8 Juta pada tahun 1600 dan 7,9 juta pada tahun 1800.[6]

Keadaan demografi dipengarui oleh kondisi politik saat itu. Di Jawa misalnya, perang saudara dan tahta di Mataram berakhir dengan Perjanjian Gianti (1755). Perjanjian ini mengakhiri perang yang telah memakan korban yang tak sedikit dengan pembagian wilayah kerajaan. Pembagian kerajaan dan kesunanan dan kesultanan dengan penduduk yang dibagi masing-masing sebanyak 30.000 cacah lebih. Namun jumlah penduduk Jawa sendiri, karena perang yang berkepanjangan berkurang setengahnya yang kira-kira lebih dari 1 juta orang.[7]

Di daerah lain, terdapat juga kondisi yang sama yang mempengaruhi kehidupan ekonomi dan politik Negara-negara prakolonial. Di semua daerah, jumlah penduduknya sangat terbatas, dan oleh karenanya merupakan basis yang terbatas pula bagi perpajakan dan sumber daya manusia untuk penanaman padi dan pembentukan tentara. [8]

Hal lain dalam demografi yang mempengaruhi perkembangan perekonomian pada era pra-modern ini adalah meningkatnya urbanisasi. Antara abad ke-16 sampai ke-17 yang disebut sebagai kota besar di Nusantara adalah penduduk antara 100.000 sampai 800.000 jiwa. Kota-kota besar yang termasuk kategori tersebut adalah Banten, Batavia, Mataram, Aceh dan Makasar. Besarnya jumlah penduduk di kota-kota besar ini mengindikasikan bahwa peningkatan aktivitas ekonomi diikuti oleh pertumbuhan penduduk yang cepat. Sebagai contoh, kegiatan industri gula di Batavia pada abad ke-17 dan ke-18 telah menjadi magnet bagi penduduk dari berbagai penjuru Nusatara bahkan Cina untuk datang dan menetap di daerah sekitar tembok kota.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ada dua aspek yang mempengaruhi perkembangan ekonomi. Aspek-aspek yang mempengaruhi perkembangan ekonomi Indonesia pada masa pra-modern adalah aspek geografi atau keadaan fisik suatu wilayah beserta faktor lain yang mempengaruhinnya, dan aspek berikutnya adalah aspek demografi yaitu kependudukan dan persebarannya serta kuantitas populasinya.

Ryan Prasetia Budiman

Tulisan ini adalah salah satu jawaban pada ujian tengah semester di mata kuliah Sejarah Perkembangan Ekonomi Indonesia, Jurusan Sejarah FIB UI.


[1] Negeri bawah angin adalah sebutan Anthony Reid bagi negeri-negeri di kawasan Asia Tenggara, khususnya negeri-negeri pelabuhan. Juga merupakan judul kecil dari bukunya, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680: Tanah di Bawah Angin. Jilid I

[2] Anthony Reid. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680: Tanah di Bawah Angin. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1992.

[3] Anthony Reid. Sejarah Modern Awal Asia Tenggara. Jakarta: LP3ES. 2004. hlm. 4.

[4] Denys Lombard. Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia 2. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2000. hlm. 31.

[5] Ibid. hlm. 34.

[6] M.C. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi. 2008. hlm. 28-29.

[7] Onghokham. Ilmu Sejarah dan Kedudukan Sentralnya. Dalam Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kirun Niaga: 1450-1680 Tanah di Bawah Angin. Jakarta: LP3ES. 1992. hlm. Xviii.

[8] Op. Cit,. hlm. 31.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Intip Lawan Timnas U-23 di Asian Games : …

Achmad Suwefi | | 01 September 2014 | 12:45

Anda Stress? Kenali Gejalanya …

Cahyadi Takariawan | | 01 September 2014 | 11:25

‘Royal Delft Blue’, Keramik …

Christie Damayanti | | 01 September 2014 | 13:32

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 5 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 9 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 10 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 10 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Perbaikan Gedung DPRD Kab.Tasikmalaya …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kompasianer, dari Sekedar Komentator Hingga …

Sono Rumekso | 8 jam lalu

Legislator Karawang Sesalkan Lambannya …

Abyan Ananda | 8 jam lalu

Di The Hague [Denhaag], ada …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Inilah Buah Cinta yang Sebenarnya …

Anugerah Oetsman | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: