Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Mulla Kemalawaty

Saat ini penulis aktif di Forum Lingkar Pena Aceh. Ibu rumahtangga dengan empat anak ini selengkapnya

Tradisi Hanami, dari Ume ke Sakura

REP | 07 February 2013 | 09:27 Dibaca: 563   Komentar: 0   0

Negeri Jepang identik dengan sakura. Setiap sakura mekar, orang Jepang beramai-ramai menyaksikan keindahannya. Mekarnya sakura merupakan lambang telah tibanya musim semi. Mereka punya tradisi yang dinamakan “hanami”. Hanami berasal dari kata “hana” yang berarti “bunga”, dan “miru” yang berarti “melihat”. Jadi hanami berarti “melihat bunga”. Tradisi hanami merupakan tradisi Jepang dalam menikmati keindahan bunga, khususnya sakura. Rombongan demi rombongan berpiknik menggelar tikar dan duduk-duduk di bawah pepohonan sakura. Umumnya mereka membawa bento atau bekal makanan yang dipersiapkan dari rumah. Semuanya bergembira. Ada kelompok keluarga, kelompok perusahaan, organisasi, sekolah dan lain-lain.

13602037001211871318

Deretan pohon ume (Prunus mume) di Sendai/ foto: Budiyati Nugroho

Namun sebenarnya istilah hanami pada awalnya adalah upacara melihat bunga ume (Prunus mume), bukan sakura. Tradisi ini dimulai jauh sebelum periode Nara (710-784) dan berlangsung hingga periode Heian (794-1185).
Menurut kisah sejarah, kebiasaan hanami dipengaruhi oleh raja-raja Cina yang gemar menanam pohon ume di sekitar istana mereka. Di Jepang para bangsawan pun kemudian mulai menikmati mekarnya bunga ume, yang dinamakan Ume Matsuri (Festival Ume). Tempat yang populer di Tokyo untuk melihat Ume Matsuri adalah Kuil Yushima Tenjin, Kosihikawa Korakuen dan Hanegi Park di Setagaya.

Sejak periode Heian (794-1185) sakura lebih menarik untuk dilihat. Saat Kaisar Saga memimpin, tradisi melihat bunga ume diganti menjadi tradisi melihat bunga sakura dan akhirnya hanami sinonim dengan sakura.  Istilah hanami sebagai “cherry blossom viewing” pertama kali terkenal pada periode Heian dalam novel Tale of Genji.

13602039511329049216

Selamat tinggal musim dingin

Di masa lalu, hanami adalah sebuah proses meditasi dan ritual. Mekarnya bunga ume menandakan kasih sayang para dewa telah tiba. Saat musim dingin berakhir, dewa turun ke pohon-pohon, dan kemudian ke ladang pertanian untuk memberi rezeki makanan bagi manusia.

Tradisi hanami merupakan perlambang kebersyukuran masyarakat Jepang pada sang Dewa.   Mereka melakukan upacara minum teh, dan kadang memberi persembahan. Mereka juga berdoa agar panen berhasil dengan baik.

Tapi sayangnya, makna hanami telah mengalami pergeseran. Jika dulu hanami merupakan sarana kontemplasi pada Sang Pencipta, sekarang tidak lagi. Anak-anak muda sekarang yang lebih tertarik pada senang-senang dan pestanya, daripada memikirkan makna hanami sebenarnya. Ada pepatah Jepang yang berbunyi, “hana yori dango“, yang artinya kira-kira, makanan lebih penting daripada esensi melakukan hanami. Banyak anak muda yang membawa sake dan minum-minum hingga mabuk. Tentu hal ini bukan esensi dari hanami.

Pada tahun 2012, terlihat suasana yang berbeda di Kuil Yushima Tenjin. Selain mengagumi bunga ume, sebagian besar pengunjung berkontemplasi dengan khusyuk. Mekarnya ume tahun 2012 ini juga menandai peringatan satu tahun bencana gempa bumi Tohoku Maret 2011. Oleh karena itu, banyak terlihat orang yang merenung dan menundukkan kepala.

Referensi:
http://junantoherdiawan.com/2012/03/03/ume-matsuri-tradisi-tertua-melihat-bunga-di-jepang/
http://mungq-midori.blogspot.com/2011/04/hanami-cherry-blossom-viewing.html
http://animejugo.blogspot.com/

Sumber foto:
http://banyumili.multiply.com/photos/album/264/Menikmati-Bunga-Ume-di-Kebun-Tetangga

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Endah Kreco, Kartini dari Keong Sawah …

Junanto Herdiawan | | 21 April 2014 | 07:31

Mempertanyakan Kelayakan Bus Transjakarta …

Frederika Tarigan | | 21 April 2014 | 10:22

Cara Menghadapi Lansia (Jompo) Pemarah …

Mohamad Sholeh | | 21 April 2014 | 00:56

Danau Linow Masih Mempesona …

Tri Lokon | | 21 April 2014 | 07:01

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 2 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 3 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 4 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 6 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: