Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Mengungkap Tabir Pembunuhan para Jenderal “G 30 S PKI”

OPINI | 30 September 2012 | 19:19 Dibaca: 2569   Komentar: 4   0


PRISTIWA G 30 S-PKI dan pristiwa penculikan para jenderal pahlawan revolusi yang lebih dikenal gerakan satu oktober, saat ini masih menjadi teka –teki besar bagi bangsa Indonesia siapa dalang dibalik pristiwa penculikan dan pembunuhan para jenderal revolusi yakni Jenderal Ahmad Yani, S Parman, M.T Haryono, Sutoyo Siswomihardjo, Soeprapto, D.I Panjaitan, Kapten Pierre Tendean dan Aipda Karel Sasuit Tuban (termasuk Jenderal Nasution yang berhasil lolos) yang tertembak mati oleh para penculik dewan jenderal dengan istilah Gestok atau gerakan satu oktober.

Dulu pristiwa ini selalu diperingati dengan pemutaran film-film G 30 S PKI, yang diputar dengan penculikan dan pembunuhan yang terjadi yang lakon utama dituduhkan terhadap para PKI pimpinan Aidit. Tapi saat ini, tontotanan G 30 S PKI itu tidak lagi diputar karena dalam sajian film itu diduga hanya sebagai rekayasa dari Presiden Soeharto saja. Lantas yang menjadi pertanyaan siapa sebenarnya dalang penculikan dan pembunuhan para Jenderal ini ?

Dari sebuah buku kecil yang berjudul 20 bodoh besar Seoharto karangan Drs Wimanjaya K Liotohe yang penulis baca, dihalaman 56 terdapat sebuah tulisan yang mencoba sedikit membuka tabir dalang dari penculika dan pembunuhan para jenderal revolusi ini, dalam tulisan tersebut memang masih menjadi teka-teki besar bagi bangsa Indonesia.

Ntah mengapa kasus ini tidak pernah dilakukan pengusutan oleh Presiden SOeharto, seolah-olah pristiwa ini merupakan pristiwa yang biasa saja. Malah Soeharto tenang-tenang saja dan tidak pernah berusaha untuk mengusut atau menelusuri siapa dalang dari penculikan yang terjadi pada saat itu, malah Soeharto selalu melakukan upacara peringatan hari Kesaktian Pancasila setiap tahun yakni pada tanggal 1 Oktober dengan upacara di monument Lubang Buaya, tempat sumur para jenderal yang diculik dan dikumpulkan mayat-mayatnya.

Dalam buku itu, Soeharto melakukan tindakan dengan membunuh semua orang-orang PKI yang tidak tahu menahu soal kudeta atau pristiwa penculikan itu sampai kedaerah-daerah. Secara bergelombang dalam jumlah besar-besaran termasuk orang-orang pengikut setia Bung Karno, bahkan ibu-ibu dan anak anak yang tidak berdosa banya terbunuh di desa –desa Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali,

Sedih dan menyeramkan, Soeharto mungkin tergolong prisiden yang paling berlumurahn darah tangannya di dunia, selain algojo Kamboja bernama Pol Pot yang membantai lebih dari satu juta bangsanya sendiri. Belum lagi menyusul pembantaian di Aceh, Lampung, Priokm Maluku, Irian, Timtim, Nipah, Ujang Pandang, Trisakto dan kerusuhan-kerusuhan 27 Juli Sabtu kelabu yang semuanya memakan korban nyawa bangsa kita secara missal yang dalam buku ini semua bertanggungjawab adalah Soeharto.

Dari pristiwa diatas, tentu saat ini semua fenomena yang telah terjadi masih menjadi teka-teki alam yang tak akan pernah terungkap ? Ntahlah, sejarah juga belum mencatat secara pasti siapa dalam dibalik ini semua, meski sudah ada tanda-tanda yang mengarahkan kepada mantan Presiden RI Soeharto? Tapi itu belum bisa dijadikan sebuah bukti, sebab tak ada satupun yang bisa mengungkap kasus ini . Salam (****)

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Jokowi Seorang “Koki” Handal …

Sjahrir Hannanu | 13 jam lalu

Indra Sjafri Masih Main-main dengan …

Mafruhin | 14 jam lalu

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 17 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 18 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Ditemukan: Pusat Tidur Dalam …

Andreas Prasadja | 13 jam lalu

Museum Louvre untuk First-Timers …

Putri Ariza | 13 jam lalu

Cinta dalam Botol …

Gunawan Wibisono | 13 jam lalu

Wisata Bahari dengan Hotel Terapung …

Akhmad Sujadi | 13 jam lalu

Jurus Jitu Agar Tidak Terjadi Migrasi dari …

Thamrin Dahlan | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: