Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Manumpak Barasa

Pernah Dosen Selama 15 Tahun dan kini Penggiat Ekonomi Kerakyatan dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Peneliti selengkapnya

Gajah Mada dan Ketidakpastian Kisahnya

REP | 14 May 2013 | 23:14 Dibaca: 354   Komentar: 0   0

Dalam kerajaan Majapahit muncul seseorang yang menjadi Mahapati, terkenal dengan sumpahnya, “sumpah palapa”.  Kisah sang mahapati dalam buku-buku sejarah terputus, sehingga menimbulkan pertanyaan yang sangat fundamen, mengenai siapa ayah ibunya, saudaranya, dimana dan kapan lahirnya, istri dan anak-anaknya, siapa gurunya, meninggalnya kapan, dan makamnya di mana….

Banyak penulis mengutarakan pendapatnya baik dalam bentuk buku, media elektronik dan dalam bentuk tulisan lannya belum satupun mampu menjawab pertanyaan di atas..

Penulis menyarankan agar LIPI atau Universitas/Peneliti  membuat riset dan studi dimulai dari kota tertua di Pulau Sumatera yaitu BARUS, yang terletak di Pantai Barat Sumatera Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Barus adalah kota yang merupakan pintu bagi manusia-manusia perahu dan tinggal  sementara di sana sambil memperbaiki perahu, mengumpulkan bekal dan makanan, air tawar, rempah-rempah, berdagang dan lain-lain.

Tahun 600 Masehi pertama sekali tiba Barus manusia perahu dan menyebarkan agama nasrani, tetapi hanya satu kali itu saja dan di sana ada bukti bukti bangunan Gereja yang telah terendam oleh air laut.

Sekitar tahun 900 kembali kota Barus disinggahi manusia perahu yang berasal dari India dengan menyebarkan agama hindu, dan ini berlangsung berulang ulang terjadi. Penduduk yang dulunya manusia perahu yang menetap di sana menerima agama Hindu, dan bukti peninggalan berupa patung dan arca banyak kita temukan di kecamatan Manduamas, Perlilitan  dan sekitarnya. Ada di Manduamas dijadikan oleh sekelompok Marga menjadi simbol kesatuan mereka, karena diyakini nenek moyang mereka berasal dari India dan memeluk agama Hindu.

Kota Barus, Manduamas, Parlilitan dan Parmonangan adalah Tanah Ulayat marga keturunan MPU MADA, yang terdiri dari marga Beringin, Tendang, Gajah, Banurea, Manik Kecupak, dan Berasa serta Putrinya. Cerita turun temurun di masyarakat, MPU MADA adalah memiliki kesaktian, dan sangat ditakuti oleh kelompok marga lain dan terkenal dengan simbolnya  Burung Garuda Tujuh Kepala.

Dalam silsilah kelompok marga ini, Gajah Mada adalah salah satu keturunan anak marga Gajah, dan kesaktian Kakeknya turun kepadanya,  maka dinamailah dia “GAJAH MADA”.  Tetapi ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah.  Tetapi melihat rute perjalanan Gajah Mada di sepanjang pesisir pantai barat Sumatera hingga ke pulau jawa, penulis menduga ada kemungkinannya.

Dalam kisahnya yang  terakhir kembali Gajah Mada ke kota Barus untuk mempersunting seorang putri, dia harus melewati pertarungan, dan dia kalah dan  wafat di Barus dikenal tempat itu dengan Aek Busuk (diterjemahkan air yang bau bila disentuh dan dicium) dan itulah jadi makamnya, sampe sekarang masih ada.

Sekali lagi itu adalah cerita yang berkembang dan turun temurun di kelompok marga ini.  Kota barus adalah termasuk jauh ketinggalan dari daerah lainnya, seperti Sibolga, Tarutung. Ini disebabkan Zending Kristen tidak sampai di tempat ini sehingga terbelakang dari pendidikan.  Kota Barus merupakan pintu masuknya Islam, sehingga pada zaman Nommensen Missionaris dari Jerman tidak mau ke sana, plus transportasi darat sangat sulit. Selain itu daerah ini dikenal sangat menakutkan, dan terkenal dengan ilmu-ilmu dan kekuatan magis, sehingga para pendatang dan para ahli enggan ke sana.

Penulis berharap ada para ahli sejarah mau turun dan jalan-jalan ke sana sekaligus melihat apa yang ada, semoga bisa menjawab pertanyaan di atas, tentu dengan menjungjung tinggi kejujuran ilmiah..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 12 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 13 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 14 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: