Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Sunarto Tjiptosuwarso, yang Terlupakan

OPINI | 05 April 2013 | 07:01 Dibaca: 338   Komentar: 0   1

Bagi mereka yang menjadi pekerja seni dalam kebudayaan Jawa, khususnya karawitan, nama Sunarto Tjiptosuwarso tidak asing lagi. Tetapi saya sendiri baru secara sungguh-sungguh mengenal dan mencoba mencari tahu sekitar tahun 2002. Waktu itu saya mulai senang mendengarkan kaset rekaman gending-gending Jawa dan secara agak serius mencoba belajar dasar-dasar kerawitan melalui buku dan internet yang waktu itu mulai banyak diakses. Hanya senang saja dan tidak ada ambisi untuk menjadi empu atau sarjana karawitan. Nama ini saya temukan dalam rekaman gending-gending Jawa, yang paling banyak adalah produksi Kusuma Record. Saat saya masih kecil dan sampai waktu itu, kebanyakan kaset kebudayaan Jawa yang bisa saya peroleh adalah produksi Fajar Record, kalau tidak keliru ini adalah sebuah perusahaan rekaman komersial di Semarang.

Gending Jawa yang paling sering saya peroleh adalah rekaman kaset Ki Nartosabdo, yang ibu saya juga menggemari, terutama gending-gending kreasi baru dan kaset Nyi Tjondrolukito. Ketika mulai senang mengoleksi kaset karawitan sejak 2002 itulah saya mulai tahu dan kemudian ingin tahu lebih lanjut soal Sunarto Tjipto Suwarso ini.

Sunarto Tjiptosuwarso adalah penggiat karawitan. Mempunyai rekam jejak panjang dalam kegiatan dan kreativitas gending-gending Jawa. Ia mampu menabuh semua gamelan Jawa, tetapi dari bacaan yang saya peroleh dan sangat terbtas informasinya, yang bersangkutan paling jago ketika memainkan bonang dan rebab. Bonang, dalam susunan pentas karawitan adalah instrumen penting yang menuntut penabuhnya hafal seluk beluk gending Jawa karena fungsinya acapkali sebagai pembuka nada. Sedangkan rebab, instrumen gamelan jenis gesek tersebut, untuk daapat memainkan secara prima juga sulit. Lantunan nadanya lembut dan mendayu-dayu, tetapi tidak dominan diantara instrumen lain, sehingga jika tidak bagus memainkannya irama alat musik ini akan tenggelam ketika orkestra karawitan dimainkan. Tetapi, bagi Sunarto, alunan rebab menjadi jelas sekali (dalam bahasa Jawa istilahnya “pleng”, dengan intonasi huruf e seperi dalam kata “senang”).  Bahkan bagi yang jeli, gesekan rebab Sunarto seperti menuntun vokalis perempuan atau sindhen untuk melantunkan cengkok dan syair-syairnya.

Sunarto lahir tahun 1921 di Masaran, Sragen dari keluarga petani tetapi senang dengan gamelan Jawa. Lama-lama Sunarto, yang akrab dipanggil Pak Tjip ini, senang karawitan dan kadang-kadang sekolah pun agak terabaikan, sehingga hanya mampu menyelesakan pendidikan setingkat SD. Sejak remaja sudah bergabung dengan grop karawitan pengiring seni kethoprak yang berpentas dari satu wilayah ke wlayah yang lain. Keikutsertaan dalam kethoprak inilah yang kemudian secara otodidak mengasah ketajaman kemampuan Sunarto dalam mencipta dan memahami komposisi gending Jawa. Kemampuan dalam karawitan inilah yang membawa Sunarto menjalin hubungan yang akrab dengan pengendang paguyuban wayan orang Ngesti Pandhowo Semarang, yaitu Ki Nartosabdo, kelak menjadi dalang yang terkenal dan kreator gending-gending Jawa. Pelaku seni menjuluki keduanya sebagai Narto Gede untuk Ki Nartosabdo dan Narto Cilik untuk Sunarto.

Saat peran Ki Nartosabdho mulai menjulang sebagai dalang wayan kulit dan kemudian di tahun 1969 membentuk group karawitan bernama “Condong Raos”, maka Sunarto tergabung di dalamnya dan terutama sebagai penabuh rebab. Sunarto sering diajak bertukar pikiran mengenai gending Jawa oleh Ki Nartosabdho. Menurut kesaksian Nyi Ngatirah, pesinden kondang dari Semarang, bersama sang dalang Sunarto bersama-sama menggubah gending kreasi baru seperti lelagon “Mbok Ya Mesem” dan “Jago Kluruk.” Tetapi banyak yang tidak mengetahui karena tenggelam di balik kebesaran Ki Nartosabdo. Sunarto mengiringi saat pentas maupun rekaman gending Jawa, termasuk ketika group Karawitan “Conding Raos” berkoaborasi rekaman dengan pelawak kondang dari Yogyakarta, Basiyo. Gaya gesekan rebab Sunarto yang memkat itu ada antara lain dalam album “Basiyo Mblantik” dan “Maling Kontrang Kantring.” Sunarto bergabung dalam “Condong Raos” dalam kurun waktu 1969-1976.

Karier Sunarto selanjutnya menjadi tenaga kesenian RRI Surakarta dengan status pegawai kontrak sampai kemudian saat Ali Murtopo menjadi Menteri Penerangan ditahun 1978, ia diangkat sebagai pegawai negeri. Saat itu, perusahaan rekaman milik negara Lokananta sejak tahun 1972 beralih dari memproduksi piringan hitam ke pita kaset. Terutama sekali untuk memenuhi kebutuhan siaran di RRI seluruh Indonesia, diadakan rekaman gending Jawa. Pada posisi inilah karier Suarto melejit. Terutama ketika group karawitan RRI Surakarta dipimpin oleh Turahjo, peran Sunarto menonjol. Ia dipercaya menjadi sutradara dan penata gending. Dari puluhan album rekaman oleh Lokananta itu dapat disaksikan kepiawaian Sunarto sebagai komposer karawitan. Misalnya dalam album “Pangkur Campursari”, selama satu jam pendengar secara harmonis diperdengarkan gending Pangkur dalam bermacam-macam variasi dan bergantian dalam nada pelog dan slendro. Album dengan gaya semacam ini dijumpai  dalam tajuk “Kutut Manggung” dan “Gambir Sawit.” Ciri khas reportoar karawitan Sunarto adalah menempatkan vokal peisndhen sebagai garda terdepan, maka tidak heran jika dalam sejumlah album, lantunan gamelan diselingi dengan vokal pesindhen sebelum dilanjutkan ke tata gending berikutnya.

Sunarto juga menyelipkan atau menampilkan gending-gending Jawa kreasinya dalam susunan gending rekaman tersebut. Misalnya lagu “Gulo Klopo”, “Tahu Tempe”, dan langgam Cengkir Wungu. Sunarto juga menggubah langgam “Babon Angrem”, yang syairnya anjuran untuk mengikuti program KB. Tidak kalah terkenal adalah Ketawang Gondong Kasih. Gending ini berarti “hitam dan putih” menggambarkan suasana keidupan Sunarto  yang merasa dirinya berkuit hitam tapi memperoleh isteri perempuan berkulit putih. Sebagai variasi, Sunarto tak segan memasukkan gending-gending yang umum dimainkan dalam pertunjukkan wayang atau kethoprak seperti misalnya Kinanti Pawukir, yang acap dipakai oleh tokoh Gathutkaca saat menyatakan cinta kepada Pergiwa. Juga gaya kendangan yang ditampilkan kadang-kadang menampilkan gaya kendangan Mataraman atau gaya Yogyakarta. Sunarto nampaknya tidak terlalu suka terikat pembedaan gaya Solo-Yogya yang di masa itu dipertentangkan secara tajam.

Sejak tahun 1976 Sunarto juga bekerjasama dengan perusahaan rekaman Kusuma Record. Ia mengajak sebagian koleganya di RRI Surakarta untuk melaksanakn rekaman dan membentuk group karawitan yang diberi nama “Riris Raras Irama.” Puluhan album pun telah dilahirkan dari kerjasama dengan khas dan gaya komposer yan mlai dikenal masyarakat saat itu. Dan sampai sekarang baik peoduksi Lokananta dan Kusuma Reord, juga label lain seperti Dahlia Record, masih diproduksi ulang.

Di samping aktif di RRI Surakarta, Sunarto menyempatkan diri untuk melatih kelompok karawitan yang dbentuk oleh masyarakat umum. Dalam melatih itu Sunarto mempunyai gaya yang unik.  Ia akan mendengarkan dari jarak jauh atau dari ruangan lain, lalu memberitahukan kekurangan atau kesalahan yang perlu diperbaiki supaya pentas karawitan dapat berlangsung dengan sempurna. Dalam pentas gamelan Sekaten Kasunanan Surakarta, Snarto berperan serta sebagai penabuh bonang, karena ia mempunyai kemampuan dan reputasi hafalan gending yang tidak terhitung jumlahnya.

Sunarto pensiun dari RRI Surakarta pada tahun 1982 dan kemudian tak lama setelah itu meninggal dunia.

Sunarto tidak hanya sebagai pekerja seni yang handal, terutama dalam memainkan rebab dan bonang, tetapi juga amat memperhatikan kaderisasi. Deretan pesindhen kondang di masa itu seperti Supadmi, Ngatirah, Sutantinah, Tukinem, dan Tugini, adalah hasil tempaan Sunarto terutama sekali saat rekaman gending Jawa. Terbukti para pesindhen itu kelak dan sampai sekarang dikenal sebagai pesindhen mumpuni yang menjadi panutan genrasi berikutnya.

Saya sama sekali tidak mengenal Sunarto, tetapi dari penelisuran saya yang amat terbtas, bagi saya Sunarto layak dicatat sebagai perintis dan pengemban seni Jawa yang tangguh. Saya berharap, terutama pekerja seni, ada yang tergugah untuk menggali dan memasyarakkan karya-karya Sunarto lebih lanjut. Tulisan ini saya susun darisudut pandang penggemar, tidak lebih, dan tidak melalui riset yang mendalam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Keluarga Pejabat dan Visa Haji Non Kuota …

Rumahkayu | | 30 September 2014 | 19:11

Me-“Judicial Review” Buku Kurikulum …

Khoeri Abdul Muid | | 29 September 2014 | 22:27

Spongebob dalam Benak Saya …

Ire Rosana Ullail | | 30 September 2014 | 16:48

Sepak Bola Indonesia Kini Jadi Lumbung Gol …

Arief Firhanusa | | 30 September 2014 | 15:58

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 9 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 11 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 13 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 14 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Smartphone dan Pribadi Boros Energi …

Dian Savitri | 8 jam lalu

Gerakan Indonesia Menulis; Mencari Nilai …

Rendra Manaba | 8 jam lalu

Pegawai BRI Beraksi Bak Debt Collector …

Rusmin Sopian | 8 jam lalu

Tradisi dan Teknologi …

Susy Haryawan | 8 jam lalu

Pisah Sambut Kejari Singaparna …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: