Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Mex Rahman

Bahagia itu sederhana, seperti kamu bisa menjadi diri kamu sendiri tanpa mencemaskan orang lain yang selengkapnya

Misteri Kehancuran Majapahit

REP | 25 April 2013 | 11:15    Dibaca: 2822   Komentar: 9   0

Cerita kehancuran Majapahit sesungguhnya penuh dengan perlambang. Sungguh tidak masuk akal manakala negara sebesar itu, yang jajahannya begitu luas, hancur disebabkan oleh kekuatan mukjizat para wali. Perlambang tersebut dibuat juga disebabkan para pujangga malu untuk bercerita tentang permusuhan antara anak melawan ayahnya sendiri. Beberapa perlambang kehancuran Majapahit yang dibuat oleh para bijak adalah sebagai berikut:

  1. Disebabkan keramat para wali, ketika keris Sunan Giri dihunus, keluarlah berjuta-juta tawon yang menyengat para prajurit Majapahit.
  2. Manakala badhong (hiasan dada) Sunan Cirebon (Sunan Gunungjati) dikibaskan, beribu-ribu tikus akan keluar dan memakan perbekalan serta makanan kuda prajurit Majapahit. Kuda-kuda pun segera bubar karena melihat begitu banyaknya tikus.
  3. Jika peti yang dibawa dari Palembang dibuka di tengah pertempuran, para demit akan keluar. Prajurit Majapahit geger dan tewas karena diteluh oleh demit-demit itu.
  4. Konon Prabu Brawijaya meninggal secara mekrad (meninggal tanpa meninggalkan jasad di Gunung Lawu).

Itu semua hanyalah perlambang belaka. Negara Majapahit bukanlah remeh-temeh, yang mudah dihancurkan dan dirusak. Tidaklah mungkin ia hancur hanya karena dikeroyok sepasukan tikus. Yang masuk akal adalah, tawon bisa bubar manakala kayu-kayu tempat mereka bersarang dirusak oleh manusia. Para demit bisa pula bubar manakala hutan-hutan dijarah manusia. Akan tetapi, jika Majapahit bisa rusak hanya karena tawon, tikus, dan demit, siapa yang bisa percaya? Yang mempercayai hanyalah manusia yang pendek nalarnya, sebab cerita yang demikian itu tidak masuk akal, tidak sesuai nalar manusia. Semua cerita itu hanyalah perlambang belaka. Jika diceritakan apa adanya, rahasia kehancuran Majapahit akan terbuka.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Edy Fajar, Kuliah Sambil Mengolah Sampah …

Gapey Sandy | | 29 May 2015 | 17:22

Warga Tanakeke Mencoba Berdaya di Tangan …

Mustam Arif | | 29 May 2015 | 16:01

Gagal Mengejar Copet iPhone 6, Kecewa kepada …

Yofie Setiawan | | 29 May 2015 | 12:31

Mencoba Memahami Kondisi Bank yang Semakin …

Irwan Rinaldi Sikum... | | 29 May 2015 | 11:13

Kompasiana-”Dayakan Indonesia” …

Kompasiana | | 11 May 2015 | 17:09


TRENDING ARTICLES

Nasib Pelapor Beras Plastik …

Pical Gadi | 7 jam lalu

Petral Ternyata Tidak Berdosa, Bukan Sarang …

Asaaro Lahagu | 7 jam lalu

Gambar Cibiran terhadap FIFA Meramaikan …

Ardiansyah | 8 jam lalu

Pernikahan Gibran-Selvi Gambarkan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Partai Mana Yang Mau Jagokan Ahok di 2017? …

Abd. Ghofar Al Amin | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: