Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Dzulfikar

Suka kopi darat, kopdarnya ya sama kamu, iya kamuuu about.me/dzulfikar

KH. Ahmad Dahlan, Sang Pencerah Pendiri Muhammadiyah

OPINI | 08 November 2012 | 13:28 Dibaca: 6314   Komentar: 15   3

13523523921358967905

KH. Ahmad Dahlan (dok.Aziz Syaiful Anas)

Mungkin masih banyak yang belum mengetahui bahwa organisasi bernama Muhammadiyah sebetulnya lahir pada tanggal 12 Nopember 1912. Saat itu Muhammadiyah resmi di dirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Kemudian Muhammadiyah mendapatkan surat izin pendirian persyarikatan pada tanggal 18 Nopember 1912 dari Kesultanan Yogyakarta.

Setelah itu pada tanggal 20 Desember 1912, KH. Ahmad Dahlan mengurus izin kepada pemerintahan Hindia Belanda agar Persyarikatan Muhammadiyah memiliki badan hukum yang resmi. Selang dua tahun kemudian izin itu keluar tepatnya pada yanggal 22 Agustus 1914. Sadar akan pergerakan Muhammadiyah dalam pendidikan dan potensi amal usaha lainnya, pemerintah Hinda Belanda hanya mengizinkan Muhammadiyah bergerak hanya di daerah Yogyakarta.

Untuk mengenang jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan tersebut dan bertepatan dengan bulan Nopember, maka penulis mencoba untuk mengumpulkan beberapa serpihan-serpihan sejarah dari berbagai sumber untuk mengenang jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan. Semoga bisa bermanfaat terutama untuk kaum muda dan bangsa Indonesia.

KH. Ahmad Dahlan merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Bahkan diantara beberapa pahlawan lainnya pasangan KH. Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan adalah pasangan suami istri yang mendapatkan gelar pahlawan setelah Teuku Umar dan Cut Nyak Dien. Sangat jarang sekali pasangan suami istri diberikan gelar pahlawan nasional. Maka atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan, mereka diberikan gelar oleh pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional.

KH. Ahmad Dahlan pada saat kecil dikenal dengan nama Muhammad Darwis. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya adalah KH. Abu Bakar, seorang khatib amin Masjid Gedhe Kesultanan Yogyakarta. Ibunya, Siti Aminah pun adalah puteri seorang penghulu dari Kesultanan Yogyakarta. Artinya Muhammad Darwis memang lahir dari keluarga yang cukup berpendidikan dengan latar belakang pendidikan Islam yang cukup kuat.

Jika diruntut silsilah keluarganya, Muhammad Darwis masih keturunan Syaikh Maulana Malik Ibrahim salah satu tokoh Wali Songo. Lebih jauh lagi Muhammad Darwis memiliki garis keturunan dari kanjeng Nabi Muhammad SAW, yaitu dari cucu Nabi bernama Hussain bin Ali bin Abi Thalib.

Darwis kecil memang sudah dikenal sebagai pribadi yang supel. Bahkan jiwa kepemimpinannya sudah muncul sejak kecil. Dari tujuh bersaudara, Darwis adalah anak laki-laki paling besar dan adik bungsunya menjadi anak laki-laki terakhir dari Pasangan KH. Abu Bakar dan Siti Aminah. Saudara Darwis lainnya adalah perempuan.

Darwis kecil memang dipersiapkan sejak dini sebagai pengganti ayahnya kelak menjadi imam Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Maka pada usia 15 tahun pada tahun 1883, Darwis dikirim ke Makkah dan belajar disana selama lima tahun. Saat belajar di Makkah, Darwis mulai mengenal beberapa pemikiran-pemikiran pembaharu tokoh-tokoh Islam dunia diantaranya adalah Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Setelah lima tahun lamanya menimba ilmu di Makkah, Darwis kembali ke tanah air pada tahun 1888. Sepulang dari Makkah, Darwis mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan. Nama Ahmad Dahlan diberikan oleh gurunya saat mendapatkan ijazah kelulusan setelah belajar di Makkah.

Sekembalinya di tanah air, kemudian Ahmad Dahlan menikah dengan sepupunya sendiri Siti Walidah atau yang dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan. Saat itu umur Ahmad Dahlan baru menginjak usia 21 tahun, sementara Siti Walida berusia 17 tahun. Dari pernikahan tersebut Ahmad Dahlan dikarunia enam orang anak.

