Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Fathul Muhammad Alfath

Manusia asli Makassar, sangat tertarik terhadap air dari berbagai aspek, minat lainnya sepakbola, sejarah islam, selengkapnya

Refleksi Semangat Siri’ Na Pacce khas Sultan Hasanuddin

OPINI | 10 November 2012 | 07:15 Dibaca: 1741   Komentar: 1   1

Sultan Hasanuddin adalah Raja ke 16 dari kerajaan Gowa.Nama kecilnya I Mallombassi, Ia merupakan putra dari Sultan Malikussaid yang juga merupakan Raja ke-15 Gowa-. Sultan Hasanuddin mulai memimpin kerajaan Gowa pada usia 22 tahun, selama 16 tahun kepemimpinannya, Kerajaan Gowa berada pada posisi klimaks dalam perannya mempertahankan nusantara Indonesia dan melawan penjajahan Belanda.

Ayam Jantan dari Timur adalah julukan yang melekat padanya. Julukan yang legendaries itu diberikan oleh Belanda sebagai pengakuan, bahwa perlawanan Sultan Hasanuddin dan pasukannya telah menyebabkan kerugian yang sangat besar dari pihak Belanda. Pertempuran Belanda dengan Kerajaan Gowa dibawah kepimpinannya merupakan pertempuran yang sangat berat dan dahsyat, serta sangat melelahkan pihak penjajah Belanda.

Semangat Perlawanan Sultan Hasanuddin

Sejak kecil I Mallombassi adalah anak yang pekerja keras terutama dalambelajar, ia juga memiliki karakter tegas dan berani yang tidak dimiliki saudaranya yang lain. Dengan bekal tersebut, I Mallombasi seringkali mewakili Ayahnya dalam pertemuan - pertemuan dengan raja-raja lain di Nusantara. Di Usia 21 tahun, ia telah diangkat menjadi kepala urusan pertahanan Kerajaan Gowa.

Sejak menjadi Raja, ia telah mendapat banyak tantangan dari berbagai perang dengan Belanda. Perang dua hari pada tahun 1955 yang dipimpin langsung Sultan Hasanuddin, dimenangkan oleh Kerajaan Gowa. Tantangan lain adalah politik memecah belah Belanda yang melibatkan saudara dekatnya Arung Palakka dari Kerajaan Bone. Belanda berhasil membujuk Kerajaan Bone, Buton, Ternate dan Seram untuk bersama – sama menaklukkan kerajaan Gowa. Bagi Sultan Hasanuddin, diserang saudara sendiri sangat menyakitkan. Sehingga ia pernah rela berdamai dengan Belanda demi menghindari perang saudara. Namun akhirnya, dalam peperangan puncak (1666-1669), Sultan Hasanuddin tetap diserang oleh Belanda yang dibantu oleh Arung Palakka dan Kapten Jongker.

Pada awal peperangan tahun 1666, Kapten Speelman (pemimpin Armada pasukan Belanda), mengirim surat kepada Sultan Hasanuddin. Isinya meminta Kerajaan Gowa menyerah dan meminta ganti terhadap kerugian akibat perang di pihak Belanda. Namun dengan tegas, Sultan Hasanuddin menjawab surat tersebut,

“Bila kami diserang, maka kami akan mempertahankan diri dan menyerang kembali dengan segenap kemampuan yang ada. Kami berada di pihak yang benar. Kami ingin mempertahankan kebenaran dan kemerdekaan negeri kami”

Perang akhirnya berkobar, Sultan Hasanuddin dibantu oleh Kerajaan Tallo dan beberapa kerajaan kecil di wilayah Sulawesi membantu, seluruh rakyat juga ikut membantu. Karakter Siri’ Na Pacce telah mengakar dan membakar semangat perjuangan melawan penjajah Belanda. Sedangkan dari pihak Belanda, didukung oleh Arung Palakka dari Kerajaan Bone, juga dari Kerajaan Ternate, Kerajaan Buton, dan Maluku. Penyerangan Belanda dan sekutunya dilakukan melalui jalur laut dan darat. Peperangan yang berlangsung selama berbulan-bulan hingga tiga tahun lamanya tersebut, sangat berat bagi Belanda. Pasukan Belanda, terpaksa tiga kali mendapat tambahan bantuan dari Batavia.

Dari Muchlis (2012), dalam Riwayat Perjuangan Sultan Hasanuddin, dari buku harian Speelman diterangkan, “Pertempuran berlangsung sengit. Banyak orang Belanda mati atau luka, Arung Palakka juga menderita luka. Setiap hari 7 atau 8 orang serdadu Belanda dikuburkan. Speelman jatuh sakit. 5 orang dokter, 15 pandai besi tewas. Tenaga bantuan dari Batavia hanya 8 orang yang masih sehat. Dalam tempo 4 minggu, 139 orang mati dalam benteng Ford Rotterdam dan 52 orang tewas di kapal”.

Perang tersebut berakhir dengan kekalahan di pihak Kerajaan Gowa. Pada saat itu, Belanda mengadakan “Pengampunan Umum” kepada kalangan kerajaan. Sehingga beberapa pejabat Kerajaan Gowa menyatakan menyerah dan tunduk terhadap Belanda. Namun, Sultan Hasanuddin menolak dan menanggalkan posisinya sebagai Raja Gowa ke-16. Setelah itu, Ia kemudian lebih banyak mengajar Islam dan menanamkan semangat kemerdekaan dan kesatuan kepada generasi muda. Ia akhirnya meninggal satu tahun kemudian, tepatnya di tahun 1670. Ia meninggal pada usia 39 tahun.

Siri’ Na Pacce

Karakter yang ditampilkan oleh Sultan Hasanuddin, menjadi kekuatan utama dalam menghadapi kelicikan penjajah Belanda. Karakter tersebut dibangun dari sebuah budaya yang kuat, budaya Siri’ Na Pacce. Budaya ini jugalah yang mengakar dalam diri rakyat Kerajaan Gowa, sehingga mereka mampu mendukung penuh perjuangan Sultan Hasanuddin dan para pasukannya. Karakter yang seperti inilah yang sangat merepotkan bagi Belanda, padahal kualitas persenjataan milik Kerajaan Gowa masih tertinggal dibanding milik penjajah.

Budaya Siri’ Na Pacce mengandung dua kata dengan makna yang berbeda. Dua kata tersebut adalah Siri’ yang bermakna malu, harga diri atau kehormatan., kata kedua yaitu Pacce yang berarti kepekaan diri yang mengajarkan kepedulian social, bahkan lebih dariitu yaitu kesatuan dan kesetiakawanan. Dari Anonim (2012), Pacce juga memiliki makna lain yaitu tanggung jawab, dan rela berkorban. Makna Na mengandung fungsi penghubung, sehingga Siri’ Na Pacce memiliki sebuah kesatuan makna.

Dalam praktiknya, budaya Siri’ Na Pacce telah melahirkan salah satu contoh tokoh yang menyejarah di nusantara Indonesia. Sultan Hasanuddin, ia menjadi row model manusia khas Bugis - Makassar (suku yang mendominasi rakyat Kerajaan Gowa dan sekutunya ). Sultan Hasanuddin tampil tegas dan berani, serta reaktif terhadap gerakan penjajahan Belanda. Karena Siri’-nya, ia tidak ingin sedikitpun mengakui Belanda dan tunduk padanya. Dengan jiwa Pacce-nya ia mati - matian berjuang bersama rakyatnya. Selain itu, dengan semangat Pacce pulalah seluruh Kerajaan Gowa menjadi sangat solid dan militan, sehingga mereka mampu menyusahkan Belanda dalam berbagai interaksi peperangan. Sultan Hasanuddin juga dikenal sangat bijaksana, cerdas dan jujur. Karena sifat dan karakternya itulah ia sangat dicintai rakyatnya.

Refleksi dalam Perjuangan Masa Kini

Sultan Hasanuddin dan kisah perjuangannya adalah fakta sejarah yang wajib dipelajari oleh manusia masa kini. Nilai – nilai budaya dan karakter yang terbangun di dalam kisah perjuangannya juga harus menjadi referensi utama dalam proses pembentukan manusia masa kini. Terlepas dari batas suku maupun daerah, Budaya Siri’ Na Pacce dan teladan Sultan Hasanuddin adalah warisan sejarah yang harus tetap di praktikkan. Terutama dalam perjuangan di masa kini.

Bentuk perjuangan di masa kini yang lebih banyak berupa peperangan intelektual dan komunikasi. Perjuangan intelektual dapat berupa pengelolaan sumberdaya alam secara inovatif dan berdaya saing., penguasaan pasar maupun penciptaan dan penguasaan teknologi. Perjuangan komunikasi dapat berupa penguasaan media massa., publikasi dan orisinalitas karya maupun pembentukan karakter yang berbasis kearifan local atau spiritual.

Setiap pemimpin seharusnya mampu mencerminkan ketegasan dan keberanian Sultan Hasanuddin dalam menghadapi arus globalisasi (penjajah intelektual maupun komunikasi). Sehingga bangsa Indonesia memiliki Siri’ atau kehormatan yang kuat, dan mampu bersaing secara global. Dengan semangat Siri’ itu juga, Indonesia akan mampu mempertahankan orisinalitas kebudayaan dan tradisi serta mampu bersikap tegas kepada siapapun yang merusaknya. Setiap pemangku jabatan di negeri ini juga harus mampu mencerminkan karakter Pacce-nya Sultan Hasanuddin, sehingga dapat secara jujur dan bijaksana dalam memimpin. Dengan Siri’ Na Pacce tersebut, para pemimpin diharapkan berani berkorban tanpa memprioritaskan golongannya untuk memajukan Indonesia.

Yang terpenting, bagi generasi muda bangsa ini adalah membentuk dan menjaga identitas bangsa. Dengan semangat Siri’ Na Pacce, seharusnya generasi muda Indonesia tidak mudah mengikuti trend yang dampaknya dapat menggerus identitas asli warisan sejarah. Selain itu, semangat berkreasi, publikasi dan orisinalisasi karya juga harus terus ditingkatkan pada diri pemuda bangsa ini.

Bogor, 10 November 2012

Ditulis sebagai bentuk realisasi semangat perjuangan Sultan Hasanuddin

referensi:

http://lobelobenamakassar.blogspot.com/2012/02/riwayat-perjuangan-sultan-hasanuddin.html di akses tgl. 9 novemebr 2012

http://lobelobenamakassar.blogspot.com/2012/02/budaya-siri-na-pacce.html di akses tgl. 9 november 2012


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada Apa di Papua? …

Petrus Pit Supardi ... | | 20 August 2014 | 06:12

Heritage Kereta Api, Memadukan Bisnis …

Akhmad Sujadi | | 20 August 2014 | 08:31

Berbagi Tanaman, Bisa Dijadikan Budaya …

Majawati Oen | | 20 August 2014 | 09:14

Jangan Kau Kira Menulis Itu Gampang, Kawan …

Pebriano Bagindo | | 20 August 2014 | 08:34

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 4 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 5 jam lalu

Massa ke MK, Dukungan atau Tekanan Politis? …

Herulono Murtopo | 6 jam lalu

Sadarkah Anda Telah Mem-bully Anak Anda …

Seneng Utami | 6 jam lalu

Memprediksi Kepemimpinan Berdasarkan …

Rahman T. Hakim | 7 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: