Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Van_nder

Mahasiswa pendidikan sejarah di salah satu universitas ternama di kota Malang. Memiliki minat besar dalam selengkapnya

Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Pemuda Dan Semangat Kebangsaan

OPINI | 02 December 2012 | 11:07 Dibaca: 432   Komentar: 0   0

Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa:

Pemuda Dan Semangat Kebangsaan

———————

Pemuda, begitulah “Ia” disebut. “Ia” adalah hal yang selalu menarik untuk dibahas bahkan diperdebatkan. Sebab “Ia” merupakan salah satu unsur yang tidak pernah lepas dalam lika-liku perjalanan sejarah bangsa ini. Bicara tentang pemuda adalah bicara tentang masa depan, sebab “Ia” yang akan menjadi pemimpin di masa depan, “Ia” yang menggambarkan potret keadaan suatu bangsa, dan “Ia” yang akan menjadi pembawa perubahan.

Peran dan eksistensi pemuda memang tidak  dapat dipungkiri,  “Ia” akan selalu ada di siang hari ketika terik panas matahari begitu menyengat penuh dengan semangat yang mampu menyejukkan siang. Maka tidak mengherankan jika “Ia” menjadi tumpuan harapan, pembawa perubahan dan pemimpin di masa depan. Begitulah generasi “tua” memandangnya. Namun, dalam perjalanan bangsa ini semakin lama eksistensi pemuda mulai meredup seiring perubahan jiwa zaman.

Mereka yang Mendambakan Indonesia

“Mereka mencurahkan pikiran dan tenaga untuk mewujudkan persatuan. Mengesampingkan perbedaan suku, warna kulit, dan agama. mereka menggelar pertemuan-pertemuan yang merisaukan penjajah Belanda. Kemerdekaan adalah dambaan mereka. Anak-anak muda itu menuliskan bagiannya dalam sejarah negeri kita: sebagai pemimpin bangsa, penyair, musisi, atau orang biasa saja. Ada pula yang nasibnya berakhir tragis, tewas di ujung bedil tentara Indonesia, yang kemerdekaannya turut ia perjuangkan. Nama mereka senantiasa disebut dalam setiap peringatan Sumpah pemuda”

Majalah Tempo, 2 November 2008

Usia mereka rata-rata baru memasuki 20-an dan penuh dengan semangat. Mereka bearasal dari berbagai macam latar belakang sosial dan daerah yang berbeda-beda. Karena mengenyam pendidikan Belanda mereka sangat fasih berbahasa Belanda, selain bahasa daerah masing-masing. Hanya segelintir orang yang mampu berbahasa Melayu yang pada akhirnya nanti menjadi cikal bakal bahasa Indonesia.

Pada tahun 1920-an bermunculan berbagai macam organisasi dan perkumpulan yang bersifat kedaerahan. Jong java, Jong Sumatera, Jong Bataks, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Soekoen Soenda merupakan beberapa contohnya. Organisasi dan perkumpulan ini pada awalnya beranggotakan puluhan orang saja dan hanya terbatas pada urusan sosial budaya.  Beberapa organisasi politik sebetulnya telah berdiri di Hindia Belanda pada awal 1920-an. Organisasi politik yang terbesar saat itu adalah Sarekat Islam, Boedi Utomo, Partai Komunis Indonesia dan Partai Nasional Indonesia.

Tonggak penting dalam pergerakan Pemuda dimulai ketika Permimpunann Indonesia (PI) menerbitkan Manifesto Politik pada tahun 1925. Ini pertama kalinya mereka dengan tegas berbicara tentang kemerdekaan, persatuan dan persaudaraan diantara seluruh masyarakat yang terjajah di Hindia Belanda. Unsur-unsur kedaerah yang kental ditinggalkan dalam Manifesto Politik tersebut demi terciptanya persatuan.

Menurut mendiang Sartono Kartodirdjo, “Manifesto Politik yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Indonesia di Belanda pada tahun 1925 lebih fundamental dari pada Sumpah Pemuda tahun 1928”. Manifesto Politik 1925 tersebut justru dianggap sebagai sebuah  gerakan yang lebih dinamis. Dari segi tujuan, Manifesto Politik 1925 lebih luas cakupannya yang berisi prinsip perjuangan, yakni unity (persatuan), equality (kesetaraan), dan liberty (kemerdekaan).

Lebih jauh lagi hampir semua karangan yang diterbitkan majalah “Indonesia Merdeka” yang menjadi corong penyebarluasan pemikiran dan gagasan orang-orang Persatuan Indonesia menjadi bahan bacaan populer oleh kalangan muda Indonesia. Asvi Warman Adam, dalam buku “Seabad Kontroversi Sejarah”, juga membuka fakta bahwa ide-ide dalam manifesto politik Perhimpunan Indonesia yang terbit di majalah “Indonesia Merdeka” telah mengilhami para pemuda-pemuda saat itu, yang nanti akan merumuskan Sumpah Pemuda.

Sumpah Pemuda tahun 1928, diawali dengan pertemuan lima organisasi pemuda dan juga perseorangan pada 15 November 1925 bertempat di Hotel Lux Orientis Jakarta. Pertemuan tersebut menghasilkan keputusan untuk mengadakan Kongres Pemuda Indonesia pertama. Tujuan dari diselenggarakan kongres pertama adalah menggugah semangat kerjasama diantara bermacam-macam organisasi pemuda yang ada di Hindia Belanda supaya dapat di wujudkan dasar pokok lahirnya persatuan Indonesia ditengah-tengah bangsa di dunia.

Kongres Pemuda Indonesia pertama itu digelar di Jakarta pada 30 April 1926 hingga 2 Mei 1926. Berbagai persoalan dibahas dalam kongres ini termasuk masalah bahasa persatuan. Meskipun bahasa Belanda menjadi bahasa pengantar dalam kongres ini, turut dibicarakan juga perihal bahasa persatuan. Dalam bukunya 45 Tahun Sumpah Pemuda, M. Tarbani Soerjowitjitro selaku ketua Kongres Pemuda pertama menjelaskan bahwa “ketika M. Yamin menyampaikan pidatonya ia menyatakan bahwa bahasa Melayu dan bahasa Jawa yang berpeluang menjadi bahasa persatuan. M. Yamin menunjukkan jika bahasa Melayulah yang paling besar peluang besar dipilih”.

Menurut Tarbani, peserta kongres setuju dengan usulan tersebut namun Tarbani menentangnya. Ia menjelaskan “jika Nusa itu bernama Indonesia, bangsa itu bernama Indonesia, maka bahasanya pun harus bernama bahasa Indonesia”. Pendapat ini diterima oleh seluruh peserta kongres dan pengambilan keputusan perihal bahasa persatuan ditunda sampai kongres kedua.

Kongres Pemuda kedua digelar dua tahun kemudian tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta. Sejumlah nama tokoh Nasional hadir dalam kongres ini tidak ketinggalan beberapa pejabat Belanda yang bertindak sebagai pengawas. Kongres kedua digelar di tiga tempat tersebut menghasilkan suatu pernyataan yang saat ini dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Dalam sumpah pemuda bahasa persatuan yang putuskan adalah bahasa Indonesia bertolak belakang dengan putusan pada saat kongres pertama. Konon, ketika Amir Sjarifuddin menanyakan apakah mereka siap berbahasa Indonesia, hadirin menjawab keras, “siikkaap”.

Lewat Sumpah Pemuda ini berbagai perbedaaan daerah dan pandangan komunitas imajiner dibuang jauh-jauh. Semua organisasi dan perkumpulan sepakat untuk berazaskan pada sumpah pemuda. Tidak ada lagi sekat-sekat bernama suku, agama, daerah dan bahasa. Tidak terlupakan pula untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dipedengarkan oleh W.R. Suparman meskipun hanya secara instrumental dengan biolanya.

Setelah kongres pemuda, peristiwa yang tidak kalah penting untuk diingat adalah kongres perempuan yang diadakan di Yogyakarta pada 22 Desember 1928-nantinya akan diperingati sebagai hari ibu. Dalam kongres ini para perempuan yang tergabung dalam berbagai perkumpulan, organisasi maupun perseorangan sepakat untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia dan bersemangatkan sumpah pemuda.

Merdeka…….!!!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Keluar Uang 460 Dollar Singapura Gigi Masih …

Posma Siahaan | | 19 April 2014 | 13:21

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 11 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 19 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 19 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 22 jam lalu

Timnas U 19: Jangan Takut Timur Tengah, …

Topik Irawan | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: