Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Jon Roi Tua Purba

Menjadikan Hidup Lebih Berarti

Perang Medan Area, Siapa yang Ingat?

OPINI | 09 November 2012 | 16:09 Dibaca: 4018   Komentar: 0   0

Jon Roi Tua Purba

Siapa yang ingat dengan perang Medan Area? Perang Medan Area barangkali tidak sepopuler perang di Surabaya, namun perang Medan Area tidak kalah penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di Surabaya yang kemudian terkenal dengan “Arek-Arek Suroboyo”, di Bandung dengan “Bandung Lautan Api”, di Semarang dengan “Ambarawa”. Empat peristiwa besar  ini kemudian menjadi catatan penting bagi sejarah revolusi di Indonesia.

Perang Medan Area saya kira tidak familiar sewaktu belajar sejarah disekolah-sekolah, baik Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Pengalaman penulis belajar sejarah cakupannya adalah sejarah nasional yang cenderung catatan dan pergerakan yang ditonjolkan dari daerah-daerah yang ada di Pulau Jawa. Sebagaimana contoh dengan sejarah Hari Pahlawan yang kita ketahui saat ini misalnya, dari catatan sejarah bahwa perang 10 November 1945 di Surabaya dengan tokoh Bung Tomo. Peristiwa inilah yang kemudian dikenang atau ditetapkan sebagai peringatan “Hari Pahlawan Nasional”. Bagaimana dengan perang Medan Area? Perang Medan Area nyaris tak disentuh di dalam pelajaran sejarah.

Jika melihat dari lamanya perang dan jumlah korban materil serta nyawa, perang Medan Area tidak kalah nilai-nilai kepahlawanannya. Yang menarik lagi dari sejarah perang Medan Area adalah tokoh-tokoh yang berkecimpung langsung dalam perjuangan merupakan lintas agama, suku, dan budaya. Hal ini semakin menguatkan bahwa perang Medan Area layak untuk diingat dan menjadi sumber inspirasi bagi kaum muda akan nilai-nilai kepahlawanan.

Tepatnya pada tanggal 1 Desember 1945, pihak Sekutu memasang papan-papan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area (batas resmi wilayah Medan) di berbagai sudut kota Medan. Hal inilah yang kemudian membuat marah para pemuda dan melakukan perlawanan pada Sekutu. Yang akhirnya berbuah perang Gerilya dan perang Frontal selama dua tahun lamanya. Perlawanan terus dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan yang dikenal dengan nama “Resimen Laskar Rakyat Medan Area”.

Menurut catatan sejarah pada bulan april 1946, Sekutu berhasil menduduki kota Medan. Sehingga kemudian pusat perjuangan rakyat Medan dipindahkan ke Kota Pematangsiantar. Hal ini tidak menurunkan semangat para pejuang ketika itu. Berbagai upaya terus dilakukan untuk merebut kembali pusat-pusat pemerintahan Republik Indonesia dari Sekutu. Pertempuran semakin meluas, sehingga merespon para pemuda untuk ambil bagian dalam perang Medan Area. Bahkan perang melawan Sekutu sampai kedaerah lain di Pulau Sumetera, yakni Bukit Tinggi dan Aceh.

Para pejuang akhirnya mulai memahami akan arti persatuan, sehingga pada tanggal 15 Februari 1947 ada kesepakatan untuk melakukan serangan secara serentak. Perintah ini kemudian dikeluarkan dari markas pertempuran Komando Medan Area (KMA). Tujuannya untuk menumpas pusat-pusat pemerintahan Sekutu yang berada di pusat kota.

Pertempuran dibagi menjadi beberapa sektor yang kemudian ditentukan pula dengan komandan di masing-masing sektor. Di front Medan Barat dipimpin oleh Mayor Hasan Achmad dari Resimen Istimewa Medan Area (RIMA). Kemudian di front Medan Area Selatan dipimpin oleh Mayor Martinus Lubis, serta di front Koridor Medan Belawan berasal dari pasukan Yahya Hasan dan Letnan Mudan Amir Yahya dari Kompi II Batalyion III RIMA.

Perjuangan yang tidak kenal lelah yang dilakukan oleh para Laskar Rakyat Medan Area kepada Jepang, Sekutu, dan Belanda layak dijadikan sebuah perenungan tentang arti pentingnya kepahlawanan dan patriotisme. Secara khusus bagi masyarakat Sumatera untuk mengenang perjuangan yang melelahkan untuk mempertahankan wilayah dan semangat nasionalisme yang ditunjukan. Perang selama dua tahun jelas sangat melelahkan bagi para pejuang dan banyak merasakan pahit-getir dalam pertempuran. Yang menjadi pertanyaan bagi kita saat ini adalah apakah perjuangan itu hanya menjadi cerita belaka?

Perang Medan Area harusnya menjadi catatan penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Menjadi catatan bagi warga Sumatera melihat perjuangan dan tumpah darah para pejuang untuk Indonesia. Sekali lagi, sejarah perang Medan Area seharusnya pantas menjadi perenungan untuk semangat nasionalisme serta nilai-nilai kepahlawanan. Perang Medan Area sebuah catatan sejarah yang harus dikenang dan diterapkan pada masa kekinian. Mengingat perang Medan Area adalah dengan cara mengaktualisasikan semangat perjuangan dalam kehidupan berbangsa yang tanpa kompromi dengan penjajahan.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Visa-Garuda Indonesia Blog Competition

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Serangan Teror Penembakan di Gedung Parlemen …

Prayitno Ramelan | | 24 October 2014 | 06:00

Petualangan 13 Hari Menjelajahi Daratan …

Harris Maulana | | 24 October 2014 | 11:53

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Proses Kreatif Desainer Kover Buku The Fault …

Benny Rhamdani | | 24 October 2014 | 14:11

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mengukur Kekayaan Syahrini …

Dean Ridone | 1 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 6 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 6 jam lalu

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Beda “Isu” Indonesia dan …

Gustaaf Kusno | 7 jam lalu

Susan, Sudah Jadi Dokter Belum? …

Listhia H Rahman | 7 jam lalu

Kemana Harus Mengadu? …

Jelly Amalia | 8 jam lalu

[Dracula Untold] [Bukan Review] …

Endah Lestariati | 8 jam lalu

Maksud Hati Ingin Mengajarkan Jiwa …

Etna Nena Oetari | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: