Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Slamet Bowo Santoso

Menyukai tak mesti selamanya memuji, sekali-sekali boleh juga mengkritik. Karena cinta dari hati tanpa perlu selengkapnya

Kapal Bandong Itu Khas Kalbar

REP | 17 December 2012 | 17:12 Dibaca: 552   Komentar: 0   0


KAPAL BANDONG LONG FA’I

Pada awalnya saya tidak mengenal sosok budayawan sekaligus pengrajin miniatur Kapal Bandong (1) yang satu ini. Saya mengenalnya berawal dari obrolan warung kopi seorang teman bernama Zainuri di Kota Sanggau, yang menceritakan kerajinan Rifa’i Navis yang dikenal dengan panggilan Long Fa’i berhasil mendapatkan penghargaan Upakarti dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Desember 2010 silam.

Meskipun sudah mendapatan gambaran sosok Long Fa’i, saya tidak langsung mengamini bertemu denganya. Pasalnya saya merasa tidak ada sesuatu yang special, meskipun saya langsung menghilangkan anggapan itu setelah bertemu. Akhirnya pada Sabtu 9 Maret 2011 saya memutuskan bertemu dengan Long Fa’i dengan diantar teman tersebut.

Suasana tepian Sungai Sekayam tepatnya di bawah Jembatan Sekayam Sanggau pagi itu begitu tenang tak tampak aktifitas mencolok masyarakat sekitar. Saya memilih hari Sabtu karena pada hari itu saya tidak dikejar deadline pekerjaan. Meskipun terasa tenang, aktivitas di sebuah kios kecil berukuran 3×4 meter dengan pelang nama Sanggar Kerajinan Sosik, sudah tampak sibuk. Dua orang anak muda terlihat sibuk.

Rupanya keduanya tengah menyelesaikan kerajinan miniatur Kapal Bandong. Tangan-tangan mereka sangat terampil memainkan pisau carter. Tiap bagian disentuh dengan ketelitian penuh agar karya mereka tidak cedera. Ada sekitar empat unit miniatur Kapal Bandong yang mereka kerjakan.

Pekerjaan yang dilakukan mulai dari melubangi kayu yang masih berbentuk bulat menjadi menyerupai sampan, memasang bagian badan kapal, memasang atap juga kelengkapan lain. Tidak berapa lama pemilik kios yang tidak lain Long Fa’i menerima kedatangan saya dan mempersilahkan masuk ke rumahnya yang berada di belakang kios, berjarak hanya sekitar tiga meter.

Di ruangan tamu berukuran sekitar 3×3 meter khas rumah Melayu Kalimantan Barat, saya diterima dan disuguhi minuman teh manis hangat. Piagam Upakarti berbentuk miniatur bangunan dibalut kaca dengan tinggi sekitar 50 centimeter tampak di pojok ruangan. Di sampingnya tampak beberapa miniatur kerajinan Long Fa’i mulai dari Kapal Bandong, Rumah Betang, Sampan Tradisional, Caping (2) tampak tertata rapi.

Mengenakan kemeja putih garis-garis dipadu celana hitam, serta mengenakan kacamata, Long Fa’i tampak sebagai sosok yang tenang dan sangat bersahaja. Perbincangan dimulai teman saya yang menceritakan maksud kedatangan saya, awalnya Long Fa’i tampak kurang berkenan, namun setelah saya memperjelas sendiri maksud kedatangan saya baru ia mulai buka mulut.

“Bagi saya sebenarnya penghargaan Upakarti tersebut bukan tujuan utama, karena yang terpenting bagaimana anak cucu saya nanti tahu seperti apa bentuknya Kapal Bandong dan Rumah Betang, Mandau (3),” ujarnya.

Mendengar jawaban tersebut saya semakin merasa tertarik, pasalnya bagi semua tentu peghargaan seperti yang diperolehnya sangat diharapkan. Namun ternyata tidak bagi Long Fa’i, dia justru menyatakan biasa-biasa saja dengan penghargaan itu.

Long Fa’i melanjutkan pembicaraan, rupanya ia mulai menggeluti kerajinan miniatur ini, sudah sejak tahun 1970-an atau sudah sekitar 32 tahun. Bermula dari keprihatinannya karena Kapal Bandong semakin hilang dari lalulintas sungai di Kalimantn Barat umumnya dan Kabupaten Sanggau. Padahal, sebelum tahun tersebut hampir setiap jam kita bisa melihat Kapal Bandong melintas.

Untuk sekedar diketahui, Kapal Bandong sendiri merupakan alat transportasi massal masyarakat asli Kalimantan Barat sejak ratusan tahun. Layaknya kapal pada umumnya, kapal ini dilengkapi dengan mesin sebagai tenaga pendorong. Kapal ini biasanya mengangkut barang dan manusia dan melewati kabupaten-kabupaten yang ada mulai dari Kabupaten Kapuas Hulu hingga Kota Pontianak sebagai Ibukota Provinsi.

Perbedaan Kapal Bandong dengan kapal lain adalah Kapal ini bentuknya menyerupai rumah masyarakat Melayu Kalimantan Barat. Di dalamnya juga terdapat sekat-sekat baik yang dijadikan kamar, dapur maupun gudang tempat menyimpan barang-barang. Orang yang naik Kapal bandong juga bisa menikmati makan, mandi dan aktifitas layaknya sebuah rumah. Bahkan untuk Kapal Bandong yang moderen, biasanya juga dilengkapi alat elektronik seperti televisi (TV) tape recorder dan perlengkapan elektronik lain yang dibutuhkan untuk membuang jenuh sepanjang perjalanan.

Kalimantan Barat sendiri sebagian besar dihubungkan oleh sungai besar yang bernama Sungai Kapuas, meskipun ada sungai-sungai kecil seperti Sungai Melawi, Sungai Ssepauk, Sungai Ketungau dan Sungai Landak serta beberapa sungai kecil lainya. Adapun Sungai Kapuas sendiri melintasi sebagian besar kabupaten mulai dari Kapuas Hulu, Sintang, Sekadau, Sanggau, dan Pontianak.

Sementara kabupaten lain seperti Kabupaten Pontianak, Kabupaten Landak, Kabupaten Bengkayang, Kota Singkawang, Kabupaten Melawi dan Kabupaten Sambas tidak dilalui Sungai Kapuas tersebut.

Namun khusus untuk Kabupaten Melawi, meskipun tidak dilintasi Sungai Kapuas, namun terdapat pula Kapal Bandong karena terdapat sungai yang cukup besar yakni Sungai Melawi. Sungai Melawi sendiri membentang dari Kecamatan Serawai dan Ambalau diperhuluan Kabupaten Melawi dan bermuara di Kota Sintang. Airnya kemudian menyatu dengan air Sungai Kapuas, meskipun sebenarnya air kedua sungai memiki karakter yang berbeda.

Saat ini Kapal Bandong masih sesekali tampak melintas di beberapa sungai yang ada tersebut, khususnya Sungai Kapuas, Sungai Landak dan Sungai Melawi. Serta anak-anak Sungai Kapuas yang berada di wilayah perhuluan.

Kembali ke penuturan Long Fa’i, pada tahun 1970-an itu hampir seluruh toke (4) di Sanggau dan wilayah perhuluan lain di Kalbar memiliki Kapal Bandong. Baik untuk mengangkut sembako, karet, dan barang-barang lainnya dari dan ke Pontianak. Karena memang biasanya Kapal Bandong ketika pergi ke Pontianak membawa barang mentah seperti komoditi karet, tengkawang (5), ikan toman (6), ikan asin dan masih banyak lain termasuk buah-buahan. Dan kembali ke kabupaten perhuluan membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari untuk dijual kepada masyarakat seperti minyak gorong, gula, minyak tanah dan keperluan lain.

Beranjak dari keprihatinan itu, mantan Lurah Tanjung Sekayam Sanggau ini berinisiatif untuk membuat miniatur Kapal Bandong. Niatnya tersebut ditunjang pula karena waktunya yang cukup luang pada saat itu. Berbekal sedikit keterampilan dan keberanian, Long Fa’i pun mulai berkarya.

Tidak hanya Kapal Bandong, ia juga mengabadikan Rumah Betang, rumah yang menjadi kediaman etnis Dayak yang juga sudah sulit ditemui saat ini. Berbekal peralatan seadanya, hasilnya ternyata mengagumkan.

“Pengerjaannya tidak menggunakan mesin sama sekali, manual. Itu yang membuat kesan alami. Meski begitu, miniatur dibuat mirip aslinya dan rapi. Itulah yang disukai para pembeli,” kata kakek delapan cucu yang juga hobi melukis di kanvas ini.

Tidak hanya itu, kelebihan miniatur yang dihasilkanya juga karena buah ketelitian, sehingga tidak ada bagian Kapal Bandong yang terlewatkan. Selain itu miniature tersebut juga tidak menggunakan pengawet dan bahan kimia kecuali lem kayu, semuanya asli termasuk Bendera Merah Putih yang terpajang di bagian buritan kapal.

“Itu yang jadi andalan saya, ketika membuat miniatur Kapal Bandong dan Rumah Betang sampai sekarang tidak menggunakan bahan-bahan kimia. Itu yang terus saya pertahankan sampai sekarang,” tegasnya.

Adapun bahan pembuatan miniatur Kapal Bandong dan Rumah Betang ini terdiri dari pondasi yang berbentuk sampan dari Kayu Pulai, badan kapal dari Kayu Merah dan atapnya dari kulit Kayu Kapuak.

Peralatan lain yang digunakan semuanya juga sederhana. Mulai dari pisau carter, gergaji, dan lem kayu untuk merekatkan satu bagian dengan bagian lainya. Peralatan yang bermesin dan menggunakan listrik, hanya pada mesin penghalus (ketam). Juga mesin pembelah kayu yang akan dipergunakan sebagai bahan dasar pembuatan miniatur Kapal Bandong dan Rumah Betang.

Pria yang dikenal juga sebagai pencipta lagu Dara Nante ini menegaskan apa yang sudah dirintisnya selama ini dipersembahkan untuk memberikan yang terbaik bagi Kabupaten Sanggau. Ia bersyukur kerajinan tangannya sudah dikenal tidak saja di Indonesia, namun juga hingga ke Malaysia dan Brunei Darusalam.

Meski tidak mengharapkan penghargaan apapun, tapi ternyata kegigihan Long Fa’i diganjar Upakarti dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono pada Desember 2010. Penghargaan diberikan karena jerih payahnya mengembangkan dan mempertahankan kerajinan tangan miniatur Kapal Bandong dan Rumah Betang.

Harmonisasi Rumah Betang

Adalah Rumah Betang masyarakat Dayak Kalimantan, yang memiliki berpuluh-puluh kamar dan dihuni oleh puluhan sampai ratusan orang, yang sebenarnya telah mengantarkan Long Fa’i memperoleh penghargaan tertinggi di bidang kerajinan, Upakarti dan Presiden SBY.

Meski berasal dari etnis Melayu, Long Fa’i mengaku bangga bisa melestarikan Rumah Betang dalam bentuk miniatur. Menurutnya, Rumah Betang memiliki keunikan yang tidak didapat pada rumah-rumah masa kini.

“Sebenarnya, yang membuat saya mendapatkan Upakarti memang miniatur Rumah Betang. Bukan miniatur Kapal Bandong. Namun, bagi saya keduanya adalah ciri khas masyarakat Kalbar yang sangat membanggakan dan harus dijaga kelestarinya. Jangan sampai hilang dimakan zaman,” kata Long Fa’i.

Yang paling membuatnya bangga akan keberadaan Rumah Betang adalah keharmonisan yang diciptakan rumah tradisional tersebut. Sebab, meski dihuni puluhan keluarga, namun tidak pernah terjadi perkelahian sama sekali di dalamnya. Padahal keluarga yang di dalam Rumah Betang tersebut memiliki karakter berbeda-beda.

Dirinya juga mengaku sering menginap di Rumah Betang ini ketika bekerja menjadi penjual barang keliling di Kabupaten Sanggau puluhan tahun silam. Baginya, sangat mengagumkan apa yang dilakukan perancang pertama Rumah Betang. Karena itu, harus dijaga dan dilestarikan. Harus diakui, jumlah Rumah Betang di Sanggau sekarang hanya tinggal beberapa unit, itupun di komunitas masyarakat Dayak wilayah pedalaman.

Masuk Muatan Lokal

Kekhasan miniatur Kapal Bandong dan Rumah Betang karya Long Fa’i memang layak diacungi jempol. Bukan hanya laris manis di pasaran oleh-oleh khas daerah, miniatur Long Fa’i juga selalu menejadi kenang-kenangan pejabat yang datang ke Kabupaten Sanggau. Baik pejabat yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri.

Bahkan bupati Sanggau Ir H Setiman H Sudin, menempatkan sedikitnya empat buah Kapal Bandong di ruangan kerjanya di kantor bupati Sanggau Jl Jenderal Sudirman. Bupati pun tidak segan menyampaikan pujianya terhadap miniatur tersebut, termasuk kepada Long Fa’i yang dikenalnya sebagai sahabat dekat.

Sultan Keraton Suryanegara Sanggau, Gusti Arman, bahkan mengatakan kerajinan membuat miniatur Kapal Bandong dan Rumah Betang tersebut layak dimasukan dalam kurikulum pelajaran. Khususnya pada jam-jam ekstrakulikuler pendidikan melalui muatan lokal (mulok) yang biasanya ada di sekolah-sekolah.

“Saya pikir cocok dimasukan dalam kurikulum. Terlebih, apa yang dihasilkan terkait erat dengan sejarah Kalimantan Barat,” kata Gusti Arman.

Selain itu, pihak Keraton Sanggau sendiri sudah merencanakan membangun sebuah galeri di sekitar Keraton Suryanegara Sanggau yang berada di sekitar Kelurahan Ilir Kota. Galeri itu nantinya lebih bertujuan memperkenalkan kepada pengunjung jenis-jenis kekayaan budaya Sanggau dan bukan untuk tempat jualan.

Memang, meskipun sudah mendapatkan penghargaan berupa Upakarti, kerajinan miniatur Long Fa’i belum memiliki galeri khusus. Long Fa’i hanya membuat miniatur jika ada pesanan, baik untuk cinderamata pejabat yang akan datang maupun masyarakat yang memesan untuk hiasan di rumah mereka.

…Biofile….

Nama : Riva’i Navis

Panggilan : Long Fa’i

Lahir : 4 Juli 1940

Istri : Ema

Anak : Nura, Nari, Yusuf, dan Lestari

Cucu : 8 orang

Alamat : Jl Pantai Sekayam, RT01 Nomor 15 Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau

No Telepon : 081345191664

Catatan)

(1). Kapal Bandong = Kapal tradisional khas Kalimantan Barat

(2). Caping = Topi khas masyarakat Dayak dan Melayu ketika pergi ke kebun

(3). Mandau = Senjata khas masyarakat Dayak

(4). Toke = Sebutan untuk bos atau pengusaha sukses

(5). Tengkawang = Komoditi perkebunan Kalbar

(6). Ikan Toman = Jenis ikan gabus besar yang dibudidayakan

(*) Beberapa bagian dari tulisan ini juga sudah pernah dimuat di harian Tribun Pontianak tanggal 21 Maret 2011.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bertemu Dua Pustakawan Berprestasi Terbaik …

Gapey Sandy | | 30 October 2014 | 17:18

Asiknya Berbagi Cerita Wisata di Kompasiana …

Agoeng Widodo | | 30 October 2014 | 15:40

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Paling Tidak Inilah Kenapa Orangutan …

Petrus Kanisius | | 30 October 2014 | 14:40

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 5 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 8 jam lalu

Muhammad Arsyad Tukang Sate Luar Biasa, Maka …

Opa Jappy | 11 jam lalu

DPR Memalukan dan Menjijikan Kabinet Kerja …

Sang Pujangga | 11 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengalaman Belajar Sosiologi Bersama Pak …

Rachel Firlia | 9 jam lalu

Rokok atau Calon Istri? …

Gusti Ayu Putu Resk... | 9 jam lalu

Dampak Moratorium PNS …

Kadir Ruslan | 9 jam lalu

Membudayakan Menilik Orang Bukan Dari …

Wisnu Aj | 9 jam lalu

Hilangnya Kodok Pak Lurah …

Muhammad Nasrul Dj | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: