Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Nur Wigati

Menikmati hidup, bersyukur dan semangat :)

Pahlawan Nasional dari Banten

REP | 06 November 2012 | 22:27 Dibaca: 1767   Komentar: 0   0

1352264688880546906Di tahun 2011 Sjafruddin Prawiranegara telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia. Penganugerahan diadakan di sebuah acara resmi yang dipimpin Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, berlokasi di Istana Negara. Beliau lahir di Serang pada tanggal 28 Februari 1911 meninggal di Jakarta , 15 Februari 1989 pada umur 77 tahun.
Gelar Pahlawan Nasional diterima kepada ahli waris, ahli waris dari Syafruddin yang hadir adalah Aisyah Prawiranegara. Keluarga beliau sangatlah bangga atas gelar Pahlawan Nasional tersebut. Diharapkan dengan gelar tersebut akan menjadi teladan dan contoh semangat perjuangan putra asli Banten. Sjafruddin adalah pejuang pada masa kemerdekaan RI yang juga pernah menjabat sebagai Presiden/Ketua PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ketika pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda saat Agresi Militer Belanda II, 19 Desember 1948. Tahun 1948, pemerintahan Indonesia di Jogjakarta ditawan Belanda. Kemudian Sjafrudin membentuk PDRI. Waktu itu beliau mencari Hatta, kemudian setelah yakin bahwa Soekarno-Hatta tertawan, Ia bersama para tokoh nasional yang sedang berkunjung ke Sumatera Barat saat itu, berinisiatif mendirikan PDRI. Tokoh yang lahir di Anyar Kidul yang memiliki nama kecil “Kuding” ini memiliki darah keturunan Sunda Banten dan Minangkabau. Buyutnya, Sutan Alam Intan, masih keturunan raja Pagaruyung di Sumatera Barat, yang dibuang ke Banten karena terlibat Perang Padri. Ia menikah dengan putri bangsawan Banten, melahirkan kakeknya yang kemudian memiliki anak bernama R. Arsyad Prawiraatmadja. Ayah Syafruddin bekerja sebagai jaksa , namun cukup dekat dengan rakyat, dan karenanya dibuang oleh Belanda ke Jawa Timur. Syafruddin menempuh pendidikan ELS pada tahun 1925 , dilanjutkan ke MULO di Madiun pada tahun 1928 , dan AMS di Bandung pada tahun 1931 . Pendidikan tingginya diambilnya di Rechtshogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta (sekarang Fakultas Hukum Universitas Indonesia) pada tahun 1939 , dan berhasil meraih gelar Meester in de Rechten (saat ini setara dengan Magister Hukum). Ia juga sempat menyusun buku Sejarah Moneter, dengan bantuan Oei Beng To, direktur utama Lembaga Keuangan Indonesia.
Bahkan belum lama ini Pemprov Jabar berencana mengabadikan nama beliau sebagai nama sebuah jalan. Sejarawan harus membuktikan pada pemerintah pusat bahwa keterlibatan Syafruddin dalam organisasi tersebut bukanlah
sebuah pemberontakan.
Inilah sedikit cerita tentang Syafruddin, semoga generasi muda jaman sekarang dapat lebih mengenal beliau sebagai Pahlawan Nasional.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Haruskah Jokowi Blusukan ke Daerah Konflik …

Evha Uaga | | 19 December 2014 | 12:18

Artis, Bulu yang ‘Terpandang’ di …

Sahroha Lumbanraja | | 19 December 2014 | 16:57

Jalanan Rusak Kabupaten Bogor Bikin …

Opi Novianto | | 19 December 2014 | 14:49

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 4 jam lalu

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 11 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: