Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Asisi Suharianto

Seorang pelintas yang menikmati agama apa pun, seorang penulis yang mencoba keluar dari kotak apa selengkapnya

Rekonstruksi Wajah Gajah Mada

HL | 11 January 2013 | 07:58 Dibaca: 5695   Komentar: 80   24

13578646611001645341

#barubaca #barutahu
“…Yamin, dakam buku itu… ….juga menampilkan foto sekeping terakota berwujud wajah lelaki berpipi tambam dan berbibir tebal. Yamin dengan keyakinan ilmu firasatnya menuliskan ……Gadjah mada… …….yang mahatangkas dan air mukanya menyinarkan keberanian seorang ahli politik yang berpemandangan jauh.” Namun, belakangan saya melihat kepingan itu di Museum Trowulan, yang memiliki koleksi Majapahit terlengkap. Sejatinya itu bagian dari celengan kuno dan tak berkaitan dengan Gadjah Mada…”
(National Geographic, Repihan Majapahit, September 2012)
Tanggapan e, Rek.. :p

Tulisan di atas adalah postingan seorang friend istri saya tentang Gajah Mada pada sebuah situs jejaring sosial. Selalu membuat saya tersenyum setiap kali membacanya, karena posting itu tersebut ternyata mampu menggelitik saya untuk membuka kembali file-file yang pernah saya kumpulkan dahulu saat mencari bentuk Gajah Mada yang sejati. Akhir dari hasil pendalaman saya menghasilkan sketsa wajah seperti yang saya tampilkan di atas. Sketsa saya di atas bisa menjadi alternatif perkiraan wajah Gajah Mada, yang bagi saya pribadi—dan ini sangat subyektif, lebih mendekati Gajah Mada yang asli daripada wajah tembem yang selama ini kita miliki.

MEMBEO, DARI TEMPAT WISATA SAMPAI NOVEL

Bila kita—paling tidak anda yang membaca tulisan ini—memejamkan mata sejenak untuk memunculkan bayangan yang kita miliki tentang sosok Gajah Mada, saya dengan tepat akan bisa menebak seperti apa sosok yang anda bayangkan. Seraut wajah tembem, bermuka tegas, dan badan yang gempal. Sosok yang dibuat oleh Muhamad Yamin ini sudah terlanjur melekat dalam benak kita karena ditempelkan di buku-buku sejarah sekolah dasar.

13578655711519214844

MEMBEO. Kanan: wajah super tembem Gajah Mada yang saya potong dari sebuah undangan seminar di Trowulan. Kiri: Ilustrasi Gajah Mada karya Bapak Jan Mintaraga dalam komik berjudul Imperium Majapahit 4 yang terbit tahun 1994 oleh Elexmedia Komputindo. Banyak orang tampaknya masih belum bisa lepas dari rancangan Muhamad Yamin. (foto: doc pribadi)

Suatu ketika saya berjalan-jalan ke Pusat Informasi Majapahit di Trowulan, Jawa Timur. Di etalase-etalase  museum itu akan kita temukan sosok-sosok tembem pada karya terakota, dari arca mainan hingga celengan, yang mengingatkan kita pada wajah tembem Gajah Mada. Celengan babi tembem, celengan sapi tembem, hingga celengan wajah orang pun tembem. Apa pun yang tampil sama seolah seluruh makhluk hidup di Majapahit dahulu berwajah tembem. Saya langsung berpikir, jangan-jangan wajah Gajah Mada selama ini dirancang berdasar karya tembem-tembeman yang mungkin sedang trend di zaman Majapahit dulu itu. Karya seni boleh tembem, namun tidak berarti wajah orang-orang Jawa Timur di zaman Majapahit dulu tembem-tembem. Setuju bukan? Saya, keluarga saya, teman-teman saya semuanya orang Jawa Timur dan kami tidak berwajah setembem itu.

Hampir sama kasusnya dengan arca Prajnaparamita yang langsung, tanpa ba bi bu, disebut sebagai arca Ken Dedes oleh masyarakat, begitupun sebuah arca wajah celengan pun langsung dianggap arca Gajah Mada.

Rancangan wajah tembem Gajah Mada buatan Muhamad Yamin sudah terlanjur melekat, dan dari generasi ke generasi membeo menganggapnya sebuah kebenaran. Beberapa ilustrasi dan sebuah patung di wisata Madakaripura (lokasi peristirahatan Gajah Mada menurut Negarakertagama) masih terjebak rancangan Muhammad Yamin ini. Sebuah seri dalam novel pentalogi Gajah Mada yang terkenal itu, menceritakan bagaimana Gajah Mada bangun dari tidur dan menjebol tembok rumahnya dengan badannya. Saya jadi berpikir ketika membacanya (sampai perlu datang ke situs-situs Majapahit untuk mengukur, batu bata zaman itu memiliki lebar mencapai sekitar 7 inchi hingga terbayang ketebalan tembok zaman Majapahit), seberapa gempal tubuh Gajah Mada hingga mampu menjebol hanya dengan menyeruduknya. Pasti sangat gempal. Saya hanya tersenyum dan menyimpulkan sang penulis novel itu pun tampaknya belum bisa keluar dari kotak rancangan Muhammad Yamin: Gajah Mada sosok yang gempal, tegas, dan berwajah tembem.

KESAKSIAN ORANG ZAMAN MAJAPAHIT

Menggali prasasti dan karya sastra masa lalu adalah cara terbaik menguak kebenaran. Mengenai sosok Gajah Mada, hanya dua karya sastra kuno yang menceritakannya: Negarakertagama dan Pararaton. Pararaton menceritakan pada kita kiprah Gajah Mada sejak awal karirnya sebagai Bekel di sebuah kesatuan Bayangkara hingga menjadi Mahapatih Amangkubumi. Kita mendapatkan gambaran sosok militer dalam diri Gajah Mada, yang barangkali inilah penyebab para perancang cenderung memberi postur tubuh gempal pada Gajah Mada. Sayangnya Pararaton diragukan keotentikannya karena ditulis jauh dari masa hidup Gajah Mada —mengejutkan bukan, Pararaton ditulis saat kejayaan Islam Jawa zaman Sultan Agung.

Kitab paling “on the spot” adalah Negarakertagama sebagai rekaman terbaik karena ditulis betul-betul di zaman Majapahit. Dongeng keperwiraan Gajah Mada bersama 25 Bayangkara menyelamatkan Raja Jayanagara tidak ada di kitab ini. Tidak ada alasan sang penulis menyoroti keperkasaan sosok Gajah Mada (yang membuktikan hal tersebut tidak terlihat, bahkan tak ada), sebaliknya dia menangkap hal menonjol lain dari diri Gajah Mada:

“Fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur” (Negarakertagama 12:4)

Keterangan paling “on the spot” ini malah memberi gambaran sosok Gajah Mada yang, menurut saya, seorang diplomat, seorang pemain politik yang licin. Kekuatannya bukan pada ototnya, melainkan pada kepintarannya bersilat lidah. Lebih mengejutkan lagi adalah informasi Negarakertagama selanjutnya: “Sang dibyacita Gajah Mada cinta kepada sesama tanpa pandang bulu. Insaf bahwa hidup ini tidak baka, karenanya beramal tiap hari.”  (Negarakertagama 71:1)

Bagi saya pribadi, gambaran Negarakertagama sangat menjelaskan sisi spritual Gajah Mada. Jika dikatakan “beramal setiap hari”, anda jangan membayangkan beramal seperti agama Islam dan Kristen yang “tidak terlalu berat”. Silakan datang ke Bali dan mengukur sendiri arti dari “beramal tiap hari” di sini. Jelas sekali sosok Gajah Mada adalah seorang diplomat, politikus yang licin, sekaligus seorang yang taat beragama. Mungkin mirip para tokoh nasional kita pemimpin agama yang bermain di kancah politik.

JAUH DARI KEPENDEKARAN DAN MILITERISME

Berbeda dengan gambaran para novelis dan komikus, sosok Gajah Mada dalam sejarah adalah politikus yang menolak cara-cara militer yang tegas, sebaliknya lebih persuasif dalam menyelesaikan konflik. Prasasti Himad-Walandit bahkan menceritakan Gajah Mada memilih pendekatan budaya pada masyarakat. Ketika terjadi konflik seputar pengelolaan Dharma Kabuyutan dan Penthirtan di Swatantra Walandit yang menimbulkan perseteruan antara penguasa desa Himad dengan penduduk Walandit. Penduduk Walandit menolak penguasaan tempat peziarahan tersebut oleh penguasa desa Himad semata karena merasa memiliki status swatantra dari Pu Sindok selama ratusan tahun berdasar sekeping prasasti logam zaman Pu Sindok, meskipun secara yuridiksi Majapahit wilayah mereka dibawah pemerintahan desa Himad. Ternyata Gajah Mada memenangkan gugatan warga Walandit atas dasar warisan sejarah tersebut.

RANCANGANKU DIMULAI: KURUS

Daripada susah-susah membayangkan, saya langsung terbang ke Bali untuk mendapat gambaran langsung masyarakat Hindu di sana, tempat di mana citra Majapahit masih bertaburan—dimana para pemuka agamanya masih mengikat rambut bersanggul di atas kepala. Setelah lama mencari akhirnya saya menemukan sosok yang saya jadikan model dalam rancangan Gajah Mada, seorang  pedanda (tanpa menyebut namanya) yang saya dapat gambarnya dari tabloid Canangsari edisi 31 juli 2004. Jika benar informasi Negarakertagama bahwa Gajah Mada seorang yang taat mebrata setiap hari, maka sosok pedanda ini sangat mendekati.

1357865680590932512

MODEL. Kiri: gambar yang saya jadikan model untuk sketsa Gajah Mada, dengan alis sedikit saya pertegas. (Foto: repro Canangsari). Kanan: Saya saat di Bali, menyempatkan diri belajar Hinduisme. Upawasa (puasa) dalam Hindu banyak ragamnya. Puasa Gajah Mada tentu yang paling berat sebagai pembanding besarnya politik Nusantara. (Foto: doc pribadi)

Kurus. Mengapa kurus? Pararaton menceritakan suatu sumpah yang terkenal sampai hari ini, Sumpah Palapa, yang diucapkan Gajah Mada, yang menyatakan dia takkan berhenti berpuasa/menolak duniawi sebelum nusantara takluk di bawah panji Majapahit. Jangan menerjemahkan “puasa/menolak duniawi” ini seperti bayangan kita dalam agama Islam atau Kristen. Puasa model begini tidak sebanding dijadikan taruhan demi cita-cita yang demikian mustahil. Kita harus mendefinisikan arti kesenangan duniawi yang berlaku di zaman Majapahit. Konsep Tantra mencapai puncak di zaman Majapahit hingga menghasilkan peleburan Siwa dan Budha. Dalam artikel Hariani Santiko dari UI yang diterbitkan di majalah Cempala edisi Oktober 1996 konsep kesenangan ini terurai dalam 5 ma, yakni matsya (ikan), mamsa (daging), mudra (gandum, atau beras dan karbohidrat lain), madya (anggur, atau arak dan minuman fermentasi lain) dan maithuna (seks). Jika benar konsep ini, maka kemungkinan sumpah palapa Gajah Mada adalah menjauhi kelimanya, hingga mungkin sekali dia juga tidak menikah.

Puasa yang dijalankan Gajah Mada pastilah mengacu pada mebrata yang memang terjadi di zaman itu. Konsep mebrata ini kita temukan dalam kakawin Arjuna Wiwaha, yakni brata-tapa-yoga-samadi. Keempatnya satu paket untuk mencapai kesempurnaan, yang masing-masing memiliki aturan dan disiplin yang ketat. Melaksanakan keempat-empatnya sekaligus, ditambah pantangan selamanya pada 5 ma di atas, membuat gambaran yang diberikan Negarakertagama “beribadah setiap hari” menjadi masuk akal, sekaligus memberi bayangan pada kita betapa kurusnya badan Gajah Mada. Bila mengingat sampai akhir hayatnya Sunda belum berhasil ditaklukkan Majapahit, kemungkinan puasa berat ini terus dilakukan Gajah Mada seumur hidup.

Novel yang menceritakan Gajah Mada menjebol tembok dengan badan super gempalnya, membuat saya harus menggali diet yang dijalani atlit binagara Ade Ray, yang ternyata tidak cocok 100 persen dengan diet para pandita Hindu di Bali. Sosok pedanda di atas pasti lebih mendekati Gajah Mada—si politikus jago bersilat lidah.

TENTANG AKSESORIS

Untuk aksesoris saya sangat terbantu dengan buku Busana Jawa Kuna karya Inda Citraninda Noerhadi (terbitan Komunitas Bambu), yang membantu saya mendapat gambaran bagaimana tata cara berbusana di Jawa kuno. Setiap strata masyarakat kuno memiliki cara berbusananya sendiri yang menunjukkan kastanya. Melihat jabatan Gajah Mada demikian tinggi, maka sangat masuk akal jika saya memberikan aksesoris lengkap pada tampilan skets saya di atas: hiasan rambut, subang (anting), kelat bahu, kalung dan upavita (tali kasta). Mengenai subang, saya mendapat bantuan informasi dari seorang kawan yang memiliki teman dari trah Majapahit dan masih menyimpan sketsa wajah leluhurnya, yang kebetulan memakai subang berbentuk memanjang (yang saya adopsi dalam sketsa saya di sini). Kalung awalnya akan saya buat bertingkat tiga namun melihat kurusnya badan Gajah Mada akan terlihat kebesaran.

Kumis. Bagaimana dengan kumis? Jujur, seharusnya kumis itu tidak ada, karena dari relief-relief selalu saya dapatkan orang-orang Jawa Kuno dari strata sosial lebih tinggi berwajah bersih. Kumis dan jambang hanya dimiliki para brahmana atau orang-orang dari kelas bawah. Lalu mengapa saya tampilkan kumis? Semata-mata untk membedakan dengan wajah Gajah Mada reguler. Toh jika anda tidak setuju kita bisa menghapusnya.

Ciri lain tetap saya pertahankan dari model aslinya: hidung pésék dan pipi tirus. Sorot matanya kubuat penuh keberanian dan menatap jeli (ke samping untuk memberi kesan penuh selidik) dan alis yang bertaut untuk memberi gambaran pikirannya yang selalu aktif. Memakai tanda tapak dara di dahi menunjukkan dia pengikut Siwa.

AKHIRNYA

Anda sah-sah saja menerima atau menolak sketsa ini. Apa pentingnya memburu wajah orang yang telah hilang berlalu. Namun yang coba saya tekankan di sini adalah ajakan untuk mengkritisi segala sesuatu, tidak gampang dan menggampangkan apa yang kita terima, terutama yang berkaitan dengan sejarah dan jati diri bangsa kita. Tidak ada yang membedakan Muhamad Yamin dengan anda, sama-sama manusia yang tidak tahu, sehingga gagasan anda pun sama sahnya dengan gagasannya. Hanya karena beliau lebih dulu menggagas, dan pernah menjabat sebagai menteri pendidikan, bukan berarti wajah celengan yang dibuku-buku pelajaran sekolah benar-benar wajah Gajah Mada.

INTERMEZO:  YUUK DIET ALAA GAJAH MADA

1.       Anda bisa mencoba diet yang dilakukan Gajah Mada. Karena tak boleh memakan daging, ikan, nasi, gandum (roti) dan ubi-ubian serta minuman beralkohol, anda bisa mencoba sayuran sebagai menu utama pengganti nasi, dan buah sebagai hidangan tambahan. Rebus bayam, atau kangkung dengan garam, bisa anda tambahkan cabe untuk menambah rasa. Rempah-rempah mungkin sedikit membantu dalam hal rasa. Pilih buah yang berserat tinggi untuk memperlama kenyang.

2.       Anda bisa tambahkan aturan diet ini dengan tata cara puasa alaa Gajah Mada sesuai ajaran Hindu, diantaranya tidak makan sama sekali pada siang hari.

3.       Lakukan ini seumur hidup, dan hapus keinginan anda memiliki badan gempal dan wajah tembem berseri. Oya, jangan lupa gantilah nama wajah-wajah tembem di buku sejarah, dengan nama apa pun asal bukan nama Gajah Mada.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Tunjangan Profesi Membunuh Hati Nurani …

Luluk Ismawati | | 01 August 2014 | 14:01

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

Menelusuri Budaya Toleransi di Komplek …

Arif L Hakim | | 01 August 2014 | 18:18

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 15 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 16 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: