Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Ibnu Andhika

Berkunjung ke Semua Negara Dunia Impianku l Manusia hanya Makhluk Lemah sekalipun Presiden l Melihat selengkapnya

Jakarta Banjir akan Ingat Bangsa Belanda

OPINI | 18 January 2013 | 02:26 Dibaca: 1136   Komentar: 0   1

SEJARAH BENDUNGAN KATULAMPA

Bendungan Katulampa mulai dioperasikan pada tahun 1911. Akan tetapi, pembangunannya sudah dimulai pada tahun 1889, setelah Jakarta, yang waktu itu masih bernama Batavia, dilanda banjir besar pada 1872. Banjir saat itu dikabarkan membuat daerah elit Harmoni ikut terendam air luapan Ciliwung.

Belanda membangun bendung di Katulampa dengan gtujuan untuk mengukur debit air Ciliwung yang akan mengalir ke Batavia. Hal itu dimaksudkan sebagai semacam sistem peringatan dini agar kemungkinan banjir bisa diketahui dan diantisipasi para pejabat tinggi pemerintahan Hindia-Belanda. Namun, tujuan lain pembangunan infrastruktur pengairan di Bogor bagian timur itu adalah untuk keperluan irigasi.

Di Katulampa, sebagian air Ciliwung dialirkan lewat pintu air ke Kali Baru Timur, saluran irigasi yang dibangun pada waktu yang sama. Dari Bogor bagian timur, sungai buatan itu mengalir ke Jakarta, di sepanjang sisi Jalan raya Bogor, melalui Cimanggis, Depok, Cilangkap, sebelum bermuara di daerah Kali Besar, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Air Kali Baru Timur dulu dipakai untuk mengairi sawah yang banyak terdapat di daerah antara Bogor dan Jakarta.

“Sampai tahun 1990, areal persawahan di Bogor dan Jakarta masih banyak, yakni 2.414 hektar. Sekarang sawah hampir habis. Di Bogor dan Cibinong tinggal 72 hektar. Di Jakartta malah sudah taka da sama sekali,” ujar Andi yang berstatus sebagai karyawan Balai Pendayagunaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Bogor.
Fungsi irigasi Bendungan Katulampa bisa dikatakan sudah berakhir akibat punahnya areal persawahan di Bogor dan Jakarta. Dengan begitu, fungsinya kini tinggal sebagai bagian dari sistem peringatan dini bahaya banjir bagi warga Jakarta.

Dari Katulampa, air Ciliwung mengalir selama sekitar enam jam untuk sampai di Depok, di pintu air Depok - pos pengukur ketinggian air. Dari sana, masih dibutuhkan waktu sekitar delapan jam lagi sebelum air kiriman dari Bogor tiba di Jakarta, di Pintu Air Manggarai.

‘Tetapi, laju air juga tergantung pada ketinggiannya. Makin tinggi permukaan air, makin tinggi pula kecepatan alirannya,” katanya.

Jika tinggi air Ciliwung sedah mencapai 80 cm, penjaga Bendung Katulampa langsung menetapkan status siaga IV dan wajib melaporkannya ke Jakarta. Ketinggian 80 cm menandakan debit air Ciliwung sudah cukup besar dan bisa mengakibatkan banjir di Jakarta.

“Kami harus segera menginformasikannya karena dalam waktu enam jam, air ebsar di Katulampa itu akan tiba di Jakarta,” papar Andi. Soalnya, ketinggian air Ciliwung setiap saat bisa mendadak melonjak. “Walau di sini tidak hujan, ktinggian air bisa tetap naik sampai tingkat waspada atau siaga jika hujan lebat turun secara merata di kawasan Puncak,” tambah laki-laki 41 tahun itu.

Jakarta makin tenggelam karena kiriman air dari Bogor bertemu dengan pasang naik air dari Bogor bertemu dengan pasang naik air laut di Teluk Jakarta dan guyuran hujan yang merata di lima wilayah Ibu Kota. Menurut Andi, dirinya akan menjadi pihak yang paling disalahkan kalau waktu itu lalai memonitor ketinggian air atau jika tak segera menginformasikan hasilnya ke Jakarta.

“Jakarta akan mengantisipasi datangnya banjir, salah satunya berdasarkan informasi dari kami. Dengan demikian, warga Jakarta punya waktu untuk bersiap-siap,” ujarnya.

Tugas penjaga Bendung Katulampa tak cuma memantau ketinggian air. Kondisi cuaca di sekitar bendung yang berlokasi di Desa Katulampa, Tajur, Bogor Selatan, itu juga harus terus dipantau dan setiap jam dicatat di buku laporan yang tersedia. Pemantaun cuaca dilakukan juga dengan terus mengikuti laporan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG).

Semua catatan ini lalu dilaporkan lewat telepon ke berbagai pihak yang berkepentingan. Mereka antara lain Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, pos pemantau ketinggian air Ciliwung di Depok, dan petugas Pintu Air Manggarai, dan Pemerintah Kota Bogor.

Silahkan baca ulasan yang pernah di tulis di Kompasiana tentang Sejarah Banjir Jakarta http://sejarah.kompasiana.com/2011/08/01/sejarah-banjir-batavia-dan-penanggulangannya-di-masa-kolonial/

Sejarah Jakarta tidak lepas dari Bangsa Belanda jika saja Pemimpin Negeri ini Peka dan Ingat Sejarah jangan pernah Egois dengan Bangga membangun Gedung Pencakar Langit tanpa memperhatikan kerusakan yang terjadi di setiap sudut Kota , sebenarnya Jakarta sudah di sediakan Got-got besar peninggalan Bangsa Belanda tetapi saat ini sudah banyak yang Hilang karena alasan Pembangunan , Undanglah Bangsa Belanda memperbaiki Aliran sungai yang pernah meraka lakukan ratusan tahun yang lalu semoga saja ada Kompasianer yang menyampaikan langsung Ke JOKOWI atau langsung PRESIDEN .

sumber : http://id.wikipedia.org

Jangan pernah melupakan Sejarah karena akan terulang kembali.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Sedekah Berita ala Jurnalis Warga …

Siwi Sang | | 24 October 2014 | 15:34

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 6 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 7 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 9 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 9 jam lalu

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Batuk Efektif …

Kaminah Minah | 8 jam lalu

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 8 jam lalu

Komunitas, Wiramuda dan Pemuda Muhammadiyah …

Kang Nanang | 8 jam lalu

Tanya Jawab ala Toni Blank …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

Kesan dan Pesan Selama Belajar Sosiologi …

Yolanda 16 | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: