Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Akhmad Husaini

Tinggal di Angkinang, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Blog pribadinya : www.sketsahss212.blogspot.com selengkapnya

Perang Banjar (1859-1905)

OPINI | 27 April 2013 | 13:26 Dibaca: 113   Komentar: 0   1

Perang Banjar disulut dengan adanya campur tangan Belanda dalam urusan dalam negeri kerajaan dengan mengangkat Sultan Tamjid yang memihak Belanda menjadi sultan di Kerajaan Banjar. Padahal yang berhak atas tahta adalah Pangeran Hidayat.
Tindakan Belanda ditantang para bangsawan terutama Pangeran Antasari. Sejak saat itu Pangeran Antasari bertekad mengusir Belanda dari tanah Banjar. Tekad Pangeran Antasari ini didukung oleh kepala-kepala daerah dan rakyat Banjar.
Perang pertama terjadi tanggal 18 April 1859 dengan menyerang pos Belanda di Martapura dan Pengaron. Kyai Demang Lehman, Haji Nasrun, Haji Buyasin, dan Kyai Langlang menyerang Tabanio dan berhasil merebut benteng Tabanio. Perang terus berkobar. Tumenggung Surapati dengan pasukannya berhasil menenggelamkan kapal Onrust milik Belanda di sungai Barito dengan tipu muslihat pura-pura mau bekerjasama. Sementara Pangeran Hidayat juga terus berjuang menentang Belanda.
Tanggal 11 Juni 1860 Belanda secara sepihak menghapuskan kerajaan Banjar dan langsung diperintah oleh Belanda dengan menempatkan seorang residen.
Perang Banjar makin meluas ke Banua Lima dan Hulu Barito. Sementara karena kurangnya persenjataan Pangeran Hidayat terdesak dan menyerah 3 Februari 1862. Pemimpin lainnya Kyai Demang Lehman tertangkap tanggal 2 Oktober 1861. Kemudian dihukum gantung.
Perlawanan terus dikobarkan oleh Pangeran Antasari yang pada bulan Maret 1862 ia diangkat menjadi pemimpin tertinggi agama Islam dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin.
Pemimpin perang Banjar tidak mengandalkan satu pimpinan dan dari satu kalangan. Karenanya pemimpin silih berganti, ada dari bangsawan, ulama, dan rakyat biasa. Seperti Tumenggung Jalil, Penghulu Rasyid, Panglima Batur, Gusti Matseman, dsb.
Setelah lama berjuang Pangeran Antasari jatuh sakit dan meninggal pada 31 Oktober 1862. Perang dilanjutkan oleh anaknya Gusti Matseman dengan pusat Hulu Barito. Dengan semangat Waja Sampai Kaputing rakyat Banjar terus berjuang.
Serangan terhadap Belanda di Banua Lima yang terakhir terjadi diakhir abad ke 19 yang dipimpin oleh Bukhari, Santar, dan H. Matseman dan beberapa pemimpin lainnya di Hantarukung, Kandangan berhasil menewaskan Controleur Ch. H.A de Senerpant Domis dan Aspirant KWE Von Welonleschen pada hari Minggu, 25 September 1899. Tetapi serangan balasan Belanda tanggal 26 September 1899 telah menewaskan Bukhari, H. Matamin, dan Landuk serta menangkap beberapa pengikut yang kemudian dibuang entah kemana.
Perlawanan Gusti Matseman di daerah Barito terus berlangsung hingga tahun 1905. Tetapi dengan runtuhnya benteng Merawing tahun 1905 dan gugurnya Gusti Matseman secara perlahan-lahan perlawanan rakyat Banjar melemah.***

Sumber : www.sketsahss212.blogspot.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Makan Ikan Petrus dari Laut Galilea …

Andre Jayaprana | | 23 August 2014 | 00:20

Pihak Jokowi-JK Sudah Tepat Bila Mengadopsi …

Abdul Muis Syam | | 23 August 2014 | 03:40

Mana Gaya Manajemen Konflik Anda? …

Pical Gadi | | 23 August 2014 | 07:51

Goa Kalak Pertapaan Prabu Brawijaya …

Nanang Diyanto | | 23 August 2014 | 02:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Dapatkah MK Dipercaya? (2) …

Pecel Tempe | 11 jam lalu

Mulianya Hamdan Zoelva, Hinanya Akil Mochtar …

Daniel H.t. | 13 jam lalu

Ada Foto ‘Menegangkan’ Ibu Ani …

Posma Siahaan | 14 jam lalu

Mempertanyakan Keikhlasan Relawan Jokowi-JK …

Muhammad | 14 jam lalu

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: