Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Remy Riverino

... Menulisnya tuh disini .....

Negeri (E)yang Subur

OPINI | 24 April 2013 | 23:10 Dibaca: 778   Komentar: 0   0

13676809491085182379

Pohon dapat tumbuh subur di tiang beton jembatan (bukti bahwa Indonesia itu Subur)

Indonesia sejak dulu didongengkan menjadi negeri yang “gemah ripah loh jinawi” sebuah negeri yang rakyatnya banyak dan subur makmur. Tanah Indonesia itu subur adalah sebuah kenyataan, kita pasti sepakat. Tapi kalau Indonesia makmur itu baru sebatas harapan. Saking suburnya sampai-sampai orang Arab punya pepatah yaitu kalau di Indonesia “tongkat” ditanam tumbuh menjadi tanaman. Sebaliknya, di Arab pohon ditanam, jadi tongkat. Indonesia memang subur.

Dalam buku “Atlantis The Lost Continents Finally Found” karya Prof. Arysio Santos, seorang profesor dari Brazil yang sudah 29 tahun meneliti dimanakah lokasi benua Atlantis yang hilang dan kesimpulan akhir dia bahwa Atlantis itu terletak di Indonesia. Cerita benua atlantis yang hilang didapat dari catatan Pluto seorang filsup kuno Yunani, yaitu sebuah negeri yang kaya makmur, sebuah negeri yang indah dan mempunyai pertanian yang sangat produktif (tanah subur) tapi menghilang karena suatu bencana. Kalau ternyata atlantis itu memang pernah ada di negeri ini maka dari dulu tanahnya memang subur. Indonesia memang subur.

Saat ini sedang dilakukan penelitian di Situs Gunung Padang Jawab Barat yang difasilitasi kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana. Menurut hipotesa situs purba ini berasal dari peradaban yang lebih tua dari peradaban Mesir kuno. Tim peneliti menemukan banyak temuan yang menyakinkan situs tersebut punya struktur masyarakat yang sudah solild. Situs tersebut punya saluran irigasi, sistem suplai bahan makanan dan pertaniannya sudah maju. Pertanian yang maju tentunya didukung oleh keterampilan bertani dan lahan yang subur. Indonesia memang subur.

Dulu Indonesia terkenal dengan sebutan negeri bawah angin tempat di mana rempah-rempah berasal. Seperti disebutkan Ian Burnet dalam buku Spice Island (2011), pada periode 50 SM hingga 96 M, Pelabuhan Alexandria di Mesir menjadi pusat perdagangan rempah yang dibawa pedagang India. Dari Alexandria, rempah menyebar ke Jazirah Arab dan Eropa, terutama ke Romawi. Bagi bangsa Roma kala itu, lada, cengkeh, dan pala merupakan barang berharga, setara emas dan sutra (Kompas,com 2013). Sejak saat itu bumi nusantara menjadi tempat tujuan untuk mendapatkan rempah-rempah sampai kedatangan bangsa-bangsa eropa yang akhirnya menjajah Indonesia. Mereka ingin menguasai pulau-pulau, tanah-tanah yang subur untuk tumbuh rempah-rempah. Indonesia memang subur.

Namun, kalau Indonesia memang subur, kenapa sekarang si tanah yang subur ini harus mengimpor beras, gula, gandum, kedelai, jagung, buah-buahan dan yang terakhir harus mengimpor bawah putih dan bawang merah. Tanya kenapa? Suatu bahan renungan bagi para calon pemimpin dan calon legislatif yang ingin dipilih pada tahun 2014 nanti agar dapat mencarikan solusi yang cerdas sehingga negeri yang subur ini dapat memberikan lebih banyak manfaat bagi kemakmuran rakyat Indonesia.

Kalau kita tanyakan ke Eyang Subur, “Apakah Indonesia ini negeri yang subur?” maka beliau tentunya sependapat, Eyang Subur akan menjawab, ” Ya, negeri eyang ini memang subur “. (*)

SALAM KOMPASIANA

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 13 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 14 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 14 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 14 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 14 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: