Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Muhammad Nurdin

sebagai guru sejarah dan sosiologi di SMA di kota Bandung tentu saja perlu berwawasan luas,karenanya selengkapnya

Kilas Balik 8 Tahun Gempa-Tsunami Aceh, Renungan, dan Pembelajaran bagi Manusia

OPINI | 24 December 2012 | 12:23 Dibaca: 1330   Komentar: 0   0

135631833616171411121356318466426534372Peristiwa yang tidak terlupakan bagi rakyat di Nanggroe Aceh Darussalam adalah Gempa bumi dahsyad dengan kekuatan 9,5 SR yang disusul dengan gelombang pasang tsunami terbesar sepanjang sejarah Aceh,yang menewaskan ratusan ribu warga masyarakat sekitar Samudera Hindia dan jumlah terbesar terdapat di Aceh.

Gempa bumi  yang berpusat dilepas pantai  “Serambi Mekkah”telah menggerakkan gelombang laut yang sangat dahsyad meluluh lantakkan berbagai kota di daerah paling ujung utara pulau Sumatera  tersebut. Daerah Aceh  saat itu masih dalam keadaan perang antara Gerakan Aceh Merdeka(GAM)dengan Indonesia sehingga menyebabkan wilayah yang sangat besar konstribusinya kepada Indonesia itu dijadikan sebagai daerah”Operasi Militer”dan tertutup .

135631971514622573151356320032323649749

Ketika  peperangan antara GAM-Indonesia sudah memasuki stagnasi,maka  pada hari Minggu pagi 26 Desember 2004 bumi Aceh tergoncang hebat yang  disusul Tsunami dahsyad pula sehingga menghentikan berbagai aspek kehidupan di Aceh khususnya.Dalam keadaan amat sangat panik masyarakat Aceh yang masih dalam “status darurat militer”dihempaskan lagi dengan “bencana kembar”tersebut menyebabkan peradaban  masyarakat Aceh kembali ke nol .

Gempa bumi yang  berkekuatan 9,5 SR yang terjadi pada hari Minggu 26 Desember  2004 pagi pukul 07.58:53  wib sangat dahsyad,yang menyebabkan bumi Aceh layaknya perahu kecil diterjang gelompang  samudera ganas.Apalagi gempa yang berpusat di garis bujur 3.316 derajat N  95 .854 derajat E dengan kedalaman 10 kilometer,sekitar 160 kilometer sebelah barat Aceh  itu menciptakan gelombang tsunami  dahsyad  lebih 9 meter tingginya menerjang kawasan bumi Aceh.

Bencana  tersebut menyebabkan 230.000 korban jiwa di beberapa negara sekitar Samudera hindia,seperti negara-negara Indonesia( Aceh dan Nias),India,Srilanka,Thailand,Malaysia,Bangladesh,Myanmar,  Somalia, Maladewa,Scyhelles,Kenya,Tanzania, Afrika selatan,Madagaskar .namun  karena  daerah Aceh yang paling dekat dengan pusat gempa dan tsunami  maka korbanpun yang paling banyak dialami warga  masyarakat Aceh  tersebut  .

Bantuan pertama datang dari kapal Induk AS,George Washington yang berada di perairan pulau Weh,  Sabang. Sementara pemerintah Indonesia mengecam keterlibatan  internasional terlalu dini memasuki  perairan bumi  Aceh,meskipun dirinya sendiri masih bingung tidak mampu bertindak  cepat selain hanya ngomong dan ngomong saja di Jakarta.

Kapal Induk ASGeorge washington yang memang sering  melintasi kawasan Selat Malaka  -Teluk Parsia sangat efektif dalam memberi bantuan kemanusiaannya ,karena mereka memiliki banyak helikopter yang bisa segera dioperasikan.Kemudian AS  juga mengerahkan rumah sakit apungnya,untuk mengobati warga ayang mengalami  luka-luka tersebut.           1356328740421825474

Berbagai  negara mengirimkan bantuannya ke Aceh,apalagi setelah rejim SBY mengumumkan Gempa dan tsunami Aceh itu sebagai”Darurat nasional”.Namun demikian bantuan mereka belum tuntas karena  selalu dibayang-bayangi oleh “batasan waktu”yang ditetapkan oleh Jakarta karena alasan  keamanan terkait Aceh sebagai daerah darurat militer .Dalam konteks ini membuktikan,bahwa sangat lamban dalam menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada.Dalam keadaan sangat amat  darurat sekalipun masih memperlakukan sesuatu sebagaimana  halnya dalam keadaan normal,sehingga  menghambat bantuan kemanusiaan yang semestinya segera dilakukan .  Ada abantuan  negara lainn yang sangat cepat  tepat guna dicurigai , dihambat dengan berbagai aturan yang berlaku saat situasi normal.

Rakyat lebih sigap dari pemerintah dalam mennaggapi bencana di Aceh itu,meskipun kurang terorganisir dengan baik yang bisa dimaklumi karena bencana sehebat itu belum pernah terjadi sebelumnya.dan dari bencana itu bisa direnungkan dan menjadi suatu pembelajaran bagi manusia,bahwa  kekuatan manusia itu tidak berarti apapun bagi-Nya.bencana sedahsyad  itu belum juga mampu menyadarkan manusia ? masih juga melakukan berbagai kejahatan,seakan-akan  hidup selamanya.

Sumber gambar: Wikipedia

You Tube

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Jokowi Seorang “Koki” Handal …

Sjahrir Hannanu | 13 jam lalu

Indra Sjafri Masih Main-main dengan …

Mafruhin | 14 jam lalu

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 17 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 18 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Ditemukan: Pusat Tidur Dalam …

Andreas Prasadja | 13 jam lalu

Museum Louvre untuk First-Timers …

Putri Ariza | 13 jam lalu

Cinta dalam Botol …

Gunawan Wibisono | 13 jam lalu

Wisata Bahari dengan Hotel Terapung …

Akhmad Sujadi | 13 jam lalu

Jurus Jitu Agar Tidak Terjadi Migrasi dari …

Thamrin Dahlan | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: