Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Hery Supriyanto

Dalam sunyi dan keheningan untuk mendengar suara senyap. Dalam kegaduhan untuk memilah suara merdu atau selengkapnya

Trunojoyo, Berjuang Sampai Titik Darah Penghabisan

OPINI | 09 November 2012 | 21:32 Dibaca: 3525   Komentar: 0   1

1352554999282384673

Sore itu saya melewati gedung Markas Besar (Mabes) Kepolisian Republik Indonesia. Gedung itu begitu megah dan kokoh, di mana tempat para petinggi kepolisian RI bertugas. Dan di tempat ini pula rakyat mengharapkan adanya penegakan hukum (law enforcement) sebagai wujud terciptanya keadilan dan kebenaran. Segala bentuk kejahatan dan oleh siapa pun harus dihilangkan paling tidak diminimalisir. Dan perjuangan mewujudkan hal itu memang tidak mudah, tetapi wajib dilaksanakan oleh siapapun apalagi yang menyandang aparat penegak hukum. Dan segenap masyarakat menggantungkan harapan itu, di gedung yang berada di Jalan Trunojoyo.

Menyebut nama Trunojoyo, akan teringat tokoh yang berani melawan kejaliman, ketidakadilan yang terjadi pada masa silam yang dilakukan oleh penguasa dan penjajah waktu itu, yang banyak merugikan rakyat. Perjuangan itu teramat berat sebab tidak saja melawan kolonial Belanda (VOC) tetapi harus berhadapan pula dengan saudara, teman, dan bangsanya sendiri yang dirasa banyak menyimpang.

Sekitar tahun 1677 sampai 1669 Trunojoyo melakukan perlawanan lebih tepatnya pemberontakan terhadap penguasa saat itu, Amangkurat I. Raja mataram yang bertindak sewenang wenang terhadap rakyatnya sendiri. Sikap Amangkurat ini sangat jauh berbeda dengan ayahnya, raja sebelumnya, Sultan Agung yang begitu gigih mengusir kolonial Belanda dari tanah Jawa. Ketidaksukaan rakyat dan beberapa tokoh pada waktu itu semakin menjadi-jadi karena Amangkurat I menjalin hubungan dekat dengan pihak kolonial Belanda (VOC). Dan Trunojoyo mengambil sikap melawan walau dengan raja sekalipun.

Sebenarnya Trunojoyo adalah bagian dari bangsawan Mataram yang asal muasalnya dari bangsawan Madura. Cakraningrat I adalah pejabat yang diangkat Mataram, untuk memerintah di Madura. Dari perkawinan dengan selirnya yang juga bangsawan Madura mempunyai putra salah satunya Raden Demang Melayakusuma, yang kemudian mempunyai putra bernama Trunojoyo. Di Mataram ini Tronojoyo lahir dan dibesarkan, pada waktu itu kekuasaan sudah berada pada Amangkurat I.

Ketika Sultan Agung berkuasa, tahun 1624 ia berhasil menaklukkan Madura. Menaklukkan Madura tidaklah mudah karena mendapat perlawanan dari penguasa dan rakyat. Mataram membawa kekuatan penuh untuk menaklukkan Madura yang akhirnya banyak penguasa dan bangsawan yang gugur. Di antara yang tersisa adalah Raden Praseno yang pada waktu itu masih belia, yang kemudian dibawa ke Mataram untuk di asuh. Setelah dewasa Raden Prasena dinikahkan dengan kerabat Sultan Agung dan diberi kekuasaan di Madura dengan gelar Cakraningrat I.

Setelah Sultan Agung wafat, maka Mataram dilanjutkan oleh Amangkurat I. Berbeda dengan ayahandanya, ia bertindak sewenag-wenang, banyak tokoh yang dihukum mati karena menentangnya. Kebanyakan para tokoh Mataram tidak suka dengan sikap Amangkurat I itu, bahkan putra mahkota Pangeran Adipati Anom pun bersikap demikian. Ia berniat untuk melawan ayahnya itu tetapi tidak punya keberanian. Atas saran dari tokoh dan kerabat Mataram yaitu Raden Kanjoran (Panembahan Rama), Adipati Anom diperkenalkan dengan Trunojoyo, yang juga menantunya untuk mewujudkan misi dalam melawan Amangkurat I.

Dalam membangun kekuatan Trunojoyo bergerak ke arah daerah timur, Surabaya dan Madura. Ia banyak mendapat dukungan dari tokoh dan rakyat untuk melawan Amangkurat I. Di Madura ia berhasil pengalahkan penguasa saat itu, dan sejak saat itu Trunojoyo menyatakankan bahwa Madura berdaulat berdiri sendiri lepas dari Mataram. Perjuangan Trunojoyo juga mendapat dukungan dari orang Makasar yang dipimpin Kraeng Galesung yang menyingkar ke Jawa akibat terdesak oleh Belanda.

Perlawanan demi perlawanan mulai menuai hasilnya, sedikit demi sedikit beberapa daerah kekuasaan Mataram mampu di rebut Trunojoyo. Di luar dugaan pada 2 Juli 1677, Trunojoyo beserta pasukanya berhasil menyerang jantung pusat kekuasaan Mataram, Plered. Akhirnya Mataram dapat direbut Trunojoyo. Dan Amangkurat I berhasil menyingkir dari kerajan untuk meminta bantuan VOC di Batavia.

Setelah Mataram berhasil direbut Trunojoyo, rupaya Pangeran Adipati Anom yang semula bersekutu berbalik arah mendukung ayahnya dan ikut mengingkir. Sebelum sampai ke Batavia Amangkurat I wafat di daerah Tegal Arum. Sewaktu hidup Amangkurat I masih sempat menyerahkan tongkat kekuasaan kepada sang putera mahkota yang kemudian bergelar Amangkurat II. Dan akhirnya Amangkurat II berhasrat kembali mengusasai Mataram yang direbut Trunojoyo. Setelah memporakporandakan Mataram, Trunojoyo membangun pemerintahan di Kediri dengan gelar Panembahan Maduretno.

Cara yang termudah untuk menaklukkan Trunojoyo adalah bekerja sama dengan VOC yang kepentingannya juga terganggu oleh ulah Trunojoyo. Pada mulanya VOC mengajak secara damai kepada Trunojoyo untuk menyerah, tetapi tolak mentah-mentah. Dan akhirnya Trunojoyo pun diserang dari segala penjuru baik laut dan darat, kekuatannya pun tidak berimbang. Sedikit demi sedikit daerah kekuasaan Trunojoyo dapat direbut. Trunojoyo semakin terdesak, tetapi ia tetap gigih melawan.

Akhirnya kekuatan Trunojoyo semakin berkurang, karena beberapa pasukannya banyak juga yang menyerah. Trunojoyo tetap betahan, ia menyingkri ke daerah pedalaman untuk menghindari kejaran pihak Belanda, taktik perang gerilya yang dilakukan. Trunojoyo semakin terjepit, tetapi tetap tidak menyerah. Setelah dikepung dari berbagai penjuru dengan kekuatan yang semakin berkurang akhirnya Trunojoyo berhasil ditanggap Belanda di lereng gunung Kelud, 27 Desember 1679.

Dan Trunojoyo pun diserahkan Belanda kepada Amangkurat II. Tanggal 2 Januari 1680 dalam kondisi tidak berdaya akhirnya Amangkurat II mengeksekusi sendiri tokoh yang dianggap pemberontak itu, dengan menghujamkan kerisnya ke tubuh Trunojoyo. Di situlah akhir perjuangan Trunojoyo dalam upaya memperjuangkan keadilan dan mengusir penjajah dari tanah airnya. Trunojoyo memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan.

Perjuangan Trunojoyo memang cukup melegenda. Saat ini nama Trunojoyo banyak dijadikan nama jalan di beberapa kota, nama bandara di Sumenep, nama universitas di Bangkalan. Bahkan menjadi istilah informal untuk menyebut Kapolri, Trunojoyo I. Walaupun nama dan perjuangannya cukup dikenal, sayang sampai saat ini pemerintah belum menganugerahkan sebagai pahlawan nasional. Entah ini sebuah kelalaian atau ada pertimbangan lain yang bisa jadi menjadi sebuah perdebatan.

Memang perjuangan Trunojoyo cukup mengundang polemik, sebagai pahlawan atau pemberontak. Ketika melawan kompeni Belanda tidak adalah masalah, persoalan muncul ketika Trunojoyo melakukan perlawanan kepada raja Mataram waktu itu, yang kebetulan dekat dengan kompeni. Ini berbeda dengan tokoh Untung Suropati yang fokus perjuangannya hanya melawan kompeni. Gelar pahlawan nasional pun sudah disandangnya.

Terlepas dari itu semua, perjuangan Trunojoyo memang begitu berat, terutama yang dilawan itu adalah dari kalangan yang boleh dibilang teman dan kerabatnya sendiri. Betapapun beratnya dalam menegakkan keadilan dan membasmi kejaliman harus terus dilakukan, walau nyawa sekalipun dipertaruhkan. Dalam bahasa saat ini meminjam istilahnya ketua KPK, Abrahan Samad, mewakafkan hidupnya untuk perjuangan menegakkan hukum. Dalam hal ini melawan koruptor, musuh dan kejahatan besar di negeri ini. Sama posisinya seperti kompeni di jaman dulu.

Dalam konteks perjuangan Trunojoyo saat ini masih cukup relevan dalam melawan ketidakadilan dan kesewenangan hukum. Masih ingat dalam ingatan bagaimana beratnya perjuangan Novel Baswedan penyidik KPK yang dari kepolisian yang harus menangani kasus berat yang terjadi pada pejabat di tubuh kepolisian itu sendiri, yang bisa jadi itu teman atau kerabatnya sendiri. Upaya dalam menegakkan hukum bukannya mendapat dukungan dari intitusi yang membesarkannya itu. Sikap Novel Baswedan pun mendapat “perlawanan” dari kepolisian bahkan sampai hendak menangkapnya segala.

Dari fenomena ini, perjuangan Trujojoyo hendaknya dapat diambil spiritnya. Bahwa perjuangan menegakkan keadilan harus terus dilakukan tanpa peduli memandang siapa dan latar belakangnya. Hal ini ditujukan untuk terciptanya rasa keadilan di masyarakat, serta untuk kepentingan bangsa dan Negara. Tugas ini adalah kewajiban semua pihak. Terutama bagi aparatur negara yang menandang sebagai penegak hukum, yang memang itu menjadi tugasnya. Saat ini perjuangan itu begitu berat karena aparat yang seharusnya menyelesaikan masalah hukum justru menjadi bagian dari masalah itu. Dalam hal ini dibutuhkan figur yang berani, tegas, dan mempunyai integritas tinggi. Dan bila Mabes Polri itu berada di Jalan Trunojoyo, mudah-mudahan bukan sebuah kebetulan belaka.

13525551382143714001

Foto: Dokumen pribadi

Sumber referensi: I,II,III,IV

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 3 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 5 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 8 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: