Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Rio Rizalino

"Aku menulis maka Aku ada"

PKI Dilarang Merokok

REP | 27 September 2012 | 17:14 Dibaca: 332   Komentar: 2   3

Sudah beberapa hari ini, saya menemui dan mewawancarai sejumlah ex tapol 1965. Hal itu saya lakukanĀ  untuk keperluan peliputan program acara di tempat saya bekerja. Program tersebut mengangkat tema seputar peristiwa G30S. Banyak cerita dan kesaksian yang saya dapat dari para ex tapol tersebut. Namun dari sekian banyak cerita, satu hal yang menarik adalah larangan merokok di kalangan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menurut mereka, salah satu kode etik ketika menjadi anggota atau simpatisan PKI adalah dilarang merokok. Larangan ini muncul bukan tanpa sebab. Menurut para ex tapol itu, salah satu tujuan berdirinya PKI adalah untuk memperjuangkan hak-hak kaum miskin dan tertindas. Jadi basis massa dan basis ideologi mereka adalah kaum proletar. Lalu kenapa dilarang merokok? menurut salah satu ex tapol, mbah Pudjiati, larangan itu muncul karena mayoritas anggota PKI adalah orang miskin. Jadi, kalau orang miskin punya kebiasaan merokok, itu sama saja memiskinkan diri sendiri. “Lebih baik uang untuk beli rokok digunakan untuk kebutuhan lain,” kata mbah Pudjiati yang kini berusia hampir 80 tahun.

Menurut mbah Pudjiati, larangan ini pula yang menjadi salah satu bukti kalau PKI bukan dalang G30S. Kalau kita melihat film “Pengkhianatan G30S/PKI” yang selalu diputar setiap tahun pada era orde baru, ada sebuah adegan di mana para petinggi PKI sedang rapat mempersiapkan kudeta. Di sana mereka rapat sambil menghisap rokok. Adegan itu cukup mudah diingat, karena setting ruangan yang remang-remang, kepulan asap dimana-mana dan sesekali kamera menyorot close up bibir pemimpin rapat yang sambil menghisap rokok. “Djawa adalah kontji.” begitu kalimat yang saya ingat dalam adegan rapat tersebut.

Mengomentari adegan di film itu, mbah Pudjiati berkata, “Dalang G30S itu bukan PKI. Wong orang-orang PKI itu ngga boleh merokok. Makanya film itu bohong semuanya,”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | | 17 September 2014 | 05:23

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Jokowi Menghapus Kemenag atau Mengubah …

Ilyani Sudardjat | | 17 September 2014 | 13:53

Menempatkan Sagu Tidak Hanya sebagai Makanan …

Evha Uaga | | 16 September 2014 | 19:53

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | | 17 September 2014 | 19:50


TRENDING ARTICLES

Ternyata Gak Gampang Ya, Pak Jokowi …

Heno Bharata | 9 jam lalu

Bangganya Pakai Sandal Jepit Seharga 239 …

Jonatan Sara | 10 jam lalu

Invasi Tahu Gejrot …

Teberatu | 11 jam lalu

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 13 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Hakuna Matata, Selamat Malam …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Embun Api …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Hati-Hati Menggunakan Kamera Saku Digital …

Abebah Adi | 8 jam lalu

Hati Kedua …

Joshua Lie | 8 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Kalung Lonceng Raja Lori - …

Ghumi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: