Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Fajar Triyanto

Learn to Learn..........

Robin Hood Indonesia

REP | 08 November 2012 | 20:54 Dibaca: 711   Komentar: 0   0

13523820981547911037

_Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah._

Robin Hood, Sang perampok berhati mulia. Sebuah nama yang tentunya tak asing lagi bagi kita. Dalam cerita yang ada, Robin Hood merampok harta benda orang-orang kaya untuk kemudian dibagikan kepada kaum miskin. Robin Hood muncul simbol pembela kaum lemah yang tertindas oleh tirani kekuasaan. Tapi tahukah anda bahwa negeri kita pernah memiliki sosok Robin Hood tersebut? Siapakah dia?

Sosok Robin Hood Indonesia itu adalah Raden Said. Sejarah mencatat bahwa Raden Said adalah putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilwatikta atau Raden Sahur yang lahir sekitar tahun 1450  dan wafat sekitar tahun 1546. Raden Said kecil tumbuh menjadi Robin Hood Indonesia yang merampok harta orang-orang yang kaya untuk kemudian dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Raden Said muncul sebagai sosok pembela kaum lemah di zaman itu.

13523823491960727277

Raden Said Menunggu Tongkat Sunan Bonang

Perjalanan hidup Raden Said berubah manakala dia melihat seorang kakek tua (Sunan Bonang) sedang berjalan sendiri menyusuri jalan di sepanjang sungai yang mengalir di tengah hutan dengan membawa tongkat emas. Raden Said tertarik melihat tongkat emas yang dibawa kakek tersebut, sehingga kemudian Raden Said merampas tongkat itu. Sunan Bonang memberikan nasihat bahwa Allah tidak menyukai tindakan yang dilakukan oleh Raden Said meskipun hasil rampokannya dibagikan kepada rakyat miskin. Sunan Bonang kemudian memberi petunjuk kepada Raden said agar mengambil buah aren asem yang berbuah emas. Raden Said merasa takjub akan kesaktian Sunan Bonang tersebut, sehingga mengajukan diri agar diterima sebagai muridnya. Sunan Bonang akan menerima Raden Said untuk menjadi muridnya namun dengan syarat bahwa Raden Said harus menunggu tongkat emasnya dan menunggunya datang kembali ke tempat tersebut. Sunan Bonang menancapkan tongkat emasnya di tepi sungai dan pergi meninggalkan Raden Said. Raden Said duduk bersila menunggu tongkat tersebut hingga tertidur. Waktu terus berlalu, begitu lamanya Raden Said tertidur, tanpa terasa seluruh tubuhnya ditumbuhi lumut, bahkan dikisahkan bahwa burung yang hidup di hutan tersebut membuat sarang, bertelur hingga menetas di atas kepala Raden Said tersebut. Tak terasa tiga tahun berlalu, Sunan Bonang kembali ke tempat itu dan tersentuh melihat kegigihan Raden Said dalam melaksanakan amanatnya tersebut, akhirnya Sunan Bonang menerima Raden Said sebagai muridnya dan memberi gelar Sunan Kalijogo. (kali=sungai, jogo= penjaga).

Dalam perjalanan selanjutnya, Sunan Kalijogo menimba ilmu agama islam dari Sunan Bonang. Sejarah menulis, Sunan Kalijogo adalah Walisongo periode ketiga yang menyebarkan nilai-nilai islam di Pulau Jawa. Dalam menyebarkan nilai-nilai islam tersebut, Sunan Kalijogo tidak menggunakan metode peperangan, akan tetapi menggunakan pendekatan seni dan budaya. Dalam berbgai kesempatan, Sunan Kalijogo menyisipkan ajaran-ajaran keislaman melalui seni ukir, seni musik, pewayangan, seni suara. Hasil karya Sunan Kalijogo antara lain adalah

Lagu Lir Ilir

Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh panganten anyar
Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira
Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir
Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Sun suraka surak hiyo…

Jika diterjemahkan dalam bahasa indonesia, kurang lebih maknanya adalah sebagai berikut:

Ayo bangun, ayo bangun, tanamannya sudah bersemi…

Demikian hijau

Bagaikan pengantin baru

Anak gembala, Anak gembala panjatlah pohon belimbing itu

Meskipun licin tetaplah memanjat untuk membasuh pakaian

Pakaian-pakaian yang sobek dan koyak dipinggirnya

Jahit dan perbaikilah untuk pertemuan nanti sore

Mumpung bulan bersinar terang

Mumpung banyak waktu luang

Mari bersorak, mari bersorak hiyo…

Lagu Lir Ilir mengandung banyak pesan kebaikan, diantaranya adalah mengajarkan bagaimana sejatinya Islam datang untuk semua kalangan tanpa mengenal status kedudukan seseorang, bahwa selagi masih diberikan hidup marilah kita terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita sebagai persiapan menghadap Sang Pencipta kelak.

Lagu Gundul-Gundul Pacul

Gundul gundul pacul-cul, gemblelengan

Nyunggi nyunggi wakul-kul, gemblelengan

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

Terjemahan dalam bahasa indonesia

1. Gundul = Kepala gundul
2. Pacul = Cangkul
3. Nyunggi = Mengangkat sesuatu dengan kepala
4. Gemblelengan = Membusungkan dada (sombong)
5. Wakul = Tempat nasi
6. Ngglimpang = Jatuh tergelimpang
7. Sega = Nasi
8. Dadi = Jadi
9. Saklatar = Sehalaman penuh.

Tak berbeda dengan Lagu Lir Ilir, lagu gundul-gundul pacul mengajarkan bahwa pada hakikatnya seorang pemimpin adalah seseorang yang seharusnya memegang amanah untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat, sehingga dalam menjalankan amanah tersebut harus menjauhkan diri dari sikap sombong dan angkara murka.

1352382310884670865

Sunan Kalijogo

Tidak hanya itu saja, Sunan Kalijogo juga menciptakan budaya sekatenan, gerebeg mulud dan beberapa kisah pewayangan serta beberapa ukiran khas yang mengandung nilai-nilai dakwah islam. Dengan metode yang unik ini, Sunan Kalijogo berhasil membuat sebagian besar adipati di Jawa memeluk agama Islam. Sunan Kalijogo wafat dan dimakamkan di Kota Demak. Begitulah perjalanan Raden Said, Robin Hood Indonesia yang pada akhirnya menjadi Sunan Kalijogo, bagian dari Walisongo yang menjadi simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya Pulau Jawa dan sekitarnya.

Sumber Literatur : di sini, di sini, di sini, di sini

Sumber gambar : di sini, di sini, di sini

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

“Curhat Jokowi Kelelep BBM dan Kena …

Suhindro Wibisono | | 29 August 2014 | 16:40

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 5 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 5 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 9 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 12 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Gojlokan Dian Kelana, Membuatku Kecanduan …

Seneng Utami | 7 jam lalu

Tentang Aktivis Mahasiswa …

Ardiabara Ihsan | 8 jam lalu

Mendahului Perubahan …

Ardiabara Ihsan | 8 jam lalu

Emak, Izinkan Aku Ikut Demo …

Fitria Yusrifa | 9 jam lalu

Insiden Heroik 19 September 1945 …

Www.parikanedansuro... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: