Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Yustinus Sapto Hardjanto

Pekerja akar rumput, gemar menulis dan mendokumentasikan berbagai peristiwa dengan kamera video. Pembelajar di Universitas selengkapnya

Kartini Penulis Abadi

OPINI | 20 April 2013 | 12:45 Dibaca: 400   Komentar: 4   1

Dua tiga hari ini, putri semata wayang saya yang baru duduk di bangku kelas satu SD terus memaksa untuk membeli baju kebaya agar bisa dipakai untuk merayakan peringatan Hari Kartini di sekolahnya. Guru di sekolahnya memang tidak mewajibkan muridnya untuk memakai baju tradisional pada hari Senin nanti (22 April). Peringatan Hari Kartini di sekolahnya memang tidak tepat pada tanggal 21 April yang jatuh pada hari Minggu.

Saya mengusulkan pada putri saya untuk memakai baju tradisional Dayak saja, sambil mengingatkannya pada masa Taman Kanak-Kanak dulu, dimana dia memakai baju Dayak saat mengikuti Karnaval untuk memperingati Hari Anak Sedunia. Foto sewaktu memakai baju Dayak itu kini masih tergantung di dinding kamar. Namun putri saya menolak, dia ingin memakai kebaya, baju yang dipakai Ibu Kartini yang gambarnya ada di buku pelajaran sekolah. Saya bersyukur bahwa putri saya begitu antusias menyambut Hari Kartini dengan memakai baju kebaya, baju tradisional Indonesia. Meski hal itu akan menimbulkan kesulitan sebab baju kebaya dengan ukuran anak-anak tentu susah dicari disini.

Kegigihan putri saya untuk memakai baju kebaya di peringatan Hari Kartini nanti, mau tak mau membawa kenangan ke masa puluhan tahun lalu saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. Saat itu setiap perayaan Hari Kartini semua siswi selalu diwajibkan untuk memakai baju kebaya lengkap dengan sanggul dan jariknya. Hari itu adalah hari yang menyenangkan, melihat teman-teman perempuan menjadi ‘ibu-ibu’ PKK dan Dharma Wanita. Ada kelucuan-kelucuan, karena kebaya yang kedodoran, sanggul yang menceng dan kesulita berjalan karena memakai jarik serta sandal berhak tinggi.

Sebagai ‘Kartono’, peringatan Hari Kartini menjadi kesempatan untuk ‘menjahili’ teman-teman perempuan yang berkebaya dan jarik. Kesempatan karena mereka tak akan bisa mengejar atau berjalan dengan cepat kalau diusili. Ah, tapi sudahlah itu adalah kenakalan masa kecil yang tak baik untuk diceritakan.

Semarak peringatan Hari Kartini juga diisi dengan lomba memasak dan pengumuman pemenang sebagai siswa dengan penampilan terbaik kala berkebaya. Keramaian yang sejatinya membuat saya lupa mempelajari dan mengenal lebih jauh siapa itu Ibu Kita Kartini. Pengenalan saya tentang Kartini terbatas pada lagu yang sering kami nyanyikan, lagu yang wajib untuk dihafalkan.

Sampai dengan hari ini sayapun belum tuntas membaca kumpulan surat-surat Kartini, korespondensinya dengan sahabat, kawan dan kenalan-kenalannya di Belanda sana. Saya hanya tahu kalau korespondensi Kartini itu dikumpulkan dalam sebuah buku yang diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Dalam suratnya kepada E.H. Zeenhandelaar, 25 Mei 1899, Kartini pada pengantar suratnya menuliskan “Saya ingin sekali berkenalan dengan seorang gadis modern, yang dapat berdiri sendiri, yang dapat menarik hati saya sepenuhnya, yang menempuh jalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap ….. gadis yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan untuk sesama manusia …”.

Kartini terlahir dalam lingkungan keluarga bangsawan, kelas sosial tertinggi dalam struktur masyarakat Jawa. Namun dalam kelebihannya itu dia justru merasa terkungkung. Maka ketika memasuki umur 20 tahun, saat dia mulai berinteraksi dengan kehidupan luar, Kartini mulai menuliskan surat-suratnya, mulai berkorespondensi dengan kenalan, sahabat dan teman yang sengaja dicari olehnya.

Dalam korespondensinya Kartini dikenal banyak menuliskan tentang perempuan dan kedudukannya yang rendah dalam alam feodalisme (dan tentu saja juga kolonialisme). Tema yang kemudian membuat Kartini secara politik atau dalam pandangan resmi negara ditempatkan sebagai simbol yang mewakili gagasan emansipasi perempuan di Indonesia. Kartini menjadi sosok perempuan yang disebut sebagai pahlawan dalam aras perjuangan yang berbeda dengan pahlawan perempuan lainnya seperti Cut Nya Dien dan lain sebagainya.

Namun sesungguhnya surat-surat Kartini berdimensi lebih luas dari sekedar membahas kondisi perempuan. Kartini mempunyai minat dan perhatian yang besar terhadap seni, sastra, pendidikan dan bahkan perkembangan peradaban serta teknologi, hal mana tercermin dalam petikan surat diatas, Kartini ingin menjadi perempuan yang modern, seorang perempuan yang penuh semangat dalam menyambut perkembangan jaman. Kartini ingin tumbuh menjadi sosok yang sesuai dengan jamannya namun mengabdikan diri, meraih kebahagiaan bukan hanya demi dirinya sendiri melainkan kebahagian banyak orang.

Perhatian pada masa depan Bumiputera, diungkapkan oleh Kartini dalam korespodensinya dengan Nyonya Abendanon. Kartini menulis tentang seorang pemuda yang brilian bernama Agus Salim, pemuda yang sebenarnya tidak dikenalnya. Kartini menghimbau agar pemerintah kolonial Hindia Belanda mendukung secara finansial agar Agus Salim bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kartini meyakini kelak Agus Salim akan menjadi seorang yang berguna untuk kemajuan Bumi Putera. Kartini seorang putri dari Jawa, keluar dari kungkungan ke-Jawa-annya untuk mendukung Agus Salim, pemuda asal Bukit Tinggi, untuk kelak menyuarakan kepentingan seluruh daerah yang diduduki oleh Kolonial Belanda. Kartini tidak mengobarkan semangat nasionalisme Jawa.

Surat-surat Kartini juga mewakili pandangan atau kritisismenya terhadap praktek politik pemerintah Kolonial Belanda yang membuat rakyat sengsara. Kartini banyak menggugat kondisi kemiskinan yang menjalar di sekitar lingkungan hidupnya. Kemiskinan akibat kewajiban pembayaran pajak oleh Kolonial Belanda termasuk kepada orang-orang miskin, orang-orang yang hanya memperoleh pendapatan untuk makan minum dalam sehari.

Perhatian akan permasalah sosial politik di sekitarnya, dalam masa pemerintahan Kolonial Belanda yang kemudian dituangkan dalam surat-suratnya sejatinya menempatkan Kartini dalam tradisi literer sebagai seorang penulis, seorang esais yang tajam. Namun sayang bakat menulis Kartini ini tidak bisa dinikmati dalam publikasi di media saat itu. Ayahnya yang adalah penguasa daerah, melarang Kartini mengirimkan tulisan-tulisannya yang tajam itu ke media-media yang terbit waktu itu. Ayahnya khawatir apa yang dituliskan oleh Kartini akan menimbulkan kesulitan dalam kedudukannya sebagai Bupati saat itu.

Andai saja pemikiran yang kemudian dituangkan dalam surat-suratnya itu diterbitkan dalam bentuk artikel pada masa itu, kemungkinan Kartini bukan hanya akan menjadi sosok pahlawan nasional belaka, Kartini barangkali akan dicatat sebagai sosok pengerak emansipasi wanita Internasional. Namun sejarah memang bukan sebuah andai-andai, Kartini telah menuliskan sejarah hidupnya sendiri, sejarah seorang putri bangsawan yang berpikir keluar dari kungkungan feodalisme, mencapai horison yang lebih luas, bukan sebagai seorang punggawa yang disembah abdinya, melainkan sebagai sesama warga, masyarakat Bumiputera.

Pada tanggal 2 Mei 1964, Presiden Sukarno menganugerahi Kartini dengan gelar sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia, anugerah yang diberikan setelah enam puluh tahun kematiannya. Dan dimasa Orde Baru hari lahirnya diperingati sebagai penegasan akan sosoknya sebagai simbol budaya emansipasi perempuan di Indonesia. Selebrasi peringatan Hari Kartini menempatkan dirinya menjadi perempuan paling terkenal dalam sejarah Indonesia. Selain bendera Merah Putih, lambang negara Garuda Pancasila, peringatan Hari Kartini menjadi satu pelekat yang menyatukan seluruh bangsa Indonesia, terutama perempuan, tua dan muda, semua menjadi satu, tak peduli suku bangsanya, merayakan dengan berkebaya.

Peringatan Hari Kartini yang digencarkan pada masa orde baru ini sekurangnya membuat muncul berbagai pandangan yang ‘menolak’ atau ‘memperdebatkan’ adakah Kartini memang layak ditempatkan sebagai sosok penyemangat atau inspirasi bagi gerakan perempuan kontemporer di Indonesia saat ini.

Ada banyak sosok lain yang mungkin punya nilai kepahlawanan kurang lebih sama dengan Kartini tetapi tidak memperoleh selebrasi yang gegap gempita. Perdebatan yang barangkali sah-sah saja, mengingat Kartini dalam masa orde baru memang lebih diajarkan sebagai sosok perempuan Jawa yang sangat menonjol kejawaannya. Namun menjelang peringatan Hari Kartini saya tak ingin memperdebatkan itu, bukan karena tak mau melainkan karena tak cukup pengetahuan saya untuk melakukannya.

Saya hanya ingin mengajarkan kepada anak saya, bahwa peringatan hari Kartini tak harus dilakukan dengan berbaju kebaya, melainkan baju-baju lain, baju tradisional di tempat dimana saya dan anak saya berada. Namun rupanya saya belum cukup mampu untuk menyakinkan hal itu kepada anak saya, dalam bayangannya memang masih bercokol bahwa Kartini adalah berkebaya. Saya harus mampu menyakinkan diri saya sendiri untuk terus mengajarkan dan memberi pemahaman kepada anak saya bahwa warisan terbesar dari Kartini bukanlah perayaan dengan berbaju kebaya, melainkan pemikirannya. Pemikiran yang sangat maju, pemikiran yang luas dan tajam yang melintasi jamannya serta melintasi kepentingan pribadinya.

Sebagaimana saya menerima Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia, begitu pula yang saya inginkan untuk putri saya. Namun semoga kelak dia juga tahu bahwa Kartini bukan hanya perlu dirayakan karena telah diberi gelar sebagai Pahlawan, melainkan harus dihormati karena Kartini adalah seorang penulis yang tajam dan penuh empati pada keadaan di sekitarnya. Dan karena tulisan-tulisannya itulah maka Kartini menjadi pribadi yang memperoleh keabadiannya.

Pondok Wiraguna, 20 Maret 2013

@yustinus_esha

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penambang Belerang Kawah Ijen yang …

Mawan Sidarta | | 17 September 2014 | 10:13

Referendum Skotlandia, Aktivis Papua Merdeka …

Wonenuka Sampari | | 17 September 2014 | 13:07

Seni Bengong …

Ken Terate | | 16 September 2014 | 16:16

[Fiksi Fantasi] Keira dan Perjalanan ke …

Granito Ibrahim | | 17 September 2014 | 08:56

Setujukah Anda jika Kementerian Agama …

Kompasiana | | 16 September 2014 | 21:00


TRENDING ARTICLES

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 7 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 8 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 9 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: