Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Sastraadiguna

sedang belajar menulis

Pemberontakan Sutawijaya [5]

REP | 03 December 2012 | 19:48 Dibaca: 247   Komentar: 0   1

Tumenggung Mayang di hukum buang


Kita tinggalkan dulu Senapati ing Ngalaga dan ki Juru Martani yang sedang merencanakan strategi militernya.

Kembali lagi kita ke Pajang, peristiwa eksekusi pada Raden Pabelan tidak hanya sampai disitu. Kini Tumenggung Mayang dipanggil ke Bale Manguntur, tidak hanya kena marah kanjeng Sultan, tetapi diadakan sidang darurat kode etik yang dipimpin langsung oleh Sultan Pajang.

Hasil keputusan sidang darurat di Bale Manguntur tinangkil itu, Sultan Pajang telah memutuskan, bahwa Tumenggung Mayang dicopot dari pangkat dan jabatannya, dan dicabut semua haknya di Katumenggungan, kecuali itu juga dengan hukuman tambahan di buang ke Alas Roban bersama istrinya, dan tidak bisa kembali ke Pajang lagi.

Tumenggung Mayang, dalam sidang darurat itu tidak dapat berbuat banyak, tidak ada pembelaan diri, ia harus senang atau tidak senang, mau ataupun tidak mau harus menerima perlakuan kehinaan akibat dari ulah putranya, Raden Pabelan. Segalanya tak dapat disesali, nasi telah menjadi bubur, manusia harus menjalani takdirnya.

Selesai di eksekusi (1582 M), Tumenggung Mayang dengan dikawal seribu prajurit dari Pajang menuju ke wilayah Kadipaten Semarang, tepatnya di Alas Roban. Seperti diketahui Alas Roban adalah hutan jati, ki Tumenggung sudah dapat membayangkan bagaimana kehidupan nantinya di dalam hutan jati itu.

Keberangkatan terpidana Tumenggung Mayang ke Semarang, untuk di buang ke Alas Roban cukup menggemparkan seluruh kadipaten bawahan Kasultanan Pajang, berita tentang eksekusi terhadap Raden Pabelan telah tersebar di seluruh Kadipaten. Para Adipati ada yang  senang dengan eksekusi itu, namun ada pula yang terang-terangan menolak kekejaman eksekusi tersebut seperti Adipati Madiun, Pranaraga dan Surabaya.

Sebelum berangkat meninggalkan Pajang, isteri ki Mayang menyuruh abdidalem kinasih katumenggungan untuk menyampaikan surat rahasia ke Mataram kepada Senapati Ing Ngalaga. Orang kepercayaan Tumenggung Mayang ini adalah prajurit pangalasan [ pasukan sandiyuda] sebanyak duabelas orang.  Mereka meninggalkan rumah tumenggung Mayang di Laweyan pada malam hari, semuanya mengenakan pakaian hitam dan berkuda, dengan perbekalan yang cukup.

Perjalanan pasukan sandiyuda tidak diceritakan, ringkas cerita utusan nyai Tumenggung sudah sampai di Mataram, surat telah dibaca oleh Senapati ing Ngalaga; “katuring sembah bekti, dhuh kangmas Senapati, kawula caos upeksi rayi paduka samangkin angsal deduka saking kanjeng Sultan, binucal mring Semarang, mantri pamajegan cacah Sewu ingkang kinen rumeksa kanan lan kering. Kangmas karebata ingkang rayi, sampun sanes kang darbèni, kaabdèkna wonten ing Mentawis. (salam hormatku kanda Senapati, memberitahukan bahwa adikmu Tumenggung Mayang menerima hukuman dari Sultan Pajang, dan kini dibuang ke Semarang, mohon kanda rebut, jangan sampai dimiliki oleh Kadipaten lain, jadikanlah sebagai abdi di Mataram).

Senapati ing Ngalaga setelah membaca surat itu, menjadi marah yang tak terkendali. Kemudian berteriak memanggil teman-temannya. “heh mitraningsun pamajegan sun jaluk karyanèki mantri kawandasa, lah rebuten den kena, pan iya sadulur mami Tumenggung Mayang, metu Kedhu aglis lah rebuten ngendi anggone kecandhak” (hai saudarasaudara-ku dari tim khusus, aku minta bantuan kalian sebanyak 40 orang untuk merebut kembali adikku Tumenggung Mayang yang kini di buang ke Semarang, kau hadang di perbatasan Kedu, usahakan berhasil, berangkatlah segera).

Keempat puluh orang terpilih itu sudah berkumpul, senjata, kuda telah disiapkan, kemudian Senapati membagi-bagikan uang dan perhiasan kepada keempat puluh orang pasukan Khusus. Bagi yang menerima sangat senang sekali karena mendapat harta yang cukup banyak.

Untuk Senapati Ing Ngalaga itu sebagai danakrama (membeli jiwa). Dalam hatinya, mereka sudah dapat menduganya; “inilah harga sebuah kepala kami untuk dipersembahkan pada pemimpin kami, tetapi semoga Hyang Widi memberikan keselamatan” serentak pasukan khusus sebanyak 40 orang itu, menyampaikan sembah sebagai penghormatan terakhir.

Keempat puluh orang itu adalah pasukan khusus anti terror dari Mataram, mereka adalah orang-orang terlatih, gerakannya sangat cepat dan tidak meninggalkan jejeak yang dapat dilacak oleh pihak lawan. Ke empat puluh pasukan berkuda itu melesat kearah utara menerobos Krendhawahana dan mendahului pasukan Pajang menunggu di seputar wilayah Kedu. (Lama perjalanan dari Pajang tidak diceritakan).

Ketika sampai di desa Jatijajar lereng barat gunung Merapi, pasukan khusus anti terror dari Mataram itu sudah siap dalam persembunyiaianya dan menghadang rombongan dari Pajang yang membawa terpidana mantan Tumenggung Mayang.

Rombongan pasukan pengawal terpidana Tumenggung Mayang yang dari Pajang sama sekali tidak menyangka bahwa di depannya ada marabahaya, rombongan itu berjalan dengan santai mungkin juga karena kelelahan. Pasukan pengawal Tumenggung Mayang yang ada di depan tidak menyadari adanya serangan mendadak dari pasukan Mataram.

Barisan dari Pajang yang diterjang oleh pasukan khusus anti terror dari Mataram, yang dilakukan secara mendadak dari kanan dan kiri, rombongan yang mengamankan Tumenggung Mayang itu menjadi bubar.

40 orang pasukan khusus antir terror berkuda dari Mataram, merupakan orang-orang yang yang telah terbiasa dan terlatih melakukan pertempuran, dan tanpa rasa takut. Pengawal yang berjumlah seribu orang karena memang tidak dipersiapkan dari awal untuk bertempur, maka ketika mendapat serangan mendadak, tak bisa berbuat banyak.

Pasukan khusus anti terror dari Mataram itu memang tidak ingin membunuh  pasukan dari Pajang, setelah mengetahui sasarannya, yakni seorang pria yang diikat kedua tangannya, jelas bahwa itulah yang harus diamankan. Maka empat orang berkuda menerjang ke depan Tumenggung Mayang ditarik keatas kudanya dan dibawa kabur kearah barat menuju bukit Menoreh, dan diikuti oleh teman-temannya yang lain.

Pasukan pengawal terpidana Tumenggung Mayang mengejar pasukan dari Mataram, namun kebingungan, karena ke empat puluh  anggota pasukan khusus anti terror dari Mataram itu  mendadak memisahkan diri menyebar menjadi beberapa jurusan. Sehingga jurusan yang mana terpidana Tumenggung Mayang dibawanya. Akhirnya pasukan pengawal dari Pajang  mengambil keputusan untuk melaporkan kejadian ini kepada Sultan Pajang.

[ada lanjutannya]

sumber; Babad Demak, Babad Mangir

create; ki Sastra

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Deng Xiaoping dan Diplomasi Tiongkok …

Aris Heru Utomo | | 23 August 2014 | 09:52

Pihak Jokowi-JK Sudah Tepat Bila Mengadopsi …

Abdul Muis Syam | | 23 August 2014 | 03:40

Mana Gaya Manajemen Konflik Anda? …

Pical Gadi | | 23 August 2014 | 07:51

Cara Merawat “Suami” Kedua …

Mbak Avy | | 23 August 2014 | 10:09

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Dapatkah MK Dipercaya? (2) …

Pecel Tempe | 13 jam lalu

Mulianya Hamdan Zoelva, Hinanya Akil Mochtar …

Daniel H.t. | 15 jam lalu

Ada Foto ‘Menegangkan’ Ibu Ani …

Posma Siahaan | 16 jam lalu

Mempertanyakan Keikhlasan Relawan Jokowi-JK …

Muhammad | 16 jam lalu

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: