Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Para Sejarawan, Bagaimana reaksi anda dengan sinetron kolosal Gajah Mada?

OPINI | 31 May 2013 | 20:20 Dibaca: 379   Komentar: 0   1

Saya ngaku kalo saya tidak mengikuti serial ini. Tapi lima menit berada di depan layar kaca, rasanya gatal untuk ga komen. Imajinasi saya berkata kalo nenek moyang kita jaman dahulu bakalan lebih “telanjang” paling ga mengekspos dada lah. Kan Indonesia tropis, jadi agak gerah. Wanita-wanitanya juga, saya pikir mereka bakalan pake kemben n ga bakal berhias batuan imitasi di kepalanya. Mungkin bagian bahasa, saya ga tau bahasa apa yang Gajah Mada gunakan waktu itu. Kemungkinan besar bakal kedengaran kayak bahasa Jawa atau malah bahasa Vietnam atau Tagalog.

Intonasi yang mereka gunakan juga kemungkinan ga kayak ngomong baca puisi. Saya takjub sama sejarah Indonesia, kalau saya bisa melakukan perjalan waktu saya bakal mengunjungi kerajaan-kerajaan dahulu n melihat bagaimana peradapan kita masa lalu. Saya agak skeptik sama ilmu ajian-ajian gaib bener-bener ada. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa dahulu kala Indonesia mistis.

Saya bisa bayangin kalau para pasukan, kesatria kerajaan bisa terbang. Kayaknya bukan hal mustahil. Yang saya lebih yakin lagi, kayaknya cara Gajah Mada menguasai nusantara ga bakal jauh-jauh dari kata “kejam” deh. Lirik serial kolosal negri Paman Sam “Game of Thrones” yang dimana-mana kepala terpenggal berjatuhan, kaki, tangan, jari dipotong. Saya pikir Gajah Mada juga bakal melakukan hal yang sama untuk merebut kekuasaan dari raja-raja kecil.

Saya penasaran taktik macam apa yang si Gajah Mada bakal lakuin, karena kayaknya orangnya jenius banget. Saya lupa pelajaran sejarah SD, n saya nyesel kenapa dulu saya belajar hanya untuk ulangan. Tapi ga juga, saya yakin, sejarah yang kita terima di SD banyak editannya. Di kurangi, ditambah atau malah di dramatisir. Jadi saya merasa ndak bersalah ga pernah percaya.

Saya yakin sejarah perebutan singgasana Majapahit bakalan luar biasa kalau digarap serius, ambisius berdasar fakta-fakta yang ada. Sayang kita kekurangan ahli sejarah. Para generasi sekarang pada berebut memperebutkan kursi pegawai negri dengan iming-iming hidup stabil sampai tua. Temasuk saya XD

Tags: sejarah opini

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 11 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 15 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 15 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 16 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: