Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Riyadi Hidayat

Menjadikan tulisan sebagai lahan ibadah

Sri Sultan Hamengkubuwono IX Sosok Pemimpin Ideal untuk Bangsa

OPINI | 31 October 2012 | 14:25 Dibaca: 730   Komentar: 0   0

Jogja memang Istimewa itulah kata-kata yang sering terdengar beberapa waktu yang lalu. Perjuangan masyarakat Yogyakarta untuk mengukuhkan keistimewaan Yogyakarta akhirnya terwujud.Keistimewaan Yogykarta tidak lain karena catatan sejarah sudah menuliskan betapa besar peran Sri Sultan Hamengkubowono IX menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Selain itu, beliau mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat istimewa.

Sebelum dinobatkan, Sultan yang berusia 28 tahun bernegosiasi secara alot selama 4 bulan dengan diplomat senior Belanda Dr. Lucien Adam mengenai otonomi Yogyakarta.  Sultan bersama Paku Alam IX adalah penguasa lokal pertama yang menggabungkan diri ke Republik Indonesia. Sultan pulalah yang mengundang Presiden untuk memimpin dari Yogyakarta setelah Jakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda I.

Menurut¬† Romo Tirun, salah satu pejabat di Keraton Yogyakarta “Sri Sultan HB IX itu adalah pribadi yang sederhana, demokratis, berkarisma, dan tanggap terhadap rakyatnya”.

Kesederhanaan Sultan HB IX pun sangat nampak ketika ia selalu mengunjungi rakyat-rakyatnya baik yang ada di pasar, desa, atau tempat lainnya. Bahkan ia selalu memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk mengutarakan pendapat di alun-alun.

Dalam perjuangan melawan penjajah, Sultan HB IX adalah sosok nasionalis. Ia selalu menyorakkan kemerdekaan RI seperti keikutsertaan dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 membantu Bung Karno dan Bung Hatta. Tak hanya itu, saat masa penjajahan Jepang, Sultan melarang pengiriman romusha dengan mengadakan proyek lokal saluran irigasi Selokan Mataram.

Menurut Putra beliau Sri Sultan HB X yang saat ini menjadi Gubernur DIY .

“Sebagai orang tua, beliau (Sultan HB IX) selalu menyediakan diri menjadi tempat berdialog secara terbuka kepada anak-anaknya, termasuk dengan saya,”

Menurut raja Keraton Jogjakarta tersebut, Sultan HB IX adalah profesional. Bangsawan yang punya nama kecil Raden Mas Dorojatun (12 April 1912 - 2 Oktober 1988) itu bisa membuat garis pemisah yang tegas antara hubungan orang tua-anak dan hubungan pekerjaan.

Dia selalu bisa menjadi tempat pembelajaran yang demokratis bagi anak-anak maupun rakyatnya. “Kalau saya tidak sependapat (dengan pemikiran Sultan HB IX, Red), saya pun bisa berargumentasi mengapa saya tidak sependapat. Itu yang saya maksud mengapa beliau bisa membedakan hubungan orang tua-anak dan hubungan pekerjaan,” sambung raja yang memiliki nama lahir BRM Arjuna Darpita itu.

Putra tertua Sultan HB IX dari istri KRA Widyaningrum tersebut menilai sifat keterbukaan terhadap perbedaan itu yang membuat HB IX layak menjadi tumpuan berproses bagi anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Sri Sultan HB IX sosk yang bisa manjadi model figur yang tepat menjadi pemimpin di negeri ini. Beliau mampu menjadi pemimpin pemerintahan juga pemimpin bagi keluarga. Tak kalah penting beliau adalah sosok pemimpin yang sangat dicintai oleh rakyatnya.

Apabila rakyatnya saja sangat mencintai beliau berarti itu adalah indikasi keberhasilan sebagai seorang pemimpin. Semoga di negeri ini akan lahir kembali sosok pemimpin seperti beliau. Beliau adalah pahlawan yang patut ditauladani untuk membangun negeri ini agar menjadi negara yang adil dan makmur.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwana_IX

http://bolosrewu.blogspot.com/2012/04/100-tahun-sri-sultan-hamengkubuwono-ix.html

http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/04/mengenang-1-abad-sri-sultan-hamengkubuwono-ix

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Asyiknya Acara Pernikahan di Jakarta (Bukan …

Irwan Rinaldi | 9 jam lalu

Matematika Itu Hasil atau Proses? …

Pical Gadi | 10 jam lalu

Usia 30 Batas Terbaik untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 10 jam lalu

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Menerobos Batas Kelam …

Akhmad Fauzi | 8 jam lalu

Nangkring Cantik: I am Beautifull …

Elisa Koraag | 8 jam lalu

Wanita dalam Sebuah Keluarga …

Aulia Fitrotul | 8 jam lalu

Mama, Pak Melmi Masuk TV …

Cay Cay | 8 jam lalu

Teman Datang saat Butuh Saja? …

Ois Meyta Rahayu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: