Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Syukri Muhammad Syukri

Orang biasa yang ingin memberi sesuatu yang bermanfaat kepada yang lain…. tinggal di kota kecil Takengon selengkapnya

Aman Dimot, Kebal, Berani Hadang Tank Belanda

OPINI | 07 November 2012 | 01:40 Dibaca: 3446   Komentar: 0   0

1352227143724771786

Relief kisah perjuangan Aman Dimot yang dituangkan di Tugu Kepahlawanan Aman Dimot yang terletak di depan kantor Bupati Aceh Tengah (Foto: Lintasgayo)

Indonesia, merupakan negeri yang memiliki banyak pahlawan dan manusia-manusia unik yang terlibat dalam usaha merebut kemerdekaan. Ragam cerita dan kisah seputar perjuangan menghalau Belanda dari nusantara, terkadang diluar logika sehat. Bentuk cerita dan kisah aksi mereka di medan perang gerilya sungguh berbeda dengan aksi gerilyawan di tempat lain. Salah satu kisah paling unik dan heroik yang selalu dikenang rakyat Tanoh Gayo Aceh Tengah sampai hari ini adalah kisah keberanian Abubakar Aman Dimot.

Lelaki kelahiran Tenamak Kecamatan Linge sekitar tahun 1900, oleh teman-temanya dipanggil Aman Dimot. Dia merupakan seorang pejuang asal Tanoh Gayo Aceh Tengah yang tergabung dalam pasukan Barisan Gurilla Rakyat (Bagura) yang dikomandani oleh Tengku Ilyas Leube. Saat berlangsungnya Agresi Militer Belanda I, seluruh pejuang Aceh dengan sukarela menuju ke front Medan Area untuk menghalau pasukan Belanda yang ingin menduduki kembali wilayah nusantara.

Menurut AR Hakim Aman Pinan (dalam Buku Pesona Tanoh Gayo, 2003), taktik perang gerilya yang digunakan para pejuang asal Aceh tersebut dalam menghadapi Belanda di front Tanah Karo Sumatera Utara belum mampu menghentikan laju pasukan Belanda. Pertempuran yang berlangsung di Kabanjahe Tanah Karo itu tidak kunjung berakhir, meskipun dari kedua belah pihak sudah banyak jatuh korban jiwa. Belanda terus menambah pasukan bantuan untuk mengalahkan gerilyawan yang selalu menghalangi jalan mereka untuk kembali menguasai Indonesia.

Pada tanggal 30 Juli 1949, pasukan Bagura dan Mujahidin yang diperkuat oleh 45 orang dengan persenjataan senapan dan kelewang mengintai konvoy pasukan Belanda yang diperkuat 2 tank dan 25 truk. Diantara anggota pasukan pengintai itu termasuklah seorang “pang” (sebutan untuk orang yang berani dan kebal-bulletproof) yang bernama Aman Dimot. Dia selalu siap bertempur secara terbuka, kapan dan dimana saja.

Mereka sudah mengintai konvoy pasukan Belanda sejak pagi. Begitu iring-iringan mendekat ke kawasan Rajamerahe (Tanah Karo), pasukan Bagura bersama gerilyawan setempat menyerbu konvoy itu dan mencincang pasukan Belanda yang keluar dari tank. Pertempuran jarak dekat itu tidak kunjung berakhir, sementara pasukan Bagura sudah sangat lelah. Komandan pasukan sudah perintahkan seluruh personil untuk mundur, namun Aman Dimot tetap bertahan.

Dengan bersenjatakan kelewang, Aman Dimot kembali mengamuk sambil menebas pasukan Belanda yang dekat dengan posisinya. AR Hakim Aman Pinan (2003) mencatat, cukup banyak pasukan Belanda yang tewas karena sabetan kelewang Aman Dimot, namun tidak ada yang menghitung berapa jumlah pastinya. Tragisnya, karena keasyikan menebas dan membabat pasukan Belanda, tanpa disadari Aman Dimot ternyata dia sudah dikepung oleh bala bantuan pasukan Belanda.

Sejumlah pasukan Belanda yang sedang mengepung Aman Dimot secara serentak melepaskan ratusan butir peluru dari senapan otomatis dan machine gun. Peluru-peluru tembaga yang dimuntahkan dari senapan pasukan Belanda membentur tubuh Aman Dimot, dan dia pun terkulai lemas. Meski peluru itu nyata mengenai tubuhnya, berdasarkan penuturan pasukan Bagura yang selamat, tidak ditemukan bekas luka peluru ditubuh Aman Dimot.

Menyaksikan peluru yang mereka tembakkan tidak melukai tubuh Aman Dimot, pasukan Belanda panik. Mereka khawatir, jika kemudian Aman Dimot pulih dari lemasnya bisa mengamuk dan menebas mereka dengan kelewangnya. Kemudian tubuh Aman Dimot digilas dan diseret dengan tank, ternyata masih juga hidup. Akhirnya tubuh Aman Dimot diletakkan dalam parit, lalu pasukan Belanda memasukkan granat ke mulut Aman Dimot dan meledakkannya. Aman Dimot pun gugur sebagai bunga bangsa pada pukul 12.00 WIB yang akhirnya dikebumikan oleh penduduk setempat di Desa Kandibata Tanah Karo.

Semangat patriotik yang diperlihatkan Aman Dimot diakui oleh semua orang sampai hari ini. Sayangnya, meski sudah diusulkan kepada Pemerintah, toh si pemberani Aman Dimot belum memperoleh penetapan sebagai pahlawan. Dia orang biasa yang memiliki keberanian luar biasa, layak disebut pahlawan. Semoga di hari pahlawan tahun ini, sang pemberani itu mendapat perhatian dari Pemerintah, dan berhak menyandang gelar sebagai salah seorang pahlawan kemerdekaan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | | 26 October 2014 | 06:48

Perjuangan “Malaikat Tak …

Agung Soni | | 26 October 2014 | 09:17

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | | 26 October 2014 | 01:02

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59



HIGHLIGHT

Satu Malam di Tanjung Bira …

Abdul Rahim | 7 jam lalu

Unjuk Rasa Tuntut Upah Layak di DIY …

Musfingatun Sakinat... | 7 jam lalu

Cody Simpson - Java Sounds Fair 2014 …

Tari Nadya | 7 jam lalu

Unek-unek untuk Presiden Baru …

Folly Akbar | 8 jam lalu

Risalah 365 Doa & Zikir Sehari-Hari …

Nur Hadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: