Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Gustaaf Kusno

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a selengkapnya

Kemiripan Lambang RI dan AS, Kebetulan Saja?

OPINI | 18 November 2012 | 15:15 Dibaca: 1706   Komentar: 14   7

13532266971042799381

(ilust zebratigerfish.blogspot.com dan wikipedia.com)

Tulisan ini tak bermaksud menggugat atau mempertanyakan fakta sejarah ditetapkannya lambang negara (the great seal) dari dua negara dengan ciri keragaman yang sama, namun hanya merupakan observasi amatir yang bersifat iseng saja. Anda perhatikan kedua lambang negara ini, maka saya percaya Anda akan sependapat bahwa keduanya memiliki cukup banyak kemiripan.

Pertama, satwa yang dipakai untuk pencitraan sama yaitu burung rajawali/garuda. AS memilih burung rajawali sebagai lambang, karena mereka memiliki bald eagle yang dibanggakan keperkasaannya. Indonesia memilih burung garuda, karena satwa mitologis ini sudah diagungkan berabad-abad sebelumnya. Persamaan yang lainnya, kedua burung perkasa ini merentangkan kedua sayapnya dan kepalanya menghadap ke kanan. Kedua burung ini juga menyandang perisai di dadanya. Dan yang cukup menggelitik pikiran adalah semboyan yang tertulis pada pita (scroll) yang menyertai lambang negara ini.

Pada lambang (seal) AS tertulis semboyan ’E Pluribus Unum’, sedangkan pada lambang RI tertulis semboyan ’Bhinneka Tunggal Ika’. Kedua semboyan ini mempunyai makna yang persis sama yaitu ’dalam keberagaman menjadi satu’. Lambang garuda Pancasila diciptakan oleh Sultan Hamid II yang waktu itu adalah menteri kabinet RIS dan setelah melalui beberapa revisi akhirnya ditetapkan sebagai lambang negara pada Maret 1950.

Yang menarik revisi yang disarankan oleh Presiden Soekarno adalah menyangkut kepala garuda yang pada waktu itu masih gundul. Melalui pelukis istana Dullah, Bung Karno meminta agar burung garuda ini diberi jambul, supaya tidak menyerupai bald eagle yang menjadi lambang negara AS. Secara harfiah bald eagle memang bermakna ’rajawali gundul atau rajawali botak’. Jadi nampaknya Bung Karno sudah ’menyadari’ bahwa simbol negara yang disahkan ini mempunyai banyak kemiripan dengan dengan simbol negara AS.

Kemiripan lain yang sempat saya amati (secara amatiran) adalah pada Pembukaan (Preamble) UUD 1945. Pada alinea pertama antara lain disebutkan: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Coba Anda perhatikan preamble pada ’Declaration of Independence’ AS yang berbunyi: We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by their Creator with certain unalienable Rights, that among these are Life, Liberty and the pursuit of Happiness. Cukup banyak kemiripan bukan?

Ada satu kemiripan lainnya yang menurut pendapat pribadi saya perlu dikaji ulang, karena ada kerancuan diksi. Yang saya maksudkan di sini adalah sebutan ‘Negara Kesatuan Republik Indonesia’ yang nampaknya ‘meniru’ (mengadopsi) dari sebutan ’United States of America’. Sebutan ‘united states’ memang tepat adanya, karena Amerika Serikat memang terdiri dari 50 negara bagian dan semua negara ini di-united (dijadikan kesatuan) sebagai negara Amerika. Tetapi kiranya kurang tepat kalau kita menyebutkan negara kita sebagai ‘negara kesatuan’, karena Indonesia tak terdiri dari negara-negara bagian seperti AS. Di tahun 1950an memang pernah ada sebutan ‘United States of Indonesia’, tatkala Indonesia terdiri dari 16 ‘negara bagian’ sebagai hasil dari Perundingan Meja Bundar dengan pihak Belanda. Dari 16 ‘negara bagian’ ini, Jawa Sumatra menjadi ‘milik’ Indonesia dan 15 negara bagian lainnya menjadi ‘milik’ Belanda. Tapi itu dulu, waktu negara kita diberi nama Republik Indonesia Serikat (RIS). Sekarang, penyebutan ’Negara Kesatuan’ menurut hemat saya terdengar ganjil, karena alasan yang sudah saya uraikan di atas. Cukuplah disebut dengan Republik Indonesia, karena dengan istilah ini sudah secara gamblang menyiratkan bahwa seluruh warganya adalah suatu kesatuan yang bulat. Bagaimana menurut pendapat Anda?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wukuf di Arafah Puncak Ibadah Haji …

Aljohan | | 02 October 2014 | 15:27

2 Oktober, Mari Populerkan Hari …

Khairunisa Maslichu... | | 02 October 2014 | 15:38

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 2 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 6 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenalkan Ini Batik Khas Bekasi …

Ahmad Syaikhu | 8 jam lalu

Pengembangan Migas Indonesia: Perlukah Peran …

Fahmi Idris | 8 jam lalu

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Rini Nainggolan | 8 jam lalu

Celana Dalam Anti Grepe-grepe …

Mawalu | 8 jam lalu

Bioskop Buaran Tinggal Kenangan …

Rolas Tri Ganda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: