Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Zukhruf Fatul

menulislah sebelum di tulis

Sejarah dan Perkembangan Studi Tafsir di Indonesia

REP | 23 December 2012 | 21:10 Dibaca: 244   Komentar: 0   0

ABSTRAK

Sejarah perkembangan intelektualisme Indonesia abad 15–18, sebagaimana diasumsikan Azyumardi, banyak yang terlupakan oleh para peneliti. Sebagian besar perhatian para Indosianis dan ahli Asia Tenggara ditujukan pada persoalan sejarah politik muslim. Padahal, abad 15–18 M. merupakan abad yang paling dinamis dalam sejarah intelektualisme muslim Indonesia. Sebagai misal, pada saat itu muncul ulama besar di Aceh, Abdul Rouf al-Singkili, yang populer dengan karya besarnya dalam bidang tafsir, Turjuman al-Mustafid. Dalam bidang fiqh muncul, Nuruddin ar-Raniri dengan karya monumentalnya, Sirathal Mustaqim, yang ditulis pada tahun 1634 M. dan selesai pada 1644 M. Kemudian, Abdul Shamad al-Palimbani dengan magnum opus-nya, Hidayat al-Salikin, sebuah kitab tasawuf yang berisi aturan-aturan syar’i dengan penafsiran-penafsiran esoteris.

Tradisi intelektual muslim Indonesia tersebut terus terawat hingga abad ke-21 dewasa ini. Beberapa penulis muslim Nusantara telah mempersembahkan karya-karya besar mereka pada paroh terakhir abad ke-20, seperti Buya Hamka, Ahmad Hasan, Hasbi As-Shiddiqi, Mahmud Yunus dan Quraish Shihab. Dalam catatan Federspiel, banyak karya intelektual Indonesia abad ini yang menempati deretan utama dalam perkembangan pemikiran Islam di Asia Tenggara. Diantara cabang-cabang keislaman yang menjadi perhatian para intelektual muslim Indonesia sejak abad 17–20 tersebut meliputi Teologi, Fiqh, Hadits, Tasawuf dan Tafsir al-Qur’an


BAB I

PENDAHULUAN

Penyebaran Islam dari awal kemunculannya hingga saat ini, diyakini tidak lepas dari sumber primer ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah, sehingga sejarah Islam juga merupakan sejarah al-Qur’an. Sejarah al-Qur’an dalam konteks yang paling sederhana di Indonesia, dapat ditelusuri dengan melacak sejarah masuknya Islam ke Indonesia.

Awal kedatangan Islam ke Nusantara terdapat beberapa teori, di antaranya teori Gujarat yang dikembangkan atau dipopulerkan oleh Snouck Hurgronje, berawal dengan ditemukannya batu nisan Sultan Abd. Malik al-Saleh. Pendapat lain bahwa Islam datang ke Nusantara dari Makkah dengan bukti mayoritas muslim di Nusantara adalah pengikut mazhab Syafi’i yang dikembangkan oleh Hamka pada abad ke-7 M. Bahkan ada kemungkinan besar bahwa Islam sudah diperkenalkan ke dan ada di nusantara pada abad-abad pertama Hijri, sebagaimana dikemukakan Arnold dan dipegang banyak sarjana Indonesia-Malaysia, tetapi hanyalah abad ke-12 pengaruh Islam kelihatan lebih nyata. Karena itu proses Islamisasi tampaknya mengalami akselerasi antara abad ke-12 dan ke-16[1]

Oleh karena itu, kajian tentang tradisi al-Qur’an dan tafsir di Indonesia telah dilakukan oleh beberapa Indonesianis seperti, R. Israeli dan A.H. Johns (Islam in the Malay world: an Explotary survey with the some refences to Quranic exegiesis, 1984), A.H. Johns (Quranic Exegiesis in the Malay world: In search of profile, 1998). P. Riddel (Earlist Quranic Exegetical activity in the malay speaking states, 1998)[2]. Begitu juga yang dilakukan oleh cendekiawan Indonesia, khususnya yang mendalami tafsir dan sejarah.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Perkembangan tafsir di Indonesia dari masa ke masa

1. Abad ke VII-XV (Klasik)

Studi al-Qur’an pada periode pertama Islam di Nusantara belum bisa dikatakan sebagai sebuah tafsir, meskipun pada masa ini kitab-kitab tafsir karya para ulama dunia telah bermunculan, akan tetapi untuk skala Indonesia, penafsiran al-Qur’an masih berada pada wilayah penjelasan ayat-ayat al-Qur’an yang bersifat praktis dan penjelasan ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan pemahaman pembawa ajarannya.

Sebagaimana diketahui bahwa para ulama dan penyebar Islam melihat kondisi nusantara pada saat itu, di mana yang dibutuhkan hanya sebatas penafisran ayat-ayat untuk kebutuhan dakwah Islamiyah. Sehingga untuk melacak karya-karya yang muncul pada periode klasik sangat susah disebabkan oleh beberap faktor diantaranya, pertama; bahwa tulisan pada masa itu belum begitu penting bagi masyarakat Indonesia, kedua; bahwa masyarakat Indonesia pada masa itu lebih memilih penjelasan-penjelasan praktis terhadap isi dan kandungan al-Qur’an ketimbang membaca karya-karya yang pernah ada di negeri Arab, ketiga; bahwa masayarakat yang telah memeluk Islam dari kalangan pribumi masih membutuhkan waktu untuk belajar membaca huruf-huruf Arab yang secara cultural huruf-huruf tersebut, masih tergolong asing dikalangan masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri, bahwa pengaruh bahasa Arab terhadap huruf-huruf di Indonesia sangat besar, sehingga huruf-huruf yang digunakan dalam bahasa melayu pada awalnya adalah huruf-huruf Arab.

Meskipun demikian, sejarah perkembangan kajian tafsir al-Qur’an di nusantara ini sangat sulit karena langkanya kajian-kajian dalam sejarah dan dinamika tafsir al-Qur’an di Indonesia, baik dalam bahasa Arab, bahasa Indonesia, apalagi dalam bahasa daerah. Sejarah kajian tafsir al-Qur’an hanya mampu dibuktikan paling awal sejak masa abad ke-17 sampai ke masa-masa kontemporer.

2 . Abad ke-15 hingga abad ke-17 (abad pertengahan)

Sebenarnya sebelum Abd Rauf al-Singkily menulis tafsirnya yang berjudul Tarjuman al-Mustafid, sudah ada ulama yang menulis dalam bidang tafsir meskipun tidak dalam bentuk yang sempurna 30 juz. Seorang penulis yang bernama Hamzah al-Fansuri yang hidup antara tahun 1550-1599 melakukan penerjemahan sejumlah ayat al-Qur’an yang terkait dengan tasawuf dalam bahasa Melayu yang indah.[3] Salah satu contohnya ketika menafsirkan surah al-Ikhlash dengan mengatakan:

Laut itu indah bernama Ahad

Terlalu lengkap pada asy’us-samad

Olehnya itulah lam yalid wa lam yulad

Wa lam yakun lahu kufu’an Ahad[4]

Bukti lain yang menunjukkan bahwa sudah ada tafsir yang ditulis sebelum Abd Rauf al-Singkily adalah sebuah penggalan karya tafsir berupa manuskrip tertanggal sebelum tahun 1620 M. dibawa ke Belanda yaitu tafsir surah al-Kahfi dalam bahasa Melayu namun sayangnya tidak tercantum nama pengarangnya. [5] Di antara pengikut Hamzah al-Fansuri atau bahkan konon dia adalah teman Hamzah al-Fansuri adalah Syamsuddin al-Samatrani yang muncul sebagai ulama terkemuka di istana Sultan Iskandar Muda, penguasa Aceh pada tahun 1603-1636 juga menulis beberapa karya dalam berabagai bidang ilmu, termasuk tafsir al-Qur’an.[6]

Pada masa Sultanah Safiyat al-Din, penerus Sultan Iskandar II, Abd Rauf al-Singkily menulis karyanya pada tahun 1661 dengan judul Tarjuman al-Mustafid yang merupakan saduran dari tiga kitab tafsir yaitu Tafsir al-Jalalain, Tafsir al-Khazin dan Tafsir al-Baidawi (Anwar al-Tanzil).[7]

3. Abad ke-18 dan 19 (abad pra modern)

Pada abad ke-18 muncul beberapa ulama-ulama yang menulis dalam berbagai disiplin ilmu termasuk tafsir meskipun yang paling menonjol adalah karya yang terkait mistik atau tasawuf. Di antara ulama tersebut adalah Abd Shamad al-Palimbani, Muhammad Arsyad al-Banjari, Abd Wahhab Bugis, Abd Rahman al-Batawi dan Daud al-Fatani yang bergabung dalam komunitas Jawa.[8] Karya-karya mereka tidak berkontribusi langsung kepada bidang tafsir, akan tetapi banyak kutipan ayat al-Qur’an yang dijadikan dalil untuk mendukung argumentasi atau aliran yang mereka ajarkan, seperti dalam kitab Sayr al-Salikin, yang ditulis oleh al-Palimbani dari ringkasan kitab Ihya ‘Ulum al-Din karya al-Ghazali.[9]

Namun memasuki abad ke-19, perkembangan tafsir di Indonesia tidak lagi ditemukan seperti pada masa-masa sebelumnya. Hal itu terjadi karena beberepa faktor, diantaranya pengkajian tafsir al-Qur’an selama berabad-abad lamanya hanya sebatas membaca dan memahami kitab yang ada, sehingga merasa cukup dengan kitab-kitab Arab atau melayu yang sudah ada. Di samping itu, adanya tekanan dan penjajahan Belanda yang mencapai puncaknya pada abad tersebut, sehingga mayoritas ulama mengungsi ke pelosok desa dan mendirikan pesantren-pesantren sebagai tempat pembinaan generasi sekaligus tempat konsentrasi perjuangan. Ulama tidak lagi fokus untuk menulis karya akan tetapi lebih cenderung mengajarkan karya-karya yang telah ditulis sebelumnya.[10]

Sebenarnya ada karya tafsir yang ditulis pada abad ke-19 dalam bahasa Arab yaitu Marah Labid karya imam al-Nawawi al-Bantani al-Jawi, namun karya ini ditulis di Makkah. Ada juga beberapa tulisan surah-surah dalam bahasa Arab yang dimuat di jurnal al-Manar pada edisi-edisi tahun pertama (1898) dari pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan.[11]

4. Abad ke-20 (abad modern)

Sejak akhir tahun 1920-an dan seterusnya, sejumlah terjemahan al-Qur’an dalam bentuk juz per juz, bahkan seluruh isi al-Qur’an mulai bermunculan.[12] Kondisi penerjemahan al-Qur’an semakin kondisif setelah terjadinya sumpah pemuda pada tahun 1928 yang menyatakan bahwa bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia. Tafsir Al-Furqân misalnya adalah tafsir pertama yang diterbitkan pada tahun 1928.[13] Selanjutnya, atas bantuan seorang pengusaha, yaitu Sa’ad Nabhan, pada tahun 1953 barulah proses penulisannya dilanjutkan kembali hingga akhirnya tulisan Tafsir Al-Furqân secara keseluruhan (30 juz) dapat diterbitkan pada tahun 1956.[14] Pada tahun 1932, Syarikat Kweek School Muhammadiyah bagian Karang Mengarang dengan judul “al-Qur’an Indonesia”, Tafsir Hibarna oleh Iskandar Idris pada tahun 1934, Tafsir asy-Syamsiyah oleh KH. Sanusi.[15] Pada tahun1938, Mahmud Yunus menerbitkan Tarjamat al-Qur’an al-Karim.[16] Kemudian pada tahun 1942, Mahmud Aziz menyusun sebuah tafsir dengan judul Tafsir Qur’an Bahasa Indonesia. Proses terjemahan semakin maju pascakemerdekaan RI pada tahun 1945 yaitu munculnya beberapa terjemahan seperti al-Qur’an dan Terjemahnya yang didukung oleh Menteri Agama pada saat itu. Pada tahun 1955 di Medan dan dicetak ulang di Kuala Lumpur pada tahun 1969, diterbitkan sebuah tafsir dengan judul Tafsir al-Qur’an al-Karim yang disusun oleh tiga orang yaitu A. Halim Hasan, Zainal Arifin Abbas dan Abd Rahim Haitami.

Pada tahun 1963,[17] perkembangan terjemahan mulai tampak dengan munculnya Tafsir Qur’an karya Zainuddin Hamidi dan Fachruddin HS. Tafsir al-Azhar yang ditulis oleh Hamka pada saat dalam tahanan di era pemerintahan Soekarno dan diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1966. Kemudian pada tahun 1971,[18] “Tafsir al-Bayan” dan pada tahun 1973 “Tafsir al-Qur’an al-Madjied an-Nur, dicetak juz per juz yang keduanya disusun oleh Hasbi al-Shiddiqy disamping menterjemahkan secara harfiah dengan mengelompokkan ayat-ayatnya juga menjelaskan fungsi surah atau ayat tersebut, menulis munasabah dan diakhiri dengan kesimpulan.[19] Bentuk karya Hamka lebih kepada ensiklopedis karena dia seorang novelis dan orator sedangkan al-Shiddiqy menggunakan bahasa prosa.[20]

Setelah itu, satu persatu karya-karya tafsir mulai bermunculan seperti “Keajaiban Ayat-ayat Suci al-Qur’an karya Joesoef Sou’yb pada tahun 1975. Q.A. Dahlan Shaleh dan M.D. Dahlan menyusun buku dengan judul Ayat-ayat Hukum: Tafsir dan Uraian Perintah-perintah Dalam al-Qur’an Pada tahun 1976. Pada tahun itu juga muncul al-Qur’an Dasar Tanya Jawab Ilmiah yang disusun oleh Nazwar Syamsu. Dilanjutkan pada tahun 1977, seorang kritikus sastra H.B. Jassin menulis al-Qur’an al-Karim Bacaan Mulia tanpa disertai catatan kaki. Masih pada tahun yang sama, Muhammad Ali Usman menulis dengan judul Makhluk-makhluk Halus Menurut al-Qur’an. Bachtiar Surin juga menulis sebuah terjemahan yang disisipi tafsir dengan judul “Terjemah dan Tafsir al-Qur’an: Huruf Arab dan Latin” pada tahun 1978, kemudian Zainal Abidin Ahmad juga menulis Tafsir Surah Yaa-sien pada tahun yang sama. Pada tahun itu juga (1968) Bey Arifin menyusun tafsir dengan judul Samudera al-Fatihah, bahkan sebelumnya, dia juga menyusun buku dengan judul Rangkaian Cerita dalam al-Qur’an yang diterbitkan dua kali yaitu pada tahun 1971 dan1983. Masih pada tahun yang sama (1978) Mafudli Sahli juga ikut menulis dengan judul Kandungan Surat Yasin. Kemudian pada tahun 1979, M. Munir Faurunnama menulis buku dengan judul al-Qur’an dan Perkembangan Alam Raya. Dan pada tahun 1980, Perguruan Tinggi Ilmu-ilmu al-Qur’an menyusun Pancaran al-Qur’an Terhadap Pola kehidupan Bangsa Indonesia.[21]

Disamping tafsir-tafsir sudah mulai marak dilakukan oleh para ulama, terjemahan al-Qur’an masih sangat dibutuhkan pada saat itu. Terbukti dengan masih terbitnya terjemahan-terjemahan al-Qur’an seperti al-Qur’an dan Terjemahnya yang ditulis oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an pada tahun 1967 dan 1971 dan pada tahun 1975, Yayasan tersebut menerbitkan tafsir dengan judul al-Qur’an dan Tafsirnya”. Yayasan Pembinaan Masyarakat juga ikut berpartisipasi dengan menyusun sebuah buku yang berjudul Terjemah al-Qur’an Secara Lafdhiyah Penuntun Bagi yang Belajar pada tahun 1980.[22]

Di samping tafsir al-Qur’an, muncul juga berbagai ilmu yang terkait dengan al-Qur’an, baik itu sejarah al-Qur’an/tafsir, ulum al-Qur’an maupun ilmu yang tidak secara langsung terkait dengan al-Qur’an dan tafsirnya. Pada awal abad ke-20 muncullah berbagai karya, seperti karya Munawwar Khalil dengan judul “al-Qur’an dari Masa ke Masa” yang ditulis pada tahun 1952, Aboebakar Atjeh dengan bukunya “Sejarah al-Qur’an” pada tahun 1952, Hasbi Ash-Shiddieqi dengan bukunya Sejarah dan pengantar ilmu al-Qur’an, pada tahun 1954, Hadi Permono, Ilmu Tafsir al-Qur’an Sebagai Pengetahuan Pokok Agama Islam yang diterbitkan pada tahun 1975, Badaruthanan Akasah dengan menulis Index al-Qur’an: Index Tafsir, pada tahun 1976, Bahrum Rangkuti, al-Qur’an: Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an/Tafsir, pada tahun 1977, dan Dja’far Amir dengan judul al-Qur’an dan al-Hadits: Madrasah Tsanawiyah terbit pada tahun 1978. H. A. Djohan Syah menulis buku yang berjudul Kursus Cepat Dapat Membaca al-Qur’an pada tahun 1978. Masjfuk Zauhdi ikut juga menulis ilmu tafsir dengan judul “Pengantar Ulumul Qur’an” pada tahun 1979. Muslich Maruzi dengan bukunya al-Qur’an: al-Hadits Untuk Madrasah Aliyah pada tahun 1980. Abd Aziz Masyhuri dengan bukunya Mitiara Qur’an dan Hadits pada tahun 1980. dan H. Datuk Tombak Alam juga menyusun sebuah ilmu tafsir dengan judul al-Qur’an al-Hakim 100 Kali Pandai tapi tidak diketahui kapan diterbitkan. Begitu juga mulai muncul terjemahan ilmu tafsir seperti terjemah karya Manna al-Qattan, Adanan Lubis Tarikh al-Qur’an, pada tahun 1941.[23]

Tidak kalah pentingnya adalah tafsir yang menggunakan bahasa daerah. Di antara tafsir dalam bahasa daerah adalah seperti upaya yang dilakukan KH. Muhammad Ramli al-Kitab al-Mubin, yang diterbitkan pada tahun 1974 dalam bahasa Sunda. Sedangkan dalam bahasa Jawa antara lain Kemajuan Islam Yogyakarta dengan tafsirnya Qur’an kejawen dan Qur’an Sandawiyah, Bisyri Mustafa Rembang al-Ibriz, pada tahun 1950, R. Muhammad Adnan al-Qur’an suci basa jawi, pada tahun 1969 dan Bakry Syahid Al-Huda, pada tahun 1972. Sebelumnya pada 1310 H, Kiyai Mohammed Saleh Darat Semarang menulis sebuah tafsir dalam bahasa jawa huruf Arab. AG. Daud Ismail menulis tafsir dalam bahasa bugis Tafsire al-Qur’an bahasa Ugi. Bahkan pada 1924, perkumpulan Mardikintoko Kauman Sala menerbitkan terjemah al-Qur’an 30 juz basa Jawi huruf Arab Pegon.[24]

Itulah sekilas tafsir yang muncul sejak abad ke-17 hingga abad ke-20 yang menggambarkan betapa putera-putera Indonesia mampu untuk menyusun dan menafsirkan al-Qur’an meskipun tidak semeriah dan sehebat tafsir-tafsir di Timur Tengah. Hal itu terjadi bukan karena ketidakmampuan para ulama dan cendekiawan akan tetapi hanya sebagai tuntutan masyarakat yang belum sampai pada tarap pemahaman al-Qur’an secara komprehensif dan analisis.

B. Bentuk-bentuk Penulisan Tafsir di Indonesia

Dengan melihat tafsir-tafsir yang muncul dari abad ke-17 hingga abad ke-21, bentuk-bentuk penulisan tafsir di Indonesia dapat dikategorikan dalam beberapa kategori berdasarkan tinjauan yang digunakan. Penulisan tafsir di Indonesia bila ditinjau dari segi sistematika penulisan dapat dibagi dalam dua bagian yaitu sistematika runtut (tahlili) dan sistematika tematik (maudhu’i).

1. Tahlili (runtut)

Sistematika tahlili/runtut adalah penulisan tafsir yang mengacu pada urutan surah yang ada dalam mushaf atau mengacu pada turunnya wahyu. Kebanyakan tafsir Indonesia menggunakan metode ini, di antaranya; Tarjuman al-Mustafid karya Abd Rauf al-Singkily, Tarjamat al-Qur’an al-Karim karya Mahmud Yunus, al-Furqan karya A. Hassan, Al-Qur’an al-Karim Bacaan Mulia karya H.B. Jassin, Hasbi Al-Shiddiqy dengan tafsir al-Nur dan Tafsir al-Bayannya, Quraish Shihab dengan Tafsir al-Mishbahnya. Disamping itu, banyak juga tafsir-tafsir dalam bahasa daerah, baik menggunakan bahasa Jawa, Sumatera maupun bahasa yang ada di Sulawesi menggunakan metode tahlili/runtut.

2. Tematik

Sistematika penulisan dengan cara tematik adalah penulisan yang dilakukan dengan menulis ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan topik yang telah ditentukan. Penulisan tafsir yang menggunakan metode tematik itu baru muncul pada akhir abad ke-20, yaitu pada saat dibukanya pascasarjana pada perguruan tinggi oleh Harun Nassution pada tahun 1982. Penulisan tematik dapat dibagi dalam dua kategori yaitu : tematik klasik dan tematik modern sebagaimana yang diungkapkan oleh Islah Gusmian. Istilah tematik klasik digunakan untuk tafsir yang mengambil ayat-yata tertentu atau surah-surah tertentu untuk ditulis, sedangkan tematik modern digunakan untuk penulisan tafsir yang membahas satu topik saja.

Di antara tematik klasik adalah: Tafsir bil-Ma’tsur, Pesan Moral al-Qur’an karya Jalaluddin Rakhmat, Hidangan Ilahi, Ayat-ayat Tahlil karya M. Quraish Shihab, Tafsir al-Hijri, Kajian Tafsir al-Qur’an Surah al-Nisa’ karya Didin Hafidhuddin, Memahami Surah Yasiin, karya Radiks Purba, Tafsir Sufi al-Fatihah, Mukaddimah karya Jalaluddin Rakhmat dan Rafi’uddin dan Edham Syafi’i dengan karya Tafsir Juz ‘Amma.

Di antara tematik modern, Wawasan al-Qur’an karya M. Quraish Shihab, Dalam Cahaya al-Qur’an Tafsir Ayat-ayat Sosial Politik karya Syu’bah Asa, Ensiklopedi al-Qur’an karya M. Dawam Rahardjo, Ahl al-Kitab Makna dan Cakupannya karya Muhammad Galib, M., Konsep Kufr Dalam al-Qur’an karya Harifuddin Cawidu, Konsep Perbuatan Manusia Menurut al-Qur’an karya Jalaluddin Rakhmat, Argumen Kesataraan Gender, Persfektif al-Qur’an karya Nasaruddin Umar dan lain-lain.

C. Gaya penulisan tafsir di indonesia

Sementara penulisan al-Qur’an ditinjau dari segi gaya bahasa penulisan yang digunakan oleh para penafsir juga dapat dibagi dalam dua bagian yaitu gaya ilmiah dan non ilmiah:

1. Gaya Ilmiah

Penulisan gaya ilmiah adalah penulisan tafsir dengan memperlakukan mekanisme penyusunan redaksionalnya, seperti menggunakan catatan kaki, baik footnote, endnote atau catatan perut. Di antara tafsir yang menggunakan footnote sepeerti Konsep Kufr dalam al-Qur’an karya Harifuddin Cawidu, Ahl al-Kitab Makna dan Cakupannya oleh Muhammad Galib, M., Tafsir Sufi al-Fatihah, Mukaddimah karya Jalaluddin Rakhmat, dan lain-lain, sementara gaya penulisan endnote seperti Konsep Perbuatan Manusia Menurut al-Qur’an karya Jalaluddin Rahman, Tafsir bil Ra’yi, Upaya Penggalian Konsep Wanita Dalam al-Qur’an karya Machasin, dan lain-lain. Sedangkan gaya catatan perut seperti tafsir Dalam Cahaya al-Qur’an, Tafsir Ayat-ayat Sosial Politik karya Syu’bah Asa, Ensiklopedi al-Qur’an, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci karya M/ Dawam Rahardjo, dan lain-lain.

2. Gaya Non ilmiah

Gaya penulisan yang tidak menggunakan kaidah penulisan ilmiah, seperti tidak mencantumkan footnote dan sejenisnya. Tafsir yang menggunakan gaya ini sangat dominan, khususnya yang terbit sebelum pertengahan abad ke-20, mulai dari Abd Rauf al-Singkily, Tarjuman al-Mustafid, al-Furqan oleh A. Hassan, al-Nur dan al-bayan oleh Hasbi al-Shiddiqy.

Disamping itu, masih ada gaya penulisan lain semisal gaya penulisan dalam bentuk kolom seperti Dalam Cahaya al-Qur’an, Tafsir Ayat-ayat Sosial Politik karya Syu’bah Asa, gaya reportase seperti Tafsir bil Ma’tsur Pesan Moral al-Qur’an, karya Jalaluddin Rakhmat, gaya populer seperti Tafsir al-Mishbah karya Quraish Shihab, dan lain-lain.

D.Faktor-faktor Yang Mendorong Penulisan Tafsir

Sebuah tulisan tidak terlahir begitu saja tanpa ada dorongan atau faktor yang menyebabkan atau mempengaruhi penafsir dalam menuangkan tafsirnya dalam bentuk tulisan. Di antara faktor yang mendorong penulisan tafsir adalah:

1. Permintaan pemerintah sebagaimana yang dilakukan oleh Hamzah al-Fanshuri dan Syamsuddin al-Samatrani pada saat menduduki jabatan penting dalam Kesultanan Aceh. Begitu juga yang dilakukan oleh Abd Rauf al-Singkily dengan kitab Tarjuman al-Mustafid pada masa pemerintahan Sultan Iskandar II.

2. Kebutuhan dakwah adalah salah satu faktor yang dominan seorang ulama menulis kitab tafsir seperti yang dilakukan oleh syekh-syekh/ulama yang bergabung dalam komunitas al-Jawwin (Jawa) seperti Abd Shamad al-Palimbani, Muhammad Arsyad al-Banjari, Abd Wahhab Bugis, Abd Rahman al-Batawi dan Daud al-Fatani yang bergabung dalam komunitas Jawa. bahkan ulama-ulama berikutnya di samping berdakwah juga bertujuan mengajar.

3. Kebutuhan pembelajaran, karya ulum al-Tafsir dan kajian-kajian tematik di Indonesia cenderung hanya untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran, khususnya bagi para pelajar, baik ditingkat madrasah maupun pada tingkat perguruan tinggi. Sedangkan karya-karya tafsir diperuntukkan untuk pembelajaran bagi kalangan masyarakat umum.

4. Kebutuhan penelitian dan pengkajian, karya-karya yang bertujuan untuk ini dilakukan oleh para fakar tafsir seperti yang dilakukan oleh Quraish Shihab, Abd Muin Salim, kajian-kajian kontemporer, baik terkait tafsir maupun metodologinya.

5. Penyelesaian studi, dilakukan oleh para mahasiswa yang menempuh pendidikan di bidang tafsir, baik itu mahasiswa S1 maupun pascasarjana S2 dan S3

BAB III

PENUTUP

Indonesia adalah negara yang masyarakatnya sebagian besar beragama Islam, sehingga sudah selayaknya menempatkan diri dalam membangun peradaban islam. Mau tidak mau suatu peradaban tersebut akan terbentuk oleh umatnya.

Perkembangan Tafsir Al-Quran yang ada di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perkembangan Islam di belahan bumi lain. Membaca Islam yang di Indonesia rasanya cukup penting. Sebab, dari hasil pembacaan itu kita sebagai umat islam dapat mengetahui akan bagaimana perkembangan islam di indonesia setelah islam mengalami beberapa fase perubahan dari waktu ke waktu.

Kalau kita mau mengamati secara mendalam akan perkembangan islam di indonesia maka kita harus mengamati mulai dari islam masuk, penyebaran, pengamalan, perkembangan, dan kondisi yang sekarang kita alami di indonesia. Sebab, peristiwa sejarah merupakan problematika yang meliputi dimensi waktu masa lampau, sekarang dan masa yang akan datang.

Menjadi kewajiban semua umat Islam untuk “membumikan” Al-Qur’an, menjadikannya menyentuh realitas kehidupan. Kita semua berkewajiban memelihara Al-Qur’an dan salah satu bentuk pemeliharaannya adalah memfungsikannya dalam kehidupan kontemporer yakni dengan memberinya inte-pretasi yang sesuai tanpa mengorbankan kepribadian, budaya bangsa, dan perkembangan positif masyarakat.

Berdasarkan pemaparan-pemaparan yang telah diuraikan di atas, dapat dibuat beberapa kesimpulan dalam bentuk beberapa poin sebagai berikut:

Teknik penulisan adalah sebuah metode atau sistem yang digunakan para pakar tafsir nusantara atau Indonesia dalam menulis tafsir, baik metode atau sistem itu terkait dengan penggunaan bahasa dan materi maupun yang terkait dengan sistematika penulisannnya. Sedangkan sejarah perkembangan tafsir di Indonesia dimulai dari masa Hamzah al-Fansuri, Abd Rauf al-Singkily, dilanjutkan Abd Shamad al-Palimbani, lalu Syekh Nawawi al-Bantani. Setelah memasuki abad ke-20, tafsir-tafsir al-Qur’an mulai semarak yang dimulai dengan terjemahan kemudian meningkat hingga memasuki tafsir kontemporer seperti yang dilakukan oleh M. Quraish Shihab.

Bentuk-bentuk Penulisan Tafsir di Indonesia dapat dikategorikan dalam beberapa kategori berdasarkan tinjauan yang digunakan. Jika ditinjau dari segi sistematika penulisan dapat dibagi dalam dua bagian yaitu sistematika runtut (tahlili) dimana mayoritas tafsir menggunakan metode ini seperti Tarjuman al-Mustafid karya Abd Rauf al-Singkily hingga Tafsir al-Mishbah karya M. Quraish Shihab. Dan sistematika tematik (maudhu’i) yaitu biasanya karya-karya yang muncul pada abad ke-20. Sementra bila ditinjau dari materi tulisan, dapat dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu teks al-Qur’an, ilmu tafsir dan yang terkait serta sejarah al-Qur’an. Sedangkan penulisan al-Qur’an ditinjau dari segi bahasa yang digunakan dapat dibagi dalam 4 bagian yaitu menggunakan bahasa Arab, bahasa Melayu, Bahasa Indonesia dan bahasa Daerah, baik bahasa Sunda, Jawa, Sumatera, Bugis dan Kalimantan. Untuk tinjauan gaya penulisan dapat dikategorikan kepada gaya ilmiah dan gaya non-ilmiah. Di samping itu, ada juga gaya penulisan dalam bentuk kolom, reportase dan gaya populer.

Faktor-faktor yang mendorong munculnya tafsir antara lain: permintaan pemerintah seperti pada abad XVII, kebutuhan dakwah, kebutuhan pembelajaran, kebutuhan penelitian dan pengkajian serta untuk penyelesaian studi. S1, S2 dan S3.

Implikasi

Setelah mengetahui hal-hal yang terkait dengan penulisan tafsir di Indonesia, sejarah perkembangannya, bentuk-bentuk penulisan dan factor-faktor yang mendorong tafsir di Indonesia dapat dijadikan sebuah i’tibar/instrument bahwa kedinamisan tafsir di Indonesia dan beragam jenisnya menunjukkan betapa tafsir tidak pernah habis untuk dikaji sehingga memberikan peluang yang seluuasnya untuk ikut serta meramaikan khazanah keilmuan tafsir.

Penulisan tafsir juga tidak bisa lepas dari wacana dan problema pemikiran yang berkembang di tengah masyarakat dan setiap tafsir tidak akan lepas dari kritikan karena ia bukanlah karya yang suci, sehingga penafsir ataupun pembaca dituntut untuk kritis dan mampu membongkar apa yang ada dibalik al-Qur’an atau tafsir.

DAFTAR PUSTAKA

1. Saenong, Farid. F. Arkeologi Pemikiran Tafsir di Indonesia Upaya Perintis. Artikel tertanggal 20 Juli 2006, dikutip dari internet.

2. Johns, L. Anthony H. Tafsir al-Qur’an di Dunia Indonesia-Melayu: Sebuah Penelitian awal. Melayu online.com: 11 Agustus 2008. 14:37.

3. Petter G. Riddel dengan editor Kusmana dan Syamsuri. Pengantar Kajian al-Qur’an, Tema Pokok, Sejarah dan Wacana Kajian. Jakarta: Pustaka al Husna Baru, 2004.

4. Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-XVIII. Bandung: Mizan, 2004.

5. Baidan, Nashruddin. Perkembangan Tafsir al-Qur’an di Indonesia. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003.

6. Hizbullah, Nur dan Syarif Hidayatullah. Pemutakhiran Bahasa Tafsir al-Furqan A. Hassan. dimuat di internet pada tanggal 14 Nopember 2008, 06: 45.

7. Federspiel, Howard M. Kajian al-Qur’an di Indonesia. Bandung: Mizan, 1996.

8. Al-Shidddiqy, Hasbi. Tafsir al-Qur’an al-Madjied an-Nur. Jakarta: Bulan Bintang, t. th.

9. Fauziah, Apriati. Pengaplikasian Matematika dalam Jaringan Ulama. Dikutip dari internet yang dimuat pada Selasa, 22 Januari 2008.


[1] Apriati Fauziah, Pengaplikasian Matematika dalam Jaringan Ulama, (dikutip dari internet yang dimuat pada Selasa, 22 Januari 2008.

[2] Farid. F. Saenong, Arkeologi Pemikiran Tafsir di Indonesia Upaya Perintis, (Artikel tertanggal 20 Juli 2006, dikutip dari internet)

[3] L. Anthony H. Johns, Tafsir al-Qur’an di Dunia Indonesia-Melayu: Sebuah Penelitian awal. (Melayu online.com: 11 Agustus 2008) 14:37

[4] Ibid. dan dikutip dari G. W. J. Drewes and L. F. Brakel, The Poems of Hamzah Fansuri, (Dordrecht-Holland, Cinnaminson-USA, 1986) hal. 54

[5] Petter G. Riddel dengan editor Kusmana dan Syamsuri , Pengantar Kajian al-Qur’an, Tema Pokok, Sejarah dan Wacana Kajian, (Jakarta: Pustaka al Husna Baru, 2004) hal. 210.

[6] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-XVIII, (Bandung: Mizan, 2004) hal. 200. Namun pada saat munculnya Abd Rauf al-Singkily yang menyerang aliran Hamzah dan Syamsuddin sehingga pada saat itu banyak buku-buku yang dibakar dan ada kemungkinan besar kitab tafsir yang dikarang pada saat itu ikut terbakar sehingga hilang tanpa bekas.

[7] Pengantar Kajian al-Qur’an, Tema Pokok, Sejarah dan Wacana Kajian, Op.Cit. 203

[8] Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-XVIII, Op.Cit. hal. Rangkuman dari hal 308-372.

[9] Tafsir al-Qur’an di Dunia Indonesia-Melayu: Sebuah Penelitian awal. Op.Cit dari artikel Internet

[10] Nashruddin Baidan, Perkembangan Tafsir al-Qur’an di Indonesia, (Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003) hal. 79

[11] Ibid. yang dikutip dari buku: J. Bluhm, A Preliminary Statement on the Dialogue Established between the Reform Magazine al-Manar and the Malayo-Indonesian World”, (Indonesia Circle, Nov., 1983) hal. 35-42

[12] Karya awal tentang terjemahan al-Qur’an adalah Tafsir Qur’an al-Karim yang disusun oleh Mahmud Yunus, (Jakarta: dimulai tahun 1922 dan dicetak pertama kalinya secara keseluruhan tahun 1938)

[13] Perkembangan Tafsir al-Qur’an di Indonesia, Op.Cit. hal. 62

[14] Nur Hizbullah dan Syarif Hidayatullah, Pemutakhiran Bahasa Tafsir al-Furqan A. Hassan, (dimuat di internet pada tanggal 14 Nopember 2008, 06: 45)

[15] Perkembangan Tafsir al-Qur’an di Indonesia, Op.Cit. hal. 88

[16] Tafsir al-Qur’an di Dunia Indonesia-Melayu: Sebuah Penelitian awal. Op.Cit dari artikel Internet..

[17] Dalam buku “Kajian al-Qur’an di Indonesia” karya Howard M. Federspiel ditulis bahwa Tafsir Qur’an karya Zainuddin Hamidy Cs. Ditulis pada tahun 1959.

[18] Terjadi perbedaan tahun tentang kapan Tafsir al-Bayan diterbitkan untuk pertama kalinya. Menurut Howard M. Federspiel, Tafsir al-Bayan dicetak pada tahun 1966.

[19] Hasbi al-Shidddiqy, Tafsir al-Qur’an al-Madjied an-Nur, (Jakarta: Bulan Bintang, t. th.)

[20] Tafsir al-Qur’an di Dunia Indonesia-Melayu: Sebuah Penelitian awal. Op.Cit dari artikel Internet.

[21] Howard M. Federspiel, Kajian al-Qur’an di Indonesia, Bandung: Mizan, 1996) hal. 162-164.

[22] Ibid. hal. 102-103, 162-164 dan 224-225.

[23] Ibid. hal. 102-103, 162-164 dan 224-225. dan Perkembangan Tafsir al-Qur’an di Indonesia, Op.Cit. hal. 62 serta Tafsir al-Qur’an di Dunia Indonesia-Melayu: Sebuah Penelitian awal. Op.Cit dari artikel Internet.

[24] Perkembangan Tafsir al-Qur’an di Indonesia, Op.Cit. hal. 102. Dan Farid F. Senong, Arkeologi Pemikiran Tafsir di Indonesia, (dikutip dari internet yang dimuat pada tanggal 20 July 2006.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Nap a Latte untuk Produktivitas …

Andreas Prasadja | | 23 September 2014 | 22:43

‘86’ Hati-hati Melanggar Hukum Anda …

Sahroha Lumbanraja | | 24 September 2014 | 00:37

Banyak Laki- laki Indonesia Jadi Ayah Gagal …

Seneng Utami | | 24 September 2014 | 04:45

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Pelajaran dari Polemik Masril Koto …

Novaly Rushans | 4 jam lalu

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 11 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 14 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Arie Keriting Ditantang Presentasi …

Andi Bunga Tongeng | 8 jam lalu

Strategi Perang Lawan ISIS Ala SBY …

Solehuddin Dori | 8 jam lalu

Berat dan Ringan itu Relatif dalam Bekerja …

Eko Junaidi Salam | 9 jam lalu

Jika Sulit Memberi, Mari Berbagi …

Saumiman Saud | 9 jam lalu

Jadwal 16 Besar Asian Games 2014 …

Abd. Ghofar Al Amin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: