Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Momentum Muharram sebagai Momentum Memperbaiki Diri

OPINI | 14 November 2012 | 13:54 Dibaca: 308   Komentar: 0   0

Setiap tanggal 1 Muharram umat Islam di seluruh dunia memperingati tahu
baru Hijriyah. Hijrah sebagai peristiwa
monumental dalam sejarah Islam menjadi
awal perhitungan tahun Hijriyah.Banyak cara dan ritual yang dilakukan
kaum muslim dalam memperingati tahun baru Islam, karena hampir sebagian besar
umat Islam mengganggap 1 Muharram
merupakan tonggak awal kejayaan agama
di masa Rasulullah SAW (Amirul Mukminin
Umar bin Al-Khathab menetapkan peristiwa
hijrah sebagai dasar perhitungan tahun
dalam kalender kaum Muslimin).Dalam Islam, hijrah memang ada dua
macam. Pertama, hijrah hissiyyah (hijrah fisik
dengan berpindah tempat), dari darul
khauf (negeri yang tidak aman dan tidak
kondusif) menuju darul amn (negeri yang
relatif aman dan kondusif), seperti hijrah
dari Kota Makkah ke Habasyah (Ethiopia) dan dari Makkah ke Madinah.
Kedua, hijrah ma’nawiyyah (hijrah nilai).
Yakni, dengan meninggalkan nilai-nilai atau
kondisi-kondisi jahiliah untuk berubah
menuju nilai-nilai atau kondisi-kondisi
Islami, seperti dalam aspek akidah, ibadah, akhlak, pemikiran dan pola pikir, muamalah,
pergaulan, cara hidup, kehidupan
berkeluarga, etos kerja, manajemen diri,
manajemen waktu, manajemen dakwah,
perjuangan, pengorbanan, serta aspek-
aspek diri dan kehidupan lainnya sesuai dengan tuntutan keimanan dan
konsekuensi keislaman.
Jika hijrah hissiyyah bersifat kondisional
dan situasional serta harus sesuai dengan
syarat-syarat tertentu, hijrah
ma’nawiyyah bersifat mutlak dan permanen, serta sekaligus merupakan
syarat dan landasan bagi pelaksanaan
hijrah hissiyyah.
Hijrah ma’nawiyyah inilah yang
sebenarnya merupakan hakikat dan esensi
dari perintah hijrah itu. Kuncinya ada pada kata perubahan! Ya, ketika seseorang telah
berikrar syahadat dan menyatakan diri
telah beriman dan berislam, ia harus
langsung ber-hijrah ma’nawiyyah ke arah
perubahan total–tentu tetap mengikuti
prinsip tadarruj (pentahapan)–sesuai shibghah rabbaniyah (lihat QS Al-Baqarah
[2]: 138) dan memenuhi tuntutan berislam
secara kaffah (lihat QS Al-Baqarah [2]: 208).
Guna menyambut–dan bukan
memperingati–tahun baru Hijriah, kita
harus melakukan muhasabah dan introspeksi diri dengan bertanya, sejauh
mana perubahan, peningkatan dan
perbaikan Islami telah terjadi dalam diri dan
kehidupan kita, baik dalam skala individu,
kelompok, jamaah, masyarakat, bangsa,
maupun dalam skala umat Islam secara keseluruhan?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bilangan Bahasa Jawa is Very Difficult …

Eddy Roesdiono | | 25 January 2015 | 13:07

Mengapa Komentar Menkopolhukam Tedjo …

Fandi Sido | | 25 January 2015 | 13:36

Kota Malang: Dulu Ijo Royo-royo, Sekarang …

Sri Krisna | | 25 January 2015 | 13:48

Mereguk Lukisan Mahakarya Sang Pencipta di …

Tjiptadinata Effend... | | 25 January 2015 | 13:01

[Tutorial] Google Hangout dan Cara …

Kompasiana | | 09 January 2015 | 22:15


TRENDING ARTICLES

Surat Terbuka kepada Megawati Sukarnoputri …

Ilyani Sudardjat | 9 jam lalu

Dewasanya Polri, Liciknya Oknum KPK …

Ar Kus | 9 jam lalu

Saran Urgent agar Jokowi Tidak Tumbang di …

Teguh Sunaryo | 12 jam lalu

Sikap Jokowi Menang Tanpa Menyakiti Lawan …

Bagoes Triatmojo | 14 jam lalu

Kekeliruan Hendropriyono dan Tedjo soal …

Muslihudin El Hasan... | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: