Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Agussuwarno

Kang Guru dari lereng gunung Slamet, Banyumas,

Galaunya Bendera Setengah Tiang

OPINI | 01 October 2012 | 03:38 Dibaca: 437   Komentar: 2   4

Coba anda perhatikan di sekitar lingkungan anda berapa banyak warga yang memasang bendera setengah tiang pada tiap tanggal 30 september atau bendera satu tiang pada tanggal 1 Oktober. Tadi pagi saat keluar rumah tampak sebagian kecil warga yang memasang bendera setengah tiang. Entah lupa atau karena tidak ada edaran dari ketua RT untuk mengibarkan bendera. Padahal di era Orde Baru tidak mengibarkan bendera pada tanggal 30 September dan 1 Oktober bisa menjadi sebuah masalah serius. Warga yang tidak memasang bendera pada tanggal tersebut bisa dicap sebagai PKI. Sebuah sebutan yang bisa berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat dalam bentuk pengucilan.

Kegalauan warga dalam memperingati hari yang dikenal dengan peringatan G30SPKI dan hari kesaktian Pancasila tampak dari kegalauan warga saat akan mengibarkan bendera. Hari yang di masa Orde Baru sebagai hari sakral. Apakah bendera setengah tiang yang dikibarkan simbol berkabung atas kematian para jenderal yang terbunuh dalam peristiwa GESTAPU atau kematian ratusan ribu bahkan ada yang mengatakan jutaan korban yang dihukum mati tanpa peradilan yang jelas karena terstigma oleh tiga huruf yang diharamkan pada saat itu. Sementara itu bendera satu tiang yang dikibarkan apakah peringatan kemenangan sebagai bangsa atas sebuah pembrontakan atau kemenangan dari pihak yang memenangi perebutan kekuasaan di tengah lemahnya sang Presiden.

Kegalauan juga menyelesup di ruang-ruang kelas. Para guru sejarah galau apakah sejarah yang tertulis di buku-buku sebelumnya terkait peristiwa G30SPKI benar-benar sebagai history alias sejarah atau sekedar his stotry , cerita dia yang berkuasa pada saat itu. Akibatnya para siswapun menjadi buta akan sejarah kelam bangsa ini. Bahkan pada sebuah forum media sosial terkait dengan peristiwa G30SPKI, penulis melihat banyak para remaja yang bertanya apa itu PKI, dan apa saja yang telah dilakukan oleh organisasi tersebut sehingga menjadi organisasi terlarang hingga saat ini.

Kegalauan juga menyelimuti ruang batin pemerintah saat para korban peradilan buta pada saat peristiwa G30SPKI menuntut permintaan maaf dari pemerintah. Dengan meminta maaf terkait peristiwa tersebut tentu akan menuai keras warga yang masih trauma dengan kekerasan yang pernah dilakukan PKI. Padahal tidak sedikit warga yang terbunuh tidak terkait dengan organisasi tersebut .

Tampaknya peristiwa G30SPKI masih menyisakan ruang abu-abu dalam sejarah bangsa ini. Dan kitapun tidak ingin peristiwa tersebut terulang kembali. Tidak ada lagi pembantaian, tidak ada lagi kebohongan dan tidak ada lagi saling mencurigai antar warga. Yang kita butuhkan adalah Indonesia Satu. Indonesia yang mampu melihat masa depan dengan sebuah kedamaian.

Tags: g30spki

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | | 17 September 2014 | 05:23

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Jokowi Menghapus Kemenag atau Mengubah …

Ilyani Sudardjat | | 17 September 2014 | 13:53

Menempatkan Sagu Tidak Hanya sebagai Makanan …

Evha Uaga | | 16 September 2014 | 19:53

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | | 17 September 2014 | 19:50


TRENDING ARTICLES

HL Bukan Ambisi Menulis di Kompasiana …

Much. Khoiri | 7 jam lalu

Bukti, Koalisi Merah Putih Bukan Wakil …

Giri Lumakto | 10 jam lalu

Takut Prabowo, Jokowi Batalkan Perampingan …

Avit Hidayat | 10 jam lalu

Gubernur Pilihan Rakyat, Presiden Tak Layak …

Muhammad | 14 jam lalu

Ternyata Gak Gampang Ya, Pak Jokowi …

Heno Bharata | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Bima Arya Sukses Menghijaukan Jalanan Kota …

Masykur A. Baddal | 8 jam lalu

Kejahatan di Jalan Raya, Picu Trauma …

Muhammad | 9 jam lalu

Swakelola Pengurusan Jenazah A la Kel. …

Fajr Muchtar | 9 jam lalu

Bapak Diberi Tenggang Tiga Kali 24 Jam untuk …

Posma Siahaan | 10 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Pelangi Iris …

Putri Kodok | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: