Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Riky Rinovsky

Anak Negeri Ujung Utara Indonesia kabupaten natuna Ceo Aura Satria semesta.Email:Rikyrinovsky@gmail.com

Pertempuran Sengit PrabowoSubianto 96 Perbatasan Laut Cina Selatan

REP | 23 November 2012 | 16:06 Dibaca: 12371   Komentar: 0   1

1353661486321943048

https://www.facebook.com/PrabowoSubianto

Pangab tentang Malindo Darsasa 96: ‘Tidak akan Bentuk Pakta Pertahanan’

Mengenag kembali sejarah TNI  singkat Pertempuran 1996 di laut cina Selatan perbatasan ujung Utara Indonesia kini Di kenal Negeri NATUNA sekelumit cerita semoga tulisan lama yang pernah di publikasikan oleh media Cetak Repulika tahun 1996 ,Panglima ABRI Jenderal TNI Feisal Tanjung menyatakan Latihan Gabungan Bersama Malindo Darsasa-4AB/1996 sama sekali tak akan
menjurus ke pembentukan suatu pakta pertahanan. Menurutnya, latihan
antara TNI dan Angkatan Tentara Malaysia (ATM) itu “hanya merupakan kerja sama bilateral di bidang keamanan dalam rangka mengamankan wilayah perbatasan kedua negara maupun wilayah regionalnya”.

Feisal menyampaikan itu ketika bertindak sebagai inspektur upacara
pembukaan Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Malindo Darsasa-4AB/1996
di Kodikal, Surabaya, kemarin. Selain Kasum ABRI Letjen TNI Tarub beserta asisten-asistennya, Pangkostrad Letjen TNI Wiranto, dan Danjen Kopassus Mayjen TNI Prabowo Subianto, hadir pula Panglima ATM Jenderal Tan Sri Ismail Omar.


Selain kerja sama keamanan kedua negara, Feisal mengharapkan Latgabma
Malindo dapat meningkatkan kualitas tempur angkatan bersenjata kedua negara. Dengan terselenggaranya Latgabma kali ini, menurutnya, ”berarti kita telah maju selangkah lagi dalam upaya meningkatkan hubungan persahabatan dan kerja sama khususnya kedua angkatan bersenjata”.


Feisal mengingatkan prestasi-prestasi yang telah dicapai melalui Latma
Kekar Malindo (matradarat), Latma Malindo Jaya (matra laut), dan Latma Elang Malindo (matra udara).

Secara teknis, Feisal menjelaskan, latihan bersama kali ini bertujuan
untuk menguji sekaligus meningkatkan kemampuan profesionalisme TNI dan
ATM, baik pada tingkat komando tugas gabungan bersama pengamanan perbatasan (KTGBPP), maupun hubungan satuan dari angkatan bersenjata masing-masing.

Karena itu, ia meminta agar latihan dapat dijadikan wahana untuk
meningkatkan jalinan tali persaudaraan antara kedua negara. “Terlebih lagi hubungan kerja sama antara TNI dan ATM yang telah berlangsung dengan akrab dan harmonis itu,” ujarnya.


Kepada seluruh peserta, Feisal juga mengingatkan agar Latgabma Malindo
dilaksanakan sebaik-baiknya. “Perhatikan pengamanan personel dan peralatan serta hindari perbuatan yang dapat menurunkan citra prajurit
kedua negara,” tuturnya.


Latgabma Malindo Darsasa-4AB/1996 dengan Posko di Surabaya akan
berlangsung di Singkawang, Kalimantan Barat, 19-30 Agustus 1996.Peserta latihan sekitar 5.000 orang prajurit TNI dan ATM, terdiri atas unsur penyelenggara, pelaku, dan pendukung.

Dalam latihan akan diasumsikan ada sebuah negara agresor (negasor) yang berambisi memimpin dan menggalang kekuatan komunis internasional menyusup di kawasa perbatasan Malaysia-Indonesia. Negasor menggelar kekuatan besar dengan lebih dari 20 kapal perang, termasuk dua kapal selam serta 20 pesawat udara tempur dengan satu pesawat pembom strategis yang dipusatkan di Pulau Timbul, Laut Cina Selatan.

Negasor kemudian menggerakkan kekuatan agresinya ke Pulau Anambas, Laut
Natuna, dan untuk serbuan berikutnya dilakukan perkuatan infiltrasi
menuju Singkawang, lalu ke Pontianak dan daerah barat Kalimantan Barat.


Direktur Latihan Latgabma Brigjen TNI Mar Benyamin Balukh, didampingi Kapuspen ABRI Brigjen TNI Amir Syarifudin dan Pengarah Operasi di Latihan ATM Kapten Noor Azman Otsman, mengatakan kerja sama dalam  bentuk latihan bukan hanya dengan Malaysia tapi dengan setiap negara
yang berbatasan dengan Indonesia.======

Empat petinggi militer Cina kemarin menemui Presiden Soeharto di Bina Graha Jakarta. Mereka dipimpin oleh Kepala Staf Umum Tentara Pembebasan Rakyat RRC Jenderal Fu Quangyeu.

Kunjungan petinggi militer Cina ini memunculkan spekulasi adanya pembicaraan mengenai Latihan Gabungan III ABRI itu. Seperti diberitakan AFP dan Reuter, segera setelah Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung membuka latihan di Kepulauan Natuna itu, pemerintah Cina bereaksi. Cina juga memrotes Indonesia yang telah menerima kunjungan Menlu Taiwan John Chang selaku pribadi ke Indonesia.


Kepada wartawan, Jenderal Fu Quangyeu menyatakan, “Kunjungan ini dalam rangka meningkatkan persahabatan kedua negara.” Tapi Pangab Jenderal Feisal, yang mendampingi tamu dari Cina itu, membenarkan bahwa masalah Latihan Gabungan ABRI dijelaskan kepada para tamu tersebut. Menurut Feisal, tidak ada masalah lagi dalam soal itu.

Ketika ditanya, apakah mereka menerima penjelasan Indonesia, dengan tegas Feisal menjawab, ”Iya dong.” Sebelum ini, pada Senin (9/9) 1996, Danjen Kopassus Mayjen TNI Prabowo Subianto mengadakan kunjungan ke Menhan Cina di Beijing. Kedatangan Prabowo ini atas undangan Jenderal Fu.

Kemarin Jenderal Fu juga menyatakan bahwa pihaknya tak berencana menyaksikan Latihan Gabungan ABRI di Natuna. Ia justru berharap adanya kerja sama di bidang iptek antara kedua negara di waktu mendatang.

Ditanya tentang kemungkinan kerja sama militer, Jenderal Fu menjawab ”belum ada rencana”. Cina dikabarkan memrotes Latihan Gabungan ABRI, karena negeri itu mengklaim Kepulauan Natuna di Laut Cina Selatan sebagai bagian dari wilayahnya. Indonesia menepis klaim itu dan menegaskan kepulauan yang kaya sumber alam itu bagian sah dari wilayah RI.

Dalam kunjungan ini Jenderal Fu didampingi oleh Wakil Komandan Komando Militer Chengdu Chen Xianhua, Kepala Staf AL Linzhong, Kepala Staf AU  Xu Qiliang, dan Wakil Dirjen Mabes Tentara Pembebasan Rakyat Lu Dengming.


Kepada Presiden, menurut Feisal, Jenderal Fu menjelaskan tentang  gambaran situasi di Cina, kemajuan ekonominya, dan pengurangan Angkatan Bersenjata Cina. Juga persiapan mereka menerima penggabungan Hongkong dan Taiwan.

Jika suatu saat Taiwan dan Hongkong bergabung dengan Cina, kata Fu, sistem kedua kawasan itu akan tetap dibiarkan seperti sekarang. “Jadi, dalam satu negara ada beberapa sistem,” kata Feisal mengutip Fu. (sumber Republika Selasa, 20 Agustus 1996 )

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 9 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 9 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 11 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 16 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 9 jam lalu

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak …

Wahyu Indra Sukma | 9 jam lalu

Gerakan Desa Membangun: Sebuah Paradigma …

Yulio Victory | 10 jam lalu

Berbagai Pandangan “Era Baru Polri Dibawah …

Imam Kodri | 10 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: