Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Sisingamangaraja XII Pahlawan Nasional dari Tanah Batak

OPINI | 28 October 2012 | 09:24 Dibaca: 1626   Komentar: 0   5

13513913411087229171

Sisingamaraja XII pada uang Seribu rupiah | sumber tobadreams.wordpresscom

Sumatra Utara merupakan salah satu tempat pariwisata yang terkenal dengan Danau Toba nya, mungkin sebagian besar dari kita mungkin tidak tahu banyak tentang sejarah Tapanuli dari mulai jamannya penjajahan Belanda. Yang saya rasakan sekarang pelajaran Sejarah semakin jarang diminati sehingga kita tidak banyak tahu kalau kita memiliki Pahlawan Nasional yang telah gigih memperjuangkan wilayah-wilayah di Indonesia yang ingin dikuasai dan dimonopoli oleh penjajah.

Sosok Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII kelahiran tahun 1849 di Bakkara, Tapanuli sebuah daerah di tepian Danau Toba dan diangkat menjadi raja pada tahun 1867, telah banyak menginspirasi kita dimana beiau sangat anti dengan pengkhianatan,  perbudakan dan penindasan. Beliau tidak silau dengan gelar yang ditawarkan untuk menjadi Sultan Batak dan hak istimewa yang lazim  diberikan oleh Belanda didaerah lain,namun beliau menolak dan memilih mati dari pada tunduk pada penjajah.

Pejuang ksatria yang gigih memperjuangkan untuk bangsanya dan tidak mau mengkhianati Bangsanya sendiri demi kekuasaan. Sangat berbeda dengan jaman sekarang yang berlomba-lomba ingin mendapatkan kekuasaan dengan cara apapun tanpa melihat dan peduli dengan nasib bangsa sendiri yang penting keinginannya tercapai.

Rasa nasionalisme yang minim menjadikan saya prihatin dengan Bangsa ini, kita sering memikirkan kepentingan diri sendiri dengan tanpa sadar kita melupakan jasa-jasa Pahlawan kita, tanpa perjuangan mereka mungkin Bangsa ini tidak MERDEKA, para penjajah yang ingin menguasai wilayah-wilayah di Indonesia akan bebas dan leluasa melakukan penindasan dan perbudakan terhadap kita.

Sulit dibayangkan jika pahlawan-pahlawan kita tidak gigih memperjuangkan Bangsanya, Kekayaan alam yang melimpah di Indonesia dan berjuta-juta tempat potensi wisata yang banyak mempengaruhi mobilitas perekonomian Bangsa Indonesia mungkin tidak pernah kita rasakan, dan kemungkinan akan terjadi tindak penindasan dan perbudakan yang dilakukan oleh penjajah Belanda.

Dijaman sekarang, akankah kita menemukan sosok Pahlawan seperti mereka-mereka ?? menurut saya mungkin “ tidak “, salah satu contohnya kita sering membanggakan budaya atau tempat wisata asing, kita sering lupa bahwa wilayah-wilayah kita banyak yang diperjuangkan melalui pertumpahan darah dimana penjajah ingin merebut dan menguasainya, semua telah kita miliki tinggal kita meneruskan untuk  memperjuangkan agar kita tetap memiliki asset yang ada.

Bentuk keprihatinan saya dari Bangsa kita adalah bebas keluar masuknya pihak Asing dan menurut saya banyak dari kita sudah tunduk pada pihak Asing, padahal jika kita berpikir jauh ini wilayah kekuasaan kita yaitu Republik Indonesia, namun coba buka mata dan telinga, kita sering jadi budak mereka di rumah sendiri. Sungguh prihatin bukan??

Tidak hanya itu, perdangan bebas yang sudah melanda Bangsa kita ada positif dan negatifnya, dimana barang impor sering masuk ke wilayah kita dan cukup merugikan para kita, padahal pihak diluar sana selalu banyak memakai produk dari kita an yang lebih saya miris lagi mereka disana menjualnya kembali dan pihak dari kita membeli dengan pandangan ini buatan luar negeri dan dibeli dari luar negeri, lucu bukan?? Wahai saudaraku dimana jiwa patriotisme kita, saya yakin pahlawan-pahlawan yag sudah mendahului kita pasti sedih melihat dan mendengar nasib Bangsa yang diperjuangkannya tidak pernah menghargai jasa-jasanya.

Hari ini tanggal 28 Oktober bertepatan dengan Sumpah Pemuda, ayo pemuda Indonesia kita teruskan perjuangan Pahlawan kita, Kenali Negerimu dan Cintai Negerimu. Semoga kita sebagai pemuda banyak menginspirasi seperti Pahlawan Nasional kita yang telah gugur untuk memperjuangkan Bangsa kita. Sosok salah satu Pahlawan Nasional Sisingamangaraja ini patut kita contoh keteladanan dan jiwa ksatrianya.
Keterlibatan seluruh keluarganya yang ikut bersama-sama melawan penjajah patut kita teladani, dimana mereka bersatu hingga akhirnya mereka gugur satu persatu, ada yang bikin saya menitikkan air mata juga ketika membaca permaisuri dari Sisingamangaraja meninggal tidak lama sebelum gugurnya Sisingamangaraja yang diakibatkan karena kelelahan dihutan selama Perang Gerilya.

Betapa mulia nya perjuangan mereka, Pahlawan tanpa tanda jasa yang patut kita kenang sepanjang masa dan selalu menjaga apa yang telah diperjuangkannya. Semoga dengan tulisan ini jiwa patriotisme kita terpacu kembali dan selalu mencintai Bangsa kita yaitu Indonesia. Bangsa Yang Besar adalah Bangsa yang Mau Menghargai jasa Pahlawan-Pahlawannya.***

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Pernahkah Ini Terjadi di Jaman SBY …

Gunawan | 4 jam lalu

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 8 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 10 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 11 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Autis, Menarik Cinta dan Pelajaran …

Ahmad Fiqhi Fadli | 7 jam lalu

Go Green Now! …

Shary Triwulandari | 7 jam lalu

Filsafat: Dari “Spectator” Menuju …

Yustinus Hendro Wua... | 7 jam lalu

Men-tidaklaku-kan Barang yang Belum Tidak …

Esgogo Eskrim | 7 jam lalu

“Sekolahnya Seperti Kandang …

Ufqil Mubin | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: