Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Manumpak Barasa

Pernah Dosen Selama 15 Tahun dan kini Penggiat Ekonomi Kerakyatan dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Peneliti selengkapnya

Gajah Mada dan Ketidakpastian Kisahnya

REP | 14 May 2013 | 23:14 Dibaca: 364   Komentar: 0   0

Dalam kerajaan Majapahit muncul seseorang yang menjadi Mahapati, terkenal dengan sumpahnya, “sumpah palapa”.  Kisah sang mahapati dalam buku-buku sejarah terputus, sehingga menimbulkan pertanyaan yang sangat fundamen, mengenai siapa ayah ibunya, saudaranya, dimana dan kapan lahirnya, istri dan anak-anaknya, siapa gurunya, meninggalnya kapan, dan makamnya di mana….

Banyak penulis mengutarakan pendapatnya baik dalam bentuk buku, media elektronik dan dalam bentuk tulisan lannya belum satupun mampu menjawab pertanyaan di atas..

Penulis menyarankan agar LIPI atau Universitas/Peneliti  membuat riset dan studi dimulai dari kota tertua di Pulau Sumatera yaitu BARUS, yang terletak di Pantai Barat Sumatera Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Barus adalah kota yang merupakan pintu bagi manusia-manusia perahu dan tinggal  sementara di sana sambil memperbaiki perahu, mengumpulkan bekal dan makanan, air tawar, rempah-rempah, berdagang dan lain-lain.

Tahun 600 Masehi pertama sekali tiba Barus manusia perahu dan menyebarkan agama nasrani, tetapi hanya satu kali itu saja dan di sana ada bukti bukti bangunan Gereja yang telah terendam oleh air laut.

Sekitar tahun 900 kembali kota Barus disinggahi manusia perahu yang berasal dari India dengan menyebarkan agama hindu, dan ini berlangsung berulang ulang terjadi. Penduduk yang dulunya manusia perahu yang menetap di sana menerima agama Hindu, dan bukti peninggalan berupa patung dan arca banyak kita temukan di kecamatan Manduamas, Perlilitan  dan sekitarnya. Ada di Manduamas dijadikan oleh sekelompok Marga menjadi simbol kesatuan mereka, karena diyakini nenek moyang mereka berasal dari India dan memeluk agama Hindu.

Kota Barus, Manduamas, Parlilitan dan Parmonangan adalah Tanah Ulayat marga keturunan MPU MADA, yang terdiri dari marga Beringin, Tendang, Gajah, Banurea, Manik Kecupak, dan Berasa serta Putrinya. Cerita turun temurun di masyarakat, MPU MADA adalah memiliki kesaktian, dan sangat ditakuti oleh kelompok marga lain dan terkenal dengan simbolnya  Burung Garuda Tujuh Kepala.

Dalam silsilah kelompok marga ini, Gajah Mada adalah salah satu keturunan anak marga Gajah, dan kesaktian Kakeknya turun kepadanya,  maka dinamailah dia “GAJAH MADA”.  Tetapi ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah.  Tetapi melihat rute perjalanan Gajah Mada di sepanjang pesisir pantai barat Sumatera hingga ke pulau jawa, penulis menduga ada kemungkinannya.

Dalam kisahnya yang  terakhir kembali Gajah Mada ke kota Barus untuk mempersunting seorang putri, dia harus melewati pertarungan, dan dia kalah dan  wafat di Barus dikenal tempat itu dengan Aek Busuk (diterjemahkan air yang bau bila disentuh dan dicium) dan itulah jadi makamnya, sampe sekarang masih ada.

Sekali lagi itu adalah cerita yang berkembang dan turun temurun di kelompok marga ini.  Kota barus adalah termasuk jauh ketinggalan dari daerah lainnya, seperti Sibolga, Tarutung. Ini disebabkan Zending Kristen tidak sampai di tempat ini sehingga terbelakang dari pendidikan.  Kota Barus merupakan pintu masuknya Islam, sehingga pada zaman Nommensen Missionaris dari Jerman tidak mau ke sana, plus transportasi darat sangat sulit. Selain itu daerah ini dikenal sangat menakutkan, dan terkenal dengan ilmu-ilmu dan kekuatan magis, sehingga para pendatang dan para ahli enggan ke sana.

Penulis berharap ada para ahli sejarah mau turun dan jalan-jalan ke sana sekaligus melihat apa yang ada, semoga bisa menjawab pertanyaan di atas, tentu dengan menjungjung tinggi kejujuran ilmiah..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 13 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 14 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 14 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 7 jam lalu

Pemuda Solusi Terbaik Bangsa …

Novri Naldi | 8 jam lalu

Rasa Yang Dipergilirkan …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Kisah Rhoma Irama “Penjaga …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Marah, Makian, Latah. Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: