
Lebih baik terasingkan dan hidup melawan kemunafikan
Dibaca:
229
Komentar: 0
Nihil
Tan Malaka poto : Wikipedia
Sebuah sampul majalah Tempo mengenai “Bapak Republik Yang Dilupakan” memiliki misteri sejarah perjuangan para pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia. Tan Malaka yang merupakan salah satu pahlawan yang memiliki peran intelektual dan sosial, banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan memiliki peran yang besar di tengah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Seorang tokoh revolusioner ini banyak menghadirkan gerakan anti penjajahan di republik ini, bahkan gerakan sosialisnya mampu membangun jaringan ke tarap Asia Tenggara untuk melawan penjajah lewat peran perjuangannya yang gigih.
Seiring dengan waktu, tuntutan, selak beluk dan timbal balik, pahlawan yang sering disebut Bapak Republik ini banyak sekali tingkah laku misteri yang menjadi fenomena di negeri ini. Riwayat telah mencatat sejarah dan perubahan di negeri ini atas dasar pemikiran dan penerapannya menjadi pertentangan setiap kalangan di masa pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, siapa dia? dan atas dasar apa ia lakukan untuk negeri ini. Lihat saja riwayat Tan Malaka sebagai berikut.
Segelintir kisah pergerakannya mungkin menjadi landasan keterlibatannya diberbagai gerakan promotor semangat juang perubahan bangsa. Bahkan tekad keinginan beliau bisa dikatakan ingin mempersatukan secara keseluruhan Nusantara di Asia Tenggara Namun, sering kali Tan Malaka disebut-sebut sebagai tokoh yang terlibat dengan konflik Komunis serta penculikan Sutan Syahrir yang tidak tahu kebenarannya. Di satu sisi perjuangan yang ia lakukan lebih banyak tindakan dalam sebuah konsep ide dan pemikirannya.
Salah satu perjuangan yang ia lakukan Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.
Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.
Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.
Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.
Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.
Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.
Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.
Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia“. Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.
Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….”
Semasa hidupnya Tan Malaka lebih banyak dibuang, diasingkan bahkan di penjara. Sekali pun hal tersebut terjadi pada dirinya tak sedikit pun ia luluh untuk terus memperjuangkan kemerdekaan tanah air ini. Disatu sisi pemikiran yang dituangkan melahirkan sebuah catatan ide dan cara berpikir realistis yang kita kenal yaitu Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika). Sebuah karya Tan Malaka ini menjadi bukti konkrit yang menghubungkan sebuah ilmu bukti antara kesatuan, pikiran dan penginderaan membentuk urat kebudayaan bangsa. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama. Hal ini juga diterapkan oleh salah satu aktivis Soe Hok Gie menjadi panduan buku hidupnya. Dasar pemikiran yang rasional menjadi sebuah kausalitas kehidupan (sebab-akibat) untuk menjawab kenyataan dalam hal situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.
Penulis membuat judul seperti ini bukan karena sesuatu hal berkaitan dengan kepahlawan Tan Malaka yang terlupakan saja, melainkan ini menjadi bukti bahwasannya banyak pahlawan-pahlawan di Republik ini dilupakan bahkan tidak diketahui perjuangan yang mereka lakukan untuk bangsa dan negara. Semoga peringatan hari pahlawan ini menjadi semangat perjuangan pasca kita merdeka demi mewujudkan cita-cita bangsa. Tanpa pahlawan kita tidak bisa merdeka, tanpa mereka kita tidak bisa berbuat apa-apa. Jangan sia-siakan perjuangan mereka karena Bung Karno mengatakan, bahwa melawan bangsa sendiri jelas jauh lebih berat dibandingkan melawan bangsa penjajah. Selamat hari pahlawan.
Referensi :
Wikipedia, Madilog
-