Setelah menikah Ahmad Dahlan juga berjualan batik. Karena mertuanya adalah seorang pedagang batik selain dikenal sebagai penghulu di Kesultanan Yogyakarta. Dalam bidang wirausaha Ahmad Dahlan juga dikenal sebagai pedagang yang handal. Beliau memiliki bakat berwirausaha seperti kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Pada tahun 1896 kabar buruk pun datang, Ayahanda Dahlan, KH. Abu Bakar meninggal dunia setelah sebelumnya Dahlan ditinggalkan ibunya setahun setelah pernikahannya dengan Siti Walida. Sepeninggal ayahnya, akhirnya Sultan mengangkat Ahmad Dahlan sebagai Khatib Amin di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Saat itu usia Ahmad Dahlan masih terbilang muda, 28 tahun.

Disinilah KH. Ahmad Dahlan mulai memberikan pembaharuan di tengah-tengah masyarakat Yogyakarta pada saat itu. Dalam khutbah pertamanya di Masjid Gedhe Yogyakarta, KH. Ahmad Dahlan dengan tegas dan berani melawan arus. KH. Ahmad Dahlan menyampaikan ketidak setujuannya terhadap tradisi-tradisi yang sampai sekarang pun masih ada di Yogyakarta. KH. Ahmad Dahlan beranggapan bahwa Islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Sehingga tidak membuat penganutnya mempersulit dirinya sendiri dengan upacara dan sesajen yang tidak pada tempatnya. Pengaruh-pengaruh tersebut ingin dirubah oleh KH. Ahmad Dahlan.

Melihat potensi yang begitu besar dari sosok KH. Ahmad Dahlan, Sultan akhirnya mengirim kembali KH. Ahmad Dahlan ke Makkah untuk melaksanakan ibadah Haji. Pada kunjungannya yang kedua ini sosok Syaikh Rashid Ridha lah yang banyak mempengaruhi pemikiran Ahmad Dahlan tentang perjuangan Islam. Rashid Ridha mengingatkan bahwa  tradisi di belahan dunia manapun masih tetap ada, bahkan seseorang bisa lebih taat pada tradsinya ketimbang agama yang dianutnya.

Pemikiran Rasyid Ridha ini mengingatkan penulis terhadap salah satu guru penulis saat belajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Guru tersebut bernama Ustadz Ridwan Hamidi, Lc. Guru bidang studi Hadis lulusan dari Madinah. Ia juga adalah alumnus Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, Yogyakarta.

Ustadz Ridwan saat itu menjelaskan Bid’ah. Bid’ah itu bukanlah sesuatu yang selalu buruk. Karena ada juga yang dinamakan dengan Bid’ah Hasanah. Bid’ah sendiri berarti sesuatu yang baru. Contoh bid’ah hasanah adalah sendok. Sendok adalah sesuatu hal yang baru. Sendok merupakan bid’ah, tapi bid’ah hasanah.

Bid’ah hasanah inilah yang ternyata ditunjukkan oleh KH. Ahmad Dahlan sekembalinya dari tanah suci. Seperti dikisahkan dalam film sang pencerah karya Hanung Bramantyo, KH. Ahmad Dahlan mulai banyak mengenakan pernak-pernik orang-orang Belanda seperti mulai dari pakaian hingga alas kaki berupa sandal. Meskipun KH. Ahmad Dahlan difitnah berbagai macam hal namun KH. Ahmad Dahlan bergeming. Sesuatu yang baru tidak selamanya buruk. Asal tidak bertentanggan dengan syariat Islam.

Saat itu mulai banyak teknologi yang dikembangkan oleh orang-orang Eropa. Pada masa itu segala perkembangan teknologi dan kemajuan zaman dianggap bid’ah dan tidak sesuai dengan Islam. Karena penciptanya dianggap bukan golongan umat Islam. Namun, ternyata ada bid’ah hasanah. Kemajuan teknologi yang bermanfaat tentunya bisa dikategorikan sebagai bid’ah hasanah.

Sikap Ahmad Dahlan yang melawan arus ini tentu saja banyak di tentang dan menjadi sorotan beberapa ulama sepuh di Yogyakarta pada saat itu. Yang fenomenal adalah perubahan posisi kiblat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. KH. Ahmad Dahlan sadar bahwa posisi kiblat Masjid Gedhe itu salah, kemudian KH. Ahmad Dahlan berusaha untuk meluruskannya dengan ilmunya.

Sayang usaha KH. Ahmad Dahlan dianggap menyalahi aturan. KH. Ahmad Dahlan secara terang-terangan dianggap sudah sesat dan keluar dari Islam pada masa itu. Hingga akhirnya untuk menghindari konflik KH. Ahmad Dahlan mengundurkan diri sebagai Khatib Masjid Gedhe Kauman Yogakarta. Akhirnya KH. Ahmad Dahlan mendirikan langgarnya sendiri bersama murid-muridnya.

Selain sebagai seorang pedagang dan ulama, KH. Ahmad Dahlan juga adalah seorang guru yang inovatif. Terbukti KH.Ahmad Dahlan mampu menghipnotis murid-muridnya dengan permainan biolanya yang menawan. Amat sangat jarang ditemui guru seperti KH. Ahmad Dahlan pada masanya.

Akhirnya KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah dalam rangka mewujudkan cita-citanya untuk melebarkan sayap dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. KH. Ahmad Dahlan berharap dengan didirikannya Muhammadiyah umat Islam pada masa itu bisa kembali pada tuntunan agama yaitu Al-Quran dan Al-Hadis. Bukan pada tradisi-tradisi yang mengekang dan menyulitkan ummatnya. Saat itu KH. Ahmad Dahlan menegaskan bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

Muhammadiyah berdiri bukan tanpa rintangan. Cobaan dan ujian harus dilalui oleh KH. Ahmad Dahlan dan keluarga. Cacian, fitnah dan ancaman pembunuhan dihadapi  dengan penuh kesabaran oleh KH. Ahmad Dahlan. Ini juga yang dirasakan oleh Rasulullah SAW saat menyebarkan agama Islam di masa-masa sebelum hijrah. Maka sebagai pengikut nabi Muhammad SAW, KH. Ahmad Dahlan tak khawatir karena perjuangan Rasulullah SAW pun lebih perih dan pedih dari apa yang diterima oleh KH. Ahmad Dahlan saat itu.

Penulis kembali teringat pesan KH. Drs. Muchtar Adam, Pimpinan dan Pendiri Pesantren Al-Quran Babussalam, Bandung. Beliau mengatakan “Jika kamu tinggal di sebuah daerah dan belum ada fitnah kepadamu maka tinggalkanlah tempat itu. Tapi jika ternyata ditempat itu kamu mendapatkan fitnah maka tetaplah bersabar dan hadapi dengan penuh ketabahan, karena kamu akan sukses berada di tempat itu.”

KH. Drs. Muchtar Adam pun merasakan hal yang sama seperti KH. Ahmad Dahlan. Lulusan Sastra Arab IKIP Bandung ini pun berkali-kali mendapatkan fitnah dan cobaan saat mendirikan Pesantren Al-Quran Babussalam hingga saat ini. Namun, Ia bergeming. Ia terus melanjutkan perjuangan dan berdakwah didaerah Bandung Utara hingga akhirnya mengantarkan pada puncak karir sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI tahun 1999-2004. Putra Selayar ini pernah belajar di MMT Kauman, Yogyakarta. Salah satu anak panah Muhammadiyah yang pernah berguru langsung pada tokoh-tokoh Muhammadiyah saat menimba ilmu di Yogyakarta.

Sumbangsih Muhammadiyah terhadap negara ini tidak bisa dipandang sebelah mata terutama dalam bidang Pendidikan. Bukti bahwa Muhammadiyah lahir di pelosok-pelosok desa tercermin dalam Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Novel tersebut juga sudah pernah di filmkan dengan judul yang sama oleh Mira Lesmana dan Riri Riza. Bahkan mendapatkan beberapa penghargaan di luar negeri. Sebuah sekolah dasar Muhammadiyah di Gantong, Belitong mampu melahirkan maestro hingga bisa melanjutkan pendidikan di Paris.

Muhammadiyah tidak hanya bergerak di bidang pendidikan. KH. Ahmad Dahlan memahami salah satu surat dalam Al-Quran yaitu surat Al-Maun dengan mendirikan panti asuhan, masjid dan musholla di berbagai tempat. Ayat-ayat dalam Al-Quran bukan hanya sebagai bacaan, tapi diharapkan bisa diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan. Dan KH. Ahmad Dahlan menjadikan dasar Surat Al-Maun ini sebagai ruh gerakan awal Muhammadiyah dalam berdakwah.

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.” (Al-Maun)

Bukan hanya sampai disitu saja. KH. Ahmad Dahlan juga memahami surat An-Nahl ayat 93 sebagai dasar untuk mendirikan Aisyiyah bersama istrinya Siti Walidah atau lebih dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan. KH. Ahmad Dahlan menyadari bahwa kedudukan antara laki-laki dan perempuan tidaklah berbeda, keduanya sama-sama memiliki tugas dan tanggung jawab dalam berdakwah.

Berdirinya Aisyiyah kembali menguatkan posisi Muhammadiyah sebagai organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial. Bahkan pendidikan usia dini sudah dimulai sejak Aisyiyah didirikan. Sebuah pemikiran yang melampaui kemampuan organiasasi perempuan pada masanya. Siti Walida memang termasuk perempuan yang cerdas. Bahkan setelah menikah dengan KH. Ahmad Dahlan, pergaulan Siti Walidah menjadi sangat luas karena banyak berkenalan juga dengan tokoh-tokoh nasional pada saat itu.

Satu hal yang tidak banyak dibicarakan adalah KH. Ahmad Dahlan pernah menikah dengan tiga orang perempuan lain selain Siti Walidah dengan alasan-alasan tertentu. Istri yang kedua adalah Ray Soetidjah Windyaningrum atau lebih dikenal sebagai Nyai Abdullah. Dari Nyai Abdullah ini KH. Ahmad Dahlan mendapatkan seorang keturunan. Dan pada akhirnya Nyai Abdullah pun memutuskan untuk bercerai dengan KH. Ahmad Dahlan.

Istri yang ketiga adalah adik dari Kyai NU di Krapyak Yogyakarta. Kyai Krapyak menghendaki KH. Ahmad Dahlan menikahi adiknya Nyai Rum. Pernikahan ini juga bukan hanya pernikahan antar dua insan, tetapi juga pernikahan antara dua organisasi besar yaitu Muhammadiyah dan NU. Tapi, KH. Ahmad Dahlan tidak mendapatkan keturunan dari pernikahan tersebut.

Istri yang keempat adalah Nyai Aisyah, seorang puteri penghulu Ajengan di Cianjur. Dari pernikahan ini KH. Ahmad Dahlan mendapatkan seorang keturunan.

Semua pernikahan yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan bukan tanpa alasan. Hal tersebut beliau lakukan karena alasan agama dan dakwah. Tidak lebih dari pada itu. Sosok KH. Ahmad Dahlan adalah sosok yang sangat memahami agama. Disamping itu KH. Ahmad Dahlan masih tetap menghormati dan menjaga perasaan Siti Walidah sebagai istri pertama. Meskipun Siti Walidah tidak pernah melarang KH. Ahmad Dahlan untuk menikah lagi.

Penutup

Apa yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan jelas merupakan warisan yang tiada terkira. Semua usaha yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan bisa dinikmati hingga anak cucu kita kelak. Sekolah mulai dari tingkat pendidikan usia dini hingga tingkat Pascasarjana dapat diakses berkat Muhammadiyah.

Belum lagi amal usaha lainnya seperti Panti Asuhan, Rumah Sakit, Lembaga Amil Zakat dan lain sebaginya. Tidak sedikit pula tokoh nasional yang lahir dari Sekolah-Sekolah dan Organisasi bernama Muhammadiyah.

Satu hal yang harus selalu diingat bahwa KH. Ahmad Dahlan pernah berpesan pada keluarganya dan juga sebagai pesan kepada seluruh warga Muhammadiyah “Aku titipkan Muhammadiyah kepadamu. Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah”.

Salam hangat dari @gurubimbel

http://dzulfikaralala.wordpress.com

Disusun dari berbagai sumber:

1.     Widiyastuti, 2010, Sisi Lain Seorang Ahmad Dahlan.

2.     Rochaeni, Een, 2011, Kehidupan dan Kepribadian Ahmad Dahlan yang Mencerahkan (Esai Film Sang Pencerah), Suara Muhammadiyah Edisi 1 - 15 Maret 2011.

3.     Wikipedia; Biografi Ahmad Dahlan.

4.     Pengalaman Pribadi

5.  Gambar dipinjam dari facebook Aziz Syaiful Anas, seorang alumnus Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, Yogyakarta.

Selamat Milad yang ke 100 Muhammadiyah

Semoga Sinarmu Tak Lekang Di Makan Zaman

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Simpang-Siur Makna “Politikus” …

Nararya | | 30 July 2014 | 00:56

Di Timor-NTT, Perlu Tiga Hingga Empat Malam …

Blasius Mengkaka | | 30 July 2014 | 07:18

Jalan-jalan di Belakangpadang …

Cucum Suminar | | 30 July 2014 | 12:46

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Materi Debat Prabowo yang Patut Diperhatikan …

Bonne Kaloban | 7 jam lalu

Cabut Kewarganegaraan Aktivis ISIS! …

Sutomo Paguci | 10 jam lalu

Presiden 007 Jokowi Bond dan Menlu Prabowo …

Mercy | 10 jam lalu

Dua Kelompok Besar Pendukung Walikota Risma! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Pemerintahan Ancer-ancer Jokowi-JK Bikin …

Hamid H. Supratman | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: