Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Roman Rendusara

Nama lengkap saya Oswaldus Romanus Minggu. Nama pena, Roman Rendusara. Dilahirkan di Kepi, Rajawawo, Kec. selengkapnya

Mari Longa, Pahlawan “Nasional” yang Terlupakan

REP | 29 August 2012 | 14:45 Dibaca: 2169   Komentar: 0   0

13462080641966745572

Patung Marilonga di kota Ende

Heroisme dan patritisme seorang pahlawan tidak cukup dikenal dengan memberi nama sebuah jalan, mengangkatnya menjadi pahlawan nasional dan menganugrahkan penghargaan lainnya. Mereka hanya dikenang dengan tindak tutur kita sesuai zaman kita kini. Sekiranya, Mari Longa, pahlawan kebanggaan Ende menjadi spirit baru dalam membangun sebuah bangsa.

Mari Longa dilahirkan di Watunggere, Ende sekitar tahun 1855, sekarang ibukota kecamatan Detukeli Kab Ende, Flores NTT. Nama aslinya Leba (pare adalah jenis sayur yang pahit). Ayahnya bernama Longa Rowa, seorang panglima perang tanah persekutuan Nida. Ibunya bernama Kemba Kore. Sebab sering sakit, maka sang ayah mengganti nama Leba Longa dengan nama Mari Longa. Mari adalah sejenis pohon yang kulitnya sangat pahit serta kayunya sangat keras. Sejak namanya diganti Mari Longa, ia menjadi sangat sehat.

Mari Longa berperang melawan sesame pribumi. Untuk menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, Belanda menerapkan politik “devide et impera”. Mari Longa ingin berdamai dengan pribumi karena kecerdikan Belanda, maka perang sesama pribumi pun tak terhindarkan. Pertama, perang melawan orang Mego di Maumere sekitar tahun 1895. Pertempuran ini dimenangkan oleh Mari Longa. Kedua, perang melawan orang Lise Lande pada tahun 1897 – 1899 yang dimenangkan oleh Mari Longa. Dalam perdamaian Mari Longa mempersunting seorang gadis Lise. Ketiga, perang melawan orang Londi Lada, dimenangkan oleh Mari Longa. Keempat, perang melawan orang Detukeli. Kelima, perang melawan pasukan Diko Lawi yang kemudian ditaklukan oleh pasukan Anafua pimpinan Mari Longa.

13462081501707037962

Sisa Peninggalan Benteng Pertahanan Mari Longa di Watunggere

Revolusi awal perang Mari Longa melawan Belanda dimulai pada tahun 1890. Mari Longa membantu Bhara Nuri (pahlawan Ende, pemimpin pasukan melawan Belanda 1887 – 1891) untuk berperang melawan Belanda. Dalam pertempuran itu, putrid Mari Longa yang bernama Nduru Mari terkena tembakan Belanda. Peluru bersarang di ususnya. Nyawa Nduru Mari tertolong dan hidup. Pertempuran ini dikenal dengan perang “ae mesi nuka tana lala” (air laut naik, tanah runtuh). Perang ini juga sebagai awal perang melawan kolonial Belanda. Pasukan Belanda pun bertekuk lutut dalam perang selama 1893 – 1897 ini.

Perang Koloni II terjadi pada tahun 1898 – 1902. Pasukan Belanda digiring Mari Longa memasuki hutan sehingga mereka menyerah kalah sebelum banyak menelan korban. Belanda mengajak damai dan ingin mengajak Mari Longa menjadi raja. Belanda licik dan Mari Longa tidak diangkat menjadi raja di Watunggere.

Perang Koloni III terjadi pada tahun 1905. Kampung Lewagare dibakar Belanda. Mari Longa marah dan bersama pasukannya membantai serdadu Belanda.

Perang Koloni IV pun meletus lagi pada tahun 1906. Lagi – lagi puluhan pasukan Belanda merenggang nyawa terkena tembakan anak panah otomatis yang dipasang pada jalan masuk kampung Watunggere dan jalan di hutan, dekat benteng Watunggere yang merupakan perkampungan Belanda. Belanda akhirnya menarik pasukannya ke Ende.

Akhirnya, karena kelicikan Belanda pada tahun 1907 perang koloni V meletus lagi. Mari Longa gugur di depan benteng Watunggere, di tangan kapten Christoffel.

1346208267266059944

Kubur Batu Mari Longa di Watunggere

Kini, kisah Mari Longa dengan masa kejayaannya tinggal cerita lusuh dan usang. Kesaktian dan kepemimpinan Mari Longa hanya selembar sejarah yang kini masih terlukis pada nama salah satu jalan di kota Ende, Jalan Mari Longa. Sekiranya memberikan roh dan semangat bagi generasi penerusnya untuk terus membangun negeri ini dengan „topo doga, ae bere iwa sele“ (tanpa menyerah dan tak kenal lelah), tidak bermental instan dan malas dan tidak menjadi pemimpin malas. Sebab korupsi (mencuri uang negara) akan selalu lahir dari kemalasan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Keputusan KPU Tetapkan Jokowi-JK sebagai …

Yusril Ihza Mahendr... | | 23 July 2014 | 14:21

Kado Hari Anak; Berburu Mainan Tradisional …

Arif L Hakim | | 23 July 2014 | 08:50

Stop! Jadi Orangtua Egois (Mari Selamatkan …

Siska Destiana | | 23 July 2014 | 12:36

Penting Gak Penting Ikut Asuransi Kebakaran …

Find Leilla | | 23 July 2014 | 11:53

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 1 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 3 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 7 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 7 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: