Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Ryan A. Syakur

Seorang lelaki yang rindu akan kedamaian dan keadilan

Merentang Sejarah Indonesia Lewat Lokomotif

REP | 30 October 2012 | 20:22 Dibaca: 1966   Komentar: 0   0

lokomotif GE tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah Indonesia. Kuda besi ini bukan hanya sebagai sarana transportasi biasa. Tahun 1955, rombongan KAA I turut merasakan jasa dari lokomotif diesel pertama GE, CC 200.

Matahari cukup hangat menyapa kota Cirebon siang itu. Deru mesin diesel lokomotif mulai terdengar khas dari kejauhan. Di seberang rel, pantulan cahaya matahari membentuk siluet dari sebuah lokomotif klasik, CC 200. Lokomotif hasil produksi General Electric (GE) berwarna kombinasi kuning gading dan hijau tua ini belum jua menyerah pada waktu. Lokomotif lawas itu kini masih terparkir di Dipo Perbaikan Daerah Operasi (DAOP) 3 Cirebon.

Tua terbukti bukanlah penghalang bagi loko klasik buatan GE itu. Hingga kini lokomotif CC 200 tidak canggung ketika berpapasan dengan lokomotif modern, seperti jenis CC 203 yang menarik rangkaian Argo Bromo dan loko CC 201 untuk rangkaian Cirebon Express. Kualitas dan Perawatan yang baik membuat CC 200 masih cukup perkasa beroperasi di atas rel, meski hanya untuk pengoperasian internal.

Diesel Menggantikan Uap

Lokomotif CC 200 menggantikan kerja lokomotif uap yang sebelumnya akrab di telinga masyarakat Indonesia di era sebelum kemerdekaan.  Lokomotif jenis ini mulai dipakai untuk menarik rangkaian gerbong sejak dibukanya jalur jalan rel yang pertama di Indonesia, yaitu antara Kemijen ke Tanggung, Semarang pada tahun 1867 sepajang 26 km. Lokomotif yang digunakan adalah lokomotif uap seri B1, yaitu lokomotif yang mempunyai 2 gandar roda penggerak dan 1 gandar roda pengantar (idle) dan mempunyai tender bergandar 3.

Dalam perkembangan selanjutnya, berbagai jenis lokomotif uap didatangkan dari Eropa terutama dari Jerman, Belanda, dan Amerika. Lokomotif yang berdaya sampai 1850 PK ini beroperasi di berbagai perusahaan kereta api, baik perusahaan swasta seperti NIS (Nederlandsch Indische Spoorwegen) dan perusahaan pemerintah yaitu SS (Staats Spoorwegen).

Di awal tahun 1950 pengadaan lokomotif uap mulai dihentikan oleh Pemerintah. Penyebabnya, para produsen lokomotif ini di Eropa dan Amerika mulai menghentikan produksinya. Sejak saat itu, berbagai diskusi dilakukan oleh para petinggi DKA (Djawatan Kereta Api) untuk mengubah lokomotif kereta api uap menjadi yang lebih modern, diesel. Perubahan tersebut bukanlah perkara mudah, karena saat itu belum ada orang yang mengerti perawatan dan operasional lokomotif diesel. Akhirnya palu diketuk, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno menyetujui pembelian lokomotif diesel tipe elektrik ini.

Pada tahun 1953, sebanyak 27 buah lokomotif CC 200 didatangkan dari Amerika Serikat.  Lokomotif hasil inovasi GE ini memiliki berat 96 ton, dengan 3 bogie, yakni 2 bogie penggerak dan 1 bogie idle. Dengan motor diesel ALCO 244E, jenis 4 tak dan berkekuatan 1750 HP (Horse Power), CC 200 mampu melaju hingga 100 km/jam.

Dalam mengenalkan operasional lokomotif diesel, GE sejak tahun 1953 - ketika pertama kali kerjasama dengan Pemerintah Indonesia dalam mendatangkan CC 200, mengadakan training langsung di pabrik lokomotif GE di Amerika Serikat. Teknisi GE mengadakan pelatihan lokomotif diesel selama 6 bulan untuk para sarjana muda yang ditunjuk pemerintah.

Selama pengabdiannya, lokomotif kebanggaan seluruh Rakyat Indonesia ini pernah menjadi bagian penting peristiwa bersejarah dunia yakni Konferensi Asia Afrika (KAA). Lokomotif kuning-hijau ini ikut menyukseskan upaya bersatunya negara-negara Asia Afrika menjalin kerjasama ekonomi-kebudayaan dan melawan dominasi barat. Pada April 1955, lokomotif CC 200 turut andil membawa rombongan KAA I dari Jakarta ke Bandung.

Setelah CC 200, GE kembali membawa lokomotif diesel ciptaannya ke Indonesia. CC 201, BB 203, CC 203 dan CC 204 berturut-turut menjadi andalan moda transportasi kereta api di masanya hingga kini. Medan yang unik di Indonesia, dari mulai pesisir yang datar, sampai ke pegunungan yang banyak tanjakan dan tikungan butuh kuda besi yang mumpuni dan handal dalam menjelajahi medan-medan tersebut. Teknisi-teknisi GE berupaya menciptakan lokomotif yang sesuai dengan medan di Indonesia dengan terus melakukan riset-riset dan pengembangan dalam meningkatkan performa. Salah satunya menciptakan CC 201 yang dihadirkan di Indonesia sebanyak 28 unit pada tahun 1977.

Kehadiran CC 201 merupakan sebuah evolusi bagi era lokomotif diesel di Indonesia. Lahir sebagai penerus CC 200, Lokomotif ini dikenal sebagai lokomotif terkuat pada masanya, dengan bobot yang relatif ringan pula. Lokomotif bernama asli U-18 C ini mampu menghasilkan tenaga 1800 dk dengan bobot yang hanya 84 ton. Jauh di atas CC 200 dengan bobot 96 ton, daya yang dihasilkan 1600 dk.

Pada tahun 1978, GE kembali membuat lokomotif diesel elektrik tipe keempat - U-18 B. Lokomotif ini, bentuk, ukuran dan komponen utamanya relatif sama dengan CC 201 pendahulunya. Yang membedakan adalah susunan gandarnya. Jika lokomotif CC201 bergandar Co’-Co’ dimana setiap bogienya memiliki tiga gandar penggerak, lokomotif BB203 bergandar (A1A)(A1A), yaitu setiap bogienya juga memiliki tiga gandar, tetapi hanya dua gandar dalam setiap bogienya yang digunakan sebagai gandar penggerak.

Saat ini lokomotif lokomotif CC 201 yang terdapat di Dipo Lokomotif Kertapati berjumlah enam buah, dengan nomor BB20302, BB20303, BB20305, BB20306, BB20308, dan BB20310. Lokomotif ini pernah beroperasi di Jawa, tetapi sejak tahun 1989 semua lokomotif BB 203 di Jawa satu per satu mulai diubah menjadi CC 201. Untuk membedakan yang mana lokomotif hasil rehabilitasi BB 203 menjadi CC 201, huruf belakang tulisan nomor loko yang di-rehab ditambahkan “R” di belakangnya. Seperti lokomotif BB 203 periode 2004 yakni BB20326 yang direhab menjadi CC201141R.

Terus Kembangkan Inovasi Baru

Perkembangan industri perkeretaapian di Indonesia tak bisa dilepaskan dari tangan-tangan kreatif para Inovator di GE. Inovasi baru terus digodok untuk kemudian ditelurkan menjadi produk-produk yang bermanfaat dan berkualitas bagi masyarakat. Hal ini yang kemudian mendasari kerjasama antara General Electric Transportation dengan Industri Kereta Api Madiun (INKA). Kerjasama ini melahirkan perusahaan PT General Electric Lokomotif Indonesia. Hasil dari sinergi ini yaitu sebuah lokomotif CC 204 yang dirakit khusus di Indonesia pada tahun 2003 sampai 2005.

Dalam penciptaannya CC 204 terbagi dalam dua jenis, yaitu produksi pertama dengan bentuk seperti CC 201 dan produksi kedua yang bentuknya seperti CC 203. Keduanya sama-sama memiliki dua bogie, di mana setiap bogie mempunyai tiga poros penggerak yang masing-masing digerakkan oleh motor traksi tersendiri. Menariknya, lokomotif ini mempunyai komponen komputer Brightstar Sirius, sebuah teknologi yang dikembangkan oleh GE sehingga memungkinkan lokomotif jenis ini mampu memitigasi kerusakan sekitar 45 menit sebelum kerusakan itu terjadi.

Sejak tahun 2006, telah dioperasikan lokomotif CC 204 hasil rehab baru yang mempunyai bentuk kabin yang berbeda dengan lokomotif CC 204 01 - 07. Komponen-komponen seperti mesin diesel, motor traksi, bogie, dan seterusnya sama dengan lokomotif CC204 sebelumnya. Hingga kini, jumlah lokomotif CC 204 di Indonesia ialah 37 unit. 6 unit berada di Sumatera dan 31 unit di Jawa.

Total secara keseluruhan, sejak tahun 1950 Indonesia telah memiliki 175 lokomotif produk GE Transportation. 3 tahun lalu PT KAI membeli 20 lokomotif GE  jenis C20-EMP untuk mencukupi kebutuhan transportasi kereta api di Jawa dan Sumatra. Kedua puluh lokomotif dibangun di pabrik lokomotif modern GE Transportation, Erie Pennsylvania, AS. Sedangkan perakitan final akan dilakukan PT INKA di Madiun.

Saat ini, GE sedang mengembangkan sebuah lokomotif ramah lingkungan. Tahun lalu GE Transportasi telah meluncurkan lokomotif hibrida. Lokomotif ini mampu mendaur ulang energi termal sebagai kekuatan yang tersimpan dalam baterai on-board. Evolusi Hibrida diesel-listrik ini akan menangkap dan menyimpan energi hilang saat pengereman dinamis. Energi yang tersimpan dalam baterai akan mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi sebanyak 10 persen dibandingkan dengan sebagian besar lokomotif angkutan yang digunakan saat ini.

27 Februari 2012

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 3 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 8 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 13 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 13 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Mati Karena Oplosan dan Bola …

Didi Eko Ristanto | 7 jam lalu

Ketika Lonceng Kematian Ponsel Nokia …

Irawan | 7 jam lalu

Catatan Terbuka Buat Mendiknas Baru …

Irwan Thahir Mangga... | 7 jam lalu

Diary vs Dinding Maya - Serupa tapi Tak Sama …

Dita Widodo | 7 jam lalu

Nama Kementerian Kabinet Jokowi yang Rancu …

Francius Matu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: