Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Eko Prasetyo

Penggemar kopi tubruk, tapi tidak suka merokok.

Kontroversi Foto Joe Rosenthal

OPINI | 26 April 2013 | 18:29 Dibaca: 598   Komentar: 4   1

1366975714848341880

Foto Perang Dunia II di Iwo Jima yang terkenal karya juru foto Associated Press Joe Rosenthal. (Sumber: wikipedia.org)

“Uncommon Valor was a Common Virtue.” (Keberanian luar biasa adalah sifat biasa). Kalimat terkenal ini diucapkan oleh Laksamana Chester Nimitz, komandan Armada Pasifik (CINCPAC) yang ditugasi untuk menduduki Pulau Iwo Jima, Jepang, dalam Perang Dunia II. Kata-kata penghormatan untuk para anggota Marinir itu terukir di bagian dasar Tugu Peringatan bagi korps Marinir Amerika. Tugu ini didirikan di Pemakaman Nasional Arlington, Washington DC, Amerika, pada 1954.

Yang menarik, tugu ini terinspirasi oleh foto terkenal Joe Rosenthal. Yakni, upaya pengibaran bendera Amerika dalam pertempuran Iwo Jima pada Februari 1945.

Pertempuran menjelang akhir Perang Dunia II tersebut dicatat sebagai salah satu yang paling brutal. Di sisi lain, Iwo Jima menjadi ajang pembuktian ketangguhan Letjen Tadamichi Kuribayashi. Ia ditunjuk langsung oleh Perdana Menteri Jepang Jenderal Tojo sebagai komandan pasukan di Iwo Jima.

Sejarah mencatat, Kuribayashi melakukan hal yang tidak mampu dilakukan oleh para komandan Jepang lainnya di Pasifik. Yakni, menimbulkan lebih banyak korban di pihak Marinir Amerika.

Sejak mendarat di Iwo Jima, perwira tinggi yang pernah menjadi wakil atase militer Jepang di Amerika meninggalkan sistem pertahanan yang dianggapnya kuno. Ia juga memulangkan semua penduduk sipil ke daratan Jepang. Sebab, keberadaan mereka dinilai tiada berguna. Mereka juga bakal menghabiskan perbekalan makanan dan air yang terbatas.

Dengan kedatangan lebih banyak pasukan dan buruh Korea, Kuribayashi memulai pembangunan sistem pertahanan bawah tanah secara besar-besaran. Sebelumnya, ia sudah menilai bahwa penunjukannya sebagai tantangan dan hukuman mati. Karena itu, ia menulis sebuah surat kepada istrinya setelah menjejakkan kaki di Iwo Jima. “Jangan tunggu kepulanganku,” tulis sang jenderal yang punya darah samurai tersebut.

Sebagai orang Jepang, ia tergolong jangkung. Tingginya 175 sentimeter. Radio Tokyo menggambarkannya sebagai “Sosok yang memiliki perut besar tradisional seorang samurai dan hati seekor harimau”.

Kuribayashi sendiri telah mengomando anak buahnya di Iwo Jima. Yakni, satu prajurit wajib membunuh 10 musuh sebelum mati. Artinya, mereka siap bertempur sampai mati.

Panjang Pulau Iwo Jima sekitar 4,5 mil (7,2 km). Total luas tanah seluruhnya sekitar 19,4 kilometer persegi. Di ujung selatan berdiri Gunung Suribachi, gunung berapi tidak aktif, setinggi 550 kaki (168 meter). Dari atasnya, sebagian pulau bisa terlihat.

Pada 19 Februari 1945, serangan oleh pasukan Amerika dimulai. Iwo Jima dibombardir dari laut dan udara. Pasukan Marinir juga siap mendarat. Sekaligus menjemput maut.

Iwo Jima segera menjadi ladang pembantaian. Korban yang jatuh di kedua pihak begitu banyak. Setiap jengkal tanah di Iwo Jima direbut oleh pasukan Amerika dengan nyawa. Keberanian para prajurit Marinir dikenang.

Banyak kejadian di pertempuran Iwo Jima yang diabadikan dalam potret. Sebagian besar diambil oleh Joe Rosenthal, jurnalis foto Associated Press, yang mengikuti langsung invasi ke Iwo Jima.

Perang Dunia II menghasilkan banyak foto yang luar biasa. Misalnya, foto Cecil Beaton yang menunjukkan kubah Katedral St. Paulus yang dikelilingi cincin api ketika serangan Blitz di London. Foto lainnya adalah awan jamur di atas Kota Hiroshima, foto Jenderal Douglas McArthur saat berjalan menuju pantai di Filipina, dan lubang mengerikan penuh mayat-mayat kurus di kamp konsentrasi Belsen.

Namun, tidak ada yang menyamai ketenaran hasil foto Joe Rosenthal. Yakni, pengibaran bendera Amerika oleh enam prajurit Marinir di puncak Gunung Suribachi, Iwo Jima. Ketika diperlihatkan kali pertama di Amerika, foto ini dalam sekejap langsung jadi sensasi. Foto tersebut juga dijadikan prangko senilai 3 sen yang mencapai penjualan terbesar dalam sejarah.

Lukisan yang menggambar ulang foto itu dijadikan untuk kampanye penjualan obligasi perang ke-7 yang menghasilkan USD 220 juta. Foto heroik tersebut juga muncul dalam 3,5 juta poster dan 175 ribu kartu mobil, digambarkan dalam film-film, direka ulang oleh pesenam, serta ditampilkan dalam kereta hias yang memenangi juara pertama dalam Parade Rose Bowl.

Enam prajurit dalam potret itu adalah Pratu Ira Hayes, Pratu Franklin Sousley, Sersan Michael Strank, Kelasi Dua Perawat John H. Bradley, Pratu Renne A. Gagnon, dan Kopral Harlon A. Block. Tiga di antaranya terbunuh di Iwo Jima. Yakni, Sousley, Strank, dan Block.

Namun, foto Joe Rosenthal ini sempat jadi kontroversi. Sebenarnya, ada beberapa foto yang dihasilkannya. Selain pengibaran bendera yang masyhur itu, ia membidik potret para Marinir yang melambaikan tangan dan bersorak.

Ketika kembali ke kapal perang USS Eldorado, Joe Rosenthal memberi judul fotonya hari itu dan menitipkannya untuk dibawa pesawat pos harian ke Guam. Foto ini langsung jadi sensasi di Amerika.

Ironisnya, Rosenthal tidak melihat sampai 9 hari kemudian ia tiba di Guam dan diberi ucapan selamat oleh sekelompok wartawan.

“Foto yang luar biasa,” kata mereka.

“Apakah kamu mengaturnya?” ucap salah satu di antaranya.

“Tentu,” jawab Rosenthal karena mengira bahwa yang mereka maksud adalah potret pasukan Marinir yang melambai dan bersorak setelah pengibaran bendera.

“Mengatur yang ini?” tanya seorang jurnalis sambil menunjukkan gambar enam orang Marinir sedang berusaha mengibarkan bendera Amerika. “Wah, memang bagus. Tapi, saya tidak mengatur yang satu ini,” jawab Rosenthal.

Di sanalah kesalahpahaman soal foto itu dimulai. Seseorang mendengar Rosenthal berkata telah mengatur foto tersebut. Orang itu lalu menulis bahwa foto itu palsu dan Rosenthal mengaturnya.

Di sisi lain, kehidupan Rosenthal berubah setelah potret di Iwo Jima tadi. Ia dipanggil pulang oleh Associated Press dan menjadi pesohor. Gaiinya dinaikkan. Ia pun menerima hadiah Pulitzer serta bertemu Presiden Harry S. Truman. Rosenthal juga laris diundang sebagai narasumber berbagai acara.

Tetapi, tuduhan atas foto yang diatur telah menjadi topik pembahasan menyakitkan sejak perang berakhir karena kesalahpahaman yang terus diungkit bertahun-tahun. Namun, mitos “diatur” itu mudah diabaikan dengan melihat film lima detik oleh Bill Genaust yang diambil pada waktu yang sama.

Sidoarjo, 26 April 2013

Referensi

Iwo Jima 1945 (Derrict Wright)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Food Truck - Konsep Warung Berjalan yang Tak …

Casmogo | | 23 April 2014 | 01:00

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 4 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 6 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 7 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 8 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: