Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Para Sejarawan, Bagaimana reaksi anda dengan sinetron kolosal Gajah Mada?

OPINI | 31 May 2013 | 20:20 Dibaca: 380   Komentar: 0   1

Saya ngaku kalo saya tidak mengikuti serial ini. Tapi lima menit berada di depan layar kaca, rasanya gatal untuk ga komen. Imajinasi saya berkata kalo nenek moyang kita jaman dahulu bakalan lebih “telanjang” paling ga mengekspos dada lah. Kan Indonesia tropis, jadi agak gerah. Wanita-wanitanya juga, saya pikir mereka bakalan pake kemben n ga bakal berhias batuan imitasi di kepalanya. Mungkin bagian bahasa, saya ga tau bahasa apa yang Gajah Mada gunakan waktu itu. Kemungkinan besar bakal kedengaran kayak bahasa Jawa atau malah bahasa Vietnam atau Tagalog.

Intonasi yang mereka gunakan juga kemungkinan ga kayak ngomong baca puisi. Saya takjub sama sejarah Indonesia, kalau saya bisa melakukan perjalan waktu saya bakal mengunjungi kerajaan-kerajaan dahulu n melihat bagaimana peradapan kita masa lalu. Saya agak skeptik sama ilmu ajian-ajian gaib bener-bener ada. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa dahulu kala Indonesia mistis.

Saya bisa bayangin kalau para pasukan, kesatria kerajaan bisa terbang. Kayaknya bukan hal mustahil. Yang saya lebih yakin lagi, kayaknya cara Gajah Mada menguasai nusantara ga bakal jauh-jauh dari kata “kejam” deh. Lirik serial kolosal negri Paman Sam “Game of Thrones” yang dimana-mana kepala terpenggal berjatuhan, kaki, tangan, jari dipotong. Saya pikir Gajah Mada juga bakal melakukan hal yang sama untuk merebut kekuasaan dari raja-raja kecil.

Saya penasaran taktik macam apa yang si Gajah Mada bakal lakuin, karena kayaknya orangnya jenius banget. Saya lupa pelajaran sejarah SD, n saya nyesel kenapa dulu saya belajar hanya untuk ulangan. Tapi ga juga, saya yakin, sejarah yang kita terima di SD banyak editannya. Di kurangi, ditambah atau malah di dramatisir. Jadi saya merasa ndak bersalah ga pernah percaya.

Saya yakin sejarah perebutan singgasana Majapahit bakalan luar biasa kalau digarap serius, ambisius berdasar fakta-fakta yang ada. Sayang kita kekurangan ahli sejarah. Para generasi sekarang pada berebut memperebutkan kursi pegawai negri dengan iming-iming hidup stabil sampai tua. Temasuk saya XD

Tags: sejarah opini

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 9 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Awal Manis Piala AFF 2014: Timnas Gasak …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Jangan Bikin Stress Suami, Apalagi Suami …

Ifani | 14 jam lalu

Ahok, Sang Problem Solving …

Win Winarto | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Noise Penyebab Miskom Dalam Organisasi …

Pical Gadi | 8 jam lalu

Rindu untuk Negeri Intimung …

Riza Roiyantri | 8 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 8 jam lalu

Akankah, Fatin Go Kompasianival? …

Umar Zidans | 8 jam lalu

Menteri yang Diharapkan Bisa Profesional …

Yulies Anistyowatie | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: