Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Majalah Berbahasa Jawa, Serpihan yang Tersisih

REP | 07 April 2013 | 08:06 Dibaca: 2220   Komentar: 0   1

Saat saya kecil, sekitar usia SD di tahun 1980-an, salah satu bacaan yang saya gemari dalah sebuah Majalah yang menggunakan bahasa Jawa, namanya Djaka Lodang. Unuk kawasan Yogyakarta, majalah ini di waktu itu cukup terkenal dan terbit setiap minggu. Dalam masa penerbitan itu ada iklan promosi lewat radio. Saya membaca dan karena kemampuan ekonomi orang tua tentu maoritas kesempatan itu dengan cara meminjam di tetangga sebelah, seorang guru SMP di dekat rumah saya di Sleman. Di usia itu saya memang senang membaca meskipun tidak paham jurnalistik atau istilah tajuk rencana, rubrik, dan sebagainya. Salah sau bagian yang saya gemari dari Majalah Djaka Lodang ini adalah rubrik “Jagading Lelembut”, cerita nyata kiriman pembaca yang memuat pengalaman berinteraksi dengan “dunia lain.”

Majalah itu cukup terkenal karena memuat juga “Cerita Cekak” atau cerita pendek. Cerita itu kadang-kadang didongengkan dalam acara “Waosan Buku Bahasa Jawi” di Radio Retjo Buntung. Pembawa cerita adalah peniar kondang Abas Ch. Nah, Pak Abas ini piawai sekali saat membawakan cerita, prsis seorang dalang yang bisa memerankan tokoh pria dan wanita sebagai dialog dalam cerita majalah itu.

Sekarang amat sulit mendapatkan majalah itu. Kalau dulu bahkan penjual koran kios kecil pun menyediakannya. Setahu saya, selain Djaka Lodang, majalah seupamitu adalah Majalah Jayabaya Majalah Penyebar Semangat di Surabaya. Oleh Abas Ch, majalah itu kerap juga dijadikan sumber dalam membawakan acara di Radio Retjo Buntung tadi.

Memang ironis, meski mayoritas dari lebih 200 juta penduduk Indonesia adalah orang Jawa, namun ternyata tidak banyak ditemukan media berbahasa Jawa di negeri ini. Dari referensi yang saya baca, saat ini  tinggal 3 media berbahasa Jawa yang masih eksis di Indonesia. Yaitu Jaya Baya dan Panjebar Semangat, keduanya terbit di Surabaya dan Djoko Lodang di Yogyakarta. Masih untung di Solo ada koran Solo Pos yang selalu menyisipkan suplemen berbahasa Jawa setiap Kamis.

Khusus untuk Jayabaya dan Penyebar Semangat ternyata majalah tersebut sudah berusia puluhan tahun, mereka ikut menjadi saksi perjalanan republik ini. PEnyebar Semangat yang namanya tetap menggunakan ejaan lama terbit kali pertama tahun 1933. Pendirinya adalah tokoh pergerakan dr. Soetomo, yang juga pendiri Budi Utomo. Sementara Jayabaya pertama kali terbit di Kediri pada 1 Desember 1945, sebelum kemudian pindah ke Surabaya. Uniknya, meski terbit di Surabaya namun kedua majalah tersebut tetap menggunakan bahasa Jawa dengan gaya Jawa-Tengah-an ngoko halus, dan bukannya dengan dialek khas arek Suroboyo-an.

Majalah Penyebar Semangat pernah mengalami puncak kejayaan di tahun 1950-1960. Ketika itu majalah ini terbit dengan oplah hingga 80.000 eksemplar, mengalahkan majalah terkenal berbahasa Indonesia yang terbit di Jakarta Star Weekly. Angka tersebut tentu saja cukup fenomenal mengingat tahun tersebut tentu saja belum sebesar sekarang, dengan persentase penduduk yang melek huruf juga relative sedikit.

Sementara JAabaya juga pernah merasakan masa keemasan dengan di tahun 1990-an dengan tiras 90.000-an eksemplar. Ketika itu andalannya adalah vignette, yang menyajikan angka-angka untuk diterjemahkan menjadi kode-kode KSOB, alias kupon berhadiah.

Nasib serupa mendera majalah kesayangan saya saat kecil, Djaka Lodang. Sejak terbit tahun 1971, majalah yang didirikan Abdullah Purwo Darsono dan almarhum Kusfandi, sempat berulang kali ganti penampilan, mengikuti perkembangan teknologi mesin cetak. Uniknya, kendati terbit tanpa iklan, majalah ini merupakan satu-satunya majalah berbahasa Jawa yang mampu bertahan di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sebelumnya, pernah ada majalah serupa seperti Mekarsari, Kembang Brayan dan Darmo Kondo serta Darmo Nyoto yang terbit di kota Solo. Namun majalah itu hilang tenggelam ditelan zaman. Majalah ini, berisi aneka ragam kebudayaan Jawa, tetapi selebihnya hampir sama dengan majalah berbahasa Indonesia. Ada rubrik, tajuk rencana atau editorial dengan masalah kontenporer, ramalan nasib, cerita pendek, cerita bersambung, pewayangan juga cerita misteri yang bertajuk jaka lelembut. Belakangan, sampul Djaka Lodang selalu dihiasi wajah-wajah muda. Menurut Abdullah, hal itu sebagai strategi menarik pembaca kaum muda menghampus kesan sebagai bacaan kaum dewasa.Saat ini Djaka Lodang sulit ditemui di agen-agen koran dan majalah. Dari operasi sekitar 8 ribu, selama ini lebih banyak diedarkan ke pelanggan antara lain, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, warga transmigran serta suku Jawa di Surename.

Kini majalah-majalah itu terus kesepian. Meski tetap menyajikan menu seperti biasa, pengetahuan umum, dunia Jawa, cerita pewayangan, cerita bersambung, cerita pendek dan dunia misteri, dengan nyaris tanpa iklan. Tirasnya juga terus menurun, hanya sekitar 10.000-an. Padahal majalah-majalah tersebut telah menghasilkan nama-nama besar di khasanah sastra Jawa. Seperti Suparto Brata, Any Asmara, Esmiet, Tiwiek SA, Tamsir AS, hanya beberapa nama.

Majalah-majalah tersebut mencoba terus bertahan di tengah perubahan jaman. Mereka mencoba terus setia dengan idealismenya untuk tetap mengabadikan bahasa Jawa kepada para pelanggannya yang setia menunggu. Para pelanggan itu ternyata tidak hanya tersebar di pulau Jawa saja, namun bahkan hingga Aceh dan Papua bahkan ke manca, Suriname dan Belanda.

Menurut saya, majalah itu bagian dari peradaban literasi Indonesia. Mereka menjadi bagian simpul penting pergerakan pers di negara kita. Mengapa sekarang bak serpihan yang tersisih?

Tags: pers majalah

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 12 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 13 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 14 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: