Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Desita Kusumadayanti

Mahasiswi ilmu komunikasi UIN Sunan Kalijaga 2011

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

OPINI | 15 January 2013 | 22:50 Dibaca: 115   Komentar: 0   0

Benteng Vredeburg Yogyakarta seperti yang dikenal orang pada masa sekarang ini sebagai museum Benteng Vredeburg Yogyakarta merupakan sebuah bangunan peninggalan masa kolonial belanda di Indonesia. Bangunan ini terletak di Jl. A. Yani 6 yogyakarta dan merupakan kawasan nol kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Pembangunan benteng ini berjalan seiring dengan pembangunan istana kasultanan Yogyakarta, tahun 1756 dimulailah pembangunan benteng belanda di Yogyakarta. Setelah kurang lebih berlangsung berlangsung 4 tahun, bangunan benteng belanda di Yogyakarta berdiri meski keadaannya masih sangat sederhana.

Menurut laporan Johannes vos hingga tahun 1771 pembanguna benteng di Yogyakarta belum mengalami kemajuan berarti. Kemudian dilakukan tahap perbaikan. Tahun 1776 pembangunan benteng memasuki tahap finising.  Benten yang semulanya dikembangkan dan dimamfaatkan oleh VOC . kemudian setelah sepenuhnya dimiliki indonesia benteng ini mengalami perubahan nama oleh daendels dari rustenburg menjadi vredeburg ( benteng perdamaian) menyusul beberapa kerusakan akibat gempa yang terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya pada tahun 1867. Setelah mengalami signifikasi yang tinggi dan serangkaian proses studi kelayakan tahun 1981 Benteng Vredeburg Yogyakarta ditetapkan dan dipelihara oleh negara.

Latar belakang berdirinya organisasi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Setelah melakukan pembenahan dan melakukan tahap finising yang mapan, sekitar tahun 1984 sampai tahun 1987 terjadi masa perintisan terhadap Benteng Vredeburg Yogyakarta. Jika diruntut dari sejarah berdirinya, bangunan yang kini menjadi museum khusus sejarah perjuanagan bangsa Indonesia ini tampak berorientasi pada politik (militer). Namun saat ini fungsi tersebut telah berubah dan lebih mengarah pada fungsi pendidikan dan kebudayan (edukatif cultural).

Seiringan dengan perubahan system fungsi, awalnya sudah terbentuk struktur organisasi dan sistem managemen terhadap pengelolaan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Benteng Vredeburg Yogyakarta mulai di buka untuk umum pada tanggal 11 maret 1987 sebagai kajian penelitian, studi, pengembangan serta merupakan tempat wisata. Hal ini pertama kali terlihat dari pusat studi desa yang menjadikan Benteng Vredeburg Yogyakarta sebagai bahan penelitian. Akan tetapi pada 23 november 1992, terjadi perubahan system dari sektor fungsi dan peran Benteng Vredeburg Yogyakarta itu sendiri. pada tahun ini juga secara resmi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta menjadi UPT (unit pelaksana teknis) dilingkungan direktorat jendral kebudayaan departemen pendidikan Indonesia.

Seiring perkembangan dan penetapan fungsi dan system manajemen, struktur organisasi Benteng Vredeburg Yogyakarta juga mengalami perubahan. Akan tetapi sejak ditetapkannya museum Benteng Vredeburg Yogyakarta sebagai aset negara yang harus dipelihara dan dikembangkan, tahun 1981 museum Benteng Vredeburg Yogyakarta sudah mempunyai struktur organisasi meskipun hanya memiliki kepala pengelola, financial, dan divisi teknis. Kemudian struktur organisasi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mengalami beberapa revolusi struktur tanpa menghilangkan peran dan fungsi 3 element struktur diatas.

Deskripsi organisasi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Organisasi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta merupakan organisasi instansi dibawah naungan pemerintah. Kepengurusan Organisasi ini bersifat formal yang berada di bawah pengawasan Dinas pemerintahan kebudayaan dan pariwisata.

Kalau merujuk berdasarkan keputusan kepala pengembangan dan pariwisata nomor : KEP-05/BP BUDPAR/2002, tanggal 21 agustus 2002 disebutkan bahwa Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta adalah museum khusus yang merupakan unit pelaksana teknis di lingkungan badan pengembangnan kebudayaan dan pariwisata, yang berda dibawah dan bertanggungjawab kepada kepala direktorat purbakala dan permuseum, deputi bidang pelestarian dan pengembangan budaya. Jadi dapat dikatakan orgnisasi ini merupakan naungan dibawah pemirintah dengan mempunyai incame yang nanti akan dikembalikan kepada negara.

Tugas dan fungsi manajemen organisasi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta bersifat teknis yang secara operasional mencangkup mengumpulkan, merawat, memelihara, mengawetkan, mengkaji, menerbitkan hasil penelitian dan memberikan bimbingan edukatif cultural tentang benda dan nilai sejarah dan budaya dan ilmiah.

Pihak Pemerintah Dan Keraton Yogyakarta

Peran pemerintah sebagai pengangaran dana bagi museum dan pihak keraton Yogyakarta sebagai pihak pemberi ijin dan legalitas fungsi dan peran Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta dilakukan  dengan Government Relations untuk memantau secara berkala kebijakan pemerintah dan pihak keraton Yogyakarta (membatasi dan memberi peluang), dan membina hubungan baik dengan pejabat pemerintah dan pihak kraton serta melakukan lobi untuk mempercepat dan mempermudah perijinan museum yang di urus secara berkala.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tim Indonesia Meraih Emas dalam Taste of …

Ony Jamhari | | 20 September 2014 | 13:35

Pendaftar PNS 1,46 juta, Indonesia Minim …

Muhammad | | 20 September 2014 | 12:59

Dari Melipat Kertas Bekas Bergerilya Berbagi …

Singgih Swasono | | 20 September 2014 | 17:28

Di Pantai Ini Tentara Kubilai Khan Mendarat! …

Mawan Sidarta | | 20 September 2014 | 13:30

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 10 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 11 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 11 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | 8 jam lalu

Hargai Penulis dengan Membeli Karyanya …

Much. Khoiri | 8 jam lalu

Kompilasi Buku, Haruskah Ada Ijin dari …

Cucum Suminar | 8 jam lalu

“Kematian Allah” untuk Kehendak …

Ps Riswanto Halawa | 9 jam lalu

Masyarakat Pedesaan Pikir-Pikir Beli Elpiji …

Akhmad Alwan A | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: