Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Muksalmina Mta

"Lembut dalam bertutur, tegas dalam prinsip" ============================= Pengamat Hukum & Politik di Aceh

Sejarah dan Pemikiran Golongan Asy’Ariyah (Ahlu sunnah wal jamaah)

REP | 30 December 2012 | 23:14 Dibaca: 6279   Komentar: 0   0

A. Sejarah Timbulnya Asy-‘Ariyah

Sebagai reaksi dari firqah-firqah yang sesat tadi maka pada akhir abad ke III Hijriyah timbullah golongan yang bernama Kaum Ahlu Sunnah Waljama’ah, yang di ke palai oleh dua orang “Ulama besar dalam ushuluddin Yaitu Syekh Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari dan Syekh Abu Mansur al-Maturidi. Perkataan Ahlu sunnah wal jamaah  kadang-kadang di pendekkan menyebutnya dengan ahli sunnah saja, atau Sunny saja atau kadang-kadang juga di sebut juga Asy’ari atau Asy’irah, di kaitkan kepada guru besarnya yang pertama abu hasan ‘Ali al Asy’ari.

Nama lengkap beliau adalah Abu Hasan ‘Ali bin Ismail, bin Abi Basyar, Ishaq bin Salim, bin Ismail bin Abdillah, bin Musa al’Asy’ari. Abi Musa ini seorang sahabat nabi yang terkenal dalam sejarah Islam, Abu Hasan lahir di iraq tahun 260 H. Ya’ni 55 tahun sesudah meninggalnya Imam syafi’I Rda dan meninggal di Basrah juga pada tahun 324 H, dalam usia 64 tahun.Beliau pada mulanya murid dari bapak tirinya seorang ulama besar kaum mu’tazilah, syekh Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahab al Jabai meninggal tahun 303 H, tetapi beliau taubat dan keluar dari golongan mu’tazilah itu.

Pada masa itu abad ke III H, banyak sekali ulama-ulama mu’tazilah mengajar di Basrah, Kuffah dan baghdad. Ada 3 orang khalifah Abasiyah yaitu Ma’num bin Harun ar-Rasyit, Al-Mu’tasim, dan Alwasiq adalah khalifah-khalifah yang menganut faham mu’tazilah atau sekurangnya penyokong-penyokong yang utama dari golongan Mu’tazilah.

Dalam sejarah dinyatakan pada jaman itu terjadilah apa yang dinamakan “fitnah al-qur’an makhluk” yang mengorbankan beribu-ribu ulama yang tidak sefaham dengan faham mu’tazilah.

Pada masa  Abu Hasan al-Asy’ari muda remaja ulama-ulama mu’tazilah sangat banyak di Basrah, kuffah dan bagdad. Masa itu masa gemilang-gemilang bagi mereka, karena fahamnay di sokong oleh perintahan. Imam Abu Hasan termasuk salah seorangpemuda yang belajar kepada seorang syeh dari mu’tazilah  yaitu muhammad bin abdul wahab al jabai, ini bukan muhammad bin abduh wahab pembangun mazhab wahabi di nejdi.

Imam Abu hasan as’ari malihat, bahwa pada kaum mu’tazilah banyak terdapat kesalah besar, banyak bertentangan dengan I’tiqat dan kepercayaan nabi muhammad Saw dan sahabat-sahabat beliau dan banyak yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadist.

Maka dengan itu bellau keluar dari mu’tazilah dan taubat kepada Tuhan atas kesalahan-kesalahannya yang lalu, bukan saja begitu, tetapi beliau tampil kemuka digaris depan untuk melawan dan mengalahkan kaum mu’tazilah yang salah itu. Pada suatu hari beliau naik ke sebuah mimbar di Mesjid Basrah yang sangat besar itu dan mengucapkan pidato yang berapi-api dengan suara lantang yang didengar oleh banyak kaum muslimin yang berkumpul di situ. Dan diantar pidato beliau : Siapa yang sudah mengetahui saya, baiklah, tetapi bagi yang belum mengetahui maka saya ini adalah Abu Hasan ‘Ali al-As’ari anak dari Ismail bin Abi Basyar.

Dulu  saya berpendapat bahwa Qur’an itu makhluk, bahwa Tuhan Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala di akirat, dan bahwasanya manusia menjadikan (mencipktakan) perbuatanya, serupa dengan kaum mu’tazilah. Nah, sekarang saya nyatakan terus terang bahwa saya telah taubat dari faham mu’tazilah dan saya sekarang terlempar I’tiqad mu’tazilah itu seperti saya melemparkan baju saya ini (ketika itu di bukannya bajunya dan dilemparkan) dan saya setiap saat siap untuk menolak faham mu’tazilah yang salah dan sesat itu.

Dari mulai tanggal itu imam Abu hasan Ali Asy-ariyah berjuang melawan kaum mu’tazilah dengan lisan dan tulisan, berdebat dan bertanding dengan kaum mu’tazilah di mana-mana, merumuskan dan menuliskan dalam kitab-kitabnya I’tiqad-I’tiqat kaum ahlu sunnah waljamaah sehingga nama beliau masyhur sebagai seorang ulama tauhid yang dapat menundukkan dan dapat menhanjurkan faham mu’tazilah yang salah itu.

Beliau mengumpulkan sebaik-baiknya dari qur’an dan hadist faham-faham atau I’tiqat Nabi Muhammad Saw dan sahabat nabi, diperinci dengan sebaik-baiknya. Beliau mengarang buku-buku Ushuluddin banyak sekali, berkata Imam Zabidi, pengarang kitab ittihaf sadtil muttaqin syarah Ihya Ulumuddin Imam Asy-ari mengarang kitab-kitab sekitar 200 kitab, diantara kitab-kitab beliau adalah:

1.   Ibanah fi Ushuluddiniyanah, 3 jilid

2.   maqalaatul Islamiyin

3.   Almujaz, 3 jilid

Keistimewaan Imam Abu Hasan dalam menegakkan fahamnya ialah dengan mengutamakan dalil-dalil dari qur’an dan hadist dan juga dengan pertimbangan aqal dan pikiran, tidak seperti kaum mu’tazilah yang mendasarkan pikirannya kepada akal dan falsafah yang berasal dari Yunani dalam membicarakan Usluddin dan tidak pula seperti kaum Mujasimah (kaum yang menyerupakan Tuhan dan mahkluk) yang memegang arti lahir dari qur’an dan hadist, sehingga sampai menyatakan Tuhan bertangan, Tuhan bermuka, Tuhan duduk di atas arsy, dan lain-lain sebagainya.

Alhamdulillah, Imam Abu Hasan al Asy’ari dapat menegakkan faham yang kemudian dinamai “faham Ahlusunnah wal jama’ah”, yaitu faham sebagai mana di yakini dan dii’tiqatkan oleh nabi besar Muahammmad Saw dan para sahabat-sahabat beliau. Suatu hal lagi yang baik juga diketahui bahwa pada umumnya dunia islam menganggap dalam furu’ syaria’t (fiqih) yang benar dalah fatwanya Imam hanafi, Maliki, dan Hambali, dalam Ushuluddin, yang benar dan yang sesuai dengan qur’an dan hadist, adalah fatwa kaum Ahli Sunnah Wal jama’ah

Jikalau kita lihat dan berkeliling dunia, dari Barat ke Timur atau daru Utara ke Selatan dan bertanya tentang mazhab dalam furu’ syari’at dan dalam I’tiqat di suatu daerah islam, maka kita akan mendapatkan mazhab tersebut di negara seperti:

1.    Di Maroko Mazhab maliki/ Ahli sunnah wal jama’ah.

2.    Di Aljazair mazhab hanafi / Ahli sunnah wal jama’h.

3.    Di Tunisia Mazhab Hanafi / Ahlu sunnah wal Jama’ah.

4.    Di Mesir Mazhab hanafi dan Syafi’I / Ahlu sunnah wal jama’ah.

5.    Di Indonesia Mazhab Syafi’I / Ahlu sunnah wal jama’ah.

6.    Dan lain-lain.

Nampaklah bahwa sebagian besar ummat Islam di atas dunia pada zaman sekarang adalah penganut dan pendukung faham Ahlu sunnah wal jama’ah.

B. Dokrin-Dokrin Teologi Al-Asy’ari.

Formulasi pemikiran Al-Asy’ari, secara esensial, menampilkan sebuah upaya sistesis antara formulasi ortodoks ekstrim di satu sisi dan Mu’tazilah di sisi lain. Dari segi etosnya, pergerakan tersebut memiliki semangat ortodoks. Aktualitas formulasinya jelas menampakkan sifat yang reaksionis terhadap mu’tazilah, sebuah reaksi yang tidak dapat dihindari corak pemikiran sistensis ini, menurut Watt, barangkali di pengaruhi oleh teologi kullabiah (teologo sunny yang di peloporo ibn kullab).

Pemikiran-pemikiran Al-Asy’ari yang terpenting adalah berikut ini :

1.    Tuhan dan Sifatnya.

Perbedaan pendapat di kalangan mutakallimin mengenai sifat-sifat Allah atak dapat dihindarkan walaupun mereka setuju bahwa mengesakan Allah adalah wajib. Al-Asy’ari di hadapkan dua pandangan ekstrim. Di satu pihak ia berhadapan dengan kelompok mujasimah dan kelompok musyabbihah yang berpendapat bahwa sifat-sifat Allah tidak lain esensinya. Adapun tangan , kaki, telinga Allah atau Arsy atau kursi tidak boleh diartikan secara arfiah, melainkan secara simbolis (berbeda dengan kelompok sifatiah). Selanjutnya, Al-as’ari berpendapat bahwa sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat di bandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip. Sifat Allah berbeda dengan Allah sendiri, tetapi-sejauh dengan menyangkut realitasnya (hagigah) tidak terpisah dari esensinya. Dengan demikian, tidak berbeda dengan-Nya.

2.    Pelaku Dosa Besar

Terhadap dosa besar, agaknya Al-Asy’ari, sebagai wakil ahl As-Sunnah, tidak mengafirkan orang-orang sujud ke Baitullah (ahl Al-Qiblah) walaupun malakukan dosa besar, seperti bercina dan mencuri. Menurutnya, mereka masih tetap sebagai orang yang beriman dengan keimanan yang mereka miliki, sekalipun berbuat dosa besar. Akan tetapi jika dosa besarnya di lakukannya dengan anggapan bahwa hal ini di bolehkan (halal) dan tidak menyakini keharamannya, ia dipandang telah kafir.

Adapun balasan di akhirat kelak pelaku dosa besar apabila ia meninggalkan dan tidak dapat bertaubat, maka menurut Al-asy’ari, hal itu bergantung pada kebijakan tuhan yang maha berkehendak Mutlak. Tuhan dapat saja mengampuni dosanya atau pelaku dosa itu mendapat syafaat nabi Saw, sehingga terlepas dari siksaan neraka sesuai dengan ukuran dosa yang dilakukannya. Meskipun begitu, ia tidak akan kekal di neraka seperti orang-orang kafir lainnya. Stelah penyiksaan terhadap dirinya selesai, dia akan di maksudkan kedalam surga.

3.    Iman dan Kufur

Agak pelik untuk memahami makna iman yang di berikan oleh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari sebab, di dalam karya-karya seperti Maqalat, Al-Ibanah, dan Al-Luma, ia mendefinikan iman secara berbeda-beda. Dalam Muqallat dan Al-Ibanah di sebutkan bahwa iman adalah qawl dan amal dan dapat bertambah dan serta berkurang. Diantara defenisi iman yang diinginkan Al-Asy’ari di jelaskan oleh Asy-Syahrastani, salah seorang teolog Asya’irah. Ia menulis:

Al-Asy’ari berkata: Iman secara esensial adalah tashdiq bin al-janan membenarkan dengan kalbu. Sedangkan “mengatakan” (qawl) dengan lisan dan melakukan berbagai kewajiban utama (amal bi al-arkan) hanyalah merupakan furu cabang-cabang iman. Oleh sebab itu, siapapun yang membenarkan ke Esaan Tuhan dengan kalbunya dan membenarkan utusanya serta apa yang mereka bawadarinya, iman orang semacam itu merupakan iman yang sahih dan keimanan seorang tidak akan hilang kecuali jika ia mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut

Keterangan Asy-Syahrastani diatas, di samping mengorvergansikan kedua definisi yang berbeda yang di berikan Al-asy’ari dalam maqalat, Al-Ibanah, dan Al-luma kepada satu titik pertemuan, juga menempatkan ketiga unsur iaman itu(tashdiq, qawl,amal) pada posisinya masing-masing. Jadi, bagi Al-Asy’ari dan juga Asy’ariyah, pesyaratan minimal untuk adanya iman hanyalah tasdiq, yang jika diekspresikan secara verbal berbentuk syahadatain.

4.    PerbuatanTuhan

Menurut aliran Asy-ariyah, faham kewajiban Tuhan berbuat baik manusia, sebagaimana dikatakan kaum mu’tazilah, tidak dapat di terima karena bertentangan dengan faham kekuasaan dan kehendak mutlah Tuhan. Hal ini di tegaskan Al-Ghazali ketika mengatakan bahwa tuhan tidak berkewajiban berbuat baik dan terbaik bagi manusia. Dengan demikian Tuhan dapat berbuat dengan sekendak hati-Nya terhadap makhluk. Sebagai mana di katakan Al-Ghazali, perbuatan bersifat tidak wajib (ja’iz) dan tidak satupun darinya yang mempunyai sifat wajib.

Karena percaya kepada kekuasaan mutlak Tuhan dan berpendapat bahwa Tuhan tidak berkewajiban apa-apa, aliran Asy-ariyah menerima faham pemberian beban diluar ke mampuan manusia. Al-Asy’ari sendiri, dengan tegas mengatakan alluma, bawa Tuhan dapat meletakkan yang dapat di pikul pada manusia.

Aliran Al-asy’ariah berpendapat bahwa tuhan tidak mempunyai kewajiban menepati janji dan menjalankan ancaman yang tersebut Al-Qur’an dan Hadist. Disini timbullah persoalan bagi Asy’ariyah karena di dalam Al-Qur’an dikatakan tagas bahwa siapa yang berbuat jahat akan masuk neraka. Untuk mangatasi ini, kata-kata Arab, “man alaldzina” dan sebainya yang menggambarkan arti siapa, diberi interpretasi oleh As-Asy’ari, bukan semua orang tetapi sebagian. Dengan demikian kata siapa dalam ayat “Barang siapa menelan harta anak yatim piatu dengan cara tidak adil, maka ia sebanarnya menelan api masuk kedam perutnya “mengandung bukan seluruh, tetapi sebagian orang yang menelan harta anak yatim. Adapun yang sebagian lagi akan terlepas dari ancaman atas dasar kekuasaan dan kehendak tuhan, dengan interprestasi demikianlah.

5.    Perbuatan Manusia

Dalam faham asy-’ari, manusia ditempatkan pada posisi yang lemah. Ia diibaratkan anak kecil yang tidak memiliki pilihan dalam hidupnya. Oleh karena itu, aliran ini lebih dekat dengan faham jabariyah dari pada dengan faham muktazilah. Untuk menjelaskan dasar pijakannya,asy’ari,pendiri aliran Asy’ariyah, memakai teori al-kasb. Teori al-kasbAsy’ari dapat dijelaskan sebagai berikut : sehingga menjadi perolehan bagi muktasib yang memperoleh kasap utuk melakukan perbuatan. Sebagai konsekuensi dari teori khab ini, manusia kehilangan keaktifan, sehingga mereka bersifat fasif dalam perbuatanya.

Pada prinsipnya, aliran Asy-ariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia di ciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mengujudkan. Allah menciptakan perbuatan manusia dan menciptakan pula pada diri manusia daya untuk melahirkan perbuatan tersebut. Jadi, perbuatan di sini adalah ciptaan Allah dan merupakan kasb bagi manusia.

Mengenai hakikat Al-Quran,aliran Mu’tazilah berpendapat bahwa Al-Quran adalah makhluk sehingga tidak kekal. Mereka beragumen bahwa Al-Quran itu sendiri tersusun dari kata-kata dan kata-kata itu sendiri tersusun dari huruf-huruf.Menurut Abd.Al-Jabbar, huruf hamzah umpamanya dalam kalimat al-hamdulillah, mendahului huruf lam dan huruf lam mendahului huruf ha, Demikian pula surat dan ayat pun ada yang terdahulu dan ada yang akan datang kemudian tidaklah dapat dikatakan qadim.

6.    Kehendak mutlak tuhan dan keadilan tuhan.

Kaum Asy’ariyah, karena percaya pada kemutlakan kekuasaan Tuhan, berpendapat bahwa perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan. Yang mendorong Tuhan untuk berbuat sesuatu semata-mata adalah kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya dan bukan karena kepentingan manusia atau tujuan yang lain. Mereka mengartikan keadilan dengan menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya,yaitu mempunyai kekuasaan mutlak terhadap harta yang dimiliki serta mempergunakanya sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, keadilan tuhan mengandung arti bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak terhadap makhluk-Nya dan dapat berbuat sekehendak hati-Nya. Tuhan dapat memberi pahala kepada hambanya atau memberi siksa dengan sekehendak hatinya,dan itu semua adalah adil bagi tuhan.

Aliran Asy’ariyah yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kecil dan manusia tidak mempunyai kebebasan atas kehendak dan perbuatanya, mengemukakan bahwa kekuasaan dan kehendak dan perbuatannya, mengemukakan kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan haruslah berlaku semutlak-mutlaknya. Al-asy’ari sendiri Tuhan yang dapat membuat hukum serta menentukan apa yang boleh dibuat Tuhan. Malah lebih jauh di katakan oleh asy’ari, kalau emang tuhan menginginkan, ia dapat saja meletakkan beban yang tak terpikul oleh manusia.

Karena menekankan kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, aliran Asy’ariyah memberi makna keadilan Tuhan dengan pemahaman bahwa Tuhan memiliki kekuasaan mutlak terhadap makhluknya dan dapat berbuat sekehendak hatinya. Dengan demikian, ketidak-adilan di fahami dalam arti Tuhan tidak dapat berbuat sekehendaknya terhadap makhluk-Nya atau dengan kata lain di katakan tidak adil bila di pahami Tuhan tidak lagi berkuasa mutlak terhadap milik-Nya.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 15 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 17 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 18 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 19 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: