Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Hendra Budiman

Setiap tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru

Marsinah Namanya

OPINI | 21 April 2013 | 03:08 Dibaca: 2374   Komentar: 3   2

Marsinah namanya. Tidak pakai embel-embel apapun. Cukup Marsinah saja. Bukan Hadjah, juga bukan Raden Ajeng, apalagi Kanjeng Gusti, tidak pakai gelar DR atau SH. Hanya Marsinah. Nama yang sederhana, sebagaimana nama-nama rakyat kebanyakan.

Marsinah namanya, putri dari Mastin seorang petani miskin. Tidak punya kursi berukir jati. Apalagi rumah yang dikelilingi pagar punggawa. Lahir dari rahim Sumini, yang meninggal dunia saat melahirkan adik Marsinah karena tidak punya uang, membawa segera ke rumah sakit.

Marsinah namanya yang sejak berusia tiga tahun diasuh oleh sang nenek, karena Ibu meninggal dan ayah pergi entah kemana. Jangan berharap dapat mengenakan seragam sekolah yang licin distrika oleh pembantu. Justru Marsinah harus membantu membawakan rantang makan siang kepada paman di sawah. Membantu bibi memasak di dapur, dan mencuci pakaian. Tapi Marsinah tak pernah mengeluh dan menuntut persamaan hak laki dan perempuan. Membantu bibi dan paman, sudah jadi kewajiban bagi orang yang “menumpang” karena orang tua telah tiada. Keluarga Marsinah bukan kalangan Depati, Wedana atau Lurah. Hanya seorang petani miskin. Marsinah tahu itu. Dia harus juga berjualan makanan kecil untuk biaya sekolahnya.

Marsinah suka membaca makanya berkacamata. Mengisi luang dengan membaca sembari bekerja. Tidak ditemani dayang-dayang, atau tersedia teh hangat di taman rumah. Tidak ada waktu untuk bersolek dan merawat tubuh ke salon. Uang yang Marsinah punya dari jualan makanan, hanya cukup membeli koran bekas dan mengklipingnya. Marsinah kerap bertandang ke tetangga hanya untuk nonton berita di tipi. Bukan bergosip sambil cekikikan.

Marsinah namanya yang sempat modok di SMA Muhammadiyah. Keinginan menjadi guru dengan melanjutkan sekolah ke IKIP terpaksa terhenti. Dia miskin, dan tak punya uang. Dia tak pandai berbahasa Inggris apalagi Belanda. Marsinah tidak punya impian menjadi seperti wanita Eropa yang lepas dari kungkungan. Dia hanya perempuan desa yang ingin jadi guru dengan upah yang cukup.

Marsinah tak berpikir tentang emansipasi atau soal kodrat. Dia hanya ingin hidup dan cukup makan. Jika kemudian Marsinah menjadi buruh pabrik, bukan karena dia seorang feminist yang keluar ke ruang publik. Dan juga bukan penentang kodrat perempuan yang selayaknya di rumah. Dia butuh makan, hanya dengan bekerja menjadi buruh pabrik dia bisa memenuhi hidupnya. Tak ada keinginan Marsinah jadi buruh pabrik dan meninggalkan desanya. Dia tetap berharap ada di desa, dan cukup menjadi buruh di sawah. Tapi, saat ani-ani sudah diganti sabit; membajak sawah diganti dengan traktor; tenaga kerja semakin berkurang.

Marsinah namanya seorang penentang. Dia tidak pernah takut disebut PKI, ekstrimis, atau durhaka. Marsinah tidak penuntut persamaan hak laki dan perempuan; tidak menuntut dibebaskan dari belenggu adat. Marsinah hanya menuntut upah harian dia dan teman-teman buruh satu pabrik harus sesuai dengan keputusan Menaker dan Keputusan Gubernur. Itu saja. Dia menuntut perusahaan mentaati aturan hukum. Dia menuntut 13 orang teman-teman buruh (yang semuanya laki-laki) yang ditahan di Kodim dibebaskan. Dia tidak menuntut untuk dirinya sendiri. Dan dia tidak menuntut untuk buruh perempuan saja.

Marsinah namanya berada di tengah pabrik yang bising dan panasnya matahari. Tuntutan dia, tidak ditulis di kamar tidur atau ruang yang sejuk. Dia berteriak lantang tidak sekedar sedih merenung. Dia memimpin aksi buruh. Soal nyali bukan ditentukan kodrat laki atau perempuan. Dia bisa menghardik tentara, penjaga perusahaan, “Pak, sampeyan dibayar negara. Tugas sampeyan bukan di sini. Tugas sampeyan melawan musuh negara, bukan melawan buruh

Marsinah juga menulis surat. Tetapi surat yang tidak ditujukan kepada Abendanon yang kemudian menjadi buku. Marsinah menulis surat kepada perusahaan, tempat dia bekerja. Bukan surat yang berisi lamunan dan hayalan. Surat yang berisi teguran kepada perusahaan untuk mematuhi aturan hukum. Dan dari surat itulah, jalan hidup Marsinah berakhir.

Kisah hidup Marsinah ditutup dengan tragis. Dia diculik, dibunuh dan dibuang di hutan Wilangan. Dalam keadaan tangan terikat, dia diseret. Tulang panggulnya hancur. Kandung kemihnya memar. Pendaharaan yang terus menerus di bagian rongga perut. Luka disekujur tubuhnya: pipi, siku, lengan, tertutup kain putih berlumur darah.

PBB melalui badan ILO, merekam kisah berdarah Marsinah dalam dokumen yang disebut kasus 1713.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Perjuangan PPP & PPP Perjuangan …

Ribut Lupiyanto | | 31 October 2014 | 14:24

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Nonggup, Contoh Pergerakan Cerdas Orang …

Evha Uaga | | 31 October 2014 | 17:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 6 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 10 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 10 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kompasiana-Tanoto Foundation Blog …

Kompasiana | 7 jam lalu

Sang Pawang Jati …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Meningkatkan Kesadaran Tentang Korupsi …

Andrew Ebeneizer Se... | 8 jam lalu

Moratorium CPNS 5 Tahun? Slow aja! …

Niztchan | 8 jam lalu

Vergiss-mein-nicht (Gema di Lautan Sunyi …

Monika Chandra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: