Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Asian African Reading Club

Asian African Reading Club berdiri di Bandung, tanggal 15 Agustus 2009. Bertempat di Museum Konperensi selengkapnya

Jelang Tadarusan Buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi ‘-Bung Karno

OPINI | 28 January 2013 | 02:06 Dibaca: 278   Komentar: 0   0

GAGASAN BERBANGSA YANG LEMBUT DARI PARA PEMIKIR YANG JUGA LEMBUT UNTUK LAJU PERUBAHAN BANGSA

A

da yang berpidato lantang mengampanyekan betapa hebatnya partainya itu, sanggup jadi solusi atas ruwetnya persoalan bangsa. Ada yang berceramah di atas mimbar, di media massa elektronik, di rumah-rumah ibadat, begitu lugas, kemukakan pemecahan atas apapun yang menimpa negeri ini. Dan ada pula yang berbisik lembut di forum kajian kecil, tanpa banyak hadirin yang datang, ungkapkan jawaban terhadap soal-soal sebal berkaitan mau dibawa kemana bangsa dan negara ini dibawa, dan sisanya dalam jumlah yang juga sedikit menulisulang gagasan itu, jawaban itu, ide-ide itu, dan upaya-upaya itu.

Semua orang boleh berwacana, gelisah kepada perubahan yang inginnya membaik, muak pada situasi sosial budaya yang taklagi murni, sangsi terhadap para politikus dan pemimpin partai politik yang ternyata berbuat nista, melukai hati rakyat dengan merampok uang negara, serta kecewa dengan orang-orang yang malah takpeduli dengan kondisi yang ada. Setiap orang leluasa bersuara, sampai berbusa, memperkarakan apa saja yang berhubungan dengan perikehidupan yang terasa, yang biasa, atau yang memang acapkali menyiksa kita.

Syukurlah bila ada kesadaran itu, sadar sesadar-sadarnya, menyadari bahwa hal itu adalah benar, dan bila dilakukan akan membawa manfaat, menyadari bahwa perkara itu adalah buruk, dan bila dilakukan terus menerus akan peroleh kerugian yang tiada tara. Alangkah bahagianya, bila kepedulian yang dilandasi komitmen yang nyata itu mendekam di dada, lalu menjadi bagian yang takterpisahkan demi kemajuan bangsa. Dan saya juga berharap begitu, tergerak, bergerak, menggerakkan orang-orang untuk menapaki jalan yang benar, setelah pintu gerbang kemerdekaan terbuka lebar, dan jika saja di tengah perjalanan menemukan aral-melintang, kita lawan bersama-sama dengan apa yang kita miliki.

Hampir pasti semua orang dambakan perubahan bangsanya, takmau terus-menerus tergerus arus zaman yang serbacepat dan lalu menyayat nurani bangsa. Dari waktu ke waktu, kita angankan pergerakan bangsa yang membawa hasratnya masing-masing, sampai terwujudlah masyarakat yang adil dan makmur itu. Kita pun inginkan kesejahteraan dan kebahagian yang hakiki, tersebar ke seantero negeri, dari hari ke hari. Kalaulah dulu pernah tersembul pada satu orde kata ‘revolusi’, lalu berubah menjadi ‘pembangunan’, dan kini mencuat kata ‘reformasi’, baiklah saya coba tafsirkan dengan arif bahwa setiap orde atau masa pemerintahan membawa gairah zamannya masing-masing, untuk sama-sama membangun peradaban di nusantara ini, terlepas nanti membawa implikasi bagi tumbuhkembangnya moralitas bangsa ini.

Sejarawan Crane Brinton yang dikutip Jakob Sumardjo (2003) memberikan pendapatnya bahwa setiap gerakan besar suatu bangsa selalu dituntun oleh adanya tender minded, meskipun pemicunya adalah tough minded alias pemikiran yang kasar yang langsung menyangkut persoalan material. Tafsir saya bahwa lingkup tender minded alias pemikiran yang lembut, muncul dari kalangan para pemikir, filusuf, atau para sastrawan budayawan yang berjibaku mengasah kepekaan pada apapun yang berkembang di masyarakatnya. Pemikiran atau gagasan yang lembut jauh dari kesan kekerasan, atau mekanisme penegakan prinsip hidup dengan persenjataan yang hebat, justru itu semua tercipta dari ide gagasan yang dituangkan lewat media tertentu, sebagai misal, buku, majalah, koran, kemudian orang-orang membacanya, seakan memberi bisikan yang hangat dan juga lembut, berkaitan dengan problematika bangsanya, yang pada saatnya nanti akan sampai di hati. Bukankah sesuatu yang keluar dari hati nurani akan sampai pada hati nurani lagi?

Katakanlah, peristiwa kerusuhan Mei 1998 terpantik dari krisis moneter, rakyat hidup dalam kesusahan, hingga peralihan kepemimpinan pun harus terjadi, lantaran rezim orde itu sudah taklagi berpihak pada rakyat. Perubahan besar itu tidak sertamerta lahir begitu saja, semua berawal dari kelompok kecil, lingkaran sederhana, diskusi terbatas bahkan tertutup, saling memberikan pemahaman, pengertian, dari jauh-jauh hari saling bertukar pikiran pendapat atas apa yang tengah berlangsung, walau memang dipacu juga dengan kenyataan sosial ekonomi waktu itu yang sedang morat-marit, harga-harga barang melambung tinggi, banyak pabrik yang gulung tikar, berimbas pada meruahnya jumlah pengangguran saat itu. Dengan demikian, orang-orang jadi tersadarkan pada kenyataan pahit itu, buah dari pergulatan pemikiran yang menyusup secara lembut pada setiap benak warga masyarakat, terutama kalangan muda intelektual, lantas berdampak pada munculnya kekuatan baru untuk bergerak menghancurkan rezim yang takmenyayangi warga negaranya.

Andaikata kita mau menarik garis waktu sebelum Indonesia merdeka tahun 1945, cetusan pemikiran terus berdatangan dari para pejuang bangsa saat itu, sebut saja Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir dan masih banyak lagi tokoh pentolan lainnya, yang terus membina dirinya dengan pengetahuan bacaan yang luas, menghayati pengalaman hidup bangsanya yang terjajah, juga menajamkan kepedulian terhadap rakyatnya yang terdera derita. Dan dari merekalah gagasan yang lembut itu menyapa telinga, membelalakan mata, menyibak benak, sehingga tersentuhlah hati sanubari untuk bergerak ke arah kemerdekaan yang diidam-idamkan penduduk negeri ini.

Keterlibatan sang tokoh dengan obyek realitas yang ada ketika itu telah menumbuhkan guratan pemikiran yang mendalam tentang kondisi terburuk, efek dari kolonialisme, sehingga perjuangan taklagi dengan angkat senjata berpeluru tajam, tapi dengan pena, dengan tinta, dengan buku, dengan bulletin, dengan koran, dengan selebaran, yang ditulis secara seksama, mantap, runut, dan penuh analisis yang tajam berkenan kolonialisme dengan segala bentuknya. Dari media itu, mengendaplah ide pemikiran yang luarbiasa, yang cemerlang, yang gilang gemilang, yang juga lembut, menggugah sukma, bangkitkan lagi kepercayaan diri, sampai terbukalah kesadaran bahwa penjajahan di muka bumi ini haruslah dihapuskan, oleh sebab bertentangan dan menghinakan aspek perikemanusiaan dan perikeadilan.

Takada ruginya, barangkali, bila kita mulai mengintimi pemikiran lembut itu, terhampar pada teks buku yang mungkin sudah takterbit lagi, dengan satu keyakinan bahwa perubahan pergerakan sebuah bangsa diawali dari pemikiran lembut yang mencakup konsep berbangsa yang ideal, bermula dari hasil pembacaan dan permenungan yang membawa nilai filosofis masing-masing, berkarakter, tentu saja.

Bandung, 27 Januari 2013

Adew Habtsa. Sekretaris Jenderal Asian African Readin Club. Penyair. Pemusik.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 7 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 10 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 14 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 15 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: