Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Ethan Hunt

Dunia ini adalah sekolah bagi kita dalam mempelajari dan memahami kehidupan.. yang membuat kita semakin selengkapnya

Pancasila, yang Tak Lekang oleh Waktu

OPINI | 01 June 2013 | 11:38 Dibaca: 321   Komentar: 5   0

13700614021168067711

Perisai Pancasila / (sumber gambar: id.wikipedia.org)

01062013

Hari ini, tepat 68 tahun yang lalu, Soekarno menyampaikan sebuah pidato tanpa judul dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai atau dalam bahasa Indoensia dikenal sebagai Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Inilah konsep dan rumusan awal dari Pancasila untuk pertama kali dikemukakan sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Pidato ini disampaikan oleh Soekarno secara spontan dan diterima secara aklamasi oleh anggota Dokuritsu Junbi Cosakai. Soekarno mengemukakan dasar-dasar tersebut pada Kebangsaan, Internasionalisme, Mufakat, Dasar Perwakilan, Dasar Permusyawaratan, Kesejahteraan, dan Ketuhanan.

Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan dengan petunjuk seorang teman kita, ahli bahasa, namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi. Itu adalah nukilan pidato spontan Soekarno dalam sidang BPUPK tersebut. Oleh Ketua BPUPK saat itu, Dr.Radjiman Wedyodiningrat, pidato tersebut diberi judul Lahirnya Pancasila dalam kata pengantar pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPK tersebut.

”Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh “Lahirnya Pancasila” ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada dibawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang! Selama Fascisme Jepang berkuasa dinegeri kita, Demokratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya. Mudah-mudahan ”Lahirnya Pancasila” ini dapat dijadikan pedoman oleh nusa dan bangsa kita seluruhnya dalam usaha memperjuangkan dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara.” (Kata Pengantar Dr. Radjiman Wedyodiningrat)

Sebelum Soekarno menyampaikan pidato spontan tersebut, Muhammad Yamin sudah menyampaikan rumusan yang hampir sama saat pidatonya pada tanggal 29 Mei 1945. Yamin menyatakan bahwa kelima dasar yang dirumuskan itu berakar pada sejarah, peradaban, agama dan hidup ketatatnegaraan yang sudah lama berkembang di Indonesia. Namun Mohammad Hatta dalam salah satu memoarnya, meragukan isi pidato Yamin itu.

Konon, saat Soekarno sedang dalam pembuangannya ke Ende, Nusa Tenggara Timur pada pertengahan tahun 1930-an, beliau sering menghabiskan waktunya dengan duduk pada sebuah bangku kecil di sebuah taman di daerah tersebut. Nama taman itu adalah Taman Ronde. Soekarno suka duduk di bangku kecil yang dinaungi oleh sebuah pohon sukun sambil membaca sebuah buku yang sudah beberapa kali dikhatamkannya. Kini, buku yang sama itu sudah mencapai lembaran terakhirnya. Soekarno punmenutup buku tersebut, lalu tangannya disandarkan ke belakang untuk menopang kepalanya. Soekarno mendongak keatas sambil melihat cabang-cabang pohon sukun yang berjumlah lima itu sambil menikmati angin dan mulai berpikir tentang Indonesia. Dibawah pohon sukun inilah, Soekarno mulai menemukan konsep tentang dasar Indonesia, Pancasila.

Soekarno sendiri tidak pernah menyebut secara langsung jika dasar negara Indonesia itu lahir di Ende, tetapi beliau menyebut jika dasar negara yang disebut sebagai Pancasila itu digali dari bumi ibu pertiwi. Akan tetapi, seorang budayawan menyatakan jika Indonesia ini tidak hanya lahir di Barat, tetapi Indonesia lahir dari Timur.

Setelah melalui proses persidangan yang alot serta lobi-lobi yang dilakukan, akhirnya rumusan Pancasila sail penggalian bung Karno itu berhasil dirumuskan untuk selanjutnya di cantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang kemudian disahkan dan berlaku sah sbegai dasar negera Indonesia merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI. Akan tetapi, tanggal 1 Juni tetap diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila, meski sempat terjadi perubahan kandungan maupun urutan lima sila Pancasila yang berlangsung dalam beberapa tahap selama masa perumusannya pada tahun 1945.

Namun, pada medio 1960-an, tepatnya pada tanggal 30 September 1965, Pancasila diuji oleh sebuah insiden yang kemudian dikenal sebagi Gerakan 30 September. Oleh otoritas militer saat itu, gerakan itu disebut dilatar belakangi oleh PKI yang ingin mengubah ideologi bangsa ini menjadi paham komunis. Sesuatu yang masih dan terus menjadi perdebatan hingga saat ini tentang siapa penggiat dan motif belakangnya. Oleh otoritas militer saat itu, hal tersebut digunakan untuk membubarkan PKI serta melakukan pembantain di Indonesia dalam rentang waktu 1965 hingga 1966. Harga mahal yang harus dibayar untuk menguji Pancasila.

Selamat Hari Pancasila!

Salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 5 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 6 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 6 jam lalu

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Dampak ‘Mental Proyek’ Pejabat …

Giri Lumakto | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: