Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Kusaeri di Cilacap: Pahlawan atau Pengkhianat?

REP | 31 January 2013 | 08:54 Dibaca: 2270   Komentar: 3   0

Ketika ditanya murid, jadi guru sejarah itu enak dan menyenangkan tidak ?

Kenapa begitu ? di mata murid, pelajaran sejarah itu membosankan …
lha gurunya saja bosan, kalau harus menerangkan mengenai angka-angka tahun. Maka atas pertanyaan murid iru, jawabanku adalah : Tahun itu tak harus dihafalkan, tetapi akan otomatis teringat, dengan mengetahui dan memahami peristiwa yang terjadi.

Sejarah adalah peristiwa yang sudah terjadi di masa lampau, dengan prinsip 5 W + H questions

Sekarang diminta mengisi majalah sekolah dengan tema sejarah tentang Cilacap.

Apa yang bisa di ceritakan tentang Cilacap secara umum, yang bisa dikenal secara nasional ? Maka yang ada dalam pelajaran sejarah, adalah tokoh Kusaeri, seorang komandan regu PETA

Artikel singkat ini akan membahas

1. Latar belakang pembentukan PETA

2. Peran PETA dalam kaitannya dengan perjuangan mencapai kemerdekaan

3. Pemberontakan PETA di Gumilir - Cilacap

13595972091327797815

v Latar belakang pembentukan PETA

PETA (Pembela Tanah Air) resmi didirikan pada tanggal 3 Oktober 1943, menjelang berakhirnya latihan kemiliteran angkatan kedua dari Heiho. Jumlah personil 66 Batalion di Jawa 3 Batalion di Bali Sekitar 20,000 personel di Sumatera Markas Bogor, Jawa. Pada saat itu keluar perintah dari Panglima Letnan Jenderal Kumakici Harada kepada Tokubetsu Han untuk membentuk Tentara PETA. Namun, pemerintah Jepang mempunyai inisiatif agar pembentukan Tentara PETA tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga seolah-olah merupakan usulan dari rakyat Indonesia. Selanjutnya dipilihlah Gatot Mangukupraja, seorang nasionalis yang bersimpati kepada Jepang, dalam hal ini Gatot ditugaskan untuk mengajukan permohonan kepada Gunseikan (kepala pemerintahan militer Jepang) supaya dibentuk tentara PETA yang anggotanya terdiri dari rakyat Indonesia saja. Kemudian pada tanggal 7 September 1943, Gatot Mangukupraja mengirimkan surat permohonan kepada Gunseikan, tidak lama kemudian permohonan itu dikabulkan oleh pemerintah Jepang dengan peraturan yang disebut Osamu Seirei No. 44, tenggal 3 Oktober 1943.

Tujuan awal dari pembentukan organisasi PETA tersebut adalah untuk memenuhi kepentingan peperangan Jepang di Lautan Pasifik, yakni Membela Indonesia dari serangan Blok Sekutu. Ada pendapat lain bahwa pembentukan PETA merupakan strategi Jepang untuk membangkitkan semangat patriotisme dengan memberi kesan bahwa usul pembentukan PETA berasal dari kalangan pemimpin Indonesia sendiri. Namun dalam perkembangan selanjutnya, PETA justru sangat besar manfaatnya bagi bangsa dan Negara Indonesia untuk meraih kemerdekaan.

Organisasi PETA tidak secara resmi menjadi bagian dari balatentara Jepang melainkan dimaksudkan sebagai pasukan gerilya pembantu guna melawan pihak sekutu dalam perang Asia Pasifik. Korps perwiranya meliputi para pejabat, para guru, para kyai dan orang-orang Indonesia yang sebelumnya menjadi serdadu kolonial Belanda. Di antara mereka adalah seorang bekas guru sekolah Muhammadiyah yang bernama Soedirman, yang kemudian akan menjadi seorang tokoh militer terkemuka pada masa revolusi. Disiplin PETA sangat ketat dan ide-ide nasionalis Indonesia dimanfaatkan dalam indoktrinasi.


v Peran PETA dalam Memperjuangkan Negara Indonesia

Perhatian dan minat dari para pemuda Indonesia ternyata sangat besar, terutama para pemuda yang telah mendapatkan pendidikan di sekolah menengah dan yang telah bergabung dengan Seinendan. Di dalam PETA terdapat Lima macam tingkat kepangkatan, yaitu

1. Daidanco (komandan batalyon), dipilih dari tokoh-tokoh masyarakat seperti pegawai pemerintah, pemimpin agama, pamongraja, politikus, dan penegak hukum

2. Cudanco (komandan kompi), dipilih dari kalangan yang sudah memiliki pekerjaan namun masih belum mencapai pangkat yang tinggi, seperti guru dan juru tulis.

3. Shodanco (komandan peleton), dipilih dari kalangan pelajar sekolah lanjutan pertama atau sekolah lanjutan atas.

4. Budanco (komandan regu), dipilih dari kalangan pemuda yang pernah bersekolah dasar

5. Giyuhei (prajurit sukarela) dari kalangan pemuda yang belum pernah mengenyam pendidikan.

Para anggota PETA mendapat pendidikan militer di Bogor pada lembaga Jawa Boei Giguyun Kanbu Renseitai (Korps Latihan Pemimpin Tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Jawa).

Nama pendidikan itu kemudian berubah menjadi Jawa Boei Giguyun Kanbu Kyoikutai (Korps Pendidikan Pemimpin Tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Jawa).

Setelah mendapat pendidikan itu kemudian para tentara PETA ditempatkan pada daidan-daidan yang tersebar di Jawa, Madura, dan Bali.

Sumbangsih dan peranan tentara PETA dalam masa Perang Kemerdekaan Indonesia sangatlah besar. Demikian juga peranan mantan Tentara PETA dalam kemerdekaan Indonesia.

Beberapa tokoh yang dulunya tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden Soeharto dan Jendral Besar Soedirman.

Mantan Tentara PETA menjadi bagian penting pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI), mulai dari Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga TNI.

Untuk mengenang perjuangan Tentara PETA, pada tanggal 18 Desember 1995 diresmikan monumen PETA yang letaknya di Bogor, bekas markas besar PETA.

v Pemberontakan PETA

Dalam perkembangannya, beberapa anggota PETA mulai kecewa terhadap Balatentara Jepang, hal ini dikarenakan pemerintah Jepang yang semula memberikan janji masa depan yang cerah bagi rakyat Indonesia, namun pada kenyataannya justru membuat rakyat Indonesia semakin sengsara. Sehingga timbullah pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh para anggota PETA.

1359596981882860772

Perlawanan PETA di Gumilir, Cilacap (21-25 April 1945)

Pemberontakan di Blitar 29 Februari 1945 yang dipimpin oleh Syudancho Supriyadi adalah pemberontakan yang paling besar terjadi di dalam PETA, akan tetapi menurut perkiraan telah terjadi pemberontakan lainnya yang lebih kecil, yang disembunyikan oleh Jepang. Di Gumilir, di luar Kota Cilacap, ditempatkan satu Cudan (kompi) PETA dari daidan Cilacap yang dipimpin oleh Sutirto. Pemimpin regu (Budanco) Kusaeri bersama-sama dengan Suwab, Wasirun, Hadi, Mardiyono, Sarjono, Udi, S. Wiryosukarto, Taswan dan Sujud tampil memelopori pemberontakan tersebut. Setelah Kusaeri dengan teman-temannya bersepakat untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang, terlebih dahulu ia mendatangai orang Kyai yang terkenal di daerah itu guna mendapatkan bantuan batin, yaitu Kyai Bugel di Lebeng daerah Cilacap, Kyai Juh di di Rawalo dan Kyai H. Muhammad Sidik di daerah Banjarnegara.

Kusaeri menerima wejangan-wejangan dan benda-benda yang dipandang mengandung nilai magis. Dalam pertemuan Kusaeri dengan kawan-kawannya pada tanggal 5 April 1945 di belakang gudang amunisi diputuskan bahwa pemberontakan akan dimulai pada tanggal 21 April 1945 pukul 23.00. Sesuai dengan rencananya, anggota bagian persenjataan yang bersikap ragu-ragu lalu disergap dan diikat kedua tangannya sehingga gudang senjata dapat dibukanya.

Sejumlah 215 orang PETA lengkap dengan persenjataan dan amunisinya bergerak ke luar asrama PETA Gumilir menuju Gunung Srandil yang akan digunakan sebagai basis gerakannya.

Jepang berpendapat bahwa pemberontakan itu telah diketahui oleh Daidanco PETA Kroya, Sudirman.

Oleh karenanya, Sudirman diperintahkan untuk berangkat bersama opsir Jepang guna memadamkan pemberontakan tersebut. Namun, Daidanco Sudirman bersedia membantu dengan syarat :

1. Kampung-kampung yang dipergunakan sebagai tempat persembunyian Kusaeri dan kawan-kawannya tidak boleh ditembaki.

2. Prajurit-prajurit PETA yang menyerah tidak boleh disiksa.

Kemudian pihak Jepang menerima dan menjamin persyaratan tersebut. Akhirnya Sudirman menuju ke tempat para pemberontak bersama opsir-opsir Jepang.

Pada tanggal 25 April 1945 Kusaeri tertangkap di Desa Adipala dalam perjalanan menuju Cilacap. Ia diikat dan ditelungkupkan dalam mobil dengan dua orang Jepang duduk di atas punggungnya.

Selama dua minggu di Cilacap ia terus menerus diperiksa oleh Jepang, kemudian pada tanggal 10 Mei 1945 Kusaeri dengan 18 orang temannya termasuk Kyai Bugel di bawa ke Jakarta oleh Jepang. Kusaeri divonis hukuman mati tetapi tidak terlaksana karena Jepang terdesak oleh Sekutu. Sedangkan lainnya ada yang dihukum seumur hidup dan hukuman 15 tahun penjara, diantara mereka ada yang menderita lumpuh di dalam tahanan.

Permenungan :

1. Budanco Kusaeri itu pejuang atau pengkhianat ?

2. Mengapa tak banyak dokumentasi tentang peristiwa pemberontakan PETA di Cilacap ?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 2 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 3 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 4 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 7 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kesaksian Terakhir …

Arimbi Bimoseno | 8 jam lalu

Topik 121 : Persalinan Pervaginam Pd Bekas …

Budiman Japar | 9 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Transjakarta: Busnya Karatan, Mental …

Gunawan Eswe | 9 jam lalu

Kematian Tanpa Permisi …

Anita Desi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: