Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Gito Gati, Seniman Tak Lekang Waktu

REP | 07 April 2013 | 05:34 Dibaca: 1004   Komentar: 0   0

1365259799214601244

Salah satu bentuk kesenian Jawa yang sangat terekam dalam memori saya adalah Kethoprak, dan dalam konteks ini, ingatan saya tak pernah lepas dari sosok seniman kembar Ki Sugito dan Ki Sugati, yang populer dikenal sebagai Gito Gati. Kedua nama ini disebut dalam satu tarikan nafas dan identik dengan kesenian kethoprak.

Di kala saya mengnjak usia SD di tahun 1980-an, dalam keluarga saya maupun masyarakat sehari-hari masih  riuh dengan kegemaran akan Kethoprak baik yang diperoleh dari radio, TVRI Yogyakarta maupun pentas-pentas langsung. Di masa itu, Pemerintah Kabupaten Sleman secara rutin tiap bulan pada tanggal 15, 16, dan 17 menggelar festival seni di Gedung Serbaguna dekat Lapangan Denggung, tak jauh dari rumah saya. Maka jadilah saya tidak pernah ketinggalan menonton pertunjukkan itu berduyun-duyun dengan tetangga kanan kiri, mengingat di samping TVRI Yogyakarta dan radio, pentas semacam itu menjadi hiburan alternatif. Tiap tanggal 15 digelar kesenian apa saja, mulai band, semdratari atau lainnya, sementara tanggal 15 adalah wayang kulit, dan tanggal 17 adalah kethoprak. Untuk kethoprak, diisi oleh kelompok pentas dari 17 kecamatan di lingkungan Kabupaten Sleman secara bergantian. Acara itu gratis dan seingat saya berlangsung sampai kira-kira pertemgahan 1990-an. Saya tidak tahu, mengapa fasilitasi kesenian seperti itu tidak lagi dilakukann oleh Pemerintah Daerah? Apakah tidak ada komitmen atau memang situasi sosial budaya masyarakat yang sudah bergeser akibat pilihan emdia yang makin bervariatif?

Jika pentas dipertontonkan oleh group kethoprak Gito Gati pastilah, yang saya ingat, penontonnya membludak,mtidak tertampung oleh kursi yang tersedia. Para penononton itu rela berdiri dan berdesakan karena memang di samping bagus, para seniman dalam group itu pandai memikat perhatian penonton.

Gito Gati adalah anak laki-laki kembar, putra dalang Ki Cermo Taruna yang berdiam di dusun Pajangan, Sleman. Mereka tumbuh menjadi pekerja seni Jawa yang serba bisa mulai dari wayang kulit, wayang orang, tari, dagelan, dan kethoprak secara otodidak. Sejak kecil pasangan anak kembar yang lahir di tahun 1943 ini sudah ikut orang tuanya pentas dari satu tempat ke tempat yang lain. Kemampuan berksenian itu membuat sekolah terbenkalai hingga hanya menyelesaikan pendidikan setingkat SD. Pada perkembangan selanjutnya, Gito menjadi mahir dan terkenal sebagai dalang wayang kulit, sementara Gati berkibar sebagai seniman kethoprak. Tetapi acapkali kedua sosok ini pentas bersama dan salng mengisi satu sama lain. Jika Gati pentas wayang maka Gito yang mengendang, demikan sebaliknya.

Pada tahun 1966, Gito Gati ikut merintis dan bahkan kemudian menjadi pemimpinnya, pendirian Paguyuban Seniman Bagian Yogyakarta Utara dan disingkat PS Bayu, yang kemudian kondang sebagai nama paguyuban kethoprak. Paguyuban kethoprak ini kemudian mengadakan pentas kethoprak keiling di Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah seperti Magelang, Kebumen, dan Purworejo. Untuk pertama kalinya pada tahun 1978 pentas di TVRI Yogyakarta dengan lakon yang kemudian menjadi trademark group ini yaitu Ombak Segoro Kidul atau “Ombak Laut Selatan.” Pasangan Gito Gati juga acapkali mengajak pekerja seni kethoprak di Jawa Tengah dan Yogyakarta bergabung bermain bersama, termasuk rekaman kaset. Untuk pentas gabungan ini saya pernah memiliki laset rekaman antara lain bertajuk Aryo Penangsang Lair, Aryo Penangsang Gugur, dan Anglingdarma. Di samping itu Gito Gati mempunyai rekamannkaset Dagelan Mataram, kebayanyakan dalam tajuk pentas karawitan dan diselengi dengan lawakan, terutama diproduksimole label Pusaka Reord dan Ira Record, keduanya dari Semarang. Pasangan ii menjadi terkenal dan dikagmi seniman lain, termasuk dalang Ki Nartosabdo almarhum. Dalam kaset rekaman “Semar Barang Jantur” produksi label Dahlia Record, Ki Nartosabdo acap menyebut pasangan seniman ini.

Sekalipun kembar, karakter keduanya bertolak belakang. Dalam pandangan masyarakat Ki Sugito dikenal santai, suka membanyol, tidak serius, dan seenaknya. Termasuk urusan rumah tangga yang dalam gosip masyarakat, selalu berganti isteri dan seterusnya. Salah satu perempuan yang pernah dinikahi Gito adalah Nyi M.M. Rubinem, pesinden kondang RRI Yogyakarta tahun 1960-an. Sementara Gati cenderung serius dan pintar menghayati peran dari tokoh antagonis maupun sosok protagonis termasuk yang bernasib buruk atau sengsara. Gati mempunyai 2 isteri yaitu Tilah dan Waljiyem. Sosok yang terakhir ini tidak pernah pisah dan sering bergabung saat Gtmpentas kethoprak maupun wayang kulit sebagai pesindhen maun aktris di panggung.

Kethoprak PS Bayu dalam pentas mengandalkan imporvisasi dan sanggup pentas berjam-jam  tanpa naskah. Karena watak yang berbeda itu, Gito dalam pentas lebih sering menjadi tokoh dagelan atau abdi yang sanggup memeriahkan suasana dan mengocok perut penonton. Sementara Gati sanggup menjalankan peran apa saja dan dengan penghayatan penuh. Salah satu trademark Gati adalah saat memerakan tokoh Yuyu Rumpun, legenda yang berlatar kerajaan Pati masa peralihan Majapahit dan Demak. Tokoh ini berkarakter licik, bermuka buruk dan bersuara sengau. Dan menurut saya, gaya Gati itu tidak tertandingi.

Gati sendiri di luar akiitas kesenian adalah seniman seenior dan tokoh masyarakat yang disegani. Dia menjabat sebagai Kepala Dusun Pajangan. Dengan peran sebagai seniman, dia membina warga sekitarnya untuk mencintai seni dan diajak bermain kethoprak atau karawitan dalam group yang dibentuknya yaitu Mustika Laras.

Pada tahun 1995, televisi Indosiar pernah secara 2 malam berturut-turut merekam pentas Gito Gati dalam pertunjukkan wayang secara live dari rumahnya di Pajangan, Sleman. Selain itu, pada tahun 1996, Indosiar juga rutin menayangkan tiap Jumat malam rekaman pentas live PS Bayu di Magelang.

Kedua pasangan mendidik terutama anak dan cucunya untuk senang kesenian dan tidak segan-segan mengajak pentas secara langsung. Saya ingat, kethoprak PS Bayu justru ditopang oleh keluarga pasangan ini. Isteri Gito menjad pesindhen saat pentas, sementara anak-anak mereka dan menantunya tampil sebagai pemain, sepeti Suwondo, Bambang Rabies, dan Wisnu (anak Gito), lalu Anak Gati seperti Spriyatman, Supriyanti, Bayu dan isterinya Budiati.

Tahun 1996 Gito terlebih dahulu meninggal dunia. Sejak tahun 2001, Gati menderita stroke dan akhirnya meninggal dunia 18 Oktober 2009 yang lalu. Atas jasa-jasanya, PemerintahKabupaten Sleman mengabadikan nama Gito Gati sebagai nama rus jalan antara perempatan Denggung hingga Rejondani, kawasan yang saat saya kecil hanyalah pinggiran desa yang sepi, tetapi kini  berubah menjadi kawasan hunian elit dan pertumbuhan ekonomi baru.

Tags: gito gati

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tertangkapnya Polisi Narkoba di Malaysia, …

Febrialdi | | 01 September 2014 | 06:37

Menjelajahi Museum di Malam Hari …

Teberatu | | 01 September 2014 | 07:57

Memahami Etnografi sebagai Modal Jadi Anak …

Pebriano Bagindo | | 01 September 2014 | 06:19

Kompas TV Ramaikan Persaingan Siaran Sepak …

Choirul Huda | | 01 September 2014 | 05:50

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 5 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 6 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 6 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 7 jam lalu

Kisah Ekslusive Tentang Soe Hok Gie …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | 8 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 8 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

‘Royal Delft Blue’ : Keramik …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: