Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Ardie Tyastama

Pengelola Rumah Buku Ken Maos Semarang, Penggiat Diskusi Keluarga Barzakh Semarang.

Borobudur Bukan Karya Jin

OPINI | 12 April 2013 | 00:35 Dibaca: 670   Komentar: 0   0

Sembari menenteng buku “Borobudur & Peninggalan Nabi Sulaiman”, Alwi sesekali menatap semburat teja yang mencat angkasa. Ada kecamuk yang bergemuruh di dadanya. Dia tidak terima dengan argumen dan opini yang dipaksakan ke tengah area publik oleh KH Fahmi Basya. Akhir-akhir ini Alwi memang jadi uring-uringan sejak menemukan buku karya sang kiai ini. Beruntung ada Ahimsa, sang kakak tercinta yang selalu menyediakan diri untuk menjadi objek sasaran gundah dan dongkolnya. Ahimsa tahu bahwa adiknya ini memang sangat haus pengetahuan, sehingga dia berusaha selalu berada disampingnya untuk melayani Alwi beradu argumen.

KH Fahmi Basya baru-baru ini telah bikin heboh di kalangan pecandu buku. Dia membuat kesimpulan yang konon merupakan hasil risetnya selama 33 tahun bahwa Candi Borobudur merupakan warisan Nabi Sulaiman. Arupadhatu, bagian atas Borobudur, menurutnya, merupakan singgasana Ratu Bilkis atau Ratu Saba’ yang dipindah oleh seorang ahli kitab dengan kecepatan cahaya dari istana Ratu Boko ke Borobudur. Dia seminar kemana-mana dengan membawa keyakinan bahwa negeri Saba’ yang baldatun thayibatun warabbun ghafur sebagaimana yang tertera dalam kitab Al-Qur’an sesungguhnya adalah negeri Indonesia.

Menurut Alwi, kesimpulan yang diketengahkan KH Fahmi Basya sangat terburu-buru dan takutnya hanya akan menjadi bahan olokan para peneliti profesional, para arkeolog, dan para sejarawan. Sebagaimana keterangan Prasasti Karangtengah yang berangka tahun 824 M, Raja Samaratungga memerintahkan kepada Gunadharma, pakar arsitek pada zamannya, agar mendirikan bangunan suci di Bumisambhara. Dalam hal ini yang dimaksud dengan Bumisambhara atau Sambhara Bahadur tiada lain adalah Candi Borobudur. Sementara Nabi Sulaiman dan Ratu Saba’ diperkirakan hidup anatara 975 - 935 SM jadi terpaut waktu 1000 tahun, sungguh hal yang mustahil.

“Ayo makan, Dik !” suara renyah Ahimsa dari dalam rumah yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Alwi.

“Iya..” jawab Alwi yang masih enggan beranjak dari tempat duduknya.

“Ada apa sih, Dik ? Sejak tadi kuperhatikan serius banget kaya’ Einstein yang lagi keranjingan sama relativitasnya..” Tanya sang Kakak yang paham kegemaran Alwi kalau sudah berlagak pemikir hebat.

“Biasa saja sih, Cuma rada gemes dengan isi buku…” Alwi menyodorkan buku Borobudur & Peninggalan Nabi Sulaiman karya KH Fahmi Basya kepada Ahimsa.

“Apa istimewanya dengan buku ini, hingga bikin kamu gemes ?”

“Justru tidak istimewa itulah yang malah bikin gemes, karena kesimpulan yang ditarik oleh KH Fahmi Basya ngawur banget.”

“Huss kamu itu lho, seorang Kiai kamu sebut ngawur. Entar kualat …”

“Ini coba kakak baca sendiri…!” lagi-lagi Alwi menunjukan buku karya KH Fahmi Basya kepada kakaknya.

Sesaat Ahimsa pun membolak-balikan isi buku. Halaman demi halaman coba ia resapi. Tampak kening mulai mengerut dari dirinya. Dia jadi paham dan wajar saja kalau Alwi sampai uring-uringan seperti tadi.

“Wuah bagus nih, Dik. KH Fahmi Basya orang yang sangat jenius. Benar-benar pakar matematika yang tiada tanding.” Hibur Ahimsa pada adiknya yang masih menekuk muka.

Sembari mengunyah makan, Alwi membeberkan ketidaksetujuannya, “Ya, kalau baca pada awal-awal halaman memang bagus sih, Kak. Beliau sosok yang jenius dan jago matematika. Itu tidak bisa dipungkiri. Saya akui itu. Kerangka teori yang beliau pakai sungguh cemerlang. Bagiku ini hal yang baru juga dalam dunia tafsir dan pembacaan atas simbol. Saya menjadi tahu banyak hal setelah baca buku ini, lantaran buku ini pula saya jadi tergoda untuk membuka-buka Kitab Al-Qur’an. Beliau mengawali dengan pertanyaan ‘mengapa 5 dan mengapa di 96’ menjadi hal yang sungguh menarik setelah dijelaskan dengan grafik batang dan dihubungkan dengan surat 97 yang jumlah ayatnya ternyata juga 5. Surat 96 dan 97 diapit oleh surat 94 dan 95 disebelah kiri, 98 dan 99 yang masing-masing surat jumlah ayatnya adalah 8. Sungguh sebuah pembacaan yang luar biasa kan ?”

“Beliau juga mengenalkan istilah transformasi 19, yang sebelumnya saya pernah dengar dari Quraish Shihab, tentunya Kakak tahu kan dengan pakar tafsir Indonesia yang satu ini. Quraish Shihab menyebutkan angka 19 sebagai angka istimewa karena jumlah huruf yang membentuk kalimat bismillahirrahmanirahim berjumlah 19. Dari KH Fahmi Basya justru kita jadi lebih gamblang lagi memahami makna angka 19 yang tidak sekadar menunjukan jumlah huruf penyusun kalimat basmalah, melainkan sebuah transformasi surat-surat dalam Al-Qur’an yang tersusun sangat logis matematis. “

“Selanjutnya para sidang pembaca buku ini, juga akan diajak bertamasya menyelami ornamen Borobudur dengan balok Al-Qur’an yang lagi-lagi bergaya matematis logis, guna meyakinkan kita para pembaca bahwa struktur pembangunan Candi Borobudur akan janggal jikalau disebutkan sebagai Candi Budha.”

“Kita juga disuguhi bukti-bukti oleh penulis, bahwa Borobudur merupakan bangunan yang qur’anik. Kisah-kisah yang tertera dalam kitab Qur’an diabadikan di relief dinding Borobudur. Baginya Borobudur adalah monumen yang bernuansa kitab. Sebut saja kisah Yunus yang ditelan oleh ikan; perempuan menyingsingkan kain yang disebutnya sebagai Ratu Saba; relief kapal yang dikatakannya sebagai kapal Nabi Nuh; ada lagi relief burung berkepala manusia yang menjelaskan burung bisa bicara sebagaimana kisah burung Hud-Hud .”

“Nah bagus kan, kenapa musti uring-uringan ? “ timpal Ahimsa kemudian yang bangga pada adiknya kalau sudah menarasikan isi buku. “Terus yang bikin kamu tidak setuju bagian mana, Dik ?”

“Penasaran…? Prinsipnya saya tidak antipati dengan gagasan beliau yang menyebutkan bangunan Borobudur sangat bernuansa kitab. Ornamen yang mengitari seputar Borobudur sungguh luar biasa dan memang merupakan monumen yang mengabadikan kisah-kisah purba yang terekam oleh kitab. Cuma kesimpulan beliau bahwa Borobudur merupakan bangunan era Sulaiman yang saya rada keberatan. Istana Ratu Boko disebutnya sebagai istana Ratu Saba’. Lebih tidak masuk akal lagi, Borobudur dan segala pernik di dindingnya merupakan karya Jin bukan manusia. Jelas hal ini merupakan pemaksaan kesimpulan. Itu artinya sama saja dengan meremehkan kemampuan menghitung musim para leluhur Jawa. Leluhur kita dulu dalam mengerjakan suatu hal tidak bisa dilepaskan dengan perhitungan “hari baik”. Termasuk dalam pengerjaan bangunan candi, leluhur kita dulu juga pakai perhitungan waktu atau musim kapan saatnya batu mengeras dan melunak. Nah, di saat batu pada kondisi melunak itulah, mulai dilakukan pekerjaan memahat dan melunakkan batu. Jadi batu-batu itu memang kemungkinan dilunakkan, sebagaimana persangkaan KH Fahmi Basya, ada landasan asal-usulnya. Tapi bukan oleh para Jin, melainkan tetap oleh tangan terampil manusia.”

“Keberatan yang kedua, bagi saya kisah-kisah yang termaktub dalam kitab bukanlah sebagai informasi sejarah, melainkan suatu seruan moral. Sebagai seruan moral yang terekam dalam kitab suci jelas tidak memadai kalau disajikan dalam bentuk sistematika empiris rasional ketat, tetapi sepanjang yang saya tahu, sering tersaji dalam alam puisi yang sarat simbol. Kemampuan Sulaiman yang dapat mengendalikan bangsa Jin, berdialog dengan dunia binatang, dan pemindahan singgasana Ratu Saba ke istana Sulaiman, serta tunduknya Ratu Saba’ kepada Sulaiman, itu semua adalah bahasa simbol sehingga jelas bukan sebagai informasi sejarah yang empiris. Maka memakai kisah-kisah dan keterangan dari kitab Al-Qur’an untuk menilai fakta sejarah dan main mutlak-mutlakan atas kebenaran bukanlah tindakan arif dan jujur pada sejarah. Kitab Al-Qur’an bekerja dengan bahasa simbol, puisi dan misteri. Artinya dunia kitab Al-Qur’an, termasuk kitab-kitab selain Al-Qur’an, adalah jelas sekaligus tidak jelas, dapat dipahami sekaligus mustahil dipahami. Kehadiran kitab adalah pertanda yang tadinya arogan dapat melunak dan rendah hati. Hidup dalam kedewasaan yang saling berbela rasa dan berbelas kasih. Bukan untuk memonopoli pijar kebenaran termasuk atas kenyataan sejarah.

Sebagaimana kisah Isra’Mi’raj-nya Nabi Muhammad yang lazim dipahami sebagai mukjizat agung Nabi dalam menembus ruang waktu, dan diyakini sebagai kejadian nyata yang menimpa beliau, kisah tersebut akan logis kiranya dihayati sebagai simbolisasi tangga atau kedudukan eksistensi manusia. Demikianlah kitab suci Al-Qur’an bukan sebagi kitab sejarah. Lantaran relief-relief di dinding Borobudur merekam kisah-kisah Al-Qur’an, juga bukan berarti sebagai warisan salah satu nabi yang disebutkan Al-Qur’an.”

“Jadi ….?” Sanggah sang Kakak.

“Iya begitu….” Senyum tipis Alwi bangga karena habis presentasi di hadapan Ahimsa sang Kakak yang setia menjadi pendengarnya.

“Ya…ya… Borobudur karya manusia. Bukan karya Jin….” Sahut Ahimsa sambil memeluk Alwi sang adik yang membanggakan ini.

Semarang, 05 Desember 2012

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kunonya Rekapitulasi Pilpres, Kalah Canggih …

Ferly Norman | | 22 July 2014 | 07:48

Cara Mudah Kenali Pelaku Olshop yang …

Ella Zulaeha | | 22 July 2014 | 11:59

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21

Cara Mudah Kenali Pelaku Olshop yang …

Ella Zulaeha | | 22 July 2014 | 11:59

Bukan Dengkuran Biasa …

Andreas Prasadja | | 22 July 2014 | 10:45


TRENDING ARTICLES

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 6 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 8 jam lalu

Rekap Final Kawalpemilu.org Jokowi 53,15%, …

Rullysyah | 8 jam lalu

Lima Artis Terseksi Indonesia dengan Selera …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Jejak Itu Bernama Screenshot… …

Sunardi Al Banyumas... | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: