Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Xu Phiexs

Jangan pernah berhenti ditengah jalan untuk mengejar impian

Diah Permatasari (Srikandi Kota Mangga di Ajang Sea Games)

OPINI | 10 November 2012 | 15:46 Dibaca: 172   Komentar: 0   0

Orasi Bung Tomo yang menggegerkan arek-arek Suroboyo itu turut membakar semangat para pejuang di ajang Sea Games 2011 tahun lalu. Itu terbukti atas kemenangan Indonesia sebagai Juara Umum.

Para perintis Pahlawan Olah Raga Sea Games dan juga kita tentunya patut berbangga hati atas kemenangan ini. Pertandingan Sea Games ke-XXVI Tahun 2011 yang di selenggarakan di Jakarta – Palembang telah mempersembahkan medali untuk Indonesia sekitar 182 emas, 151 perak, dan 143 perunggu. Total perolehannya 476 medali. Pada posisi kedua dari Thailand dengan hasil perolehan 109, 100 perak dan 120 perunggu. Total perolehan Thailand 329 medali. Pada posisi ketiga Vietnam berikut disusul Malaysia, Singapore, Philippines, Myanmar, Laos Camboja, Timor Leste, dan Brunei Darussalam.

Salah satu atlit yang mengambil peranan penting atas kemenangan Indonesia adalah Srikandi asal kota Mangga (Probolinggo). Atlit dari cabang anggar putri nomor individual sabel. Padahal sebelumnya atlit cabang ini bukanlah cabang yang di andalkan untuk target kemenangan Sea Games. Namun medali perunggu yang di sabet dara cantik asal kota Mangga ini membuat kesan tersendiri bagi Indonesia. Terlebih lagi bagi Pemkab kota Probolinggo. Yang kebetulan pula tanah kelahiranku.

Berkat ketekunannya dalam melatih ketangkasan akhirnya Putri pasangan Sayedi dan Saha yang bernama Diah Permatasari ini mendapatkan tiket ke London. Tiket yang didapatkan dari hasil Prakualifikasi Olimpiade Zona  Asia-Oceania pada 20–21 April lalu di Wakayama, Jepang.

Atas kegigihan Diah Permatasari dalam mempertahankan prestasinya patut kita contoh, meski setiap generasi tidaklah sama kemampuan / keahlian yang di milikinya. Yang terpenting sebagai wujud perjuangan generasi muda adalah mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif, tidak berbuat kerusakan, atau tidak merugikan bangsanya.

SRIKANDI KOTA MANGGA SEBAGAI PENERUS PERJUANGAN

Menilik kisah sejarah asal muasal Kota Mangga ( Probolinggo ) juga tidak kalah pentingnya dengan wilayah nusantara lainnya yang terkenal dengan sosok pahlawannya. Di kota kecil inilah sekelumit cerita mengenai Srikandi pembawa bendera kemenangan di ajang Sea Games XXVI tahun 2011 lalu bermula.

Diah Permatasari biasanya disebut. Lahir dari pasangan suami istri Sayedi dan Saha. Kelahiran Desa Kaliacar Kecamatan Gading kota Probolinggo tanggal 05 Mei 1990 (22 tahun). Atlet dari cabang anggar pada nomor perorangan sabel. Melalui tangan tangkasnya, Diah Permatasari berhasil menaklukkan atlit asal Vietnam yang bernama Nguyen Thi Ledong dengan perbedaan skor 8-15 di babak final Sea Games 2011 pada hari minggu (13/11) dengan kelas sable putri individual.

Adapun prestasi yang di raihnya antara lain :
Perak nomor perorangan sabel Kejuaraan Asia Singapura Open 2008
Perunggu nomor perorangan sabel Sea Games 2011
Emas nomor beregu sabel Sea Games 2011 dan Perunggu perorangan sabel pra Olimpiade April 2012

Awal kisahnya di mulai dari hanya melihat-lihat saja. Namun lama kelamaan latihan anggar yang biasa Diah lihat di depan pendapa Kabupaten Probolinggo, akhirnya membuat dia jatuh cinta. Dan keterusan sampai sekarang menjadi atlit yang sesungguhnya. Termasuk atlit yang pertama pula di Indonesia yang menuju Olimpiade melalui babak kualifikasi.

Keberhasilannya dalam menghalau atlit dari 13 negara, akhirnya gugur di babak semifinal karena mampu di kalahkan Yuliya Zhivitsa (Kazakstan) yang kemudian tampil sebagai juara. Peluangnya ke London terselamatkan setelah perlawanannya dengan Nona (Singapore) dengan skor tipis 15-14.

Meski terbilang lolos dari babak kualifikasi, namun pihak terkait sempat menghalau Diah untuk mempersiapkan diri menjelang Olimpiade dengan alasan untuk persiapan peak performance dalam PON. Tapi berkat adanya kompromi Diah tetap berangkat ke London meski hanya berlatih di Jawa Timur. Dalam tahap persiapan menuju Olimpiade London seharusnya Diah mengetahui terlebih dahulu gaya dan teknik dari lawan. Karena lawan yang akan di hadapinya nanti jauh lebih kuat ketimbang lawan mainnya di Sea Games 2011 tahun lalu. Akan tetapi Diah dan pelatihnya, Fatullah tidak kekurangan akal. Tidak dapat ke luar negeri, You Tube juga boleh.

Beda lagi momennya saat pesta Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Riau 2012. Kehadiran Diah di cabang anggar rupanya membawa angin segar buat kontingen Jatim. Dengan ketangkasan tangannya Diah mampu menyumbangkan emas untuk Pemprop Jatim. Kebetulan pula Diah adalah atlit cabang anggar pertama yang menyumbang medali emas.

Di babak final, akhirnya Diah bertemu wakil Jawa Barat (Jabar), Amelia Nurliyami. Meski memiliki jam terbang sekelas Olimpiade, Diah harus kerja keras untuk menundukkan Amelia.

Apalagi Diah dan Amelia sama-sama pernah membela panji Indonesia di ajang SEA Games 2011 lalu. Dengan susah payah, Diah akhirnya menyudahi perlawanan Amelia dengan angka 15-10.

Dengan kemenangan ini, Diah berhak mendapat medali emas. Amelia harus menerima kemenangan dengan medali perak. Sementara medali perunggu disabet atlet Jabar, Alida Megaputri dan Reni Anggraeni asal Sumatera Selatan (Sumsel). Untuk selanjutnya, Diah masih memiliki kesempatan untuk menyabet emas di nomor sabel beregu putri. Diah bakal berduet dengan Maria Wauran.

Perjuangan Diah Permatasari layaknya Srikandi yang melawan musuhnya dengan busur panah. Yang selalu menjadi inspirasi. Terutama buat saya. Karena sosok Diah membangkitkan semangat untuk berbuat sesuatu yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Perjuangan seorang Pahlawan itu tidak terletak pada canggihnya senjata yang di miliki. Akan tetapi kesungguhan baginya dalam mempersembahkan jiwa dan raganya untuk bangsa. Srikandi kota Mangga juga layak di sebut sebagai Pahlawan. Meski tidak menyandang senjata di bahunya. Tetapi atas pembelaannya di ajang Sea Games 2011 dan Olimpiade London 2012 patut di setarakan dengan perjuangan para Pahlawan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: