Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Manuver Revolusi Iran di Indonesia

OPINI | 07 May 2013 | 11:32 Dibaca: 611   Komentar: 2   1

Majunya  Prof Jalaludin Rakhmat untuk menjadi calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat menyingkap strategi dan manuver politis Syiah yang terbaru di negeri ini.

Ada baiknya kita flashback ke 30 tahun yang lalu.

Ketika revolusi Iran meletus tahun 1979, muncullah sosok fenomenal Khomeini. Ia memunculkan dirinya sebagai pemimpin revolusi yang dielu-elukan rakyat Iran yang notabene mereka adalah mayoritas syiah. Namun tidak cukup sampai di situ, ia pun berusaha menebarkan angin revolusi syiah itu ke berbagai negara. ia pun merancang strategi-strategi politis untuk diterapkan kepada umat Sunni seluruh dunia.

Namun, Khomeini sesungguhnya sadar, tidak mudah untuk dapat diterima sebagai pemimpin Islam di kalangan Sunni. Karena itu, perlu strategi yang efektif untuk bisa masuk dan memengaruhi kaum sunni. Makanya, ketika berdiri di dalam orang Sunni, Khomeini memberikan kesan netral.  Ia menciptakan citra diri sebagai seorang pahlawan.

Meskipun revolusi Iran merupakan momentum yang  cukup tepat untuk menjalankan misi itu, yaitu di saat kaum Muslimin merindukan kejayaan di saat keterpurukan di bawah bayang-bayang imperialisme Barat, namun misi itu tak semudah membalik tangan.

Sunni yang sekian lama dalam sejarah menjadi rival teologi dan politik ternyata tidaklah mudah diajak dalam satu garis pengendalian politik. Maka, dagangan politik yang ditawarkan adalah mencitrakan Iran sebagai pengawal terdepan revolusi Islam dunia, ikon penentang Barat dan Israel.

Selanjutnya, Ia membuat strategi metode pendekatan (taqrib) Sunnah-Syiah, dan mencitrakan kesan netral dan menciptakan common enemy (yaitu AS dan Barat).

Namun sayangnya kedok Khomeini lambat laun tersingkap. Isu anti-Amerika dan Israel yang digaungkan di dunia Islam tiba-tiba menciut ketika terkuak skandal “Iran-Gate”. Kasus pembelian senjata Iran kepada Isrel secara diam-diam. Bahkan jual beli senjata selama perang dengan Irak tersebut melibatkan AS.

Makin menciut lagi, ketika ada kabar guru Khomeini, Ayatullah Abul Qisim Kashani, disebut-sebut sebagai agen CIA dalam buku Devil’s Game Orkestra IblisIi). Revolusi Iran pun menjadi penuh dengan tanda-tanya dan inkonsistensi.

Selain itu salah satu strategi Iran untuk memperluas jaringan Syiah adalah melalui jalur pemberian beasiswa pendidikan. KH. Ali Maschan Musa, mantan ketua PWNU Jawa Timur, ketika berkunjung ke Iran pada tahun 2007 lalu menginformasikan bahwa ada ribuan pelajar Indonesia yang belajar di Iran. Keberadaan mereka, menurut beliau, patut diwaspadai. Diperkirakan, dalam hitungan 4-5 tahun ke depan, tentu mereka akan kembali ke Indonesia dengan membawa paham yang secara tegak lurus bertentangan dengan paham umat Islam di Indonesia.

Karenanya, beliau menghimbau kepada kepolisian untuk ikut memerhatikan aliran Syiah selain mewaspadai penyebaran Ahmadiyah di Indonesia.

Selain pemberian beasiswa, ada beberapa strategi yang dijalankan dalam dakwah Syiah di Indonesia.

Pertama, menggembor-gemborkan tema persatuan/ukhuwah Islamiyah.

Dalam seminar-seminar, buku-buku dan orasi ilmiah, Syiah selalu tidak meninggalkan tema ini.

Kedua, menampilkan pustaka atau tokoh Syiah berwajah Sunni.

Prof. Dr. Mohammad Baharun menulis bahwa kitab kitab Muruj al-Dzahabi oleh Ali bin Husein al-Masoudi, Kifayat al-Thalib fi Manaqib Ali bin Abi Thalib dan al-Bayan fi al-Akhbar Shahib al-Zaman Oleh Abu Abdillah Fakhruddin Muhammad bin Yusuf al-Kanji, Syarh Nahj al-Balaghah oleh Ibnu Abi al-Hadid, Syawahid al-Tanzil oleh al-Hakim al-Kaskani, dan Yanabi’ al-Mawaddah oleh Sulaiman bin Ibrahim al-Qanduzi, adalah buku-buku Syiah. Pengarangnya mengaku Sunni agar diapat diakses oleh pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah.

Dengan dukungan aktivis Liberal, digulirkan wacana Syiah dan Ahlussunnah sama-sama. Tidak boleh menyalahkan Syiah. Wacana yang dikedepankan adalah Syiah adalah Muslim. Perbedaan antara Syiah dan Ahlussunnah sebatas perbedaan ijtihad politik. Syiah juga dicitrakan sebagai pembela dan pecinta Ahlul Bait Nabi saw.

Terkadang mereka menolak disebut pengikut Syiah. Tapi lebih suka disebut pengikut Ahlul Bait. Mereka juga menghindari debat terbuka. Dalam beberapa acara publik kadang menampilkan tokoh yang tidak memiliki kapasitas. Namun diminta untuk bicara ukhuwah Sunnah-Syiah. Hal ini merupakan taktik pengelabuan untuk menutupi wajah Syiah yang sesungguhnya.

Disadur dari tulisan strategi politis dakwah syiah yang ditulis oleh Kholili Hasib, aktivis NU dan Anggota Majelis Intelektual Dan Ulama Muda Indonesia Daerah Jawa Timur

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Promosi Multikultur ala Australia …

Ahmad Syam | | 18 April 2014 | 16:29

Memahami Penolakan Mahasiswa ITB atas …

Zulfikar Akbar | | 18 April 2014 | 06:43

Kalau Sudah Gini, Baru Mau Koalisi; …

Ali Mustahib Elyas | | 18 April 2014 | 11:32

Untuk Capres-Cawapres …

Adhye Panritalopi | | 18 April 2014 | 16:47

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 10 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 11 jam lalu

Senjakala Operator CDMA? …

Topik Irawan | 12 jam lalu

Tips Dari Bule Untuk Dapat Pacar Bule …

Cdt888 | 13 jam lalu

Seorang Ibu Memaafkan Pembunuh Putranya! …

Tjiptadinata Effend... | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: