Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Rz Hakim

Rakyat biasa yang senang menulis. Tinggal dan berteduh di rumah singgah Panaongan - Jember.

Menelusuri Toponimi Puger

OPINI | 30 April 2013 | 06:07 Dibaca: 1117   Komentar: 3   0

Ketika ada orang yang ngomong tentang Puger (nama sebuah kecamatan di Kabupaten Jember), yang nyantol di otak saya adalah nama seorang pangeran. Dialah Pangeran Puger yang bergelar Sri Susuhunan Pakubuwana I (sejak menjadi raja ketiga Kasunanan Kartasura, 1704 hingga beliau meninggal dunia, 1719). Konon kabarnya (kabar dari buku, hehe) nama asli beliau adalah Raden Mas Darajat. Ia merupakan putra Sunan Amangkurat I, raja terakhir Kesultanan Mataram.

Untuk ukuran sejarah, tahun 1704 - 1719 masih terbilang muda. Di sisi lain, pernah saya baca (entah di buku apa), bahwa dulu sekali, disinyalir di masa bercocok tanam atau bahasa kerennya neolitikum, sudah ada migrasi bangsa Austronesia yang tinggal dan bertahan hidup di sekitar pantai Puger, Kabupaten Jember.

Apakah ada Pangeran Puger yang lain selain Sri Susuhunan Pakubuwana I? Ada. Namanya Panembahan Senapati, dengan nama asli Raden Mas Kentol Kejuron. Ia lahir dari selir Nyai Adirasa dan hidup di era sebelum Pakubuwana I. Pada 1602 - 1604, dia pernah memberontak pada pemerintahan Prabu Hanyokrowati, yg tak lain adalah Kakek buyut dari Sri Susuhunan Pakubuwana I.

Melihat tahun pemberontakannya, kita jadi bisa menerka masa lahir dan hidup Raden Mas Kentol Kejuron (pra pemberontakan), yaitu di akhir abad 16.

Apakah ada lagi tokoh bernama Puger, selain kedua tokoh di atas? Entahlah saya tidak tahu. Mataram sendiri adalah kerajaan tua (sejak jaman Sanjaya menggantikan Raja Sanna, dan memerintah Mataram hingga 732 Masehi), belum pernah saya dengar tokoh bernama Puger di jaman itu.

Ketika ada peristiwa pralaya (bencana alam), pusat pemerintahan Mataram pindah ke Jawa Timur, dari yang tadinya ada di Jawa tengah. Yang membangun kembali adalah Mpu Sendok, lokasinya ada di Watu Galuh, Antara Gunung Semeru dan Gunung Wilis, dan masih menggunakan nama Mataram. Mpu Sendok naik tahta pada 929 hingga 948. Di masa ini juga tidak pernah saya dengar (baca) tokoh bernama Puger. Apa saya yang terlewat ya?

Jadi kesimpulan sementara, nama Puger dijadikan nama kawasan (di Puger - Jember) berkisar antara akhir abad 16 hingga abad 18.

Di sisi lain, sayup-sayup ada terdengar catatan sejarah mengenai Pemberontakan Sadeng tahun 1331 Masehi. Diceritakan bahwa ada kerajaan kecil yang menentang Majapahit di masa pemerintahan Ratu Tribhuwanatunggadewi (1328-1351). Sadeng tidak sendirian. Ada kerajaan kecil lainnya yang waktu itu melakukan pemberontakan, namanya Keta. Sekarang kerajaan tersebut (Keta) masih tersisa, menjadi nama dusun Ketah (masuk Kec. Suboh - Situbondo).

Semisal waktu itu Gajah Mada tidak bisa memadamkan api pemberontakan di ujung timur Pulau Jawa (termasuk pemberontakan Ra Kuti, tokoh asal Probolinggo, tahun 1319 M), mungkin sulit baginya untuk diangkat sebagai Patih oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi (pengangkatan Patih tahun 1334 Masehi). Karena untuk menjadi Patih, butuh memperlihatkan ‘kehebatannya’ terlebih dahulu.

Sadeng sendiri bertempat di wilayah timur Pulau Jawa. Dan semua data sejarah mengarah pada kawasan Puger. Jadi, saat itu belum ada kawasan bernama Puger, meskipun eksistensinya sudah menggema.

Menelusuri Puger Dari Sungai Besini

Diantara nama-nama sungai yang mengalir di Jember (bedadung, majang, sanen, jatiroto, kalikotok, renes, bondoyudo, dan beberapa sungai kecil), ada satu sungai yang menggemericik di wilayah Puger hingga bermuara di pantai pancer. Itulah sungai Besini.

13672758151930893219

Sungai Besini di Payangan, Puger Kulon. Dokumentasi dari kawan Vj Lie

Di kawasan pancer ini juga ada titik temu antara sungai besini dan bedadung. Konon kabarnya, titik temu tersebut dianggap angker oleh para nelayan dari Puger kulon. Diyakini bahwa tempat tersebut dijaga oleh Nyi Tleges, salah seorang pengikut Nyi Roro Kidul.

Memang, wilayah Puger dan sekitarnya kaya akan cerita rakyat. Ada kisah tentang Mbah Surgi dan Mbah Wongso, mereka adalah para punggawa Pangeran Puger yang sakti seperti Brama Kumbara dalam lakon saur sepuh. Dipercaya, burung-pun tak bisa terbang di atas makamnya. Ada lagi kisah tentang Buyut Jirin. Dulunya, beliau adalah tokoh yang disegani kesaktiannya.

Saya pernah mendengar kisah tentang Buyut Jirin, sayang sekali belum pernah serius reportase untuk kemudian mencatatnya. Yang sudah ada di draft malah cerita rakyat di sekitar rumah Mas Lozz, Balung Lor (dekat dengan Puger). Dikabarkan bahwa yang membabat tanah di sana adalah seorang pelarian dari Mataram bernama Mbah Budeng. Saat Mbah Budeng (beserta pengikutnya) mbabat alas, mereka menemukan tulang belulang manusia. Itulah kenapa akhirnya daerah tersebut diberi nama Balung.

Hal tersebut menjadi menarik untuk saya, karena tokoh folklor bernama Mbah Budeng juga dikenal di sekitar rumah saya (Desa Patrang Kec. Patrang), Antirogo, dan Baratan. Dalam beberapa hajatan, nama Mbah Budeng juga diikutkan untuk dibacakan doa. Bukti bahwa dimana-mana cerita rakyat memiliki banyak kesamaan, hanya berbeda waktu dan latar. Semisal penelusuran akan cerita rakyat di’gathuk’kan dengan toponimi dan ilmu pengetahuan yang lain, alangkah indahnya.

Kembali ke Sungai Besini

Selain populer sebagai nama sungai, besini juga dikenal sebagai nama kompleks pelacuran, tepatnya di desa Puger Kulon kecamatan Puger. Namun, pada tanggal 25 mei 1998, melalui SK. Bupati Jember No. 42/1998 lokalisasi pelacuran di Puger Kulon tersebut resmi ditutup.

Nama besini juga tercatat dalam kakawin desa warnana (alias nagarakretagama) karya pujangga Jawa di abad 14 bernama Mpu Prapanca (yang disinyalir juga seorang pejabat tinggi urusan agama Buddha di Kerajaan Majapahit). Ia mencatat perjalanan Hayam Wuruk, menuliskan nama-nama tempat yang disinggahi, dan mendokumentasikan tanggal (berkalender saka, kalau di-masehi-kan sekitar September - Desember 1359 M).

Dalam perjalanannya, diceritakan tentang Gunung Watangan sebelah timur desa Puger, bahwa terdapat nama Sarampwan disekitar gunung tersebut. Sebelumnya, rombongan harus menyeberangi sungai Besini.

Jadi kesimpulannya, di abad 14 masih belum ada wilayah di Jember bernama Puger. Setidaknya itu menurut catatan Mpu Prapanca. Yang tercatat adalah Sadeng, Besini (atau Basini), Kuta Bacok (Watu Ulo), Renes (Wirowongso), dan terus ke utara hingga Sukowono, Kalisat, Tamanan (Bondowoso), dan terus menuju Patokengan (Panarukan/Situbondo).

Sangat membahagiakan jika sekiranya anda yang lebih paham tentang Puger, mau memberi koreksi dan apresiasi pada tulisan yang sukur mecotot ini.

Terima kasih

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 8 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 9 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 9 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: