Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Dian Friantoro

Urang sunda asli tapi berdarah jawa, Penggali ilmu Akuntansi Universitas Negeri Yogyakarta dan berbakat jadi selengkapnya

Candi Ratu Boko: Misteri yang Terlupakan

OPINI | 31 August 2012 | 19:28 Dibaca: 5410   Komentar: 1   1

“Eh… liburan ini ke candi prambanan yuk!”

“Boleh, boleh… Sekalian aja ke candi ratu boko ya”

“Candi ratu boko? Emang dimana ? Aku baru denger ada candi yang namanya candi                      ratu boko”

“ Ah.. kamu ini, itu lho yang sebelah selatan candi prambanan!!”

Itulah mungkin kutipan percakapan yang membuktikan bahwa memang dewasa ini masyarakat pada umumnya kurang mengenal tentang candi ratu boko. Mereka seakan melupakan bangunan istana peninggalan kerajaan mataram kuno itu. Candi ratu boko mungkin kalah “tersohor” daripada candi Prambanan ataupun candi Borobudur. Padahal letaknya tidak jauh dari candi prambanan, yaitu sekitar 3 kilometer kearah selatan candi prambanan. Tepatnya di kecamatan Bokoharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Serkilas tentang sejarahnya, candi Ratu Boko, yang juga peninggalan kerajaan mataram kuno ini bermula dari seorang belanda bernama H.J. DeGraff pada abad ke 17. Ia mencatat bahwa orang-orang Eropa yang datang ke Jawa telah melaporkan keberadaan tempat peninggalan sejarah purbakala. Mereka menerangkan bahwa telah ditemukan reruntuhan bangunan istana di Bokoharjo, yang konon istana Prabu Boko, seorang Raja berasal dari Bali. Sedangkan kisah lain yaitu kisah prabu boko yang berkembang sebagai cerita rakyat kuno tanah jawa juga menyebutkan  telah ditemukannya reruntuhan bangunan istana pada jaman masuknya agama hindu persis ditempat yang dicatat oleh seorang Belanda tersebut. Namun, kutipan kisah Mas Ngabehi Purbawidjaja dalam Serat Babad Kadhiri mungkin yang lebih jelas menggambarkan keberadaan candi Ratu Boko yang dipenuhi pesona mistis didalamnya. Adapun kutipannya sebagai berikut :

Alkisah pada suatu ketika, bertahtalah seorang Raja yang bernama Prabu Dewatasari di Kraton Prambanan, namun banyak diantara rakyatnya yang menyebut juga bahwa Raja Prambanan adalah Prabu Boko, seorang Raja yang ditakuti karena konon menurut cerita, Prabu Boko gemar makan daging manusia. Dan ternyata, sesungguhnya Prabu Boko adalah seorang perempuan, yaitu permaisuri Raja Prambanan yang bernama asli Prabu Prawatasari. Prabu Boko adalah perempuan titisan raksasa yang bernama Buto Nyai, meskipun begitu, kecantikannya tidak ada yang menandingi di wilayah Jawa Tengah kala itu.   Dan karena postur badannya yang tinggi melebihi rata-rata tinggi orang dewasa di masa itu, maka dia juga mendapat nama alias atau julukan Roro Jonggrang. Setelah melahirkan putranya, Prabu Boko mempunyai kebiasaan memakan daging manusia. Dan karena perbuatannya tersebut, sang Raja Prabu Dewatasari murka dan mengusir permaisurinya meninggalkan istana. Kepergian sang permaisuri meninggalkan luka bagi Raja dan putranya yang masih bayi. Akhirnya dibuatlah patung dari batu yang menyerupai istrinya yang kini dikenal dengan Roro Jonggrang.

Setelah mengulik sejarahnya, tak afdol rasanya bila kita tidak mengulas tentang bentuk candi ratu boko. Bila ditilik, candi ini memang tak semegah candi Borobudur atau secantik Candi Prambanan. Bangunan candi ratu boko ini merupakan hasil pemugaran, dengan batu-batu candi yang terlihat masih baru. Selain itu, candi ini memiliki fungsi tempat tinggal, ditandai dengan adanya atap dan tiang. Adapun bagian candinya, candi ini terbagi dalam 4 bagian yaitu bagian tengah, tenggara, timur dan barat. Bagian tengah candi ini terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban. Kemudian, bagian tenggaranya Pendopo, tiga candi, kolam, balai serta kompleks Keputren. Dibagian timur terdapat kompleks gua, Stupa Budha, dan kolam. Sedangkan bagian barat sisanya hanya perbukitan saja.

Sungguh, semua kisah legenda dan catatan sejarah lewat temuan prasasti, serta perubahan dari zaman ke zaman candi ratu boko kian mempertegas bahwa siapapun yang hidup di era sekarang ini sebenarnya sama jauhnya dengan misteri sejarah dibalik keindahan situs Istana Ratu Boko. Namun jauhnya kita dengan misteri sejarah tersebut bukan menjadi alasan untuk kita melupakan candi ratu Boko bukan?. Kita seharusnya  peduli dan tidak melupakan kedamaian di candi Ratu Boko. Kedamaian yang muncul dari perbukitan boko yang letaknya tidak terlalu jauh dari kemajuan kehidupan kota yang masih sangat bisa dirasakan hingga kini. Kedamaian itu ada, namun kehidupan kota itu seakan telah membutakan para masyarakat atau wisatawan untuk mengunjungi candi ratu boko. Mungkin karena derasnya arus globalisasi juga, masyarakat seperti mengacuhkan sejarah. Mereka melupakan peninggalan-peninggalan arkeologi. Mereka melupakan candi Ratu Boko yang masih memiliki peran besar sebagai tempat belajar, belajar menghargai kehebatan bagaimana konstruksi material batuan yang besar ini bisa disusun rapi di puncak bukit di masa itu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 12 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 13 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Tentang Peringatan di Dinding Kereta …

Setiyo Bardono | 7 jam lalu

Musik Adalah Hidup …

Nitami Adistya Putr... | 7 jam lalu

Dilema Struktur Kabinet …

Yanuar Nurcholis Ma... | 8 jam lalu

Untuk Anak-anakku di Negeri Hijrah …

Gayatri Shima | 8 jam lalu

Pengalihan Subsidi BBM …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: