Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Abd Ghafur

Abd Ghafur, lahir di Bondowoso, 17 Juli 1985 aktifitas sehari-hari adalah mengais rizki Tuhan lewat selengkapnya

Dialektika Peradaban; “Antara Cita dan Rekayasa”

REP | 28 January 2013 | 05:01 Dibaca: 746   Komentar: 0   1

13593166591156698392

Sumber Photo: Illustrasi Peradaban Yunani Kuno

Berbicara dialektika peradaban tentunya tidak lepas dari sebuah pengertian-pengertian. Dari pengertian secara defenitif inilah nanti diharapakan akan menemukan sebuah kesimpulan atau pun maksud baik yang tersirat maupun tersurat.

Dialektika adalah metode atau cara untuk memahami sebuah objek berdasarkan analisis secara sistematis. pertama kali metode berpikir dialektika di cetuskan oleh filosof Hegel, ia menggunakan metode tersebut untuk menjelaskan filsafatnya. Menurut Hegel dialektika adalah mendamaikan, mengompromikan hal-hal yang berlawanan. Metode ini memandang, menyelidiki dan menganalisa segala hal-hal yang kongkrit kita hadapi, dengan menggunakan dasar-dasar hukum-hukum Dialektika yang berlaku secara objektif.

Proses dialektika selalu terdiri atas tiga fase. Fase pertama (tesis) dihadapi antitesis (fase kedua), dan akhirnya timbul fase ketiga (sintesis). Dalam sintesis itu, tesis dan antitesis menghilang. Dapat juga tidak menghilang, ia masih ada, tetapi sudah diangkat pada tingkat yang lebih tinggi. Proses ini berlangsung terus. Sintesis segera menjadi tesis baru, dihadapi oleh antitesis baru, dan menghasilkan sintesis baru lagi, dan seterusnya.

Peradaban adalah memiliki berbagai arti dalam kaitannya dengan kehidupan manusia. Seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk pada suatu masyarakat yang “kompleks”: dicirikan oleh praktik dalam pertanian, hasil karya dan pemukiman, berbanding dengan budaya lain, anggota-anggota sebuah peradaban akan disusun dalam beragam pembagian kerja yang rumit dalam struktur hirarki sosial.  (“Civilisation” (1974), Encyclopaedia Britannica 15th ed. Vol. II, Encyclopaedia Britannica, Inc., 956).

Oleh karena itu, setiap peradaban pasti memiliki ideologi yang berbeda-beda sesuai dengan perkembangan peradaban tersebut lahir dan kapan berakhir. Namun demikian, setiap peradaban melahirkan sebuah nilai-nilai yang menjadi pegangan suatu masyarakat tertentu atau kelompok. Sehingga ideologi dalam sebuah peradaban tersebut akan menjadi spirit hidup masyarakat manusia guna memperjuangkan setiap keinginan yang akan di capai.

Istilah ideologi berasal dari kata “Idea” yang berarti “gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita” dan logos yang berarti “ilmu”, kata “idea” berasal dari kata bashasa Yunani “eidos” yang berarti bentuk, maka secara harfiah ideologi berarti ilmu pengetahuan tentang ide-ide atau ajaran tentang pengertian-pengertian dasar. Dengan demikian ideologi mencakup pengertian tentang ide-ide, pengertian-pengartian, dasar, gagasan-gagasan dan cita-cita. (Red; Kaelan, Filsafat Pancasila, Disusun Berdasarkan GBPD dan SAP  (Yogyakarta: Paradigma, 1996, hlm. 35).

Dialektika peradaban dunia jauh sebelumnya sudah berhasil di rekayasa oleh Samuel Huntington, seehingga teori-teori dari Huntington terseebut menggemparkan dunia. Akibatnya masyarakat dunia mengalami pro dan kontra, bahkan ada pula yang membenarkan bahwa teori tersebut akan sesuai dengan peristiwa-peristiwa era saat ini.  Sekilas sejarahnya Samuel Huntington merupakan salah satu penasihat presiden Lyndon B. Johnson dalam Perang Vietnam yang memprediksi akan terjadi benturan peradaban antara timur vs barat. dalam bukunya yang berjudul “The Clash of Civilization”. Karya Samuel Huntington, tersebut yang akhirnya menjadi rujukan utama bagi paradigma kebijakan politik hampir di seluruh dunia saat ini. Yang menurutnya pasca Perang Dingin, dunia akan lebih banyak di dominasi oleh dinamika politik yang terjadi antara peradaban (kultural) alih-alih konflik antara National State seperti yang terjadi pada Perang Dingin ( negara perang melawan negara, atau pakta melawan pakta ). Clash of Civilization merupakan anti-tesis Samuel terhadap karya Francis Fukuyama dalam The End of History and the Last Man. Tesis Francis memakai teori Hegel tentang metode Dialektika Sejarah. Meskipun sangat bertentangan dengan sabda nabi besar komunis Karl Marx tentang “the end of history“ sebagai bentuk final dari evolusi sejarah dan peradaban manusia, tetapi memakai metode yang sama, berupa dialektika historikal.

Menurut Francis bentuk finalnya adalah demokrasi liberal ala Kapitalism. Dunia pasca perang dingin antara komunisme dan kapitalisme; sebagai pemenangnya tentu saja kapitalisme sebagai ideologi yg diadopsi secara global. Namun tesis om Francis tampaknya terlalu tergesa-gesa, karena melihat tren pergerakan ekonomi Eropa daratan, Amerika Utara dan latin serta Inggris, pasca tercetusnya “ The Third Way “, sudah bergeser ke arah Sosialisme Demokratik ( SosDem ). Huntington, sudah memprediksi bahwa ketika  kapitalisme memasuki kegagalan sistem, maka pilihan yg terbaik bagi manusia adalah kembali ke fitrah asal manusia : Sosialisme. Yaitu bahwa manusia adalah sama dan sederajat.

Lalu mengapa Samuel kelihatan begitu tergesa – gesa dalam menjawab tesis Francis ? Itu karena sifat alami dari para industrialis dalam kapitalisme yang enggan mengakui kebenaran, bahwa kapitalisme pasti akan mengalami kegagalan sistem ( system failure ) dan hanya bisa disembuhkan oleh perang. Prediksi embah Marx terbukti ketika The Great Depression melanda dunia pada 1929, maka satu – satunya terapi bagi kapitalisme adalah perang. Perang Dunia II, yg sebenarnya merupakan gontok – gontokan negara imperialis dalam menata ulang pengaruh mereka terhadap dunia. Lalu perang melawan teroris-nya Bush itu adalah penyembuh buat “economic bubble” yg melanda Asia dan dunia para 1997-2000 ( krismon ).

Dan kini ketika Amerika dan dunia lagi terkena krisis akibat kegagalan bayar kredit properti dan melambungnya harga minyak di dunia, maka bisa dipastikan mesin perang Amerika akan tetap menderu, menyapu manusia yang akan semakin kehilangan asa dan daya. Dengan begitu aliran dana akan selalu terjaga perputarannya dan investasi terus meningkat. Secara kasat mata saja, yang untung adalah para penjual senjata dan para kontraktor – kontraktor Barat.

Samuel dan para ekonom dan ahli kapitalisme, tentu saja akan menyamarkan pertentangan sebenarnya dari “peradaban“ manusia. Alih – alih pertentangan ideologi dan agama seperti yg digembar-gemborkan para industrialis, sebenarnya pertentangan yg terjadi adalah pertentangan kelas antara para kapitalis dan para buruh yang telah dirampok hidupnya. Bush dan kawan – kawan selalu berkata, perang suci melawan teroris Islam, tapi toh ujung – ujungnya adalah kontrak milyaran dollar thd perusahaan – perusahaan konstruksi, minyak, senjata dan sebagainya.

Menurut Samuel, akan terjadi “ Clash of Civilization “, Clash berarti pertentangan/benturan, jadi akan ada semacam pertentangan antara peradaban yg merupakan sebuah entiti kultural menggantikan entitas negara yg konvensional. Akan ada sekitar 8-10 peradaban besar yg nantinya akan mendominasi dinamika politik dan konflik di dunia. Masing-masing entitas “peradaban“ tersebut memiliki dinamika sejarah yg bergesekan dengan entiti lainnya. Barat misalnya, memiliki persengketaan dengan dunia Islam, Sino, sedikit dengan Hindu dan Orthodox dan sedikit sekali dengan Amerika Latin dan Afrika. Dan Islam-lah yg memiliki hubungan persengketaan terbanyak, dengan Barat, Orthodox dan lain-lain Pemikiran mbah Samuel ini rupanya begitu mempengaruhi dinamika sejarah dan politik saat ini, dimana pasca teori itu diserap ke dalam mindset Gedung Putih, tak ada hujan tak ada angin tiba – tiba. Amerika memiliki musuh baru bernama Islam, setelah Blok Timur loyo pada akhir 1980-an.

Teori Pembenaran
Pemikiran Samuel ini lahir ketika dunia sedang dilanda kecamuk perang – perang “menghabisi“ Blok Timur. Di Persia, Irak disikat, di Balkan, Yugo dipretelin dan Amerika Latin diobok-obok. Tahun 1991 Amerika menyerbu Iraq dalam rangka menggulingkan si “Nebuchadnezzar wannabe”, Saddam Husein.

Sehingga sebagai seorang yang ikut andil dalam berbagai kebijakan luar negeri Amerika. Huntington, tentunya berupaya keras menyediakan landasan “teologis“ mengapa Amerika “harus“ menyerbu Irak. Dan kebetulan Irak merupakan salah satu negara Islam yang memiliki militer kuat. Ditambah lagi pada 1988, lahir sebuah gerakan fundamental Islam Al-Qaeda yg didirikan oleh Usamah bin Ladin sebagai reaksi akan penyerbuan Amerika ke negara Islam.

Trend fundamentalisme inilah yang rupanya dibaca Samuel sebagai bangkitnya kekuatan Islam yg nantinya akan menjelma sebagai kekuatan adidaya, sebagai sebuah peradaban. Para akademisi dan ahli di seluruh dunia mengkritisi dan mengutuk karya tersebut sebagai pemikiran yang meracuni dunia. Tesis Samuel yang sangat mirip dengan pemikiran kuno pada masa Medieval (abad pertengahan) ketika dunia masih dianggap datar dan kalau anda berlayar ke tepian dunia, maka nanti bisa jatuh ke bawah, dimakan ama buto ijo. Hehehehe

Teori Geosentris
Geosentris menganggap bahwa “peradaban “ manusia terbagi menjadi 2 : barat dan timur. Peradaban Eropa Kristen-Katholik adalah peradaban barat, karena waktu itu belum ada kapal yg mampu menembus cakrawala barat, karena dihalangi oleh Samudra Atlantik yang ganas. Sedangkan kalau ke timur maka akan sampai pada peradaban – peradaban besar seperti : Persia, Judea, Mesir, Cina, India, Jepang, Jawa dan Maluku. Dimana rempah – rempah, kemenyan ( incense ), kayu manis ( cinnamon ), kepulaga, sutera, batu Jade dan lain – lain diperdagangkan lewat Jalur Sutera yg telah ada sekitar abad 2. Atas dasar pemikiran seperti itulah bangsa Eropa membentuk sebuah paradigma berpikir yg primordial yang picik. Padahal kalo bisa mengarungi samudra ke barat dia juga akan sampai juga ke “timur“. Baru abad 15 -16 teori itu runtuh ketika ekspedisi – ekspedisi Bruno Diaz, Magellan dan Cano berhasil melakukan perjalanan mengelilingi bumi (Earth Circumambulation).
Ide bahwa Eropa adalah peradaban Barat dan Asia adalah peradaban Timur, sampai kini tetap digunakan, walau sebenarnya hal ini sudah tidak valid lagi, khan baratnya orang Amerika itu orang Asia Pasifik? Bagaimana? Ide yg keliru itu juga menyangkut tentang strukturalisme peradaban manusia, dimana juga terjadi pembagian kasar antara barat dan timur. Paradigma peradaban timur yg dipunyai oleh orang – orang Eropa adalah sebuah peradaban yg barbarik, kejam, kanibal, idiot, terbelakang dan lain – lain. Padahal peradaban barat jauh tertinggal dengan peradaban besar Asia waktu itu, bahkan banyak penemuan -penemuan berasal dari timur. Sepak bola saja sudah ada di Cina dan Jepang, sewaktu orang Eropa masih hidup nomadik. Peradaban barat baru bisa unggul ketika menguasai ilmu membuat mesiu dan senapan. Hal ini turut diperkuat oleh cerita -cerita ngibul yang dibawa pengelana – pengelana Eropa yg menggambarkan Asia dengan berbagai macam versi. Yang terkenal tentu saja si Marco Polo yang menceritakan bahwa Xanadu di Cina dipenuhi dengan jalan – jalan emas.

Konsep Teori Benturan Peradaban
Pemikiran Samuel jelas sekali terpengaruh oleh pemikiran Arnold J. Toynbee, yang membagi dunia barat dan timur, Kristen dan Pagan. Terutama kemungkinan bangkitnya kekuatan Islam sebagai “peradaban“ yg solid. Hal ini tentu saja diwarisi oleh kenangan super pahit Eropa (terutama Inggris dan Perancis) pasca kekalahan Perang Salib melawan pasukan Islam. Paradigma barat-timur-kristen-pagan itulah yang bahkan tetap terjaga di dalam benak orang – orang Amerika dan Inggris, terutama pada “ the ruling Plutocracy “ Kristendom. Pada PD II Eisenhower menjuluki perang melawan NAZI adalah melawan paganis Eropa, yang padahal sebelumnya merupakan sekutu mereka melawan Uni Soviet yang komunis.

Banyak ahli menganggap karya Samuel ini sangat tendensius, pengingkaran dan penyangkalan historis (ahistoris), mengada-ada, terlalu primordial, tentu saja sangat naif. Dalam dunia yang semakin mengglobal dan bervarian, pemikiran Samuel justru terlempar jauh ke belakang seribu tahun. Pembagian peradabannya adalah :

1. Barat : Sang pemenang dalam teori ini
2. Islam : Semua negara yang berbau islam
3. Orthodox : Penganut kristen orthodox
4. Hindu : India
5. Sino :Rumpun Cina, termasuk Cina Diaspora, Korea, Vietnam, Singapura dan negara2 lain yg mayoritas merupakan etnik Cina.
6. Jepang
7. Afrika
8. Buddha : Thailand, Myanmar, Laos, Tibet
9. Amerika Latin: Katholik yang sinkretik dengan kepercayaan lokal, terutama animisme-dinamisme.
10. Alone, solitaire dan unique civilization, seperti Israel, Caribia dan lain-lain.

Ada beberapa kelemahan dari klasifikasi diatas. Adalah tidak disebutkannya ideologi Kristen Protestan. anehnya malah disebut sebagai barat tidak disebut sebagai peradaban Kristen, sekalipun merupakan Kristendom terbesar di dunia, dipengaruhi secara kuat oleh doktrin – doktrin Kristen Protestan. Hal ini sungguh aneh, mengingat Samuel menyebutkan peradaban lain ada yang Islam, Hindu, Buddha dll.

Selanjutnya adalah terminologi yang sangat subyektif (prejudice) adalah Kristen Orthodox. Kristen Orthodox adalah semua domain yg berbasiskan Kristen Orthodox, mulai dari Balkan sampai Slavia. Aneh bin ajaib hampir semuanya kebetulan juga merupakan negara – negara komunis, jadi yg benar peradaban Orthodox atau peradaban komunis nih?

Sedangkan mengenai peradaban – peradaban kultural macam Afrika, Amerika Latin dan yang lainnya, flux sejarahnya tidak terlalu signifikan. Afrika dan Amerika Latin belum menjadi entiti yg homogen (misal : belum terciptanya masyarakat Uni Afrika atau Uni Latin), dan dalam sejarah hanyalah koloni – koloni peradaban lain, jadi bisa dibilang sub-peradaban. Dan jangan lupa Samuel, sama seperti orang Eropa-Amerika, selalu beranggapan Afrika dan Latin itu merupakan sebuah kesatuan kultural yang sama, padahal sebenarnya, terdiri dari ras – ras dan etnik – etnik yg berbeda-beda. Dalam hal ini Samuel menyajikan fakta yang agak keliru.

Khusus Jepang, bisa dimasukkan sebagai sebuah peradaban (tercatat dalam sejarah memiliki dinamika sejarah yg masif dan panjang, juga terdiri dari satu entiti kultural yg homogen), tapi yang perlu dicatat juga adalah sepertinya Samuel bertendensi melakukan pendiskreditan terhadap Jepang yang kini sebagai kekuatan ekonomi sebagai rival Amerika.

RRC dan Rusia
Ancaman terbesar yang nyata saat ini sepertinya datang dari rival lawas blok barat yaitu RRC dan Rusia. Konflik militer seringkali dipicu oleh kedua kekuatan ini. Contohnya Irak, Iran, Afghan dan Pakistan, biarpun merupakan negara yang berbau islam, tetapi merupakan sekutu alami dari Russia, terutama dalam hal pasokan senjata. Kampanye Amerika di Asia Tengah adalah usaha untuk membuka pasar – pasar yang dulunya dikuasai oleh Uni Soviet.

Namun demi untuk tidak secara frontal berhadapan dengan Russia, maka Blok Barat menjadikan Islam sebagai sasaran antara. Sampai kini krisis Iran tak kunjung padam karena Russia dan RRC menjadi sekutu yg mendukung Iran baik secara teknis maupun politis di DK PBB. Mengapa negara – negara Islam lebih bisa bersekutu dengan Russia? Karena masih sama – sama tertinggal, bahwa Islam (oknum ya!) dan Russia lebih cenderung mengadopsi totaliter/fasisme daripada demokrasi. Di samping itu memang Sosialisme pernah menjadi kredo populer yg di dunia Arab dan Islam.

RRC dan Russia mempunyai kekuatan militer terbesar di dunia, dengan rudal balistik yg banyak yg bisa dipasangi nuklir. Ditambah dengan semakin menguatnya industrialisasi murah meriah di sana yg menyebabkan kemajuan ekonomi dan teknologi juga semakin imbang. Jika Uni Soviet dan RRC Maois dulu runtuh karena keroposnya ekonomi, kini tidak lagi, bahkan kini pertumbuhan ekonominya cenderung lebih unggul dari negara Eropa dan Amerika Utara.

Sehingga menjadikan Russia dan RRC sebagai negara industrialisasi yang mapan ekonominya sehingga bisa menopang kekuatan militernya. Ditambah dengan totaliter yg masih kuat mencengkram paradigma kenegaraan RRC dan Russia maka akan berpotensi menciptakan “ NAZI Jerman “ baru yg saat membutuhkan Lebensraum maka tidak segan2 mencaplok teritori tetangganya. Jadi saat ini, dibanding Islam, RRC dan Russia jauh lebih mengkuatirkan keberadaannya.

Dimana Posisi Islam
Islam sendiri bagaimana? Islam saat ini masih terjebak pada domain ras, aliran, mahzab dan kultur, tidak pernah bisa dipersatukan secara kohesif. Sejarah politik kekuasaan Islam terbagi menjadi beberapa domain, yaitu : Jazirah Arab, Asia Tengah, Afrika, Turki dan Melayu. Dan seringkali malah berperang sendiri. Ikatan kredo yg mengikatnya tidak terlalu kuat setelah era Khalifaturrasyidin.

Apalagi jika sudah masuk dalam pembahasan – pembahasan krusial, mengenai ritual dan hukum, sulit berkompromi. Karena bagaimana pun, kultural jauh lebih mendominasi daripada kanonikal. Yang ada secara faktual adalah penguasaan domain dalam sebuah dinasti yang kebetulan memakai Islam sebagai dasar kredo mereka. Bahkan sejak awal berdirinya Islam dibawah nabi Muhammad SAW sudah terjadi pemberontakan yg enggan dikuasai oleh orang Arab. Dan kemudian sejarah Islam dipenuhi dengan pemberontakan – pemberontakan berdarah, khalifatur rasyidin, Ummayad, Abbasid, Seljuk, Ottoman, Cordoba.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

ISIS Tak Berani Menyentuh Perusahaan yang …

Andi Firmansyah | 11 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 12 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 12 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 15 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Buzz!!! Apa Sih Maumu? …

Lipul El Pupaka | 7 jam lalu

Bersikap Bijak Ketika Harga Elpiji Melonjak …

Sam Leinad | 8 jam lalu

Kicau Cendrawasih Tersisih …

Ando Ajo | 8 jam lalu

Melihat Perjuangan Rakyat Bali Mengusir …

Herdian Armandhani | 8 jam lalu

Belajar Open Mic Matematika …

Andi Setiyono | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: